
Dengan sekuat tenaga Andre, menarik tangan Sita dari rambut Lina. Dan segera memeluk Lina untuk melindungi dari Sita.
“Saya tidak menyangka kamu bisa sekasar ini, mana sikap lembutmu selama ini........atau hanya akting saja selama ini!”ujar Andre agak marah.
“Istri mana mas yang tidak akan marah, melihat wanita lain menggoda suaminya!” seru Sita terbakar emosi.
“Ingat Sita........Lina tidak pernah menggoda saya. Tapi sayalah yang tergoda dengan Lina,” ujar Andre.
DEG
Apa Pak Andre tergoda sama gue, wah nih Bos cari perkara. Perang dunia ke-3 dimulai nih....batin Lina berkecamuk.
“Jika suamimu tidak ingin berpaling, cobalah berubah menjadi istri yang lebih baik Sita,” ucap Papa Nugraha.
“Andre, Lina sebaiknya kalian segera ke kantor,” pinta Pak Nugraha, mencoba meleraikan keributan yang terjadi.
“Sita sebaiknya urus anak kamu di rumah dan lebih perhatian lagi. Jika kamu tidak mau kehilangan suami kamu. Modal wajah cantik dan tubuh sexy tidak menjamin suami setia,” kata nasihat Mama Nugraha.
Andre merapikan rambut Lina yang acak acakan habis dijambak Sita. Hati Sita semakin panas.
“Sakit gak kepalanya?” tanya Andre.
“Sedikit,” jawab Lina sambil menepis tangan Andre, lalu mengangkat Noah dari gendongnya.
“Ini anakmu Sita, berikanlah kasih sayang selayaknya ibu yang melahirkan. Noah tidak butuh harta, tapi butuh perhatian ibunya. Dan satu lagi jika tidak ingin suamimu berpaling, ikatlah dia sekuat tenagamu. Uruslah keperluan dia dengan sepenuh hati. Jika hatimu benar-benar mencintai suamimu,” ujar Lina sambil memberikan Noah ke Sita
“Dan kamu ingat Sita, saya tidak tertarik dengan suamimu. Tapi mungkin wanita di luar sana yang tertarik dengan suamimu,” ucap Lina kembali dengan menatap tajam ke arah Andre.
DEG.......hati Andre terasa tertusuk, baru kali ini ada wanita yang tidak tertarik dengannya.
“Mah, Pah........saya berangkat dulu," Lina mencium tangan mama Rani dan papa Nugraha.
“Hati....hati nak..” ujar mama Rani.
Lina bergegas keluar dari rumah segera ke mobilnya. Andre mengikut dari belakang.
“Mami bareng saya berangkat ke kantornya,” pinta Andre.
“Saya berangkat dengan mobil sendiri, tolong hargai keputusan saya.” Lina segera masuk ke mobilnya dan mengendarai mobilnya keluar dari mansion.
Andre tidak bisa lagi menolak keputusan Lina, apalagi terlihat Lina terluka dengan kejadian tadi. Andre juga menyusul Lina ke kantor.
Terpukul rasanya hati Lina, dengan kejadian barusan. Apa yang di duga, menjadi kenyataan. Kata-kata wanita pelakor terdengar lagi di telinganya. Sesekali diusapnya air mata yang telah jatuh, berusaha menguatkan hatinya sendiri.
.
.
Perusahaan Nugraha Grup
Mobil Andre telah sampai di luar lobby perusahaan, kedatangannya telah di tunggu Faisal di depan lobby.
“Selamat Pagi Pak Bos," sapa Faisal.
“Lina sudah sampai belum?” tanya Andre.
“Belum Pak Bos,“ jawab Faisal.
Andre melihat ke arah keluar, seperti menanti ke datangan seseorang.
“Sebaiknya kita segera masuk Pak Bos,” ujar Faisal.
__ADS_1
“Sebentar saya mau menunggu Lina,” jawab Andre.
“Oh baik Pak Bos.”
Selang 10 menit, terlihat Lina melangkahkan kakinya dengan penuh percaya dirinya menuju lobby. Andre berlari kecil melihat Lina sudah menuju lobby.
“Mami........” sapa Andre menyejajarkan langkahnya.
Tatapan Lina begitu dingin saat Andre menyapanya. Di ambilnya tas kerja Lina, dan dibawa olehnya.
Mereka melangkah bersama di lobby menuju lift, Faisal mengikuti langkah kaki mereka dari belakang.
Setiap karyawan yang bertemu Andre, mereka memberikan salam hormatnya. Sedangkan Lina selalu menyapa ramah kepada orang yang dikenalnya.
“Selamat Pagi Pak Andre,"sapa Siska sambil melirik Lina yang berada di samping Andre.
“Mmm.........” gumam Andre.
