
"NAYY,,,,!!!"
Rory dan Kevin berseru panik dan segera menagkap tubuh Nayla yang tiba-tiba tidak sadarkan diri.
Wajah pucatnya kian terlihat jelas, bahkan diwajahnya juga mulai mengeluarkan keringat.
Thomas membantu memegangi badan Nayla, dan segera membawa Nayla ke rumah sakit dimana Chris bekerja.
Secara kebetulan, Chris saat itu berkerja di shift malam, dan terkejut saat Rory datang dengan Nayla dalam keadaan pingsan.
"Bagaimana ini bisa terjadi?" tanya Chris.
"Aku tidak tau bagaimana, t-tapi d-dia tiba-tiba saja_,,," Rory gagal menjelaskan dengan benar karena rasa paniknya bercampur dengan rasa khawatir.
"Kami berencana makan malam setelah pertunjukan, tapi dia tiba-tiba pingsan saat akan naik mobil, sebelumnya dia baik-baik saja," jelas Martin.
"Ini bukan karena susu kan?" gumam Kevin dengan raut wajah khawatir.
"Susu?" ulang Chris.
"D-dia tidak mau makan, d-dan aku berpikir susu bisa menjadi penganti sementara, tapi dia memuntahkannya. Sebelumnya dia tidak begitu," papar Kevin.
"Kalian tunggu disini sebentar, aku akan memeriksanya," ucap Chris.
Mereka mengangguk, menunggu dengan cemas. Merasakan rasa takut akan terjadi sesuatu yang tidak di inginkan, pasalnya Nayla juga pingsan belum lama ini, dan sekarang terulang lagi.
Rory berpikir keras tentang apa saja aktivitas yang terasa membebani fisik Nayla, namun tidak menemukannya.
Bob dan Sean juga menunggu disana, berpikir apakah itu kesalahan mereka yang tidak menjaga Nayla dengan benar, dan Bob tidak segera menganti pengharum mobil ketika Nayla mengeluh tentang bau nya. Bahkan Adrian dan Vania juga memperlihatkan raut wajah khawatir.
Lorong rumah sakit tampak penuh hanya dengan mereka yang masih menunggu Chris keluar.
Waktu yang terus berjalan menjadi terasa begitu lambat bagi mereka, hingga Chris keluar dengan raut wajah yang tidak bisa mereka artikan.
"Bagaimana? Nayla baik-baik saja kan?" serbu Kevin tanpa basa-basi.
"Nayla tidak apa-apa kan?" harap Martin.
"Katakan sesuatu! Dia baik-baik saja kan?" sambung Nathan dan Ethan bersamaan.
Chris menghembuskan nafas panjang, dan tatapannya beralih pada Rory yang masih terlihat cemas.
"Dia baik-baik saja," ucap Chris, menghadirkan kelegaan pada Martin, Ethan dan Nathan.
Namun tidak pada Rory dan Kevin. Mereka berdua menatap Chris dengan kecemasan yang semakin bertambah.
"Tapi,,?" Rory menatap Chris dengan alis terangkat.
Wajah serius Chris berubah tersenyum lembut, menatap Rory dengan tatapan yang sama ketika ia mengulurkan tangan Nayla kepada Rory di altar pernikahan mereka.
"Aku akan mengucapkan selamat untukmu, Rory," ucap Chris tersenyum haru.
Kerutan di kening Rory bertambah dalam, tidak mengerti apa maksud perkataan Chris. Saat ia akan bertanya, Chris lebih dulu membuka suaranya.
"Dia hamil," ungkap Chris.
"A-A-Apa,,,?" Rory bertanya seolah telah salah mendengar apa yang baru saja dikatakan Chris.
"Perkiraanku, usianya hampir tiga minggu, tapi untuk memastikannya, aku akan mengalihkan pemeriksaan Nayla ke dokter kandungan," papar Chris.
"J-J-Jadi,,, kamu serius? D-Dia h-hamil?" ulang Rory terbata-bata.
Penjelasan Chris menambah keyakinannya bahwa ia memang tidak salah mendengar kabar baik itu.
"Apakah menurutmu aku akan beranda dengan hal seperti ini?" jawab Chris balas bertanya.
Rory mengusap wajah dengan kedua telapak tangannya. Wajahnya memancarkan kebahagiaan yang tidak bisa ia ungkapkan. Lega, bahagia, terharu, berbagai macam perasaan tumpah menjadi satu.
Tidak hanya Rory, tapi semua yang berada disana turut bahagia dengan kabar yang baru saja mereka dengar. Termasuk Sean dan Bob, meski mereka berdua belum lama bekerja mendampingi Nayla, namun mereka merasa telah bekerja selama beberapa tahun karena sikap hangat yang Nayla berikan kepada mereka berdua layaknya keluarga.
Mereka saling merangkul dengan sukacita, merayakan kabar baik yang mereka dengar malam itu.
"Apakah dia sudah bangun?" tanya Rory.
