LOVE OF MY LIFE

LOVE OF MY LIFE
55. Insiden


__ADS_3

"Kau bodoh telah datang kesini sedirian tanpa persiapan apapun," sindir pria bertato.


"Kau pikir aku datang tanpa persiapan?" jawab Nayla menekan rasa takutnya.


'Ini diluar perkiraanku, aku sama sekali tidak menyangka akan ada enam orang. Aku memperkirakan hanya akan ada empat atau lima orang. Dan sekarang ada enam orang_tidak bukan enam, kurasa itu bahkan lebih,' batin Nayla.


Nayla terus melangkah mundur.


"Apakah kau juga tau akan hal ini?" tanya gondrong menyeringai licik.


"Di belakangmu hanyalah jalan yang berakhir dengan jalan buntu. Itulah alasan kami berada disini sekarang," terang gondrong.


Nayla bergidik melihat ekspresi pria yang ada di depannya. Rasa takut perlahan merayap memenuhi hatinya.


Kegelapan yang ada di gang itu sekilas membuatnya kembali mengingat saat dimana kakaknya dihantam sebuah mobil. Meninggakan mereka yang tengah di guyur hujan dalam cahaya yang samar-samar.


Ponsel yang berada di saku celananya, sebisa mungkin Nayla mengalihkannya agar tidak segera mereka rebut.


"Apakah kalian berpikir, aku datang tanpa rencana?" gertak Nayla.


Namun, mereka hanya tertawa terbahak-bahak mendengar gertakan Nayla, seoalah sudah benar-benar tau bahwa Nayla datang seorang diri.


"Oh,,, tentu saja. Rencana dimana kau akan menghubungi seseorang untuk segera menolongmu. Tapi, kami tidak akan membiarkan hal itu terjadi," sambut pirang.


Di saat Nayla mulai merasa kepanikan merayap memenuhi hatinya,


Disisi lain, Rory terus memanggil Nayla dengan cemas.


"Segera pergi dari sana, Nay,!" teriak Rory cemas. "Tinggalkan tempat itu," imbuhnya.


Rory bangun dari duduknya dan membawa ponsel bersamanya beranjak keluar.


"Nay,,,! Apa kau mendengarku? Nay,,!" Rory terus memanggil Nayla.


Rory semakin panik saat kembali mendengar suara pria yang berada di sekitar Nayla.


"Sial,,, seharusnya tadi aku langsung menyusulnya," rutuk Rory. "Bodoh,,!!!" geramnya.


Rory sudah berniat membuka pintu mobil,saat sebuah tangan menghentikannya.


"Tidak baik jika kau mengemudi dalam keadaan panik, Rory," Thomas berkata setelah berhasil menghentikan Rory.


"Lalu apa? Aku harus tetap diam setelah mendengar semuanya? Mereka bisa menyakitinya,!" Rory berseru marah.


"Aku akan ikut denganmu, biarkan aku yang mengemudi," ucap Thomas lembut.


"Aku juga ikut," sambung Ethan.


Tidak hanya Ethan, tapi Martin, Kevin dan Nathan telah mengejar Rory dan memutuskan untuk ikut.


Rory mengepalkan tangannya dan membiarkan Thomas yang mengemudi.Kini, Rory menatap Martin dengan tatapan marah dan berkata.


"Jika terjadi sesuatu padanya, kaulah yang manjadi penyebabnya," dengus Rory lalu masuk kedalam mobil setelah Thomas.


Rory duduk di depan bersama Thomas, sementara mereka berempat berada di belakang.


"Kenapa Nayla masih belum mengirimkan lokasinya?" keluh Rory.


"Berikan ponselmu padaku, aku akan melacak gps nya," sela Martin.

__ADS_1


Rory merasa tidak memiliki pilihan lain dan menyerahkan ponselnya pada Martin.


Tepat saat ponsel Rory berpindah tangan, suara rintihan Nayla terdengar di sertai suara berdebam keras.


Rory mengepalkan tangannya, dan ingin mengeluarkan amarahnya, namun sekali lagi Thomas berhasil menenagkannya.


Kevin yang biasanya selalu berhasil menenangkan Rory, kali ini memilih diam dan tengelam dalam pikirannya. Ketegangan memenuhi mobil yang mereka naiki, ketika akhirnya Martin berseru dengan hasil yang didapatkan.


"Aku mendapatkannya," suru Martin.


"Dia berada di_,,," Martin menelan ludahnya. "Dua puluh menit dari tempat kita berada sekarang," sambungnya.


"APAAA,,,!!!!"


Mereka serentak berseru mendengar perkataan Martin.


Untuk pertama kalinya, wajah Martin memperlihatkan rasa khawatir yang tulus, dan rasa penyesalan yang besar terhadap Nayla.


'Apakah dia terus mencari sampai sejauh itu? Kenapa dia sampai melakukan ini? Dan apa yang sudah aku lakukan? Aku hanya selalu berasumsi bahwa dia sama saja dengan wanita itu, wanita yang pernah menghancurkan hidup Rory. Dan sekarang dia justru mempertaruhkan hidupnya sendiri hanya untuk Rory," Martin merutuk dalam hatinya dan mengusap wajahnya.


"Aku akan secepat yang aku bisa untuk mencapai kesana," sela Thomas memutuskan pikiran Martin.


Tubuh Rory bergetar dengan rasa khawatir yang begitu dalam dan rasa amarah yang besar.


'Kumohon bertahanlah, Nay!" bisik hatinya.


Sementara itu, Nayla mulai berlari saat mereka akan meraih tangannya.


Salah satu dari mereka melempar kayu yang mereka temukan pada Nayla dan mengenani tepat di kepalanya, membuatnya jatuh tersungkur.


