LOVE OF MY LIFE

LOVE OF MY LIFE
74. Perubahan Rencana


__ADS_3

"Aku berjanji!" tegas Rory penuh kesungguhan.


"Hehh,,, Jika kalian mau bermesraan, setidaknya lihatlah yang ada disekitar kalian!" celetuk Ethan.


"Apakah kalian menganggap kami sebagai patung?" sambung Nathan.


"Cinta kalian akan membuat siapapun yang melihatnya iri," timpal Thomas.


Rory terkekeh pelan menanggapi perkataan teman-temannya. Menjauhkan dahinya, Rory menatap mata Nayla, lalu tersenyum lembut.


"Apa kamu siap?" tanya Rory.


"Uhm,," jawab Nayla menganggukan kepalanya.


Rory tersenyum dan mengandeng Nayla. Meletakkan tangan Nayla dilengannya.


Nayla menghembuskan nafas cepat dan kembali mengangguk, melangkah beriringan bersama Rory dan yang lain keluar dari ruang rawat.


Kevin berada dikanan Nayla, sedangkan Rory berada disebelah kiri mengandeng tangannya.


Thomas, Nathan dan Ethan berada disisi lain Rory, sedangkan Martin berada didepan mereka.


Sepanjang perjalanan menuju pintu keluar, beberapa orang yang berada di rumah sakit mengikuti langkah mereka dengan mata melebar. Diiringi bisik-bisik pelan dari mulut mereka.


"Hei lihat, itu Ace kan?" ucap salah satu pengunjung rumah sakit setengah berbisik.


"Benar. Ternyata berita itu bukan sekedar rumor, bahwa kekasih Ace keluar dari rumah sakit hari ini," jawab temannya.


"Ace tampan sekali jika dilihat dari dekat begini," sanjungnya.


"Hust,,, dia sedang bersama kekasihnya, kamu mau cari masalah?" tegur temannya mengingatkan.


"Apa sih, aku kan hanya memujinya. Lagi pula, dia memang tampan. Dan wanita disampingnya juga cantik," sanggahnya


Nayla yang menangkap obrolan mereka tersenyum kecil, lalu mendekatkan bibirnya di telinga Rory.


"Bahkan disini pun kamu memiliki banyak pengemar," bisik Nayla.


"Apa yang bisa kukatakan?" jawab Rory balas berbisik


"Mereka menyukaiku karena aku tampan," imbuhnya.


"Cih,,, percaya dirimu tinggi sekali," cibir Nayla sembari menjulurkan lidahnya.


'Nayla benar-benar bisa menenagkannya dalam waktu singkat, benar-benar,' batin Kevin mengeleng-gelengkan kepalanya.


'Bahkan disaat seperti ini, justru Nayla-lah yang terlihat paling tenang disini,' batin Thomas.


Kevin melambatkan langkahnya dan berjalan satu langkah dibelakang Nayla. Salah satu hal yang dilakukan sesuai rencana Nayla.


Ketika mereka tiba dipintu keluar, Martin berbalik dan menoleh kearah mereka sebelum membuka pintu.


"Nay,,, apakah kamu siap?" tanya Martin cemas.


'Aku berharap hari ini akan berlalu dengan cepat,' batin Martin.


"Mungkin ini hal biasa bagi kami, tapi aku tidak tau bagaimana dengan perasaanmu. Kita bisa menundanya sebentar jika kamu mau," sambung Martin.


'Dia benar-benar menjadi sosok yang berbeda,' batin Nayla.


Nayla menarik nafas dalam dan menghembuskannya perlahan. Dengan anggukan pasti, ia tersenyum.

__ADS_1


"Tidak perlu. Aku siap," jawab Nayla.


"Apa kau yakin?" imbuh Thomas.


"Sangat yakin. Terlebih lagi, aku memiliki kalian disekitarku. Apa yang harus aku takutkan?" jawab Nayla.


Martin mengangguk dan kembali berbalik untuk membuka pintu.


Nayla tercengang begitu melihat keramaian yang ada didepannya saat melangkah keluar dari rumah sakit.


Gerombolan orang yang semula diam menunggu, serentak menghampiri Rory. Banyak dari mereka juga memotret Rory dan tim.


Menghentikan langkah mereka yang akan menuju mobil. Dengan hal itu, pengawal yang berada dibelakang mereka segera memperketat penjagaan dengan merentangkan tangan mereka.


'Sejauh ini semua berjalan sesuai rencana. Teman-teman Kevin telah berada diposisinya untuk mengawasi siapa yang terlihat mencurigakan, dan akan menangkap mereka,' Martin berkata dalam hatinya.


'Disini Rory harus mengulur waktu untuk memastikan mereka menemukan pelakunya,' batin Kevin.


Untuk sesaat, kilatan blitz kamera membuat Nayla merasa tidak nyaman. Namun, ia tetap berusaha tidak melepaskan fokusnya.


Nayla meremas tangan Rory, berharap hal itu dapat membantu menenangkan hatinya.


Hal itu segera ditangkap Rory yang membalas meremas tangan Nayla dengan lembut.


Beberapa orang mulai mengajukan pertanyaan yang ditujukan kepada Rory.


"Bagaimana pendapat anda tentang komunitas yang justru mendukung penuh anda atas hubungan anda dengan kekasih anda?"


"Saya sangat berterima kasih atas dukungan dari semuanya kepada kami Sungguh, jika saya bisa membalasnya, saya sangat ingin melakukannya," jawab Rory.


"Apakah pelaku di balik insiden ini benar-benar telah tertangkap?"


"Benar. namun, kami masih tetap menyelidiki lebih lanjut untuk hal itu. Dan saya sangat berharap pelaku dari insiden itu hanya mereka yang berhasil kami tangkap," jawab Rory.


