
Mata Nayla mengerjap tak percaya dengan apa yang di lihatnya.Rory mengirimkan sebuah tiket pesawat tujuan Paris dengan nama dirinya tercantum di tiket itu.
"Aku membutuhkan kacamata ku sekarang," ucap Nayla masih dengan sisa rasa terkejutnya.
"Ha ha ha,,, baiklah,kau bisa menutup mulutmu sekarang," ucap Rory seolah melihat reaksi Nayla. "Dan lagi,bukankah kamu sudah tidak perlu lagi memakai kacamata?" tanya Rory.
"Memang tidak,ku harap ini tak seperti yang ku pikirkan," ucap Nayla lagi masih tak percaya.
"Sayangnya,,, Ya,ini persis seperti yang kau pikirkan Nay," jawab Rory santai.
"Apa kau sudah gila?" seru Nayla bangun dari duduknya.
Adrian terkejut dengan nada tinggi yang tiba tiba di keluarkan Nayla,lalu menghampiri Nayla khawatir.
"Yap,,, kaulah yang membuatku gila karena terlalu lama tidak melihatmu," jawab Rory.
Menyadari sikap spontan yang di lakukan,Nayla hanya memberi isyarat semua baik baik saja dan meminta Adrian untuk duduk kembali dan meletakkan telapak tangan di dahinya.
"Apakah semua baik baik saja?" tanya Adrian memastikan masih belum beranjak dari tempatnya.
"Ya,, maaf mengganggu pekerjaanmu," ucap Nayla kembali duduk.
Rory yang secara tidak sengaja mendengar suara Adrian,membuat pikirannya terganggu.
"Siapa yang sedang bersamamu?" tanya Rory tenang menekan kecurigaannya.
"Apa kau lupa?Aku masih di kantor,tentu saja dia rekan kerja ku di sini," jawab Nayla.
"Astaga,,,aku lupa tentang itu,kalau begitu aku akan menghubungimu lagi nanti malam.Pastikan kau berkemas malam ini untuk mendapatkan penerbangan besok pagi,sampai nanti, Nay!" ucap Rory antusias,kecurigaannya lenyap begitu saja.
"Tapi,bagaiman__" Nayla mengerutkan kening lalu melihat ponselnya dan menghembuskan nafas dengan kasar.
'Dia menutup telepon dengan seenaknya lagi,awas saja! Aaahhhh,,,, menyebalkan!' rutuknya dalam hati.
Nayla meletakkan telapak tangan dikedua matanya, duduk bersandar lalu mendesah pelan.
"Apakah anda yakin semua baik baik saja?" tanya Adrian masih berdiri.
"Semua baik,hanya seseorang membuatku kesal," jawab Nayla pelan.
"Apakah anda memerlukan sesuatu?mungkin saya bisa membantu," kata Adrian.
Nayla menegakkan badan,menoleh dan menatap Adrian heran.
"Apakah saya mengatakan sesuatu yang salah nona?" tanya Adrian mengerutkan kening.
"Ya dan tidak," jawab Nayla datar.
"Maksud anda?" tanya Adrian binggung.
Nayla memalingkan wajah lalu menghela nafas panjang,dirinya yakin ada sesuatu yang salah pada sikap Adrian,tapi tak tau pasti apa itu.
"Bukan apa apa!" jawab Nayla pada akhirnya.
Matanya kembali tertuju pada E-mail miliknya dan menutup akun itu.
"Terima kasih,aku sangat terbantu," ucap Nayla seraya menyodorkan laptop pada Adrian.
"Dengan senang hati,nona" jawab Adrian.
"Bagaimana kau bisa tau nama E-mail ku? Aku tak ingat pernah memberikan E-mail ku padamu!" Nayla kembali menatap Adrian penasaran.
"Rose yang memberikannya kepada saya,dan saya mengingatnya karena dia mengatakan itu penting," jawab Adrian.
"Begitukah?" tanya Nayla.
Adrian tersenyum sopan lalu mengangguk,tangannya meraih laptop dan membawanya kembali ke tempat dimana tadi dia duduk.
