LOVE OF MY LIFE

LOVE OF MY LIFE
31.Amarilis dan Anyelir merah


__ADS_3

Setelah perbincangan singkat dengan Nayla melalui telepon, pada keesokan harinya semua anggota FM (Fimm Shadow) memulai kegiatan mereka lebih awal.


Disela kesibukan mereka, Rory kembali menciptakan lagu. Sebuah lagu yang sengaja dia ciptakan untuk orang yang mengisi hatinya.


Thomas, Ethan dan Nathan terlihat antusias ketika mendengarkan lagu itu, namun berbeda dengan Kevin dan Martin. Walaupun mereka mengakui lagu itu sangatlah bagus, namun mereka tak menanggapi perasaan yang disampaikan dalam lagu itu.


Berlatih vokal, latihan fisik, dan dance untuk melengkapi kombinasi mereka membuat waktu dan pikiran mereka hanya terpusat pada tim. Rutinitas yang mereka jalani tanpa terasa berjalan begitu cepat, hingga keberangkatan mereka ke Paris hanya tinggal satu hari.


Siang itu, ketika mereka beristirahat sejenak, Rory memutuskan untuk mencari sesuatu untuk makan siang. Dengan ditemani Thomas, mereka pergi menggunakan mobil Rory.


Rory terlihat memainkan ponselnya sebelum menyalakan mobil. Senyum yang tak hilang dari bibirnya sangat dimengerti oleh Thomas yang duduk disampingnya.


"jadi... apakah dia marah atau sesuatu?" tanya Thomas tersenyum jahil.


"Tidak sama sekali. Dia mengerti dengan keadaan yang aku hadapi. Jadi kami cukup puas dengan saling berkirim pesan." jawab Rory tanpa menoleh.


"Apakah dia menyibukkan diri karena sangat jelas jarang mendengar kabar darimu dalam beberapa hari." selidik Thomas.


"Dia berkata padaku, dia juga lebih sibuk dari sebelumnya." jawab Rory meletakkan ponselnya setelah membalas pesan dari Nayla dan mulai menyalakan mobilnya.


"Lalu, bagaimana dengan kevin? dia terlihat sangat jelas kurang mendukungmu berhubungan dengan Nayla kan?" tanyaThomas.


"Entahlah." jawab Rory mengangkat bahunya, dan mulai menjalankan mobilnya perlahan meninggalkan gedung.


Ketika Rory melewati toko bunga yang terletak tak jauh dari gedung tempat tinggal mereka, secara tak sengaja Thomas melihat Nayla baru saja keluar dari toko bunga. Satu tangannya tengah bermain dengan ponselnya, sedangkan satu tangannya lagi membawa buket bunga Amarilis dan Anyelir merah. Thomas melebarkan matanya tak percaya dengan apa yang dilihatnya.


'Tidak mungkin kan dia akan menemui Rory?dia bahkan belum pernah kesini'Tapi apa yang dia lakukan disini?'pikir Thomas.


"Ada apa?Apa yang kau lihat?" tanya Rory.


Dengan cepat,Thomas menutupi pandangan Rory agar tak melihat Nayla disana.


"Tidak ada" jawab Thomas.


Rory mengerutkan keningnya merasa aneh dengan sikap Thomas dan mencoba mencuri pandang ke arah dimana yang dilihat Thomas.


"Hei,,aku penasaran akan satu hal." kata Thomas mengalihkan perhatian Rory.


"Apa?" tanya Rory.


"Apakah Nayla tau dimana kau tinggal?" tanya Thomas.


"Tidak." Rory menggelengkan kepalanya. "Tapi aku berencana membawanya kesini setelah aku mengatakan yang sebenarnya padanya." jelas Rory.


'Lalu apa yang membuatnya disana?bunga itu?senyum itu?'pikir Thomas.

__ADS_1


"Hei..ada apa denganmu? wajahmu yang berkerut seperti itu menandakan ada yang sedang kau khawatirkan." kata Rory.


"Tidak ada..hanya mencoba mengingat sesuatu." jawab Thomas.


'Tidak bisa.hanya karena melihat hal itu,jangan berasumsi Nayla melakukan hal itu.tak mungkin dia menyakiti Rory kan.'pikir Thomas.


Suara geraman perut memecah keheningan. Hal itu membuat tawa keduamya tak bisa ditahan.


"Ya tuhan..apakah itu jawaban yang sebenarnya Thomas?" tanya Rory tertawa.


"Kurasa begitu.ternyata perut yang memberikan jawaban paling jujur disini." jawab Thomas.


"Baiklah,,kita tak perlu mencari yang terlalu jauh.Dipersimpangan depan aku ingat ada Bistrot yang menyajikan menu yang lumayan, apa kita kesana?" tawar Rory.


"Ayo kita lakukan." jawab Thomas.


Dengan tawa renyahnya, Rory mengarahkan mobilnya menuju tempat yang baru saja mereka sepakati.


Ketika pikiran Thomas gelisah dengan apa yang baru saja dilihatnya,sementara itu Nayla yang tak menyadari hal itu tersenyum melihat ponselnya. Pesan dari Rory yang tidak rutin dia terima membuat satu pesannya terasa sangat berkesan untuknya. Setelah membalas pesan Rory, langkahnya menuju mobil miliknya dihentikan oleh suara pria bertopi yang memakai apron hijau lumut.


"Nona tunggu sebentar" serunya sambil berlari kecil menghampiri Nayla.


"Ada apa?" tanya Nayla.


"Ahh,,ini uang kembalian anda, anda meninggalkannya. Tolong kali ini anda harus menerimanya" kata pria itu.


