LOVE OF MY LIFE

LOVE OF MY LIFE
88. Tak Terduga.


__ADS_3

Sebuah acara siaran langsung yang dihadiri oleh banyak orang memenuhi sebuah gedung dimana acara itu diselengarakan.


Hal serupa juga terjadi diluar gedung dimana mereka ikut menonton acara siaran langsung dimana penyanyi yang mereka idolakan akan muncul melalui layar besar yang berada di luar.


Sebuah acara tanya jawab dimana mereka yang menjadi bintang tamu akan diberi pertanyaan secara bergiliran dan kesempatan untuk mendengarkan kisah mereka dibelakang layar.


Disisi lain, Rory beserta teman-temannya masih belum berangkat ketempat acara diadakan. Mereka masih mepersiapkan diri mereka ketika Nayla datang.


"Kamu benar-benar datang terlambat," sambut Martin ketika Nayla tiba.


"Maaf, ada hal yang aku urus, dan aku tidak menyangka akan membutuhkan waktu lebih lama," jelas Nayla terengah-engah.


"Tolong urus dia!" pinta Martin kepada seorang wanita yang telah menunggu kedatangan Nayla.


"Dia yang akan membantumu mengenakan pakaian, serta riasan untukmu," papar Martin.


Nayla mengangguk dan menurut ketika wanita itu membimbingnya untuk masuk kedalam ruang ganti.


####Beberapa hari sebelumnya.


Martin memberikan jadwal acara kepada Rory dan yang lain termasuk dirinya. Jadwal yang tertulis adalah satu hari sebelum acara yang akan dihadiri oleh Nayla.


"Aku hanya perlu datang saja kan?" tanya Nayla.


"Bukan sekedar HANYA Nay, tapi kamu juga akan berangkat kesana bersama kami. Yang artinya, kamu akan berada di belakang panggung. Kalaupun kamu ingin duduk untuk melihat mereka, tentu saja kursi VIP disediakan untukmu," terang Martin.


"Ehhh,,,?" Nayla berseru kaget lalu menatap Rory meminta penjelasan.


"Benar, jadi datanglah kemari sebelum waktu yang ditentukan untuk bersiap-siap disini!" pinta Rory.


"Baik. Aku tak akan mengeluh tentang ini. Tapi, sebagai gantinya, di malam berikutnya kalian harus ikut bersamaku untuk menghadiri acaraku," jawab Nayla.


"Acaramu?" jawab Rory balas bertanya.


"Ya. Dan kalian semua harus datang," ucap Nayla.


"Tak masalah," sambut Martin.


"Aku akan mengaturnya," imbuhnya.


"Acara apa tepatnya yang kamu minta agar kami hadir disana?" tanya Kevin.


"Ada banyak hal yang belum kukatakan. Salah satunya akan kukatakan disana," ungkap Nayla.


"Kamu tidak harus mengatakan apa yang memang tidak ingin kamu katakan, kau tau?" sambut Thomas.


"Aku tau. Tapi, ini adalah hal yang harus aku katakan," jawab Nayla.


"Baiklah, kita sepakat," balas Martin.


Dering posel Nayla menyela pembicaraan mereka, membuat semua mata tertuju pada Nayla.


Tak membuang waktu, Nayla memeriksa ponselnya, 'Adrian' tertera dilayar ponsel Nayla.


"Tunggu sebentar, aku harus menerima ini," ucap Nayla seraya melangkah pergi, menjauh dari mereka.


Nayla berdiri tak jauh dari pintu untuk menerima panggilan dari Adrian, yang tidak dia sadari, Kevin mencuri dengar apa yang dibicarakan Nayla.


Kevin beralasan kepada teman-temannya untuk menghubungi seseorang dan berdiri didekat pintu, dimana suara Nayla samar-samar terdengar olehnya.


"Ya, Adrian?" sambut Nayla setelah menempelkan ponsel di telinganya.


"Apakah kamu sudah memeriksa apartemenku? Bukankan seharusnya ada disana?" ucap Nayla.


"Aku belum memindahkan satupun barang yang kau letakkan disana," imbuhnya.


"Baiklah, aku akan kesana," ucap Nayla lagi setelah terdiam beberapa saat.


'Siapa sebenarnya Adrian yang selalu disebut Nayla? Kenapa mereka terlihat sangat dekat? Bahkan Nayla memberikan kunci cadangan apartemannya,' pikir Kevin.


Kevin segera menjauh dari pintu, kembali bergabung bersama teman-temannya.


'Apakah hal yang ingin diakatakan nanti juga berhubungan dengan ini?' pikir Kevin.


Nayla menghampiri mereka dan meminta maaf harus pergi karena urusan mendadak dengan pekerjaannya.


Mereka segera mengiyakan menyadari posisi Nayla juga tidaklah mudah, setidaknya begitulah yang mereka pikirkan. Mereka menatap punggung Nayla ketika ia pergi dengan diantar Rory menuju pintu depan.


