LOVE OF MY LIFE

LOVE OF MY LIFE
Puncak Festival


__ADS_3

"UHUUKKK,,,!!!"


Suara batuk akibat tersedak terdengar nyaring, sebagian air yang dia minum menyembur keluar yang segera ditertawakan oleh teman yang berada disampingnya.


Terlihat dua pria mengenakan topi dan masker hitam yang menutupi wajah keduanya. Mereka sesekali menurunkan sedikit masker mereka saat meneguk minuman kaleng yang ada ditangan mereka.


"Kau yakin Rory marah hanya karena itu?" tanya pria yang tadi tersedak sembari menyeka mulutnya lalu menaikkan maskernya lagi.


Dua pria yang tidak lain adalah Thomas dan Ethan. Mereka menikmati festival setelah berhasil mendapatkan buku yang sama, mereka berdiri bersandar ditempat yang tidak begitu menarik perhatian. Di depan tempat mereka berdiri, terdapat sebuah tenda yang menjual berbagai macam makanan.


"Aku tak bisa membayangkan seorang Rory marah hanya karena ada pria yang memegang tangannya dan berniat membayarkan buku yang dia ambil?" ulang Ethan diselingi tawa.


"Dan lebih mengejutkan dia adalah wanita yang belum lama dia kenal." sambungnya


"Yang aku cemaskan adalah,,, Rory menarik paksa tangannya, aku bahkan tak sempat mencegahnya. Dia terlihat kesulitan mengimbangi langkah Rory. Apa yang akan terjadi selanjutnya,kita tak akan tau." Thomas menaikkan bahunya.


"Bisa dipastikan, dia akan bertingkah seolah dia kehilangan gitar kesayangannya setelah pulang." jawab Ethan enteng.


Sontak Thomas terbahak mendengar jawabannya.


"Padahal kita baru saja bisa beristirahat sejenak setelah jadwal kita yang padat, aku benar-benar akan berlibur jika pulang dan melihat dia berulah." ancam Ethan,lalu meneguk minumannya lagi.


"Firasatku mengatakan, dia akan pulang dengan senyum lebarnya," sambut Thomas pasti.


"Mustahil,,," sanggah Ethan. "Diantara kita semua, yang benar-benar bisa memadamkan amarahnya hanya Kevin." imbuhnya.


"Aku rasa sekarang tidak lagi, saat aku melihatnya, dia terlihat seperti bisa meredam amarahnya." jawab Thomas.


"Dan seperti yang kau katakan, apa kau yakin dia akan begitu bahkan setelah diperlakukan KASAR?" tanya Ethan menekankan kata kasar pada kalimatnya.


"Ya, entah kenapa aku tetap yakin akan hal itu." jawab Thomas menaikkan bahunya lagi.


"Apa-apaan,,," desis Ethan,matanya melebar kearah dibalik punggug Thomas.


"Apa yang kau lihat?" tanya Thomas heran dan reflek membalikkan badan mengikuti arah pandangan Ethan.


"Woww.." Thomas bergumam dengan suara tawa kecil.


"Kurasa kau bisa menjadi peramal yang bisa memprediksi apa yang akan terjadi dimenit berikutya." celetuk Ethan dengan wajah tak percaya atas apa yang dilihatnya.


Disana,diarah yang dilihat Thomas dan Ethan. Didepan sebuah tenda yang menjual Tacos Rory dan Nayla berdiri menunggu antrian untuk membelinya.Mereka juga terlihat mendekati tenda Poutine dan Kroketten.


"Menarik,,," gumam Ethan dengan seringai diwajahnya.


Thomas mengelengkan kepalanya pelan menyadari suara jahil Ethan.


"Jangan mulai lagi.." cegah Thomas menangkap jalan pikiran Ethan.


"Ayolah,,, bukankah akan bagus jika kita mengenalnya? jika kita menunggu dia yang mengenalkan pada kita, sampai kapan kita menunggu sedangkan kau juga tau wanita itu bahkan tak mengenal kita sama sekali." ujar Ethan beralasan.


"Selain itu,kita pernah menyapanya saat di cafe waktu itu." ucapEthan lagi.


Thomas merenungkan kata-kata Ethan lalu menangguk.


"Baiklah,, hanya jika kau berjanji tidak memperburuk keadaan." pinta Thomas.


"Percayalah padaku,akan mudah mengajaknya mengobrol setelah tau dia menyukai buku, kita gunakan itu jika terjadi sesuatu yang buruk." ucap Ethan mulai berjalan menghampiri Rory.