"Masih belum, tapi kamu bisa menemuinya. Aku akan memberikan hasil pemeriksaannya nanti setelah keluar,"
"Jika dugaanku benar, alasan kenapa dia pingsan adalah kerena sejak awal kondisi tubuhnya memang sering berubah dan menurun tiba-tiba, itu bisa menjadi faktor utama karena sekarang dia sedang hamil," jelas Chris.
"Tapi, dia baik-baik saja kan?" harap Rory.
"Untuk sekarang, dia baik-baik saja, tidak ada yang perlu dikhawatirkan. Aku akan memberimu vitamin, dan berikan itu secara rutin padanya," tutur Chris.
__ADS_1
"Aku mengerti, terima kasih banyak, Chris," ucap Rory.
"Tidak perlu berterima kasih padaku, dengan kau menjadi suaminya, itu artinya kau juga adikku," ucap Chris menepuk pelan bahu Rory.
"Dan satu hal lagi," secara tiba-tiba, Chris merubah intonasi suaranya.
"Hanya dua orang yang boleh menemaninya didalam. Dan kalian semua baru bisa menemuinya besok jika ingin masuk bersama," tegas Chris.
"Aku mengerti, tapi jika menemuinya secara bergantian, itu bukan masalah kan? Sementara yang lain menunggu di luar," harap Martin.
Chris menatap Martin, seolah ingin mengatakan tidak. Namun semua wajah didepannya memberikan tatapan penuh harap, dan ia juga tau mereka tidak akan menimbulkan keributan jika ia mengatakan Nayla membutuhkan ketenangan.
"Hahh,,," desah Chris meletakan satu telepak tangan diwajahnya.
"Kalian benar-benar membuatku selalu melanggar aturan," desahnya.
"Pastikan saja kalian tidak ribut, dia masih perlu ketengangan," jawab Chris menyerah.
Mereka bersorak senang mendengar jawaban Chris.
"Aku masih harus memeriksa pasien lain, tapi aku akan kembali lagi nanti," ujar Chris sebelum pergi meninggalkan mereka.
Rory masuk kedalam ruang rawat bersama Kevin. Melihat Nayla masih terbaring dengan mata terpejam, membuat mereka berdua duduk berseberangan disamping Nayla, menunggu.
Rory mengenggam lembut tangan Nayla, mengecupnya untuk sesaat, lalu mengusap kepalanya.
"Mimpi indah, Ma Chéri," ucap Rory pelan.
"Selamat untukmu, Jo," ucap Kevin dengan suara pelan.
"Selamat juga untukmu," balas Rory tertawa pelan.
"Aku akan menghubungi mama untuk memberitahukan kabar ini, dan aku yakin mereka pasti akan langsung datang, meninggalkan semua urusan bisnis mereka," tutur Kevin.
"Mama selalu begitu," sambut Rory tersenyum.
"Fokus saja untuk menjaganya, biarkan aku yang mengurus sisanya," ucap Kevin.
"Terima kasih, Kevin," Rory berkata dengan ketulusan diwajahnya.
"Aku akan keluar, mereka menunggu giliran untuk masuk sekedar melihatnya sebentar," pamit Kevin.
"Bisakah kamu menahan mereka masuk?"
Suara Nayla sontak membuat mereka menoleh dengan cepat. Ia perlahan membuka matanya, mengarahkan pandangannya pada Kevin dan memberikan tatapan minta tolong.
"Syukurlah, kamu sudah bangun," dasah Kevin lega, dan kembali duduk.
"Apakah kamu ingin sesuatu?" tanya Kevin.
Nayla hanya mengeleng lemah, memberikan senyum tipis di wajah pucatnya.
"Apakah ini di rumah sakit?" tanya Nayla pelan mengalihkan tatapannya kepada Rory.
"Aku tidak memiliki pilihan lain selain membawamu kemari," sesal Rory.
"Kenapa sekarang kamu memasang wajah seperti itu?" keluh Nayla.
"Seharusnya kamu mengatakan padaku jika merasa tidak enak badan," tutur Rory.
"Aku akan keluar, istirahatlah," sela Kevin seraya bangun dari duduknya.
"Kamu akan menahan mereka masuk kan?" harap Nayla. "Kepalaku sakit sekali," imbuhnya.
"Jika itu yang kamu inginkan, aku akan melakukannya tanpa kamu mengatakan alasannya," sambut Kevin.
"Ah,, sebaiknya kau bicarakan hal ini besok saja, Jo," saran Kevin beralih kearah Rory.
"Aku tau," jawab Rory mengerti apa yang dimaksudkan Kevin padanya.
Kevin kembali menatap Nayla dan tersenyum lembut, ia mengusap kepala Nayla dan keluar setelah mengucapkan selamat malam.
"Aku tidak bermaksud membuatmu khawatir, Roy, maafkan aku," sesal Nayla setelah Kevin keluar.
"Aku tau kamu tidak bermaksud begitu," sambut Rory.
"Aku tidak tau kenapa, tapi itu benar-benar terasa tiba-tiba, kepalaku sakit dan aku tidak ingat apapun lagi," terang Nayla.
"Kamu tidak perlu menjelaskan apapun, Ma Chéri, aku mengerti," jawab Rory.
"Tapi_,,,"
__ADS_1
"Sshhh,,," Rory meletakkan satu jari dibibir Nayla, lalu mengusap lembut wajahnya.