"Kau bisa duduk di sini jika aku tidak datang Adrian,bahkan kalaupun aku datang,tak masalah bagiku jika kau duduk di sini.Duduk di sofa mengerjakan tugas dengan posisi membungkuk sangatlah tidak nyaman," kata Nayla.
"Saya mengerti, nona," jawab Adrian tersenyum.
"Jika kau tak nyaman dengan hal itu,aku bisa menambah satu meja dan komputer di ruangan ini untuk mu," ucap Nayla.
"Tidak,,,Tidak,,,Tidak perlu nona,saya sudah merasa nyaman dalam hal ini,sungguh!" ucap Adrian langsung berdiri mengibaskan kedua tangannya.
'Aku tidak akan lagi menjaga jarak dengannya,aku berharap nona tidak menjalankan niatnya,' bisik hatinya berharap.
"Apa kau yakin?" tanya Nayla.
"Saya sangat yakin nona," jawab Adrian pasti.
"Baiklah jika kau sudah berkata begitu,aku hanya tak ingin kamu merasa tertekan dengan pekerjaanmu," kata Nayla.
"Sama sekali tidak, nona," jawab Adrian. "Sebelumnya saya hanya perlu waktu untuk mencernanya,dan juga membiasakan diri saya," jawab Adrian.
"Baiklah,lakukan saja apa yang membuatmu nyaman,aku harus pergi sekarang," kata Nayla bangun dari duduknya.
"Apakah saya perlu memesan taksi untuk anda?" tanya Adrian.
"Tidak perlu,sebenarnya taksi ku sudah menunggu di luar,lebih tepatnya ku minta menunggu," ucap Nayla di sertai tawa pendek.
Adrian tersenyum dan mengelengkan kepalanya saat Nayla berjalan kearah pintu.Sebelum Nayla membuka pintu,dia berbalik menatap Adrian dengan sedikit memiringkan kepalanya lalu berkata,
"Jika kau ingin berbohong padaku,carilah alasan yang lebih baik dari TEMAN LAMA,! Dengan begitu,mungkin aku akan lebih percaya dangan yang kau katakan." ucap Nayla lalu keluar meninggalkan Adrian yang mematung.
SSRRUUGH,,,,
Adrian menjatuhkan diri di sofa dengan mata terus menatap pintu dimana Nayla menghilang.
"Kurasa,Rose benar,sangat sulit menyembunyikan sesuatu darinya," gumam Adrian menutup wajah dengan telapak tangannya.
Sementara itu ,Nayla melenggang meninggalkan kantor yang mulai sepi dengan senyum menghiasi bibirnya.
Pikirannya kembali pada saat Rory menghubunginya.
Begitu tiba di apartemen,Nayla kembali membuka E-mail miliknya memastikan sekali lagi apa yang dilihatnya.
"Dia benar benar membelikanku tiket ke paris?kenapa dia melakukan ini?" ucap Nayla meletakkan telapak tangan di dahinya.
Tak ingin menunggu lebih lama lagi,Nayla mengaluarkan ponselnya untuk menghubungi Rory.
"Apa kau baru saja memastikan ulang E-mail mu, Nay?" tanya Rory terkekeh pelan.
"Apa kau tau pertanyaanmu justru terdengar mengerikan Roy?itu terdengar seperti kau telah memasang kamera di apartemenku," sambut Nayla.
Rory tergelak sebelum berkata.
"Mulailah berkemas,Nay! Aku sengaja memillih penerbangan pagi," ucap Rory setelah tawanya mereda.
"Kenapa kau melakukan ini,Roy?" tanya Nayla.
"Bukankah itu sudah jelas?" tanya Rory. "Aku merindukanmu,dan aku sangat ingin bertemu denganmu," sambungnya.
"Tapi,,," Nayla terdiam sesaat. "Bagaimana dengan pekerjaanmu?" tanya Nayla merasa tak enak.
"Biarkan aku yang mengurus itu.Satu hal yang pasti dan harus kamu tau adalah semua akan baik baik saja," kata Rory meyakinkan.
"Kamu hanya perlu datang ke sini,aku juga sudah memesankan hotel untukmu menginap.Mudah bukan?" kata Rory lagi.