Thomas pun pada akhirnya hanya mengikuti Ethan menghampiri Rory.


Rory yang tak tau mereka akan menghampirinya tenggelam dalam obrolan bersama Nayla.


"Cobalah,,dan katakan padaku bagaimana rasanya." ucap Rory menyodorkan makanan yang baru saja dia beli.


"Apa nama makanan ini?" tanya Nayla melihat dengan seksama makanan yang ada ditangannya.Tortila yang dilipat berbentuk segitiga dan mulai mengigitnya.


"Mereka menyebutnya Tacos.ini adalah makanan khas dari meksiko,Roti tortila yang di isi dengan keju dan daging cincang." jelas Rory.


"Emmm..ini unik," Nayla berkomentar setelah mengigit dan mengunyah.


Rory tersenyum setelah menurunkan maskernya dan mulai mengigit makanannya.


"Lalu kalau ini?" tanya Nayla menunjuk makanan yang ada didepannya.


Mereka tengah duduk dikursi dengan meja didepan mereka dan payung diatasnya yang terletak dipaling sudut untuk menghindari keramaian orang.


"Hemm,,, Itu Poutine dari kanada dan Kroketten dari Belanda. Diolah dengan bahan dasar kentang, namun cara pengolahan yang berbeda walaupun sama sama digoreng." jelas Rory.


Nayla menganggukan kepalanya mengerti. Rory menopang dagunya dengan tangan kirinya,matanya tertuju pada Nayla yang tengah menikmati makanan yang ada ditangannya.


Nayla mulai mencoba menyuapkan Poutine kemulutnya,namun tangannya bergerak kearah mulut Rory.


"Buka mulutmu! jangan hanya melihatku makan sedangkan kau tak akan apapun." ucap Nayla masih belum menurunkan tangannya.


Rory tertawa canggung,tagannya mengosok bagian belakang lehernya.Matanya menatap Nayla yang membalasnya dengan menaikan alisnya.Sedikit ragu,Rory membuka mulutnya menerima makanan yang disodorkan padanya.


"Good Boy" celetuk Nayla lalu tertawa dan menyuap makanan untuk dirinya sendiri dengan menggunakan sendok yang sama tanpa dia sadari.


Rona kemerahan merayap diwajah Rory,

__ADS_1


'Bagaimana dia bisa sesantai ini?ahh..sial,,kenapa juga aku jadi berdebar gini'gerutunya dalam hati.


"Tapi Roy,,, apa kau yakin kita bisa menghabiskan ini semua?ini terlihat sangat banyak." ucap Nayla melihat makanan didepannya.


'Kenapa juga kau membeli sebanyak ini?"tanya Nayla.


"Karena kau bilang belum pernah mencicipi makanan ini,jadi aku pikir jika aku membeli beberapa makanan berbeda kamu bisa mencicipi semua makanannya." jawab Rory beralasan.


Tangan Rory bergerak meraih Kroketten dan berniat memakannya ketika sebuah tangan tiba-tiba merangkul bahunya.


"Kalau begitu,ijinkan kami membantu untuk menghabiskan makanannya." ucapnya lalu duduk dan merebut Krokotten dari tangan Rory yang langsung dimasukkan kedalam mulutnya setelah menurunkan maskernya.


"Itupun kalau kamu tidak kebaratan"timpal pria lain yang ikut duduk mengapit Rory dan menurunkan maskernya tersenyum ramah pada Nayla.


"Kalian..." Nayla mengerakkan telunjuknya dengan posisi terbalik dan menatap Thomas dan Ethan bergantian sedikit mengerutkan keningnya.


"Senang bertemu denganmu lagi,,,, ehmm Nay-la?benar kan?" ucap Thomas tersenyum.


"Ahh,,, Benar,kamu teman Rory kan?" tanya Nayla ramah.


"Yap,,, dan santai saja,kami tau kamu tak menggunakan nama Rory untuknya." goda Thomas mengerakkan kepalannya menunjuk Rory.


"Dan percayalah,,,dia lebih banyak bicara tentangmu dari siapapun." sambung Ethan dengan mulut penuh.


"Berisik,,kenapa kalian disini sih." hadrik Rory.


"Kuharap itu adalah hal baik." jawab Nayla tersenyum mengabaikan Rory.


"Nayy,,," keluh Rory dengan wajah memelas.


"Kami masih menyayangi wajah kami, alasan itu cukup untuk tak berbicara buruk tentangmu." jawab Thomas.


