
Nayla menghela nafas panjang dan menatap Adrian, memasang wajah serius.
"Yang kau katakan tidaklah salah," jawab Nayla.
"Rencana apa lagi yang akan kau lakukan, Nay?" tanya Adrian.
"Aku tau, kau melakukan semua ini karena Chris terlibat di dalamnya, tapi melihatmu sampai sejauh ini, aku berasumsi ada hal lain. Apa yang sebenarnya kamu sembunyikan? Siapa sebenarnya yang sedang kau selamatkan?" cecar Adrian.
"Aku hanya mencoba semua kemungkinan yang bisa saja terjadi dan ingin mencegahnya," jawab Nayla.
Nayla kembali membuka buku dan mulai membaca, mencoba mengalihkan perhatiannya.
"Biarkan aku membantumu, Nay," pinta Adrian.
"Tidak untuk saat ini," tegas Nayla.
Disisi lain, diluar ruangan, Kevin berdiri didepan pintu dan membatalkan niatnya untuk membuka pintu ketika mendengar suara pria lain didalam ruang rawat Nayla.
'Siapa yang sedang bersama Nayla? Suara ini jelas bukan suara Chris,' batin Kevin
"Baiklah, aku mengerti. Tapi, tolong beri aku kabar apapun itu, dan katakan saja apa yang bisa aku lakukan untukmu," harap Adrian.
"Baiklah," jawab Nayla mengangkat wajahnya dari buku.
"Kau bisa menjanjikannya?" harap Adrian.
"Aku janji, Adrian. Apa kau senang?" jawab Nayla.
'Adrian? Bukankah itu nama yang disebut Nayla saat menelepon kemarin?' pikir Kevin.
Kevin merapatkan tubuhnya dan memasang telinganya. Mencuri dengar apa yang sedang dibicarakan Nayla bersama pria bernama Adrian yang tidak dikenalnya.
"Bagus," sambut Adrian senang. " Ah, aku hampir lupa. Haruskah aku mengantarkan barang-barangmu ke apartemenmu? itu datang kemarin," terang Adrian.
"Jika kau memiliki waktu untuk mengantarkannya, kamu bisa meletakkannya di ruangan biasa," jawab Nayla.
"Tentu, aku akan melakukannya," jawab Adrian.
'Apa maksudnya sekarang? Jadi Adrian bisa keluar masuk dengan bebas di apartemen Nayla? Hubungan seperti apa yang mereka miliki? Ataukah mereka bersaudara?' Kevin terus bertanya-tanya dalam hatinya.
"Sepertinya aku harus pergi sekarang," ucap Adrian melihat jam dipergelangan tangannya.
"Sepertinya kau memiliki banyak pekerjaan," cetus Nayla.
"Menurutmu, salah siapa aku memiliki banyak pekerjaan yang harus kulakukan?" sindir Adrian.
"Jangan salahkan aku jika aku ingin menikmati waktuku," sambut Nayla.
"Dan melimpahkan semuanya padaku?" sambung Adrian sembari menyipitkan mata.
"Tepat, karena itu memang tugasmu," jawab Nayla enteng.
Adrian menepuk dahinya lalu mendesah pelan. Tak lama Adrian terkekeh pelan, dan menatap Nayla.
"Kurasa kau benar tentang itu," jawab Adrian.
"Yang terpenting adalah kamu baik-baik saja. Hubungi aku kapanpun kau memerlukan sesuatu," harap Adrian.
Nayla hanya mengangguk pelan sebagai jawaban.
"Aku pergi, Nay," pamit Adrian bangun dari duduknya.
"Ya,, tolong tetap berhati-hati dalam perjalanan," ucap Nayla mengingatkan.
"Pasti," jawab Adrian.
Mendengar suara Adrian, Kevin segera menjauh dari pintu dan bersembunyi di tikungan lorong yang berlawanan arah dengan saat dirinya tadi datang.
"Hei, Adrian,!" panggil Nayla saat Adrian hendak membuka pintu.
