LINA SANG FINANCE

LINA SANG FINANCE
Masih penyelidikan


__ADS_3

Mereka bertiga berpisah di depan ruang keamanan, Mitha dan Fani sengaja ke restoran terlebih dahulu untuk mengisi tenaga. Memantau orang itu butuh asupan yang banyak, biar gak oleng.


“Mitha, menurut kamu....Siska mampu meneror mami gak?” tanya Fani di sela menyantap makan siang yang telat.


“Antara mampu dan tidak mampu Fani, tapi melihat Siska yang awalnya gefans berat Pak Bos dan tidak suka dengan mami. Bisa saja dia meneror mami, tapi itu baru dugaan ya... masih mengumpulkan bukti dulu.”


“Ssst.....Mitha, pas banget ada Siska masuk tuh sama pegawai hotel kayaknya,” ujar Fani pelan seperti berbisik.


“Fani lanjut makannya, jangan terlalu kelihatan kalau kita sedang memperhatikan mereka,” tegur Mitha dengan nada pelan.


Siska dan pegawai hotel duduk di meja makan tidak terlalu jauh dari mereka, tidak sia sia Mitha dan Fani telat makan siang, bisa melihat Siska tanpa sengaja. Lihat pola Siska sepertinya sedang mendiskusikan hal yang serius dengan wanita berseragam restoran hotel. Si wanita berseragam terlihat memberikan barang berbentuk kecil di tangannya, dengan sengaja Mitha diam diam mengambil foto mereka berdua, sekedar untuk jaga-jaga saja.


🌹🌹


Setelah dua jam istirahat, tidur siang di pelukan suaminya, tubuh Lina mulai segaran dan hatinya mulai tenang.


“Daddy sebaiknya kita ke bawah, lihat kondisi terbaru?” ajak Lina.


“Mami yakin mau keluar dari kamar, sudah tidak takut?” Andre coba menyakinkan kondisi istrinya.


“Yakin dad, kan ada daddy di samping mami.” Lina memberanikan dirinya memajukan wajahnya, dan mencium bibir Andre.


Andre tidak menyia-nyiakan kesempatan itu, di raihnya tengkuk Lina, agar semakin menempel. Lipatan bawah bibir Lina di sesapnya, di kulumnya lalu di berikan sentuhan menggigit agar terbuka bibir Lina.


“Aahh.......” ******* Lina terdorong keluar dari mulutnya, mereka saling membelit lidah dan berbagi saliva, dalam waktu cukup lama.


Merasa kehabisan oksigen, Lina melepaskan pagutannya “perasaan cuma mau kecup doang, malah jadi lebih,” gerutu Lina sambil memegang bibir bawahnya, yang sering di gigit Andre.


“Daddy gak tahan kalau cuma di kecup doang, harus lebih. Daddy malah pengen nyusu ini,” sungguh messum sekali Andre.


“Emang maunya daddy begitu, nanti ya Dad........sekarang kita ke bawah....mami pengen tahu siapa yang meneror.”


“Kita ke ruang kerja daddy aja ya.” Ajak Andre.


“Iya Dad.” Lina buru buru merapikan tampilannya biar terlihat segar.


Dengan dua orang ajudan, Andre dan Lina di kawal saat mulai keluar dari kamar mereka.


Ruang Kerja CEO......


.


Faisal, Mitha, Fani dan Susi turut berkumpul di ruang kerja Andre.

__ADS_1


“Pak Bos, saya masih menunggu kedatangan kurirnya. Joni sudah memberi kabar kalau kurir yang mengirim memang karyawan mereka, tapi untuk paketnya sendiri tidak terdata di manifes data mereka,” jelas Faisal.


“Tapi Pak Faisal, saya sempat tanda tangan di tanda terimanya,” sambung Fani.


“Berarti paket itu di terima dadakan?” tanya Andre.


“Daddy, bisa saja kurir tersebut memang mengantar paket ke alamat hotel ini. Kemungkinan ada orang yang melihat, lalu di titipnya paket buat mami lewat kurir tersebut. Ini prediksi mami ya.”


“Bisa jadi Mih, tadi kita sempat ke front office, mereka menerima beberapa dokumen dari kurir tersebut,” balas Mitha.


“Dan bisa jadi si pengirimnya masih berkeliaran di hotel ini,” ujar Susi.


“Mami mencurigakan seseorang?” tanya Mitha.


“Harusnya Mitha bertanya ke Pak Andre, adakah wanita yang terluka karena Pak Andre, bisa jadi yang mengirim itu telah di kecewakan oleh Daddy,” celetuk Lina.


