
Beberapa saat sebelumnya....
Rory baru saja berbicara dengan Martin terkait dengan video lagu baru mereka yang dihasilkan dari mengabungkan lagu ciptaan Nayla dan Rory.
"Kamu bisa istirahat, kamu dan Nayla sudah bekerja keras hari ini. Aku akan memantau pekerjaan lain," ucap Martin.
"Dimana yang lain?" tanya Rory.
"Sepertinya mereka mencari sesuatu untuk makan malam. Karena lagu ini lebih fokus padamu dan Nayla, tidak terlalu banyak yang bisa mereka kerjakan, jadi mereka ingin mencari sesuatu untuk Nayla," jelas Martin.
Rory mengangguk mengerti dan pamit untuk menemui Nayla yang sudah beberapa menit yang lalu berada didalam tenda rias.
"Apakah kamu melihat Nayla?" tanya Rory pada salah satu kru yang membantu pembuatan video.
"Saya melihat nona berjalan kearah sana setelah keluar dari tenda rias," jawabnya sopan sembari menunjuk satu arah.
"Terima kasih," ucap Rory.
"Dengan senang hati, tuan," sambutnya sopan.
Rory pergi kearah yang di tunjuk kru tadi dan mengedarkan pandangannya, mencari dimana Nayla berada. Hingga akhirnya menemukan sosok Nayla yang tengah bersandar di bawah pohon palem.
Semula Rory berniat mengejutkannya, namun ia membatalkan niatnya tatkala melihat Nayla memejamkan mata dengan hembusan nafas yang terlihat begitu tenang. Satu tangannya masih mengengggam ponsel.
"Sepertinya dia kelelahan," gumam Rory pelan.
Rory mendekati Nayla dengan senyum tipis diwajahnya. Angin sore pantai berhembus lembut seolah tidak ingin membangunkan Nayla yang tertidur. Rambutnya tertiup angin hingga menutupi sebagian wajahnya.
Dengan gerakan hati-hati dan sepelan mungkin, Rory duduk disamping Nayla, memandangi wajahnya dengan senyum merekah dibibirnya.
'Kamu bahkan tetap terlihat cantik ketika tidur,' batin Rory.
Matanya beralih pada ponsel yang ada ditangan Nayla, memperlihatkan percakapan pesan dengan Adrian. Sekilas Rory membaca pesan Adrian yang berkata,
[[ Jika kamu datang dan kemungkinan akan terlambat, aku akan mengulur waktu. Tapi kalau kamu memang tidak bisa datang, beri aku kabar agar aku bisa mengurus sisanya ]]
[[ @Nayla; akan aku usahakan. ]]
Untuk sesaat, Rory merasa bersalah saat mengingat acara penghargaan Nayla yang akan diadakan besok. Disaat Nayla seharusnya merayakan pencapaiannya, dia justru dihadapkan dengan masalah yang muncul darinya.
Perlahan, Rory mengulurkan tangannya untuk menyingkirkan rambut yang menutupi wajah Nayla.
"Kamu sudah selesai?" tanya Nayla ketika Rory menyibakkan rambutnya dengan mata masih terpejam.
"Ehh,,? Kamu bangun? Apakah aku membangunkanmu?" tanya Rory.
"Tidak, aku hanya merasakan saat kamu duduk," jawab Nayla terkekeh pelan, lalu membuka matanya.
"Oh,,, dan kamu berpura-pura tidur saat aku sudah duduk?" sambut Rory menyipitkan matanya.
"Aku tidak tidur," sanggah Nayla. "Hanya memjamkan mata," imbuhnya.
"Itu kan sama saja,, dasar," Rory mengeram gemas sembari menarik hidung Nayla.
"Aakh,, lepaskan," pekik Nayla menepis tangan Rory dan menutupi hidungnya dengan satu tangan.
Rory tergelak untuk beberapa saat, dan kembali menatap Nayla.
__ADS_1
"Kamu belum mejawab pertanyaanku," tutur Nayla.
"Pertanyaan?" ujar Rory mengerutkan kening. "Apakah kamu mananyakan sesuatu?" imbuh Rory bertanya.
"Aku bertanya apakah urusanmu dangan Martin sudah selesai," ulang Nayla.
"Ah,, itu ternyata," sambut Rory mengsok belakang lehernya. "Katakan saja selesai, semua hanya menunggu proses akhir, dan kita bisa istirahat setelah ini. Dan mereka (Kevin dan yang lain), menghilang entah kemana," terang Rory.
