LOVE OF MY LIFE

LOVE OF MY LIFE
96. Makam


__ADS_3

"Aku tidak sanggup berjalan lagi," keluh Nayla membungkuk dengan tangan dilututnya serta nafas terengah-engah.


"Ini penyiksaan," gerutunya seraya berjongkok.


"Sedikit lagi," bujuk Rory menarik tangan Nayla memintanya untuk kembali berdiri.


"Kita kembali saja," jawab Nayla mengelengkan kepalanya.


"Hei, ayolah,! Sudah sejauh ini, apakah kamu menyerah begitu saja?" bujuk Rory lagi.


"Bagaimana bisa kamu tidak merasa lelah setelah mendaki sejauh ini?" sahut Nayla memajukan bibirnya, cemberut.


"Kamu saja yang lemah," goda Rory.


"Enak saja," sahut Nayla memukul lengan Rory dengan main-main.


"Kalau begitu, buktikan!" tantang Rory.


"Lagi pula, kita bukan mendaki, kita hanya berjalan di jalan menanjak saja," selorohnya.


"Sama sekali tidak menghibur," sambut Nayla menjulurkan lidahnya.


Nayla berdiri dan menegakkan badannya dengan kedua tangan dipinggang. Mengatur nafas, lalu berbalik berniat tidak melanjutkan perjalanan nya. Namun, dengan cepat Rory kembali membalikkan badan Nayla dan menarik ke punggungnya, lalu mengangkatnya.


"Ehh,, Hei,, Roy,, turunkan aku," berontak Nayla.


"Berpegangan saja dan jangan banyak bergerak, setidaknya itu akan meringankan bebanku," sambut Rory terkekeh pelan.


"Itu sebabnya, turunkan aku," perintah Nayla memukul pelan bahu Rory.


"Kau sangat buruk dalam memberi perintah, Nay," goda Rory.


"Roy,,,"


"Berpeganganlah dengan benar, atau kamu lebih suka mencekik leherku?" potong Rory.


Nayla akhirnya menurut dengan memasang wajah cemberut. Meski begitu, Ia perlahan melingkarkan kedua tangannya.


"Kenapa kita harus sekali berjalan sejauh ini?" bisik Nayla ditelinga Rory.


"Mendengarmu bertanya seperti itu, apakah aku bisa mengambil kesimpulan bahwa kamu tidak pernah ketempat ini sebelumnya?" tanya Rory.


"Tidak pernah sekalipun," jawab Nayla.


"Itu justru lebih bagus lagi," sambut Rory senang.


"Bisakah kamu mengatakan langsung padaku? Kenapa kau membuatnya berputar ditempat?" gerutu Nayla.


"Tidak. Aku akan mengacaukan kejutannya jika aku mengetakannya sekarang," jawab Rory.


"Lagi pula, bukankah kamu sudah sepakat untuk tidak terlalu banyak bertanya?" sindir Rory.


"Kamu sendiri yang memulainya," sahut Nayla.


"Hei,,, kenapa sekarang aku yang kamu salahkan?" sambut Rory.


"Pertama, kamu memintaku menyanyi saat kita di apartemenku," ucap Nayla.


"Tapi aku juga menurutimu saat kamu bilang agar aku menunggumu di mobil selama kamu menemui produser itu di kantor, dengan alasan konyol," balas Rory tak mau kalah.


"UKh,, uhuk,, hei,,, Nay,, aku,, tidak bisa,,, bernafas,," keluh Rory.


Dengan sengaja Nayla mengeratkan pegangan tangannya dileher Rory, membuatnya sedikit tercekik selama beberapa detik lalu melepaskannya.


"Katakan saja dengan benar jika kamu tidak menyukainya," sungut Nayla.


"Siapa bilang aku tidak menyukainya," sanggah Rory.


Rory tersenyum kecil ketika ia kembali mengingat saat mereka masih di apartemen Nayla.


