LOVE OF MY LIFE

LOVE OF MY LIFE
Festival 2


__ADS_3

Festival musim dingin menjadi salah satu acara yang dinanti nantikan bagi sebagian besar orang.Tak jarang,banyak dari mereka yang datang sebelum matahari terbenam untuk menikmati pemandangan sore.


Rory melihat jam tangannya dan matanya beralih kearah jalan dimana mobil yang berjalan keluar masuk kawasan parkir festival.


Celana denim hitam yang membungkus kakinya yang tinggi dipadukan dengan T-shirt putih yang dilapisi dengan long coat coklat menutupi bahu lebarnya.Sekilas dia terlihat menarik perhatian.Namun,masker hitam dan topi hitam yang dia kenakan membuat siapapun yang ingin mendekatinya mengurungkan niat mereka.


Dengan gelisah,Rory melihat jam tangannya lagi,tubuhya bersandar pada gerbang dibelakangnya bagai seorang model.Tangannya merogoh saku celana untuk mengeluarkan ponsel miliknya.Untuk mengalihkan pikirannya,dia mulai mengulir ponsel sekedar menyibukkan diri menunggu Nayla datang.Tepukan dibahunya membuat dia menoleh dan langsung mengenali siapa orang itu walaupun wajahnya tertutupi masker seperti dirinya.


"Woww...kau datang kesini?"tanya orang itu tersenyum misterius.


"Seperti yang kau lihat."balas Rory sekenannya.


"Jadi....kamu sibuk berganti pakaian beberapa kali karena kencan dengan seseorang?"dia menyeringai."Dan di sini?"tanyanya lagi penuh selidik.


"Berisik ah.kalau kamu mau beli buku,pergi aja sana."usir Rory.


"Oh..ayolah..setidaknya kenalkan padaku siapa yang kau ajak kencan?"tanyanya penasaran.


"Kau mengetahui hal ini lebih dari siapapun,bukankah begitu Thomas?"Rory berkata dengan alis terangkat.


"Baik baik..bersenang senanglah.gunakan waktu libur dengan baik."kata Thomas."Tapi omong omong dia masih belum datang juga?"tanya Thomas.


"Mungkin sebentar lagi."jawab Rory melirik jam tangannya lagi.Tepat saat itulah mobil yang dikenali Rory untuk menjemput Nayla terlihat.


"Dia datang.pergilah"usir Rory.


"Baik baik..aku pergi..toh aku juga harus cepat agar tak kehabisan bukunya,,Bye Roy.."goda Thomas yang dibalas dengan pelototan mata Rory.


Thomas pun pergi meninggalkan Rory dengan tawa renyahnya.


Rory pun melambaikan tangan kearah Nayla saat dia mengarahkan pandagannya kearah Rory.


Nayla mendekati Rory,ketika jarak mereka cukup dekat Rory tercengang melihat penampilan Nayla.


'Apakah dia memang lebih cantik dari sebelumnya,atau aku yang tak melihatnya dengan benar kalau dia memang secantik ini?'gumamnya dalam hati.


Nayla melipat tangannya saat dia sampai didepan Rory,


"Ehmm...apakah aku melakukan kesalahan?"tanya Rory binggung.


"Siapa sebenarnya yang kau kirim untuk menjemputku?"tanya Nayla.


"Sopir.bukankah itu sudah jelas?"tanya Rory lagi tidak mengerti.


Nayla menyipitkan mata lalu berkata"Kau yakin dia HANYA sopir?"tanyanya.


"Tentu saja."jawab Rory.


"Sopir apa yang memperlakukanku hingga sedemikian rupa?"tanyanya lagi.


"Apa yang salah dengan itu?"tanya Rory heran.


"Sejujurnya tidak ada,dan ku akui itu sangat baik,hanya saja aku tak terbiasa dengan hal itu."jelasnya.


"Itu karena kamu sendiri yang menolak kujemput.Dannnn...."Rory mencondongkan badanya,sedikit membungkuk untuk mensejajarkan matanya pada mata Nayla,menurunkan sedikit maskernya sebelum bekata.


"karena kamu pantas mendapatkan perlakuan yang jauh lebih baik dari itu"kata Rory didepan wajah Nayla.menatap kedalam matanya


"Jangan marah,akan sangat disayangkan jika kecantikanmu berkurang karena expresi marahmu,walaupun wajah marahmu tetap manis."Rory berkata dengan seringai kecil dibibirnya.


Alis Nayla terangkat"Apa kau sedang mengodaku tuan Rory?"balas Nayla menatap mata Rory,menurunkan satu tangannya dipinggang.


"Ya..apakah itu berkerja?"balas Rory lagi menantang.


"Sayang sekali..kau harus berusaha lebih keras."jawab Nayla dengan seraya manarik topi Rory kebawah menutupi sebagian penglihatan Rory dan tersenyum puas.


"Heii....."protes Rory dengan cepat menegakkan badannya lalu membetulkan posisi topinya.


Senyum tipis muncul dibibirnya lalu menaikkan maskernya lagi saat melihat Nayla tertawa.