"Benarkah?" ucap Nayla dengan alis terangkat.


"Sangat, dia akan menghajar kami jika kami berani mengatakan hal buruk tentangmu." jawab Ethan setelah menelan makanannya.


"Hentikan,,,! kalian terlalu banyak bicara.jika kalian ingin makanannya,ambil dan pergilah." usir Rory dengan wajah memerah.


Sontak mereka temasuk Nayla tertawa melihat reaksi Rory.


"Kenapa?Nayla bahkan tak keberatan kami disini.bukankah begitu Nay?"tanya Ethan.


"Dia hanya terlalu baik dan tak bisa mengatakan tidak jika melihat tingkah kalian yang seperti ini."jawab Rory.


"Tenanglah Roy,,tak apa.aku tak keberatan."ucap Nayla tersenyum.


"Lihat kan...dia saja mengatakan tdak apa apa."jawab Ethan.


"Jadi..katakan padaku Nay,"Ucap Thomas mengarahkan pandagannya pada Nayla."Apakah kau masih ingat kami?"tanya Thomas.


"Hemmm..."Nayla meletakkan dua jari didagunya."Aku ingat kamu Thomas,tapi dia..."mata Nayla beralih ke Ethan yang masih terus saja makan tanpa peduli dengan sekitarnya.


"E e Ethan?"ucap Nayla menaikan alisnya.


Ethan tersenyum puas dan mengangguk.


"Woww..kau bisa mengingatku?"tanya Ethan.


"Kau bisa mengingatnya?"tanya Thomas dengan wajah tak percaya.


"Bagaimana kamu bisa ingat?"bahkan Rory menanyakan hal yang sama.


"Emmm..aku ingat kamu pernah bilang mereka kembar dan agak sulit mengenalinya jika tidak mengenal mereka berdua dengan baik.tapi mengingat sesuatu yang jelas berbeda,Rambut dan mata mereka memiliki warna yang berbeda.Dan jika aku lihat lagi sekarang,dia terlihat lebih banyak bicara jika dibandingkan dengan sudaranya,itupun kalau perkiraanku tak meleset"ucap Nayla.


"UHHUKKK,,,,!!!"


Ethan tersedak makanan yang akan dia telan.Reflek Nayla menyodorkan minuman miliknya.Dengan cepat,Ethan meneguk minuman yang diberikan Nayla.Mata Ethan menatap lekat Nayla.


"Apakah aku mengatakan hal yang salah?"tanya Nayla heran melihat tiga orang didepannya menatap dirinya dengan wajah terkejut.


"Kamu bertemu dengan Nathan sekali dan bertemu denganku disini untuk kedua kalinya dan menyadari perbedaan tipis itu?"tanya Ethan tidak bisa menyembunyikan keterkejutannya.


"Sebenarnya kamu tak mengatakan hal yang salah,justru itu sangatlah benar.Tapi.."Rory mengantung kalimatnya.


"Tapi?" tanya Nayla tak mengerti.


"Begini,,, Nathan dan Ethan adalah kembar identik, dari kebiasaan,hal yang disukai dan tingkah laku semua hampir sama. Kami bahkan butuh waktu agak lama untuk bisa benar benar mengenali dan menyadari perbedaan mereka.tapi kamu_,,,," Thomas menatap takjub.


"Ahh begitu,,,." Nayla tersenyum maklum.


"Bagaimana kamu bisa menyadarinya?" tanya Rory penasaran.


"Saat itu aku melihat kalian berdua tanpa masker,sama seperti sekarang.dan kebetulan saja aku mengingat perbedaan itu." jawab Nayla.


"Kebetulan?" tanya Thomas tak percaya.


Nayla tersenyum menaikan bahunya.


Mau tak mau Thomas dan Ethan membalas tersenyum untuk menutupi kecanggungan.

__ADS_1


"Apa yang akan kau lakukan setelah ini Nay?"tanya Thomas menghindari keheningan.


"Aku belum memutuskan.Adakah yang ingin kalian lakukan setelah ini?" balas Nayla bertanya.


"Sebenarnya,kami tak berencana lama disini.hanya ingin membeli buku lalu pulang."jawab Thomas diiringi tawa renyah.


"Buku..?" ulang Nayla.


"Benar, secara kebetulan aku dan Ethan menyukai buku yang sama. Itulah alasan kami disini, walaupun diawal kami sempat terpisah karena Ethan harus mengantar Nathan terlebih dulu kesuatu tempat," jelas Thomas.