"Tapi,,,"
"Apakah kamu tidak bisa minta cuti unuk beberapa hari saja?" tanya Rory.
"Bukan begitu,tentu saja aku bisa cuti beberapa hari,aku hanya tak ingin kamu mendapat masalah di tempatmu bekerja karena hal ini," kata Nayla pelan.
"Sudah ku bilang kan?aku akan mengurus hal itu.Jadi,jangan khawatirkan itu! kamu bisa datang kan?" tanya Rory penuh harap.
"Emm,,,,," Nayla bergumam dan berfikir.
"Tolong katakan YA," ucap Rory.
"Katakan,YA,!" kata Rory lagi.
__ADS_1
"YA?" desak Rory. "Pleaseee,,,!" sambungnya.
"Ya,,Ya,,baiklah," jawab Nayla tersenyum.
" YEESSSSSS,,," Rory berseru senang.
"Dasar,,, Bagaimana bisa terasa sulit untuk menolakmu?" tanya Nayla.
"Itu adalah hal yang seharusnya bukan!" jawab Rory tertawa pendek.
"Kalau begitu,mulailah berkemas dan tidur lebih awal untuk mendapatkan istirahat cukup,!" printah Rory.
"Baiklah,aku akan mulai berkemas," jawab Nayla.
"Oh,, dan jangan lupa membawa bebrapa pakaian hangat,walaupun di sini musim semi,angin malam tetap terasa cukup dingin,!" kata Rory.
"Baiklah,ada lagi?" tanya Nayla.
"Ada," jawab Rory cepat.
"Apa itu?" tanya Nayla.
"Aku mencintaimu," ucap Rory.
"Aku juga mencintaimu,Roy!" balas Nayla tersenyum.
"Sampai jumpa besok," kata Rory.
"Sampai bertemu lagi," balas Nayla.
"Fais de beaux rêves ,ma chérie," ucap Rory sebelum menutup teleponnya.
Nayla tertegun mendengarnya dan menatap layar ponsel dengan wajah mulai memerah.
Fais de beaux rêves, ma chérie [ mimpi indah,sayangku]
Nayla mengulang kalimat terakhir sebelum Rory mengakhiri panggilannya lalu menutup wajahnya dengan kedua tangannya,tersipu.
'Bagaimana bisa dia selalu punya cara untuk membuatku merasa istimewa?' bisik hatinya lalu tersenyum.
Nayla menyiapkan kopernya dan memasukkan beberapa pakaian untuk perjalanan besok.Tak lupa Nayla memasukkan laptop nya untuk memudahkan pekerjaannya kapapun di perlukan.
Setelah mengirim pesan pada Adrian untuk tidak mendatangi apartemennya,dan berkata tidak ke kantor selama beberapa hari kedepan,dia pun tertidur.
Nayla menjatuhkan dirinya di atas tempat tidur Hotel setelah membaca pesan Rory bahwa dia ada urusan sebentar dan akan menemuinya setelah jam makan siang.Pesan yang di kirim Rory masuk tepat saat dirinya tiba di hotel.
Merasa tak bisa diam saja setelah tiba,Nayla memutuskan keluar untuk jalan jalan sambil menunggu pekerjaan Rory selesai.Setelah menganti pakaiannya dengan yang lebih santai,Nayla pun berangkat.
Saat staf hotel melihat Nayla berniat pergi,staf hotel itu menawarkan jasa sopir untuk memandu perjalanan Nayla selama menjadi tamu hotel (alasan sebenarnya adalah mendapat permintaan dari Rory dan di minta untuk merahasiakannya) yang segera di terima dengan senang hati.
"Bolehkah saya bertanya?" kata Nayla kepada staf hotel yang berjalan di depannya memandu jalan mencapai mobil yang telah di siapakan.
"Tentu, nona.Apa yang ingin anda tanyakan?" tanya staf hotel.
"Apakah semua pengunjung hotel juga mendapatkan hak istimewa seperti ini?" tanya Nayla.
"Tentu saja, nona.Hanya saja para tamu bebas memilih apakah akan menerima penawaran kami atau menolaknya," jawabnya sambil menoleh.