"Ya,?" jawab Adrin berbalik tanpa melepas tangan dari knop pintu.
"Jangan katakan apapun pada Rose," pinta Nayla.
__ADS_1
"Aku tau apa yang harus dan tidak harus aku lakukan, Nay," jawab Adrian tersenyum.
"Fokus saja dengan kesehatanmu. Aku akan datang lagi besok jika sempat. Kuharap aku bisa menyelesaikan pekerjaanku dengan cepat." ucap Adrien tersenyum lebar.
"Baiklah," jawab Nayla.
Adrian pun membuka pintu dan meninggalkan Nayla sendiri. Sementara itu, kevin terus memantau Adrian yang baru saja keluar dari ruang rawat Nayla.
'Jika dia teman, sangat tidak masuk akal dia bisa keluar masuk apartemen Nayla dengan mudah. Lalu siapa dia?' batinnya.
Kevin mengelengkan kepalanya dan menghampiri ruang rawat Nayla. Mengatur pikiran dan wajahnya agar tidak terlihat aneh di depan Nayla.
"CEKLEK,,,!!"
Suara pintu yang dibuka mengalihkan perhartian Nayla yang tengah membaca buku.
Kevin melirik buket bubga dan dua paper bag yang berada disofa dan menatap Nayla.
"Apakah seseorang baru saja datang?" tanya Kevin pura-pura tidak tau.
"Yah, temanku datang. Kurasa dia tau dari Chris," kilah Nayla.
"Begitu rupanya, sayang sekali aku tidak bertemu dengan temanmu," ucap Kevin tersenyum sembari menarik kursi lalu duduk.
"Kamu masih memiliki kesempatan untuk bertemu dengannya," sambut Nayla menutup bukunya.
"Dan dia membawakanmu buku?"' tanya Kevin lagi.
"Ah,, ini?" jawab Nayla mengangkat buku ditangannya.
"Yah,,, dia membawakannya untukku," sambungnya.
"Omong-omong, diamana yang lain? Dan pergi kemana kalian?" cecar Nayla.
"Mereka dihubungi oleh beberapa orang dari agensi yang berbeda. Hanya sedikit wawancara," kilah Kevin.
Nayla menyipitkan matanya dan menatap Kevin. Seolah mengingat sesuatu, Nayla meraih ponselnya dan mulai mencari tentang berita terkini.
"Berikan padaku,!" pinta Nayla.
"Tidak,!" jawab Kevin tegas.
"Jangan memikirkan hal aneh lagi. Aku sudah mengabulkan apa yang kamu minta tentang temanku yang menguasai bela diri," papar Kevin.
"Aku hanya ingin tau apa yang tengah kamu sembunyikan, lebih tepatnya kalian semua," sambut Nayla.
"Boleh saja, tapi, aku juga akan membatalkan janji temu bersama mereka," balas Kevin
"Ehh,,, itu tidak adil," protes Nayla.
"Aku harus mendapatkan sesuatu, ketika kau telah mendapatkan sesuatu dariku. Bukankah itu wajar?" balas Kevin.
"Ishh,,," Nayla merengut kesal dan kembali membuka bukunya.
"Aku akan menceritakan semuanya padamu, tapi tidak sekarang. Tidak, dengan kondisimu sekarang," jelas Kevin.
Kevin meletakan ponsel Nayla disaku celananya, lalu tersenyum lembut.
"Mereka akan datang setelah gelap karena terhalang pekerjaan," ungkap Kevin.
"Uhm,,," gumam Nayla.
"Haahhh,,,, Kau tau kenapa aku seperti ini bukan?" desah Kevin.
"Aku tau," jawab Nayla tanpa menoleh.
"Aku akan menghubungi Rory terlebih dulu untuk mengatakan kamu sudah bangun. Dia terus saja mengkhawatirkanmu," papar Kevin.
Kevin bangun dari duduknya dan mengeluarkan ponsel miliknya. Sekilas, Nayla melirik Kevin tengah berbicara melalui ponselnya dan berjalan keluar ruangan.