##### Flashback on


Secara tidak sengaja, Kevin yang saat itu hendak memilih buku untuk dibaca, ia menjatuhkan sebuah buku dengan cover plastik tebal saat menarik keluar buku yang ia pilih.


Buku itu terjatuh dalam keadaan terbuka, memperlihatkan bagian dalamnya yang berisi tulisan tangan Nayla.


Kevin yang langsung mengenali tulisan tangan di buku itu, segera mengambilnya untuk membacanya karena penasaran.


Dan ia begitu terkejut setelah tau buku itu berisi lagu dan kunci gitar yang sama sekali tidak ia kenali.


"Nay,,," panggil Kevin.


"Ya,? Kenapa?" tanya Nayla mengangkat wajahnya menatap Kevin.


"Kamu bisa menciptakan lagu?"tanya Kevin sembari membuka lembar demi lembar buku ditangannya dengan hati-hati.

__ADS_1


Setiap lagu yang di tulis memiliki tanggal di sudut kiri bawah, menandakan kapan lagu itu dibuat.


"D-Dimana kamu m-menemukannya?" tanya Nayla tergagap.


Nayla segera bangun dari duduknya dan mendekati Kevin untuk mengambil alih buku itu, namun Kevin tidak memberikanya dengan mudah. Ia mengangkat bukunya keatas, membuat Nayla kesulitan untuk meraih buku dari tangan Kevin.


"Aku penasaran dengan lagu ROY yang kamu tulis," goda Kevin.


Rory yang mendengar hal itu segera mendekati Kevin dan mengambil alih buku itu untuk melihat isinya.


"Hei,,, Roy berikan itu padaku,!" pinta Nayla.


'Ugh,,, dimana sebenarnya Adrian menyimpan buku itu? Kenapa dia tidak memindahkannya? Tck,, aku juga kenapa bisa lupa menyimpannya?' rutuk Nayla dalam hati.


Tidak hanya Rory yang penasaran dengan isinya, Thomas, Martin, Ethan juga Nathan turut menghampiri Rory untuk melihat isinya.


"Remember of you (ROY)," Thomas membaca lalu mengarahkan tatapannya pada Nayla yang wajahnya telah memerah.


"Tanggalnya, bukankah itu tanggal yang sama kamu membuat lagu yang kau buat untuk Nayla,?" tanya Martin pada Rory.


"Banyak sekali harta karun disini," celetuk Ethan.


"Adakah yang kamu sembunyikan lagi dari kami, Nay?" timpal Nathan.


"Itu,,, ehm,,, bisakah aku meminta bukuku kembali?" harap Nayla.


"Bisakah kamu menyanyikan ini untukku?" balas Rory.


"Aku?" sambut Nayla menunjuk wajahnya sendiri.


"Menurutmu siapa lagi? Bukankah lagu ini di buat untukku?" tanya Rory dengan seringai diwajahnya.


"Percaya diri sekali," cibir Nayla.


"Oh,,, jadi, bukan ya?" sambut Rory memasang wajah kecewa.


Nayla mendesah pelan sembari meletakkan telapak tangan diwajahnya. Detik berikutnya kembali menatap Rory yang masih menunggu dengan penuh harap.


"Baiklah," ucap Rory. "Tidak apa-apa, tapi sebagai gantinya, biarkan aku menemanimu besok ke kantormu, setelah itu kita bisa pergi ke tempat yang ingin kamu tunjukan kepada kami, dan kamu ikut denganku ke suatu tempat setelahnya," ujar Rory seenaknya.


"Kenapa sekarang justru kamu yang mengatur jadwalku?" protes Nayla.


"Oh,, aku hanya meneruskan apa yang Adrian katakan. Dia mengatakan kamu ada pertemuan setelah jam makan siang, dan kamu sendiri yang meminta agar KAMI bersedia menemanimu kesuatu tempat, lalu aku meminta kamu ikut denganku ke tempat lain sebagai balasannya," papar Rory.


"Seolah kita sedang melakukan sistem perdagangan saja," gerutu Nayla pelan.


"Tidak," jawab Nayla cepat.