"Aakhh,,,!" rintihnya.


" Atau kau ingin mengajak kami bermain petak umpet?" sambung pria yang membawa cerutu.


Pria itu sesekali menghisap cerutunya dan menghampiri Nayla yang masih terduduk memegangi kepalanya yang berdenyut. Darah mulai mengalir dari kepalanya.


Nayla memegangi bekas luka yang dihasilkan dari balok kayu dan mendapati tangannya berwarna merah setelah menyentuh lukanya.


"Lihat itu, kamu jadi berdarah karena kamu berlari," cibir pria tato. "Bukankah akan sangat disayangkan jika wajah cantikmu dinodai oleh darah?" sambungnya.


Nayla beringsut dan mencoba untuk bangun, namun sebelum itu di lakukan, pria bercerutu itu menginjak pergelangan kaki Nayla.


"Aarrghhh,,,!!!!!"


Nayla merintih kesakitan, air mata mulai membasahi wajahnya.


"Harusnya kau duduk tenang saja di rumahmu, kenapa kau terus menyelidiki kami tanpa henti? Kau pikir apa yang bisa kau lakukan? Mereka yang seorang bintang besar saja tidak bisa bertindak dan gagal menyelidiki kami. Tapi kau? Bagaimana kau bisa mengetahui tentang kami hanya dari foto?" cecar pria bercerutu.


"Aku bahkan tau yang menyuruh kalian adalah seorang wanita," papar Nayla.


PLAAKKK,,,,,!!!!


Suara tamparan keras mendarat di pipi Nayla. Pria itu lantas menarik wajah Nayla dengan meletakkan dua jari didagu Nayla. Memperlihatkan darah yang keluar dari sudut bibirnya


"Seberapa banyak informasi yang kau ketahui?" desaknya marah.


"Aku tidak memiliki alasan untuk memberitahumu semua yang kukatehui," balas Nyala berani.


PLAKKK,,,!!!

__ADS_1


Lagi, sebuah tamparan keras mendarat di pipi Nayla, meninggalkan bekas merah pada pipinya dan darah di sudut bibirnya. Dan mengangkat wajahya lagi.


"Jadi kau mencoba melawan? Ha,?!?" hardiknya sembari membuang wajah Nayla dengan kasar.


Dengan segala upayanya, Nayla menendang dada pria yang ada di depannya hingga pria itu terjengkang.


Memanfaatkan kesempatan itu, Nayla bangun dan memaksa kakinya untuk berlari kembali berlari.


KRINCINGG,,,,!!!


Suara gemerincing kecil yang tiba-tiba muncul membuat Nayla menoleh sesaat dan membelalakan matanya saat tau gelang di pergelangan tangannya terputus dan tersebar ditanah.


Pergelangan tangannya yang memiliki beberapa goresan akibat gelang yang sebelumnya di cengkram mereka, meninggalkan luka yang cukup dalam dengan darah yang keluar, dan membuat gelang itu terputus begitu saja.


Dengan gerakan cepat, Nayla menyambar mata gelang yang berbentuk bintang dan kembali berlari dengan tertatih.


Tangannya mengenggam kuat mata gelang yang ada di tangannya. Nayla terus berlari tanpa menoleh kebelakang dan bersembunyi di celah yang terlihat gelap.


"Kumohon jangan tinggalkan aku, kak" isak Nayla sembari menghapus air matanya.


"Aku tidak akan menangis," sambungnya pelan.


Isak tangisnya terdengar pelan membuatnya menutup mulut kuat-kuat saat mendengar langkah kaki orang yang mengejarnya mendekat.


"Kakinya terluka, dia tidak mungkin berlari jauh," ucap gondrong.


"Ikuti saja kemana arah tetesan darah itu," pria bercerutu menunjuk tetesan darah yang ada di tanah.


Benar saja, mereka segera menuju celah dimana Nayla bersembunyi.


Pria bertato mendekati celah itu dan dengan kasar menarik rambut Nayla keluar, membuanya kembali jatuh tersungkur, dan ikat rambutnya terlepas begitu saja.


"Sejauh mana sebenarnya kebodohanmu ini?" ucap pria betato sembari mengangkat wajah Nayla dan memaksanya untuk menatap matanya.


" Cih,, kau bahkan lebih cantik darinya," dengusnya.


Nayla mengeser tangan pria itu dan mengigitnya.


"Argghh,,," erangnya lalu mengibaskan tangannya.


Nayla memanfaatkan hal itu untuk kembali berlari. Namun tangan lain segera mencengkram pergelangan tangannya dan menarik ponsel yang ada di saku celananya.


"kau ingin berlari dan menghubungi seseorang, bukankah begitiu?" sentak pirang dan menampar Nayla.


PLAKKK,,,!!!


Nayla kembali tersungkur.


Pria itu lantas membanting ponsel Nayla tanpa melihat isinya hingga ponsel itu hancur.


Seutas senyum tipis tersungging dibibir Nayla tanpa disadari oleh mereka.


'Kurasa bukti yang didapatkan sudah cukup,' batin Nayla.


"Sebelum membunuhnya, kita nikmati dulu saja tubuhnya. Kita tidak akan rugi jika melakukannya," saran pria berambut capak.


"Kau benar, anggap ini bayaran karena membuat kita mengejarnya," sambut pria bertato.


Nayla membelalakan matanya saat melihat pria bertato mengelurkan sebilah pisau lipat dari saku celananya. Menghampiri Nayla dengan senyum jahatnya. Membuat Nayla menyeret mundur tubuhnya yang mulai terasa mati rasa.

__ADS_1


...****************...


__ADS_2