"Begitu ya, senang mendengarnya," sambut Nayla tersenyum senang.
Ada jeda di antara mereka saat Rory terus manatap Nayla dengan wajah ragu-ragu.
"Apa?" Nayla menaikkan alisnya bertanya saat melihat Rory terus manatapnya.
"Maaf, karenaku, kamu terjebak dengan masalah yang yang muncul dariku. Padahal, kamu baru saja mendapat kabar baik dengan penghargaan yang kamu dapatkan, secara tidak langsung aku telah mengacaukannya," ucap Rory lirih.
Nayla menatap Rory dalam diam, lalu memalingkan wajahnya menghadap pantai didepan mereka. Dengan gerakan pasti, Nayla menggeser duduknya lebih dekat dengan Rory, dan meletakkan kepalanya di bahu Rory.
"Bisakah kamu berhenti menyalahkan dirimu sendiri disaat keadaan yang tidak bisa kamu prediksi muncul didepanmu?" pinta Nayla masih menatap pantai.
"Aku tidak menyukainya dan itu terdengar menyebalkan," imbuhnya.
"Aku_,,,"
"Dan hari ini juga terlalu melelahkan untuk membahas hal itu," potong Nayla cepat, lalu mengeliat sesaat.
"Mau mati rasanya, dengan kegiatan sebanyak itu hanya untuk satu video yang berdurasi tidak sampai sepuluh menit, bagaimana bisa kalian terus melakukan ini? Jika itu aku, mungkin kakiku sudah lepas dari tempatnya," gerundel Nayla.
Suara tawa Rory pecah seketika. Nayla terus mengerutu pelan dengan memasang wajah cemberut mengeluarkan semua keluhannya.
"Apakah kamu menyesal?" tanya Rory membelai lembut kepala puncak kepala Nayla.
"Apa kamu tau?" tanya Nayla.
"Apa?"
"Kamu--tidak," Nayla mengeleng pelan. "Lebih tepatnya kalian semua hebat, sungguh. Kalian melakukan kegiatan seperti ini tentu bukan sekali dua kali saja, dan kalian terus melakukannya seolah itu bukan apa-apa," puji Nayla tulus.
"Jika itu aku, mungkin aku tidak akan bisa bangun dari tempat tidurku setelahnya," imbuhnya tertawa pelan.
"Hal itu juga berlaku untukmu," sambut Rory menyentil lembut hidung Nayla.
"Jika aku harus duduk didepan komputer dengan otak terus bekerja extra sepertimu, aku akan menyerah dalam satu hari. Dan membenci komputer setelahnya. Tapi, kamu bahkan tidak tidur beberapa hari untuk menyelesaikan naskahmu," tutur Rory dengan rasa kagum.
Mereka saling pandang selama beberapa saat hingga Nayla kembali mengarahkan pandangannya ke pantai, masih dengan kepala yang bersandar dibahu Rory dan tangan yang berada dalam genggamanya. Hembusan angin laut dan deburan ombak lembut mengisi keheningan diantara mereka.
Menyaksikan mentari semakin turun diselimuti cahaya jingga keemasan yang terlihat indah dan memanjakan mata siapapun yang melihatnya.
"Mau kebibir pantai?" tawar Rory.
"Aku pikir kamu tidak akan bertanya. Kamu membuatku menunggu lama," sambut Nayla mengangkat kepalanya.
"Kalau begitu, ayo!" ucap Rory sembari bangun dari duduknya dan mambantu Nayla berdiri.
Mereka berjalan menuju bibir pantai dangan kaki telanjang. Membiarkan air laut mengenai kaki mereka.
Mereka berdiri menghadap cakrawala jingga didepan mereka dengan jemari tangan yang bertautan.
__ADS_1
Rory meremas lembut tangan Nayla, membuat dia menoleh kearahnya. Tepat saat Nayla mengarahkan pandangan padanya, Rory berlutut dengan satu kaki didepan Nayla.
Satu tangannya tidak melepaskan tangan Nayla, sementara satu tangannya yang bebas merogoh saku celananya, mengeluarkan kotak beludru yang telah ia siapkan sejak awal.
"Roy,,??" Nayla mengerutkan keningnya. "Apa yang sedang kamu lakukan?" tanyanya sembari mengedarkan pandangannya, berharap tidak ada yang melihatnya.