__ADS_1


'Rasanya menyenangkan melihat dia tertawa seperti itu'biik hatinya.


"Aku ada satu permintaan"kata Nayla tiba tiba saat tawanya mereda.


"Apa itu?"tanya Rory penasaran.


"Jadi kau bersedia meluangkan waktu sebentar?"tanya Nayla memastikan.


"Tentu saja"jawab Rory cepat."Jadi,tentang apa itu?"tanya Rory lagi.


"Katakan saja Ya,dan kamu hanya perlu mengikutiku untuk mengetahuinya."Nayla tersenyum.


"Apakah aku akan mendapatkan balasan sebagai gantinya?"tanya Rory tersenyum jahil.


"Hmmm...apakah itu negosiasi?"tanya Nayla menyipitkan mata.


"Aku hanya memanfaatkan kesempatan yang bisa kuambil."kata Rory.


"Apa..??"Nayla dengan tawa ringan."Oke,,,Sesuai dengan keinginanmu.apa kau senang?"kata Nayla tersenyum geli.


"Sangat..."jawab Rory.


"Bagus..kalau begitu..Ayooo."setelah mengatakan itu,tanpa peringatan apapun Nayla meraih tangan Rory lalu menariknya agar mengikutinya memasuki kawasan festival.Rory yang tak mengangka akan ditarik terhuyung kedepan mengikuti langkah Nayla.


Rory tertegun melihat Nayla mengengam tangannya,matanya beralih kewajahnya yang terlihat antusias.Dengan senyum yang mengembang dibibirnya yang tertutup,Rory membalas gengaman tangan Nayla.


Dalam langkah mereka,samar samar Rory mendengar beberapa komentar orang yang mereka lewati.


"eh eh lihat deh pasangan itu,bukankah mereka serasi?"kata seorang wanita yang tengah disebuah tenda yang menjual aksesoris.


"Apakah pakaian mereka cauple?"timpal wanita lain yang tengah bersama pasangan cowoknya.


"Lihat mereka,serasi ya.pakaian cauple mereka juga bagus,aku jadi ingin memilikinya."kata wanita yang berpapasan dengan mereka.


"Wanitanya cantik,tapi kok cowoknya menutupi wajahnya ya?padahal mereka terlihat serasi sekali."sambung teman yang tadi berpapasan.


Sejenak Rory melirik pakaiannya,dan baru menyadari mereka mengenakan pakaian yang sama.Matanya beralih melirik wajahnya.


"Kamu melamun?"tanya Nayla setelah berbalik menghadap Rory.


"Eeh..tidak kok."jawab Rory sedikit tergagap.


Nayla mengerutkan keningnya,menatap dalam mata Rory,lalu membalikkan badan.


Rory mengamati sekeliling dimana Nayla berhenti.Sebuah tenda yang cukup besar menaungi meja dan lemari yang dipenuhi dengan buku.Beberapa kursi kecil juga disiapkan untuk pengunjung yang ingin membaca disana.


"Buku?jadi yang kau maksud tadi itu buku?"tanya Rory heran.


"Yep..aku menantikan buku itu sejak lama.ada yang mengatakan padaku,disini menjual buku itu,dan itu mungkin hanya satu atau dua saja.jika aku tak segera mencarinya,mustahil untuk mendapatkannya lagi."kata Nayla tanpa menoleh.


Matanya fokus menjelajahi tumpukan buku.memindai ratusan buku yang ada dihadapannya.


"Apakah itu tak mempengaruhi kesehatan matamu?"tanya Rory sedikit khawatir.


"Itu akan baik baik saja.aku tak berencana membaca disini.itu juga yang membuatku meninggalkan kacamataku."kata Nayla masih terus mencari."Lagi pula,aku disini untukmu."ucap Nayla tanpa sadar.


Rory dengan cepat menoleh kearah Nayla yang masih sibuk mencari.


'Dia mengatakan itu tanpa beban sama sekali yaa?'keluh hatinya.


"Baiklah..buku apa itu,biarkan aku membantumu untuk mencari."kata Rory.


"Itu adalah buku karya..."kalimat Nayla mengantung saat matanya tertuju pada buku yang terletak beberapa langkah darinya.Sebuah tulisan pada postlim menarik perhatian Nayla.


"Itu dia."seru Nayla dan berjalan cepat kearah buku untuk mengambilnya.


Tangannya terulur untuk mengambil buku itu,namun saat tangan Nayla telah mencapai buku,sebuah tangan lain mendarat diatas tangannya.Dia menoleh kearah pemilik tangan dan dengan sopan tersenyum sebelum berkata.


"Maaf,,saya mendapatknya lebih dulu."kata Nayla sopan kepada pria didepannya.

__ADS_1


"Maaf,tapi saya melihatnya lebih dulu."jawab pria itu tidak mau kalah.


"Haahh.."mendesah keras,Nayla mengerutkan kening"Tidak ada yang tau siapa yang lebih dulu melihat,tapi saya mendapatkannya lebih dulu."balas Nayla.


"Ada apa?"suara Rory terdengar dari belakangnya.