"Sama-sama nona. Anda adalah pelanggan favorit saya." ungkap pria itu tersenyum ramah.


"Begitukah?" tanya Nayla.


"Tentu saja. Setiap saat anda datang saya selalu melayani anda. Anda juga selalu memperlakukan bunga dengan baik." puji pria itu tulus.


"Terima kasih. Saya tersanjung, kalau begitu saya permisi." pamit Nayla.


"Baik.Silahkan datang kembali."ucap pria itu sambil membungkukkan badannya.


Nayla tersenyum ramah,lalu memasuki mobilnya. Mengarahkan mobilnya kesuatu tempat yang sangat suka dia kunjungi. Sebuah tempat yang berjarak beberapa meter dari gedung dimana Rory dan teman temannya tempati.


Nayla memarkirkan mobilnya di area pemakanan. Dengan senyum yang tak lepas dari bibirnya, Nayla keluar dari mobil dan memesuki kawasan pemakaman. Langkahnya terhenti disebuah batu dengan sebuah tulisan terukir dibatu itu.''NICHOLAS L'


Senyum Nayla memudar dan berganti dengan kerutkan di keningnya ketika melihat bunga berada dimakam kakaknya.


"Lagi?? Ini sudah keempat kalinya aku mendapati ada bunga lain disini,siapa yang meletakkannya?"gumam nya heran.


"Selama ini tak ada yang meletakkan bunga disini selain aku" gumam Nayla lagi.

__ADS_1


Mengelengkan kepelanya pelan, Nayla mengusir pikiran aneh yang masuk kedalam pikirannya dan memilih mengabaikannya.


"Sepertinya kakak punya pengemar ya?" kata Nayla pelan dan berjongkok didepan makam kakaknya.


"Aku bahkan hampir melupakan semua teman teman kakak. Jadi aku tak pumya gambaran siapa yang mengunjungi kakak akhir-akhir ini." kata Nayla lagi.


"Apakah kak Nick tau? Entah kenapa dan bagaimana itu berawal aku tak tau pasti. Tapi, aku tak bisa berbohong bahwa aku memang memiliki perasaan untuknya. Aku berharap itu akan baik baik saja" lanjutnya.


Nayla berkata seolah tengah berhadapan dengan sang kakak. Menumpahkan semua yang dirasakan dan semua yang dialaminya.Tak terasa,air mata bergulir membasahi pipinya.


"Aku tau aku pernah berjanji tak akan menangis lagi.Tapi apa yang bisa kulakukan ketika mereka keluar tanpa ijinku?" Nayla tertawa pelan seraya mengusap air matanya.


"Saatnya aku untuk pergi,aku akan datang lagi nanti" ucap Nayla pelan lalu berdiri.Menatap makam kakaknya dengan penuh kerinduan dan melangkah pergi.


Ketika Nayla berada diluar pemakaman, di mana dia memarkir mobilnya ,sebuah suara menghentikan Nayla ketika hendak membuka pintu mobil.


"Nayrela." panggilnya.


Nayla berbalik dan menatap orang yang memanggilnya dengan wajah datar. Menatap orang yang ada didepannya dengan alis terangkat.


"Kenapa kau memperingatkan aku tentang dia?"tanya nya.


"Karena aku tak punya alasan untuk tak mengatakannya."jawab Nayla datar.


"Kenapa kau membantuku?" dia bertanya lagi. "Jika saja kau membiarkanku, setidaknya aku akan merasakan sendiri akibatnya.Tapi, dengan kau memperingatkan aku, itu teraasa seperti sebuah hukuman untukku." ucapnya dengan suara bergetar.


"Setiap orang memiliki alasan untuk membenci orang lain Vania.Tapi aku tak memerlukan alasan apapun untuk memberikan sedikit bantuan yang bisa kulakukan."jawab Nayla datar.


"Dan ingatlah tentang ini,aku tak membantumu,tapi kaulah yang menbantu dirimu sendiri." kata Nayla lagi.


Nayla berbalik tanpa menunggu Vania mengeluarkan kata-katanya. Sebelum menjalankan mobilnya, Nayla menurunkan kaca mobil dan menatap Vania.


"Kau tau persis dimana bisa menemuiku jika masih ingin mengatakan sesuatu padaku." kata Nayla dingin.


Vania membeku,lidahnya kelu tak bisa mengeluarkan kata-kata dari tenggorokannya. Mobil Nayla perlahan meninggalkan area parkir pemakaman. Menjauh dari tempat Vania masih berdiri menatap kepergian Nayla.


Ketika mobil Nayla terlihat semakin jauh,tubuh Vania merosot dan bersimpuh.Kepalanya tertunduk lesu.


"Aku tak pernah membencimu Nayrela.Aku ingin mendekatimu,tapi kenapa justru aku selalu melontarkan kata-kata yang tak kuijinkan keluar dari mulutku sendiri."kata Vania lirih.


"Sebelumnya kau selalu mengabaikanku, tapi beberapa hari lalu kau berkata begitu dingin padaku.Akan lebih baik jika setelah kau bersikap begitu,kau tak membantuku" ratap Vania mulai terisak.


"Aku selalu mempercayaimu.Dan fakta bahwa pria itu brengsek juga terbukti.Maafkan aku.."kata Vania disela isak tangisnya.


Suara isak tangis penuh penyesalan,rasa bersalah,dan rasa sakit bertumpuk menjadi satu.Memecah keheningan sore dipemakaman yang sunyi.

__ADS_1


...****************...


__ADS_2