###### Kembali kemasa sekarang.


Diruang ganti, Rory dan yang lain telah selesai dengan pakaian mereka. Siap untuk pergi.

__ADS_1


"Hei, menurut kalian, apa yang akan dikatakan Nayla besok?" tanya Ethan memecah keheningan setelah penata rias keluar.


"Apakah itu tentang kakak yang telah tiada? Chris bukan kakak kandungnya? Atau,,,,?" Ethan melirik Rory yang masih terlihat tenang.


"Atau apa?" tanya Rory menaikkan alisnya.


"Dia menyukai orang lain." celetuk Kevin.


"PLETAAKK,,,!!!"


"Aakh,,,!" seru Kevin saat kepalanya dijitak Thomas.


"Apa sih? Kenapa kamu menjitak kepalaku?" decak Kevin.


"Kau mengatakan hal konyol tanpa dasar atau tanpa sadar?" dengus Thomas kesal.


"Aku bercanda," kilah Kevin.


"Dan candaanmu tidak lucu," sambut Rory.


"Jika kalian sudah selesai, cepatlah keluar,"


Suara Martin menyela pertengkaran kecil mereka, membuat mereka berhenti berdebat dan segera keluar.


"Nayla belum selesai?" tanya Rory saat menghampiri Martin.


"Mungkin sebentar lagi," jawab Martin.


Tak lama setelah Martin menjawab, pintu ruang ganti tebuka, disertai penata rias yang keluar dari ruangan itu. Dibelakangnya, Nayla keluar dengan penampilan berbeda.


Seketika, seluruh mata yang ada disana menatap kearahnya. Menunjukkan raut wajah penuh kekaguman.


Gaun malam yang dipersiapkan Rory terlihat sempurna hanya dengan Nayla yang mengenakannya.


"Entah kenapa, aku bersyukur saat di Paris Nayla tidak mengenakan gaun," celetuk Ethan membuka suara.


"Kenapa?" sambut Thomas tidak mengalihkan perhatiannya dari Nayla.


"Jika dia berpenampilan seperti ini, berapa banyak mata pria yang akan menatapnya? Dan berakhir dengan terbakarnya kepala seseorang," ucap Ethan dengan sarkas.


Sontak suara tawa memenuhi keheningan yang sempat terjadi. Rory menghampiri Nayla dan menawarkan tanganya. Tersenyum manis, Nayla segera menyambut tangan Rory.


"Apakah ini tidak berlebihan? Bukankah ini acara tanya jawab saja?" tanya Nayla.


'Rory ingin melamarmu, bagaimana bisa kamu berpenampilan biasa saja? Dan itu didepan publik,' batin Martin.


"Kenapa aku jadi berharap kamu belum bersama Rory ya?" sela Nathan tersenyum jahil.


"Kamu terlihat mempesona," puji Kevin.


"Bahkan lebih dari itu," sambung Thomas.


"Kalian bahkan terlihat lebih bersinar, jika dibandingkan denganku," balas Nayla mulai tersipu.


"Baiklah, Baiklah,, sekarang lebih baik kita berangkat," sela Martin.


Mereka segera masuk kedalam mobil yang telah disiapkan. Untuk sesaat, Nayla mentap mobil yang akan mereka naiki, lalu mendekatkan bibinya pada Rory.


"Berapa banyak sebenarnya mobil yang ada digedung tempatmu tinggal?" tanya Nayla.


"Kenapa?" jawab Rory balas bertanya.


"Bukankah ini berbeda dari yang biasa digunakan?" tanya Nayla.


"Kami memiliki tiga untuk digunakan saat pergi bersama," celetuk Thomas yang mendengar pertanyaan Nayla.


"Masing-masing dari kami memiliki satu, termasuk sopir dan beberapa yang bekerja bersama kami," sambung Kevin.


"Haha,,, begitu,, kehidupan seorang bintang tampaknya sulit ya?" ucap Nayla tersenyum kaku.


Mereka hanya tertawa menikmati reaksi terkejut yang Nayla tunjukkan. Selama perjalanan, mereka sesekali membicarakan hal ringan untuk mengisi keheningan.


Nayla melihat keluar jendela ketika mereka tiba. Keramaian yang ada diluar mobil membuatnya sedikit tidak nyaman. Terlebih begitu banyaknya sorotan kamera yang mengarah kemobil yang ia naiki.


Martin turun untuk memimpin. Dibelakangnya Kevin turut keluar dan tersenyum tipis. Thomas keluar setelah Kevin, diikuti Ethan dan Nathan.


"Hei, Hei,, lihat. Ace sepertinya juga membawa kekasihnya,"


Dengan satu suara itu, mereka menyorotkan kamera mereka pada Rory yang baru saja keluar dari mobil.