"Aku mendapatkan bukunya,tapi dia mau mengambilnya."Nayla berkata sambil menunjuk pria itu dengan kepalanya.


Rory menatap pria yang berdiri didepan Nayla.Matanya melirik ketangannya yang masih berada diatas tangan Nayla.


"Tidak bisakah kamu mengalah pada wanita sobat?"tanya Rory ramah,menutupi rasa tidak sukannya melihat dia tidak segera mengangkat tangannya.


"Aku ingin,tapi aku tak bisa,aku menantikan buku ini.dan ini buku terakhir."katanya beralasan.


"Dan bukan hanya kamu yang menantikan buku ini.siapa cepat dia dapat,bukankah begitu?dan aku lebih cepat disini?"kata Nayla tak mau kalah.


perdebatan mereka pun menarik perhatian penjaga stand bukuyang segera menghampiri mereka.


"Maaf,nona dan tuan,ada apa ini?apakah ada masalah?"tanya penjaga itu ramah.


"Begini saja,"kata pria itu sebelum Nayla menjawab pertanyaan penjaga stand.


"Aku akan membayar dua,,-tidak tiga kali lipat untuk buku itu padamu.bagaimana?"tanya pria itu bersikeras mendapatkan buku.


"Hehh"degus Nayla,"Ini bukan tentang harga,tapi aula yang lebih cepat mendapatkan ini."jawab Nayla tak mau kalah.


Rory meraih lengan Nayla menyadari wajah penjaga stand terlihat binggung karena tak ada satupun yang mau mengalah.


"Nay,,sudahlah..kita mencari di tempat lain saja.aku akan mencarikannya"bujuk Rory.


"Tidak bisa,buku ini sudah tidak dicetak lagi,dan ini buku terakhir.aku menantikan buku ini selama beberapa tahun."jawab Nayla bersikeras.Pria itu mengerutkan kening,


"Apa maksudmu beberapa tahun?buku ini diedarkan beberapa hari lalu."tanya pria itu binggung.


"Tentu saja buku yang ingin aku ambil."jawab Nayla juga binggung dengan reaksi pria itu.


"Maksudmu...kamu bukan mau mengambil buku yang ada di bawah tanganmu?"tanya pria itu.Nayla menaikkan alisnya sebelum berkata.


"Bukan,tapi dibawah buku ini."jawab Nayla dengan mata menunjuk tangannya.


"Aahh,,Maaf."pria itu menarik tangannya dari tangan Nayla,wajahnya mulai memerah menahan malu.


Nayla mengeser tangannya untuk melihat buku yang ada dibawah tangannya, buku yang memiliki warna cover hampir sama dengan latar belakang berbeda.tertulis judul buku dan nama penulis dicover buku itu. 'NYLOES'


Nayla membaca nama penulis buku itu,lalu mengabil buku yang berada tepat dibawahnya,dan menunjukan pada pria itu.


"Ini yang ingin ku ambil."kata Nayla."Hanya saja tanganku tertahan saat ingin mengambilnya,aku sempat berfikir kamu mengincar buku yang sama."kata Nayla tersenyum geli.


"Conan Doyle???"pria itu melebarkan matanya,"Astaga..."ucapnya seraya meletakkan telapak tangan diwajahnya."Memalukan,,,maafkan aku,aku berfikir kamu mau menginginkan buku ini."ucapnya meraih buku Nyloes."Aku tak menyangka kita memperebutkan buku yang bahkan berbeda sama sekali."ucapnya.


"Maafkan aku atas sikap tidak sopanku,"ucapnya penuh penyesalan.


"Jadi...masalahnya selesai?"penjaga stand menyela mereka dengan senyum geli.


"Ah ha ha..ya..maafkan aku menimbulkan keributan.kami sudah tidak ada masalah."ucap pria itu meminta maaf pada penjaga stand.


Rory mendesah keras,dari sudut matanya,dia menangkap Thomas tengah menatapnya dan mengelengkan kepala pelan.Rory hanya mengangkat bahu menanggapi Thomas.


"Sekali lagi maafkan aku,"ucapnya menatap Rory dan Nayla bergantian.


"Tak apa."jawab Nayla singkat.


"Ijinkan aku membyarbuku itu untuk permintaan maaf"ucapnya tulus.


"Tidak perlu.aku sendiri bisa membayar ini."jawab Rory cepat menyambar buku dari tangan Nayla dan pergi dengan menarik tangan Nayla.


"Ehh,,,tunggu"protes Nayla,tubuhnya terhuyung membentur tubuh tinggi Rory yang menariknya tiba tiba meninggalkan pria itu dengan wajah bersalah.


"Ahh sial..sepertinya dia cemburu"pria itu bergumam pelan mengacak acak rambutnya."Jelas saja,aku memegang tangan pacarnya seperti itu,sangat wajar jika dia cemburu.aku akan minta maaf dengan benar jika bertemu mereka lagi,"katanya pelan pada drinya sendiri.

__ADS_1


Matanya mengikuti arah Rory dan Nayla pergi meninggalkan stand buku setelah Rory membayar buku itu dan membawanya.satu tangan yang lain mengenggam tangan Nayla.


................


__ADS_2