Pak Andre bawa tas siapa? Itukan tas cewek !....batin Siska.
Ting.....Pintu Lift terbuka di lantai 7, Lina segera keluar, Andre turut keluar mengikuti langkah Lina.
“Selamat Pagi semuanya,” sapa Lina saat masuk ke ruang divisi finance.
“Selamat Pagi ... mami sudah masuk kerja,” sahut gembira beberapa temannya.
“Selamat Pagi Pak Andre," sapa beberapa staf finance yang baru sadar, di belakang Lina ada CEO mereka.
“Pagi juga,” jawab Andre datar.
“Selamat Pagi Bu Bos,” sapa Mitha dan Susi.
“Pagi.....juga......kangen.” Dipeluknya Mitha dan Susi seperti biasanya.
Pelukan mereka pun berakhir, mengingat ada Bosnya.
“Mitha nanti ke ruangan saya ya?” pinta Lina.
“Ok.....Bu Bos.”
Lina segera masuk ke ruangannya, Andre ikut masuk juga. Ditaruhnya tas Lina dimeja kerjanya.
“Sedang marahkah?” tanya Andre. Lina menatap tajam ke arahnya.
“Jika tidak ada kepentingan yang lain, biarkan saya mulai bekerja," pinta Lina masih dalam keadaan berdiri.
Andre mendekati Lina, dipeluk eratnya tubuh Lina , dikecupnya ujung kepala Lina.
“Selamat bekerja ya," ucap lembut Andre. Setelahnya Andre keluar dari ruangannya.
“Huft........akhirnya. Dia pergi juga,” gumam Lina.
**
“Bu Bos boleh masuk?” tanya Mitha di depan pintu.
“Masuk Mitha.....!”
“Bu Bos gosip dulu aahhhh....kepo nih!”
__ADS_1
“Gak usah panggil sebutan bu bos, panggil biasa aja. Merinding kalau di panggil bu bos.”
“Cie.........bisa begitu. Gimana mami keadaan baik-baik aja kan?”
“Tidak terlalu baik.” Wajah Lina terlihat murung. Di ceritakan semua yang dialaminya dengan Mitha.
“Gila Mih.......udah dituduh pelakor sama mertua dan istri Bos.” Kaget Mitha setelah mendengar cerita Lina.
“Ya begitulah Mitha, saya udah berasa jadi pelakor. Padahal tidak pernah suka dengan Bos Gila!”
“Beneran Mih.....gak ada perasaan suka sama BOS, secara dia gantengnya kebangetan, di tambah kaya melintir.”
“Biasa aja Mitha, saya gak tertarik."
“Tapi sorry nih Mih, aku lihat Pak Bos suka deh sama kamu.”
“Kamu salah lihat aja, sikapnya begitu karena saya mengurus Noah.”
“Mih.......aku saranin mending mulai buka hati dengan orang lain.”
Tampak wajah Lina merenunginya.
“Santai aja mih tidak usah terlalu terburu-buru, jika ada laki-laki yang belum menikah mendekati mami, baru deh coba buka hati.”
“Ya mungkin ada baiknya, saya mulai hubungan dengan orang lain. Bukan dengan Wahyu atau Bos Gila!”
“Semangat Mih.”
“Udah gosipnya sudah selesai, sekarang minta data-data pengeluaran ya Mit, sama nanti bilang Fani......saya mau cash opname ya.”
“Ok siap Mih.”
Mereka kembali beraktivitas dengan tugasnya masing-masing.
.
.
“Pak Andre, Siska dari bagian marketing ingin bertemu......bisakah?” tanya Rini melapor.
“Suruh dia masuk!”
Rini segera masuk setelah mendengar suara Andre, mengizinkan bisa bertemu.
“Terima kasih Pak di izinkan bisa bertemu," ucap manis Siska.
“Silahkan duduk!”
Siska mendudukkan bokongnya di kursi pas di depan meja Andre. Tampak rok pendeknya semakin pendek saat dia duduk. Senyum manis terukir di bibir Siska sambil memamerkan paha mulusnya.
“Ada kepentingan apa ingin bertemu saya?” Andre to the point.
“Saya mau melaporkan revisi budget pembuatan iklan, yang Pak Andre minta.” Siska menyerahkan lembar laporannya.
“Bukannya prosedurnya kamu harus memberikan revisi ini ke bagian finance bukan ke saya.”
“Saya ingin mendiskusikan langsung dengan Bapak, biar lebih jelas. Kalau harus dikasih ke bagian Finance pasti akan lama nyampai ke Pak Andre,” ujar Siska sambil menggerakkan tubuhnya agar nampak belahan dadanya.
Andre melihat dengan seksama gelagat Rini yang cantik-sexy dan menggoda. Tapi sekelebat wajah marah Lina nampak di pelupuk matanya.
.
.
__ADS_1
bersambung