"Apakah kepalmu masih sakit?" tanya Rory cemas.
"Sedikit," jawab Nayla.
"Istirahatlah, aku akan tetap disini sampai kamu bangun," ucap Rory.
"Janji?" harap Nayla.
"Aku janji, sekarang tidurlah," jawab Rory.
Nayla kembali memejamkan matanya yang sebenarnya memang terasa berat. Kepalanya kembali berdenyut ketika ia membuka matanya, namun ia memaksa membuka mata ketika samar-samar mendengar Kevin akan keluar dan membiarkan teman-teman yang lain masuk untuk melihatnya. Tanpa terasa ia kembali terlelap dengan Rory duduk disampingnya.
Sementara diluar, ketika Kevin keluar, Martin sudah bersiap untuk masuk namun dengan cepat dicegah Kevin.
"Dia perlu istirahat, temui besok saja," ucap Kevin.
"Aku hanya ingin melihatnya sebentar," jawab Martin.
"Dia sudah sadar, dan mengeluh sakit kepala. Jika kau masuk kedalam, itu sama saja menganggu istirahatnya. Cukup Rory yang berada di dalam, dan kalian bisa menemuinya besok pagi," tegas Kevin.
Mereka semua mendesah kecewa, namun tidak memaksa untuk masuk. Memilih untuk menahan diri hingga besok pagi.
#####Pada keesokan harinya.
Sesuai janji, Rory tetap disana ketika Nayla bangun dari tidurnya. Wajahnya terlihat lebih cerah dari sebelumnya.
Pagi itu, Chris mendatangi kamar Nayla dan menyerahkan hasil laporannya kepada Rory. Tak mau tertinggal, Kevin dan tim, Sean dan Bob, juga Adrian dan Vania telah berkumpul di ruang rawat Nayla.
Semua yang berada di sana menatap Rory yang tengah membaca hasil pemeriksaan Nayla, hingga Rory mengangkat wajahnya dan tersenyum disertai anggukan kepala.
Serentak semua bersorak senang, membuat Nayla mengerutkan keningnya. Merasa pagi ini menjadi aneh karena sikap teman-temannya.
"Ada apa dengan kalian?" tanya Nayla heran.
"Akan kujawab setelah kamu makan," jawab Rory.
"Apakah kamu juga sudah makan?" tanya Nayla.
"Aku sudah memaksanya makan pagi ini," sela Kevin.
"Jika dia belum makan, kamu akan bersikap merepotkan dengan tidak mau makan sebelum dia makan sesuatu," imbuhnya.
"Jahat sekali," sungut Nayla. "Jadi, aku orang yang merepotkan bagimu?" tanyanya dengan alis terangkat.
"Sangat,, dan aku menyukainya," jawab Kevin.
"Siapa sebenarnya yang menjadi adikmu? Kau bersikap kejam padaku dan lebih bersikap lembut padanya," celetuk Rory dengan nada sindiran.
"Tentu saja Nayla. Memangnya kau siapa? kau bahkan lebih merepotkan lagi darinya dan bertingkah menyebalkan," sambut Kevin.
"Ukh,,, terserah," jawab Rory kehabisan kata-kata untuk balasan.
Semua tertawa puas melihat Rory kehabisan kata-kata untuk membalas ucapan Kevin. Membuat Nayla turut tertawa pelan melihat aksi kakak beradik didepannya yang sangat jarang terlihat akur, namun sangat kompak ketika sifat protektif mereka keluar.
Rory menyuapi Nayla dengan terus membujuknya. Namun, lagi-lagi Nayla mengeluarkan lagi apa yang baru saja ia makan.
"Apakah kamu ingin makan sesuatu yang lain?" tanya Rory. "Kamu bisa sakit jika tidak makan apapun," imbuhnya.
"Aku bisa mencarikan apapun yang kamu mau," tawar Thomas.
"Buah atau sesuatu?" timpal Ethan.
"Aku tidak ingin apapun," jawab Nayla.
"Baiklah, sekarang minum dulu obatnya," pinta Rory.
Nayla menurut tanpa perdebatan apapun seperti biasanya. Namun wajahnya terus memperlihatkan tanda tanya, kenapa sikap mereka yang kini berada di sekitarnya terihat aneh?
Mereka terus tersenyum ketika menatap Nayla. Dan ia tidak tau apa arti senyuman itu. Bahkan Chris juga menujukkan ekspresi yang sama. Nayla menjadi lebih terkejut lagi ketika Gloria dan Vincen datang mengunjunginya.
"Ada apa ini sebenarnya? Kenapa kalian menatapku seperti itu? Mama dan papa juga sampai datang kemari, " Nayla bertanya dengan rasa bingung yang belum hilang.
Namun tak satupun dari mereka menjawab pertanyaannya. Hingga, Rory membungkukkan badannya seraya meraih tangan Nayla. Mendekatkan wajahnya dan berbisik.
"Kita akan kedatangan anggota keluarga baru," ungkap Rory dengan berbisik.
...****************...
SEE YOU NEXT YEA. . . . . . :) :)
__ADS_1