"Kami ingin memberikan kenyamanan bagi semua yang menginap di sini," ucapnya sambil tersenyum.
Nayla mengangguk dan tersenyum.Staf hotel menunjukkan mobil yang di siapkan dengan seorang sopir berdiri di sampingnya,tersenyum ramah.
"Semoga hari anda menyenangkan nona," ucap Staf hotel sedikit membungkukkan badannya.
"Terima kasih," jawab Nayla melangkah menuju mobil yang segera di bukakan pintu belakang oleh sopir.
"Silahkan, nona," ucapnya membungkukkan badannya sopan.
"Terima kasih," ucap Nayla tersenyum.
Memastikan Nayla telah duduk,sopir itu dengan hati hati menutup pintu dan mengangguk pada staf hotel yang masih belum beranjak.
"Apakah anda sudah memutuskan kemana tujuan anda, nona?" tanya Sopir setelah duduk di belakang kemudi.
"Saya ingin ke toko buku,Apakah anda ada rekomendasi?" tanya Nayla.
"Tentu, nona.Ada satu yang terdekat dari sini.Dan beberapa berjarak cukup jauh,namun anda tak akan menyesalinya jika berkunjung ke sana," ungkapnya.
Pernyataan sang sopir mengelitik rasa penasaran di hatinya.Nayla pun meminta untuk mulai dari yang terdekat.
Sopir itu dengan senyum ramah mengangguk memenuhi keinginan Nayla.
"Bagaimana dengan perpustakaan?" tanya Nayla membuka suara saat mobil melintasi jalanan kota.
"Perpustakan tersebar di beberapa tempat di kota,beberapa juga berjarak cukup jauh.Ada satu perpustakaan yang selalu menjadi tempat istimewa bagi beberapa orang,apalagi jika dia seorang mahasiswa.Hanya saja,perpustakaan ini tidak mudah untuk masuk,terlebih untuk seorang wisatawan," sopir itu menjelaskan dengan lancar dengan perhatiannya yang tertuju pada jalan.
"Hanya untuk mereka yang memiliki kartu akses dan ada orang lokal yang bersama mereka sebagai pemandu.Karena perpustakaan ini mengharuskan menggunakan bahasa lokal ketika akan masuk." jelasnya.
"Itu terdengar menarik,kenapa mereka harus seketat itu untuk pepustakaan?Bisakah anda menceritakan lebih banyak?" tanya Nayla antusias.
'*Nona ini unik,selama ini aku selalu mengantarkan orang orang dari negara lain,dan tujuan mereka sebagian besar adalah menara Eifel ,tapi nona ini justru toko buku dan perpustakan*,' ucapnya dalam hati.
__ADS_1
"Perpustakaan ini merupakan perpustakaan nasional terpenting dan tertua di Prancis,yang kami sebut dengan *Bibliothèque Nationale de France* (BNF).Ada satu ruang yang hanya bisa di masuki oleh mahasiswa dan seorang peneliti yang di sebut ruang baca *Labrouste*.Sedangkan ruangan lain semua orang bisa masuk kedalamnya,misalnya saja *Rondel Gallery,Rotunda of performing Arts, Ruang Manuskrip*." jelasnya.
"Apakah mungkin bagi saya untuk bisa mengunjungi tempat itu?" tanya Nayla.
"Tentu saja,nona. Anda bisa memesan tur untuk grub di hari kamis, dan tur indivdu di hari sabtu.Hanya saja anda harus memesan jauh hari untuk mengisi slot tur ini. " ungkapnya.
"Itu justru membuat saya menjadi lebih ingin kesana dari sebelumnya," jawab Nayla.
"Sepertinya,anda menyukai buku,nona?" tanya sopir.
"Sangat," jawab Nayla tersenyum.
"Baiklah, nona ini dia toko bukunya.*The Abbey Bookshop*." ucapnya sambil menghentikan mobil.
Nayla terpana melihat toko buku yang terlihat tidak begitu besar dari depan,namun memiliki beberapa lantai.Di dekat toko ada penjual makanan ringan dan minuman.Meja dan kursi bulat juga di sediakan bagi siapa yang ingin membaca dan bersantai.