"Benarkah?buku apa itu?" tanya Nayla penasaran.


"Karya Nyloes," jawab Ethan. "Apakah kamu tau buku itu?" tanyanya.


Nayla tertegun mendengar pernyataan mereka,tak menyangka dia akan bertemu dengan orang yang menyukai bukunya


"Aku tau buku itu," jawab Nayla.


"Apakah kamu membacanya juga?" tanya Thomas antusias.


Nayla mengeleng pelan.


"Sayangnya tidak."jawab Nayla.


Thomas menurunkan bahunya,antusiasme yang sempat menyala surut.


"Kamu harus membacanya,itu benar benar buku yang bagus.Aku bahkan langsung menyukainya hanya karena membaca satu buku yang aku pinjam dari Nathan."ucap Ethan."Tapi sayangnya buku itu sudah habis terjual."tambahnya.


"Jadi,,kalian si kembar yang menyukai buku?"goda Nayla.


"Hahaha..bisa dikatakan seperti itu,kami bahkan belum lama ini benar benar menyukai buku,berbeda dengan Thomas yang memang sejak kami mengenal,dia memang sudah menyukai buku."jawab Ethan.


"Aku tak keberatan meminjamkannya padamu jika kamu mau,hanya jika kamu suka membaca."sambung Thomas.


"Tidak perlu,terima kasih.aku sangat menghargainya.Tapi,aku sudah memilikinya."jawab Nayla santai,


"EEEHHHH,,,,,"Thomas dan Ethan berseru bersamaan.


"Tadi kamu mengatakan tidak membacanya,tapi kmu memiliki bukunya?"tanya Ethan heran.


"Apa yang salah dengan itu?"tanya Nayla.


"Kenapa?"tanyaThomas.


"Sederhana.Aku ingin menyelesaikan membaca buku Conan Doyle terlebih dulu."jawab Nayla.


"Menarik..kamu menyukai kisah misteri?"tanya Thomas.


Nayla mengangguk semangat.


"Dan kalian tau apa yang lebih menarik??" tanya Rory tiba-tiba membuat tiga pasang mata mengarahkan pandangannya pada Rory,menatap heran.


"Pesta berakhir karena Ethan telah menghabiskan seluruh makanan." ucap Rory sedikit kesal.


Mereka pun tertawa bersama lagi.Sementara Ethan bersikap seolah tak melakukan apa apa dengan memasang wajah polos.


"Dan aku dengan senang hati akan menghabiskan makanan yang kau beli lagi." sambut Ethan dengan senyum lebar.


"Astaga,,,!" geram Rory menutupi wajah dengan tangannya.


"Baik..Baik..kami akan pergi.." kata Ethan mengangkat kedua tangannya.


"Semoga kita bisa mengobrol lebih banyak dilain waktu Nay." kata Thomas mulai berdiri dan membetulkan maskernya.


"Senang megenalmu Nay." timpal Ethan mengedipkan matanya.


"Sampai jumpa Nay." pamit Thomas.


Tak lupa Thomas menyeret Ethan untuk segera pergi dari sana.


Nayla tertawa pelan ketika mereka menjauh.Rory menghela nafas panjang sebelum berkata pada Nayla.


"Maaf ya,terkadang mereka bersikap seenaknya dan konyol."kata Rory.


"Tapi kau menyayangi mereka seperti mereka juga menyayangimu.benar kan?"tanya Nayla lembut.


"Haahhh...tak bisa berbohong,memang benar.aku menyayangi mereka,"kata Rory mendesah pelan.


"Mereka menyenangkan,aku tak keberatan Roy."kata Nayla tulus.


Rory menatap mata Nayla dan tersenyum penuh terima kasih.


"Apakah kamu keberatan jika kita naik Biangala sebelum pulang?"tanya Rory.


"Tidak sama sekali,dengan senang hati aku menerimanya."jawab Nayla.


Sebuah senyum lebar terbentuk dibibir Rory yang mengulurkan tangannya dan disambut Nayla.Mereka berjalan menuju Biangala.


Malam semakin larut,suasana festivalpun semakin meriah ketika mencapai tengah malam,bertepatan dengan mereka yang berada di Biangala dan mencapai ditengah ketinggian,letusan kembang api menghiasi langit menerangi gelapnya malam.

__ADS_1


Nayla terpesona dengan indahnya kembang api hingga dia tidak menyadari,mata Rory terpesona dengan keindahan malam yang dihiasi ledakan kembang api hanya saat matanya tertuju pada Nayla.


...****************...


__ADS_2