"Jadi, kita sepakat?" tany Rory lagi.


"Baiklah,, Ehh,, tunggu sebentar,," Nayla menatap Rory seolah menyadari sesuatu.


"Tidak,,, Tidak,,, Tidak,, kamu tidak boleh ke kantor," ucap Nayla mengelengkan kepalanya.


"Kenapa tidak?" sela Thomas bertanya.


"Jika Roy ke kantor,,," Nayla kembali menatap Rory dengan ekpresi ngeri.


"Tidak bisa," bantah Nayla.


"Aku tidak masalah jika kamu menunggu di mobil, tapi kamu tidak boleh masuk ke kantor," tegas Nayla.


"Apa alasannya?" tanya Ethan heran.


"Kalian tidak tau bagaimana mereka yang berada di kantorku. Mereka hanya akan mengerubunginya seperti lalat mengerubungi makanan," ungkap Nayla blak-blakan.


Suara tawa pecah begitu saja ketika Nayla menyelesaikan kalimatnya. Namun, Nayla masih memasang wajah seriusnya, membuat mereka ingin terus mengoda Nayla.


"Apa yang salah dengan itu? Kamu bahkan bisa bersikap biasa ketika dia di kelilingi oleh pengemar wanitanya?" sambut Thomas.


"Tidak bisa, itu berbeda cerita," jawab Nayla cepat.


"Kalau begitu, kamu memiliki dua pilihan," ucap Kevin.


"Menyanyi, yang hanya perlu waktu dua atau tiga menit," ucap Martin.


"Atau aku akan mengantarmu sampai kedalam kantor dan menunggumu disana hingga urusanmu selesai," sambung Rory.


"Itu bukan pilihan, tapi paksaan," tukas Nayla.


Entah sejak kapan, Kevin telah mengambil gitar coklat dan menyodorkannya pada Nayla.


Nayla menatap Kevin, lalu beralih ke gitar yang Kevin sodorkan padanya, kemudian Nayla mengeleng pelan.


Mereka sedikit kecewa, namun berhenti mendesak Nayla, dan hanya bisa mengangguk mengerti.

__ADS_1


"Bukan gitar coklat, tapi yang putih," ucap Nayla tiba-tiba.


Mereka serentak mengangkat wajah dan menatap Nayla seolah tak percaya.


"Aku tidak menyukai raut wajah kecewa kalian, jadi aku akan melakukannya, dengan catatan hanya satu lagu saja," tutur Nayla mengangkat telunjuknya lalu tersenyum tipis.


"Tapi, jangan pakai gitar itu," ucap Nayla lagi.


"Kenapa? Ini terlihat bagus," tanya Kevin.


"Gitar itu sudah sangat lama, dan senarnya hampir putus. Aku belum bisa mendapatkan senar yang sesuai untuk menggantinya," jelas Nayla.


Kevin mengangguk mengerti dan segera menganti gitar ditangannya dan memberikannya kepada Nayla.


Nayla memposisikan gitar dipangkuannya. Menarik nafas panjang dan menghembuskannya perlahan, Nayla mulai memetik gitar ditangannya, memperdengarkan melodi yang lembut dan halus membelai telinga mereka.


[[ Sejak aku bertemu denganmu, Aku merasa jauh lebih berharga,


[[ Di musim dingin itu, musim dimana kita bertemu


[[ Untuk pertama kalinya dalam hidupku, Aku merasakan begitu banyak cinta untuk seseorang


Nayla bersenandung tanpa beban, mencurahkan hatinya melalui lagu yang ia nyanyikan. Petikan gitarnya mengiringi dengan sempurna tanpa nada sumbang.


[[ Bagaimana aku harus mengambarkan perasaanku untuknya?


[[ Mengapa aku tidak tahan tidak melihatnya meski hanya untuk sesaat saja?