Rory mengulurkan tangannya, dan tersenyum lembut pada Nayla.

__ADS_1


"Semua akan baik-baik saja, kamu percaya padaku kan?" ucap Rory ketika melihat Nayla bergeming.


Perlahan, Nayla meraih tangan Rory, hingga tanpa ia sadari, tangannya mengenggam kuat tangan Rory.


"Cantik sekali,"


"Mereka serasi sekali"


"Pasangan sempurna"


"Dia mempesona. Tidak ada yag lebih cocok selain dia,"


Beberapa komentar terdengar riuh saat Rory dan Nayla melangkah menuju gedung dengan tangan Nayla berada di lengan Rory.


"KYAAA,,,, mereka benar-benar pasangan sempurna,"


"NAYRELA,,, AKU AKAN MENJADI PENGEMARMU,,,!!"


Suara beberapa pemuda berteriak dengan lantang. Menunjukkan kekakguman mereka. Bahkan beberapa remaja dan wanita mengatakan hal yang sama.


"Ma Chéri, tanganmu dingin sekali. Seingatku, suhu dimobil tidak begitu dingin," goda Rory bebisik.


"Jangan mengodaku," sungut Nayla.


"Aku tidak bisa menahannya, cengkraman tanganmu cukup kuat, kau tau?," bisik Rory lagi.


Nayla melebarkan matanya, dan segera melihat lengan Rory. Benar saja, bagian lengan bajunya masih berbekas akibat cengkraman tangannya.


"Maaf," desis Nayla melonggarkan cengkramannya.


"Kamu bisa melakukannya lagi jika kau mau," sambut Rory.


Wajah Nayla mulai memerah, membuatnya memalingkan wajah.


"Tersenyumlah, Ma Chéri, mereka masih melihatmu. Tapi, jangan berikan senyum manismu pada pemuda yang tadi berteriak," ucap Rory.


"Hooo,,, bukankah itu bagus? Aku bisa membuat pengemarmu bertambah," goda Nayla.


Dengan gerakan cepat dan tiba-tiba, Rory menarik tangan Nayla, membuatnya lebih dekat dan meletakkan tangannya dipinggang Nayla.


"Apakah kau sedang memancingku?" tanya Rory menatap lekat mata Nayla.


Kedekatan Rory dan Nayla menarik perhatian semua yang berada disana. Mereka bahkan berhasil mengambil gambar ketika Rory meletakkan tangan dipinggang Nayla.


"Mereka manis sekali,"


Nayla menepis tangan Rory, dan kembali meletakkan tangan dilengannya. Wajahnya kian memerah ketika banyak dari mereka yang melihat sikap Rory padanya, justru bersorak senang.


Akhirnya, mereka tiba diruang tunggu. Menunggu mereka dipanggil oleh pembawa acara.


"Banar-benar, kalian berdua sukses menarik perhatian," ucap Ethan membuka pembicaraan.


"Sepertinya, kalian berdualah yang paling bersinar sekarang," sambung Thomas.


"Pada dasarnya, mereka adalah pengemar kalian semua," kilah Nayla


Tak lama kemudian, Martin muncul dari balik pintu. Meminta Rory dan yang lain untuk bersiap.


"Aku harus meninggalkanmu sebentar sekarang," desah Rory.


"Hei,, jangan membuatnya terdengar seperti kamu akan pergi lama," sambut Nayla tersenyum.


"Kamu hanya berjarak beberapa meter saja, dan itu juga sebentar," imbuhnya.


"Tetaplah bersama Martin! Dan jangan melakukan apapun yang akan membuatku khawatir," harap Rory.


"Aku janji," jawab Nayla menganggukan kepalanya.


Rory mengusap lembut wajah Nayla sebelum berlalu pergi. Martin menemani mereka sebentar sebelum mereka menuju panggung, sedikit jauh dari Nayla yang membuat Nayla tidak mendengar apapun yang Martin sampaikan kepada mereka.


"Ah, aku lupa mengatakan satu hal. Mereka memberiku kabar mendadak, dan itu belum dipastikan karena mereka melakukan kesalahan memberi jadwal. Mereka berkata padaku, satu bintang tamu lain akan datang dan itu adalah seorang penulis buku," ungkap Martin.


"Aku sudah menghubungi asistennya, dan dia mengatakan akan sulit jika perubahan jadwal terlalu mendadak. Tapi dia akan mencoba membujuk penulis itu agar mau datang dan menjadi lawan bicara kalian nanti," lanjutnya.


Mereka mengangguk serentak, tanda mengerti apa yang harus dilakukan.


"Siapa penulisnya?" tanya Kevin.


Martin tersenyum, lalu menatap Thomas, Ethan dan Nathan bergantian sebelum menjawab.


"NYLOES,"

__ADS_1


...****************...


__ADS_2