"Tck,,, dia bahkan tidak membiarkanku mendengar apa yang dia bicarakan," decak Nayla.
Tok,,,
__ADS_1
Tok,,,
Tok,,,
Suara ketukan pintu menglihkan perhatian Nayla. Tak lama kemudian muncul seorang perawat yang tidak dikenali Nayla, tersenyum hangat padanya.
"Anda terlihat lebih segar dari sebelumnya," ucapnya ramah.
'Ah,, benar juga. Irene tidak disini, sepertinya Chris yang mengirim dia kesini,' batin Nayla.
"Apakah anda merasa ada yang tidak nyaman?" tanyanya lembut.
"Sangat ada," jawab Nayla cepat.
"Apakah anda merasakan sakit dibagian tertentu?" sambutnya cemas.
"Aku sangat bosan disini. Kapan aku bisa keluar dari tempat ini?" tanya Nayla.
Perawat itu tertegun, detik berikutnya menahan tawa, berusaha tidak menyinggung Nayla.
"Tertawa saja, aku tak akan marah. Bahkan Irene juga akan tertawa terbahak-bahak jika dia mau," ucap Nayla berhasil membaca raut wajah perawat.
"Ah,, Tidak. Maafkan saya, saya tidak bermaksud," jawabnya gugup.
"Tenanglah, aku hanya bercanda. Tapi yang kukatakan adalah benar. Kamu bisa tertawa dan tidak perlu setegang itu padaku," sambut Nayla ramah.
"Apakah Chris mengancanmu?" tanya Nayla.
"Tidak,!" jawabnya mengelengkan kepalanya. " Dokter Chris hanya berpesan untuk lebih berhati-hati dalam merawat anda. Dan menghindari segala hal yang bisa membuat kondisi anda memburuk," terangnya.
"Kenapa kamu terlihat takut padanya?" tanya Nayla.
"Mungkin lebih tepat jika saya mengatakan, saya sangat menghormati dokter Chris," ungkapnya. " Saya akan mulai menganti perbannya," lanjutnya.
Nayla mengangguk pelan dan membiarkan perawat itu menjalankan tugasnya. Dengan sangat hati-hati, perawat itu melepas perban yang terpasang dikepala Nayla dan mengantinya dengan yang baru.
"Omong-omong kamu belum menjawab pertanyaanku. Kapan aku bisa keluar?" tanya Nayla lagi.
"Dalam hal ini, saya tidak berwenang untuk menjawabnya. Karena hal itu hanya diketahui oleh dokter yang merawat anda," jawabnya sopan.
"Begitu," gumam Nayla.
Perawat itu tersenyum lembut, dan terus melanjutkan tugasnya.
'Dokter Chris mengatakan padaku, nona ini adalah adiknya. Kurasa itu masuk akal, sifat dan sikap mereka benar-benar mirip,' batinnya.
"Baiklah,, sudah selesai," ucapnya.
"Terima kasih," balas Nayla.
"Itu sudah menjadi tugas saya, nona," jawabnya tersenyum.
"Saya pamit dulu, mungkin dokter Chris akan datang tidak lama lagi untuk memastikan keadaan anda," paparnya.
Nayla hanya mengangguk sebagai jawaban, bersamaan dengan perawat itu keluar, Kevin kembali keruangan setelah selesai berbicara melalui ponselnya.
"Rory akan kembali setelah satu jam, apakah kamu ingin sesuatu untuk dimakan?" tawar Kevin setelah duduk disamping Nayla.
"Tidak ada. Terima kasih," tolak Nayla, lalu kembali membaca buku yang ada ditangannya.
"Kau marah padaku?" tanya Kevin.
"Tidak," jawab Nayla tanpa menoleh.
"Kau meninginkan ponselmu?" tanya Kevin lagi.
"Tidak," jawab Nayla masih terus membaca.
"Nay,,," panggil Kevin memelas.
Nayla mengangkat kepalanya dan mengarahkan pandangannya pada Kevin.
...****************...
__ADS_1