[[ Aku menghabiskan begitu banyak malam hanya untuk menunggu


[[ Mendekatlah dan biarkan malam ini berlalu


[[ Betapa indah saat ini , saat hatiku telah di curi


[[ Betapa senang karena kita memiliki perasaan yang sama


Nayla mengakhiri lagunya dengan petikan gitar terakhir, lalu membuka matanya. Ia tidak menyadari sejak kapan menutup matanya saat bernyanyi.


Mereka bertepuk tangan saat Nayla mengakhiri lagunya, namun Rory justru menatap Naya dalam-dalam, seolah lagu yang baru saja ia dengar memutar kembali rekaman memorinya. Hari-hari yang telah mereka lewati dan hari dimana Rory mengungkapkan perasaanya.


Kebisuan yang terjadi diantara Nayla dan Rory justru mengungkapkan seribu kata melalui mata mereka.


Pada keesokan harinya, mereka menunggu Nayla di mobil sesuai dengan yang telah mereka sepakati. Mereka menunggu tanpa protes apapun, bahkan menunggu hingga tiga jam lamanya.


"Maaf, aku tak menyangka pertemuannya akan sangat lama," sesal Nayla.


"Tak masalah, aku sangat mengerti, dan aku yakin mereka juga mengeti," sambut Martin diiringi anggukan kepala semua orang tanda setuju.


"Kita langsung berangkat?" tanya Martin.


"Ehmm,,, bisakah kita berheti sebentar di toko bunga yang ada di dekat gedung kalian tinggal?" harap Nayla.


"Tentu saja," sambut Martin tersenyum hangat.


Seolah mengerti kemana merek akan pergi, tak satupun dari mereka mengeluarkan suara keberatan, dan segera berangkat.


Nayla kembali membeli satu buket besar bunga Amarilis dan Anyelir merah, dan kembali melanjutkan perjalanan mereka.


Mereka tiba di sebuah pemakaman. Dengan memimpin jalan, Nayla melangkah menuju dimana makam kakaknya. Hal mengejutkan yang mereka dapatkan adalah Chris juga tengah berada disana, meletakkan bunga Amarilis dan Anyelir sama seperti yang Nayla bawa.


"Kamu datang tidak sendirian lagi?" tanya Chris tanpa menoleh.


"Jadi, yang selama ini meletakkan bunga itu kamu?" tanya Nayla terkejut.


"Menurutmu siapa yang tau tentang bunga yang dia sukai selain kita?" tanya Chris masih berjongkok didepan makam.


"Lebih dari apapun, sekarang aku benar-benar mengerti alasanmu berkata seperti itu saat dirumah sakit," ucap Chris seaya berdiri.


"Maafkan aku karena terlalu lama untuk menyadarinya," Chris berbalik, air mata telah membasahi pipinya.


"Kamu benar, itu adalah rasa bersalah yang mengikat hatiku hingga aku tidak bisa melangkahkan kakiku,"


"Tapi, melihatmu melakukan semuanya sendiri, bahkan kamu juga berusaha keras untuk menyadarkanku hingga mengorbankan dirimu sendiri,"


"Sama sepertimu yang mencari jawaban, aku telah mendapatkan jawabannya. Aku terlalu fokus dengan rasa bersalahku karena meninggalkanmu hingga tanpa sadar aku justru menyakitimu,"


"Maafkan aku, Louise,"


"Ah,, maaf,, Nayla," ulang Chris tersenyum rapuh.


Tepat saat Chris menyelesaikan kalimatnya, saat itu pula Nayla melihatya.


Nick tengah berdiri disamping Chris, melingkarkan tangan di bahu Chris, dan tersenyum penuh kasih. Ia mengerakkan kepalanya seolah menagih janji pada Nayla.


Tanpa sadar, Nayla meneteskan air matanya, lalu tersenyum, meluapkan semua perasaan rindu yang ia pendam untuk kakak yang sangat ia rindukan.

__ADS_1


Tetap tersenyum, Nayla mengeleng pelan. Rory yang semula meletakkan tangan dibahu Nayla seolah mengerti dan mundur selangkah, ingin memberi ruang untuk Nayla dan Chris.


...****************...


__ADS_2