Rory melepaskan tangan Nayla untuk sesaat hanya untuk membuka kotak beludru biru gelap ditangannya, memperlihatkan cincin yang berkilau terkena sinar mentari sore didalamnya.
"Kamu adalah hal terbaik yang terjadi didalam hidupku. Hariku menjadi lebih berwarna sejak kehadiranmu dalam hidupku. Kesalahan yang pernah kulakukan padamu, membuatku sadar bahwa hal yang sangat menakutkan bagiku adalah kehilangan dirimu yang sangat berarti bagiku," menarik nafas pelan
"Semula aku berpikir bahwa aku sudah cukup mencintaimu dan tidak bisa lebih mencintaimu lagi. Namun, semakin banyak hari yang kulalui bersamamu, aku terbukti salah. Aku menjadi lebih mencintaimu seiring bertambahnya waktu yang kita lalui bersama,"
"Nayrela Louise, bersediakah kamu menikah denganku?" harap Rory kembali meraih tangan Nayla.
Setiap kalimat yang dilontarkan Rory penuh kesungguhan. Ia menatap lurus ke dalam mata Nayla, mencurahkan segalanya yang tidak bisa ia sampaikan dengan kata-kata.
Nayla meletakkan satu tangan dimulutnya dengan air mata yang telah lolos dari matanya, tersenyum haru.
"A-aku,,,"
Nayla berusaha mengendalikan perasaan yang meluap dihatinya. Seolah apa yang ia alami saat ini adalah mimpi. Dan dengan gerakan pelan, ia mengangguk dan menjawab dengan suara bergetar.
"Aku bersedia," jawab Nayla meneteskan air mata bahagia.
Senyum bahagia merekah dibibir Rory yang segera memasangkan cincin di jari manis Nayla, dan berdiri. Menarik Nayla kedalam pelukannya, mengangkat tubuhnya dan memutarnya dengan luapan rasa bahagia.
"Kamu menjadikanku pria yang paling bahagia didunia, terima kasih, Ma Chéri," bisik Rory ditelinga Nayla.
Nayla membalas pelukan Rory dengan perasaan tak kalah bahagia, berpegangan erat padanya saat Rory memutar tubuhnya dalam pelukannya.
"WWOOOHHHOOO,,,,!!!!!"
Suara sorakan meriah terdengar dari orang-orang yang tiba-tiba muncul disekeliling Nayla dan Rory. Entah dimana mereka bersembunyi, mereka yang tidak lain adalah orang-orang yang berperan dalam pembuatan video bersorak senang sembari bertepuk tangan.
Nayla segera melepaskan diri dari Rory dengan wajah merah padam, tidak bisa menyembunyikan raut wajah tersipunya saat melihat Kevin yang justru tersenyum bahagia.
Martin juga terlihat tidak bisa menyembunyikan kebahagiaan diwajahnya, Thomas yang turut senang dengan apa yang dilihatnya, dan Ethan serta Nathan yang tak kalah senang terus bersorak denga gembira.
"Apakah kalian mendapatkan momennya?" tanya Ethan bersemangat.
"Tentu saja, dan itu sempurna," jawab salah satu kru yang memegang kamera tersenyum puas.
"A-Apa yang kalian l-lakukan?" sambut Nayla terbata, terkejut dengan mereka yang tiba-tiba muncul.
"Dan apa maksud pertanyaanmu, Ethan?" tanya Nayla masih dengan wajah terkejut.
"Mengabadikan momen kalian berdua, tentu saja, apa lagi?" jawabnya santai.
Rory meraih tangan Nayla sebelum Nayla sempat mengeluarkan protesannya.
"Aku merencanakan ini sejak lama, namun jika mereka, aku tidak tau apa yang sudah mereka rencanakan. Satu hal yang pasti adalah, mereka tidak akan melakukan hal di luar batasan mereka," tutur Rory.
"Aku tau,, tapi kan_,,," keluh Nayla.
Nayla tidak menyelesaikan kalimatnya saat melihat mereka terlihat begitu senang dengan apa yang mereka lakukan. Terlepas dari semua yang mereka lakukan, ia tetap mempercayai mereka sepenuhnya.
Pada akhirnya Nayla hanya tersenyum sembari mengeleng-gelengkan kepalanya. Rory meremas lembut tangannya, dan kembali menarik Nayla dalam pelukannya, menikmati sisa sore bersama.
__ADS_1
...****************...