“Sayang........” Andre menautkan jari jemarinya ke jari Lina.


“Karena baru kali ini mami  terima teror ini Dad, dan di posisi sudah menikah dengan Daddy. Sebelum menikah jika tidak ada yang suka sama mami, paling hanya ngedumel, bersikap sinis.....masih  wajarlah. Karena tidak semua orang suka dengan mami. Dan tidak bisa memaksa mereka menyukai diri kita, benarkan Dad.”


“Benar sayang, makanya kita hadapi sama sama.” Dikecupnya punggung tangan Lina, untuk saling menguatkan.


“Baik kalau begitu kalian bisa melanjutkan pekerjaan, Faisal...... jika kurir tersebut sudah datang. Segera bawa ke sini.”


“Silahkan....,”


“Mitha, Fani, Susi......ingat tetap memantau!”


“Siap Pak Faisal!” Jawab serempak para srikandi.


“Mami, Daddy sambil cek berkas ya. Mami cukup duduk cantik di sini sama daddy,” pinta Andre.


“Iya......daddy,” Lina mengulum senyum.


“Mami mau minum sesuatu gak, biar daddy pesankan di restoran?”


“Mami mau jus alpukat, sama roti sandwich ya Dad.”


“Ok Daddy pesankan dulu ya,” Andre segera memesannya  melalui line telepone.


Selama menemani suaminya bekerja, serta menghilangkan rasa bosannya, dia menonton drama korea yang sudah lama tidak di tontonnya. Lumayan menghibur, karena suaminya tidak mengizinkan untuk membantunya bekerja.


TOK.........TOK.......TOK

__ADS_1


“Ya masuk....!” jawab Andre.


“Permisi  Pak, saya mau mengantar pesanan Bapak,” ujar pelayan restoran hotel.


“Langsung taruh di meja.” Andre menunjukkan meja dekat istrinya duduk.


“Mbak Gia, terima kasih ya,” ucap Lina melihat pesanannya sudah sampai. Selama pelayan tersebut menaruh pesanannya, entah kenapa dia memperhatikannya dan membaca nama tag yang tertera di bajunya.


“Daddy, mau ikutan minum jusnya gak?” tawar Lina.


“Mami aja yang minum, daddy masih kenyang,” tolak Andre.


Lina mulai menyesap jus alpukat ke sukaannya berserta roti sandwich, lumayan  buat menganjal perut menjelang sore. Tidak butuh waktu lama jus alpukat dan roti sandwich tandas habis. Andre hanya bisa menggelengkan kepalanya, melihat nafsu makan istrinya meningkat semenjak malam pertama.


Di ruang pertemuan.......


Mitha, Fani dan Susi memperhatikan gerak gerik Siska “Mitha kok saya gerasa si Siksa duduknya gelisah deh, sebentar-sebentar lihat handphonenya terus,” ujar Fani


“Mungkin lagi nunggu kabar seseorang,” jawab Mitha.


“Kok saya agak curiga ya, sama barang yang Siska pegang sama pelayan restoran, waktu kita di restoran.  Mitha, kamu ada Feeling sesuatu gak?” tanya Fani.


Jari jemari Mitha mengetuk-ngetuk mejanya, memikirkan hal kemungkinan yang terjadi atau pikiran buruk di kepalanya “sebenarnya saya gak mau su’udzon sama Siska, dan semoga pikiran negatif saya tidak terjadi.”


“Memang apa yang terpikirkan?”


“Saya sempat berpikir, mereka berdua transaksi obat beracun. Duh jangan sampai terjadi, amit amit ya Allah,” ucap Mitha sambil mengetuk keningnya.


“Astaga Mitha.........pikiran kamu sampai ke sana, horor banget,” balas Susi yang sedari tadi menyimak.


“Mendingan saya balik ke ruang kerja Pak Andre, buat memastikan kalau mami baik baik saja. Tidak seperti yang saya pikirin, gak tenang rasanya. Kalian berdua mau ikut gak?”


“Ikutlah,” jawab Fani dan Susi.


Ruang Kerja CEO........


Andre masih terlihat sibuk dengan berkasnya di meja kerja, sesekali melirik istrinya yang sibuk sendiri dengan handphonenya.


“Dad, bagaimana kelanjutan kasus korupsinya Lisa?”


“Daddy sudah minta bagian HRD hari ini untuk membuat surat pemecatan, serta membawa kasus ini ke pihak berwajib.”


bersambung

__ADS_1


__ADS_2