"...."


"...."


Mereka memberondong Rory dan Nayla dengan pertanyaan. Rory mengambil alih semua pertanyaan yang diajukan kepada Nayla dan menjawabnya.


Ketika semua orang disibukkan dengan pertanyaan-pertanyaan dan mendengarkan jawabn Rory, dari sudut mata Nayla, terlihat seorang pria bertopi mulai bergerak mendekati mereka.


Nayla mengerakkan tangannya seolah tengah menyelipkan rambutnya, lalu bergumam pelan.


Pria itu terus mendekat, tak seorangpun memparhatikan gerak-gerik anehnya selain Nayla yang terus mengawasi dengan sudut matanya.


Pria itu mengeluarkan sesuatu dari jaketnya. Kilaulan logam keluar dari balik jaket yang ia kenakan. Detik berikutnya, Nayla menyadari pria itu mengengam sebuah belati, membuat wajah Nayla memucat.


Jarak pria itu semakin dekat, matanya terus tertuju pada Rory. Dengan berpura-pura mengeluarkan ponsel, pria itu terus mendekat. Hingga Rory berada didalam jangkauan pria itu.


Tepat saat pria itu mengarahkan belati ditangannya pada Rory, sepersekian detik berikutnya Nayla memeluk Rory dan memutar tubuhnya, berusaha melindunginya dari pria yang menghunuskan belati pada Rory dan mengenai perut bagian belakang Nayla.


"Ukhh,,,,," rintihnya.


Nayla mencengkaram lengan Rory saat belati itu menembus perutnya. Dengan gerakan cepat sembari menahan sakit, Nayla memutar tangannya dan menangkap pergelangan tangan pria itu.


"Kevin,,,," desis Nayla meringis kesakitan saat pria itu menancapkan belati lebih dalam padanya.


"Nay,,, Apa yang terj_,,,," kalimat Rory terputus saat menyadari apa yang terjadi.


"Nay,,," seru Kevin.

__ADS_1


Kevin segera menangkap tangan pria itu sebelum pria itu berhasil melepaskan diri dari Nayla.


Kevin melayangkan tinjunya hingga membuat pria itu tersungkur dan disambut oleh beberapa pengawal yang berada disekitar mereka.


Keadaan berubah menjadi riuh. Semua orang berteriak panik saat melihat seseorang menusuk Nayla menggunakan belati.


",,,,,,," Nayla bergumam lagi.


"Nay,,, hei,,Nay,,,," seru Rory panik.


Tubuh Nayla mulai merosot karena kehilangan tenaga dikakinya. Darah mengalir deras dari tempat belati itu menembus perutnya dan dicabut oleh pria itu.


Rory menopang Nayla agar tidak jatuh dan terus memanggil Nayla.


"Ugh,,, ini,,, sakit,,,tapi,,,aku,,, tidak,,,apa,,apa," ucap Nayla terbata.


Nayla terkulai setelah menyelesaikan kalimatnya, yang segera diangkat Rory lalu membawanya kembali kedalam rumah sakit.


Beberapa perawat telah menyiapkan brankar dorong untuk membawa Nayla ke ruang darurat.


Rory mendorong brankar dengan wajah panik dan khawatir. Darah yang terus mengalir membuat kepanikan Rory bertambah dan tidak bisa memikirkan apapun.


Tak satupun dari mereka bisa mencerna apa yang baru saja terjadi. Namun memreka memikirkan pertanyaan yang sama.


'APA YANG SEBENARNYA TERJADI? BUKAN INI RENCANANYA? BAGAIMANA RENCANA INI BISA GAGAL?'


Chris menyambut mereka tanpa bicara dan segera menangani Nayla. Begitu Nayla berada didalam, Rory berbalik dan menatap Kevin. Mencengkram kerah bajunya.


"Apa maksudnya ini, Kevin???" sentak Rory.


"Kau pasti tau sesuatu. Bahkan teman-temanmu tak satupun terlihat sekarang," geramnya.


"Aku bersumpah tidak tau apapun, Rory," jawab Kevin.


"Apa kau yakin kau mengatakan hal yang sebenarnya?" dengus Rory tidak melepaskan kerah baju Kevin.


"Rory, hentikan!" seru Thomas.


"Ini bukan saatnya untuk bertengkar," sambung Martin.


"Tck,,," Rory mendecakkan lidah dan memelepaskan Kevin.


Kevin sedikitpun tidak melakukan perlawanan. Dimatanya terpacar rasa khawatir yang besar mengingat Nayla yang berada di dalam ruang darurat.


Beberapa saat kemudian, teman-teman Kevin muncul. Saat Rory hendak menyambut mereka, Thomas dan Martin mencegahnya. Namun, tidak dengan Kevin.


Hal yang tak diduga, Kevin justru melayangkan tinjunya pada Jeffry. Dan segera menarik kerah bajunya sebelum Jeffry melakukan perlawanan.


"Dari mana saja kau?" sentak Kevin.


"Aku meminta tolong padamu untuk melindunginya, tapi kenapa kau justru tidak ada diposisimu?" bentaknya.


Jeffry menatap mata Kevin.


"Ini adalah rencananya, bukan kami," ucap Jeffry tenang.


"Apa maksudmu?" tanya Kevin. "Kalian jelas tidak menjalankan rencana yang sudah kita susun," sambungnya.


"Bukan rencana yang dia bicarakan bersama kalian, tapi rencana yang dia bicarakan bersama kami," jawab Jeffry.


"Lebih tepatnya, dia merubah rencananya bersama kami," sambung Reymond.

__ADS_1


...****************...


__ADS_2