"Apakah tak masalah jika saya mencari buku sementara anda di sini?" tanya Nayla merasa tak enak.
"Tentu saja tidak,saya baik baik saja di sini.Jika anda membutuhkan saya,dengan senang hati saya membantu." kata sopir lalu tersenyum ramah.
"Jika begitu,tolong jangan menolak! Makan dan minumlah sesuatu,dan biarkan saya mentraktir anda," kata Nayla lalu keluar dari mobil dan pergi begitu saja dengan wajah semangat tanpa menunggu jawaban sopir.
Sopir itu mengeleng gelengkan kepalanya tersenyum geli melihat Nayla antusias masuk ke toko buku.
Nayla menatap isi toko dengan mata berbinar.Rak buku yang menjulang tinggi mencapai langit langit dengan buku yang tersusun rapi.
Rak buku bahkan di susun dengan begitu apik.Petunjuk arah pun tertulis dengan sangat jelas.Hal itu sangat memudahkan Nayla mencari jenis buku yang dia inginkan.
Nayla menaiki tangga menuju lantai dua.tak kalah dengan lantai pertama,di lantai dua juga buku tersusun dengan rapi.
'*Menakjubkan,,,buku buku ini di tata dengan sempurna.Sastra,fantasi,biografi dan lainnya,petunjuk arah dan jenis buku di tulis dengan jelas*,' ungkap hatinya merasa takjub dengan semua yang di lihatnya.
Merasa puas telah berkeliling,Nayla membeli beberapa buku dan berjalan menuju kasir.Seorang kakek bertopi putih dengan tubuh masih tegap tersenyum ramah saat Nayla menyerahkan buku yang akan di beli.
Sopir yang tengah menunggu segera menghampiri Nayla untuk membantu.
"Apakah ada lagi nona?"tanya sopir.
"Tidak,hanya ini," jawab Nayla.
Sopir itu berbicara dengan penjaga toko mengunakan bahasa lokal mereka.Sedangkan Nayla mengeluarkan credit card miliknya saat penjaga toko menyebutkan nominal yang harus dibayar.
"*Merci beaucoup, mademoiselle* \[terima kasih banyak,nona\]" ucap kakek itu tersenyum.
"*Je vous en prie* \[terima kasih kembali\]" jawab Nayla tersenyum.
Nayla pun pergi dari toko buku dengan barang yang di ambil alih sopir untuk di bawa ke mobil.
"*Passe une bonne journée \[semoga harimu menyenangkan\]" kakek berseru* sebelum Nayla mencapai pintu.
Nayla berbalik dan tersenyum sambil membarikan lambaian tangan kecil pada kakek itu.
"Apakah anda ingin mengunjungi toko lain nona?" tanya sopir saat mereka sudah berada di dalam mobil.
"Saya ingin ke perpus\_\_" kallimat Nayla terpotong oleh suara ponsel miliknya. "Sebentar,," ucap Nayla seraya mengeluarkan ponsel dan menjawab pangilan yang ternyata dari Rory.
"Kamu di mana Nay?" tanya nya dengan suara khawatir.
"Aku mengunjungi toko buku,apakah sesuatu terjadi? Kamu terdengar cemas?" tanya Nayla.
"Bagaimana bisa tidak? Aku datang ke hotel dan kamu tidak ada di sini," keluhnya.
"Ah,, maafkan aku,aku lupa mengirim pesan padamu,aku akan menemuimu sekarang,kamu masih di hotel kan?" tanya Nayla merasa bersalah.
"Hhaahh,,," desah nya pelan.
"Hei,,,Ayolah,,,Aku minta maaf,oke?" ucap Nayla.
"Katakan saja pada sopir untuk mengantarmu ke *Debilly footbridge*," kata Rory.
"Baiklah,,,aku segera kesana," ucap Nayla.
Nayla mengakhiri teleponnya dan meminta sopir untuk mengantarkan ke tempat yang di katakan Rory padanya.
__ADS_1
...\*\*\*\*\*\*\*\*\*\*\*\*\*\*\*\*...