LOVE OF MY LIFE

LOVE OF MY LIFE
75. Yang sebenarnya adalah,,,,,


__ADS_3

"Dia merubah rencananya bersama kami," sambung Reymond.


Kevin melepaskan Jeffry dan melangkah mundur tak berdaya. Sangat terkejut dengan fakta yang baru saja ia dengar.


Bukan hanya Kevin, tapi semua yang mendengarnya memiliki ekspresi yang sama.


"Sejak kapan?" ucap Kevin lirih.


Kevin terduduk dengan wajah lesu. Menangkup wajahnya, lalu kembali menatap Jeffry. Meminta penjelasan.


"Setelah kita membicarakan rencana yang akan kita lakukan, kalian pergi bersama selama beberapa menit dan meninggalkan kami bersamanya. Saat itulah dia mengatakan rencana lain kepada kami dan meminta kami untuk merahasiakan dari kalian," ungkap Jeffry.


Jeffry memulai ceritanya dengan Nayla yang meminta bantuan kepada mereka.


###Flasback on


"Sebelumnya, aku ingin minta maaf kepada kalian," ucap Nayla saat Rory dan teman-temannya pergi meninggalkan ruangan setelah Nayla menjelaskan rencananya kepada mereka.


"Aku ingin meminta bantuan kalian, kuharap kalian tidak keberatan," sambungnya.


"Tentu, katakan saja apa yang bisa kami lakukan," jawab Jeffry.


"Tapi tolong pastikan kalian tidak mengatakan ini kepeda mereka," pinta Nayla.


"Kenapa?" tanya Jack heran.


"Karena semua alasannya juga berkaitan dengan mereka," jawab Nayla.


"Baiklah, katakan apa itu!" jawab Jeffry.


Nayla mulai menjelaskan rencana lain kepada mereka. Dimana mereka akan berada diposisi yang cukup jauh dari rencana awal.


"Itu hanya akan membahayakanmu, bagaimana kami bisa melakuknanya?" sambut Jeffry setelah Nayla merubah rencananya.


"Kalian akan mengerti setelah melihat siapa orang dibalik ini semua," jawab Nayla tenang.


"Jika kau sudah tau siapa orangnya, kenapa kau tidak katakan saja dan biarkan kami menangkapnya?" ucap Brandon.


"Tidak sesederhana itu, aku tidak bisa menjelaskannya sekarang, tapi semua pertanyaan kalian akan terjawab hanya dengan kalian mengikuti intruksi dariku," jelas Nayla.


"Tapi jika kita berada digedung yang berseberangan dengan rumah sakit, itu terlalu jauh, kami tidak akan bisa bertindak cepat jika kalian berada dalam bahaya," sanggah Jack.


"Hanya akan ada satu orang yang mendekati kami, dan aku akan mengurusnya. Kevin akan berada dibelakangku, dan itu sudah cukup,"


"Namun, masih ada dua orang lagi yang akan berdiri digedung yang berseberangan dengan rumah sakit, mereka akan mengawasi orang yang mendekati kami dan memberinya intruksi untuk bergerak," terang Nayla.


"Tunggu,, tunggu,, kau berkata seolah mereka mengenali kami, hingga kau menempatkan kami ditempat yang tdak dilihat siapapun," ucap Jeffry.


"Sayangnya, salah satu dari mereka memang mengenal kalian," jawab Nayla.


"Bagaimana kau bisa tau?" selidik Jeffry.

__ADS_1


"Aku tidak bisa menjelaskan ini sekarang, yang ingin ku tau adalah, apakah kalian akan membiarkan satu nyawa menghilang disaat kalian bisa mencegahnya?" tukas Nayla.


"Tapi, bagaimana jika_,,,"


Jeffry mengantung kalimatnya, kehabisan kata-kata yang ingin ia ucapkan. Ia menatap ketiga temannya secara bergantian meminta pendapat mereka.


"Mereka akan datang sebentar lagi, jika kalian setuju," Nayla berhenti sesaat dan meraih sesuatu dibalik bantalnya.


Nayla menyodorkan earphone kepada Jeffry.


"Gunakan ini sebagai alat komunikasi. Aku akan memberi kalian intruksi kapan kalian harus bergerak. Apapun yang terjadi disekitar kami nanti, jangan bergerak dari posisi kalian!" pinta Nayla.


"Aku tidak bermaksud untuk memerintah kalian, dan aku juga tau ini bukanlah tindakan yang pantas kulakukan kepada kalian. Hanya saja aku tidak memiliki pilihan lain," papar Nayla.


Tak satupun dari mereka bisa mengatakan sepatah kata pun. Dengan perlahan, Jefrry menerima earphone dari tangan Nyala, diikuti ketiga temannya.


"Aku akan melakukan semua yang kamu minta!" tegas Jeffry.


"Begitu juga denganku," sambung Brandon.


"Aku tidak mungkin mengabaikan ketulusan seseorang yang sebesar ini, jadi aku masuk," timpal Jack.


"Dan aku tidak ingin tertinggal begitu saja," sambung Reymond.


"Terima kasih, aku sangat menghargainya," sambut Nayla tersenyum lega.


Tak lama setelah mereka melakukan kesepakatan, Rory kembali tanpa mengetahui apa yang terjadi.


Dan begitulah, pada saat rencana itu dijalankan keesokan harinya, Nayla memakai earphone di telinga kanannya yang ditutupi dengan rambut.


Nayla yang berada di samping Rory saat di berondong pertanyaan, sesekali memberi Jeffry dan yang lain intruksi untuk bergerak.


"Dia memakai jaket kulit hitam, berdiri bersandar pada tiang listrik, dan sangat dekat dengan Brandon. Bisakah kamu bergerak tanpa menimbulkan keributan?" tanya Nayla melalui earphone.


"Aku akan mengusahakan itu," jawab Brandon.


"Akan leih mudah jika kamu melakukannya berdua," saran Nayla.


"Aku akan membantu," sambut Jeffry.


"Tidak, akan lebih baik Reymond yang melakukannya," balas Nayla.


"Akan kulakukan," jawab Reymond.


Tepat saat Reymond menyelesaikan kalimatnya, Nayla melihat pria yang mendekati Rory mengeluarkan belati dati saku jaketnya.


"Oh tidak,,," desis Nayla.


"Apa yang terjadi?" tanya Jefrry.


"....."

__ADS_1


Nayla tidak menjawab, namun tak lama kemudian Jeffry menyadarinya dan berniat untuk segera menghampiri Nayla.


"Wanita bertopi lebar dan mengenakan kacamata hitam. Dialah orangnya, te-mbak ba-n mo-bil-nya,,"


Kaliamat terakhir yang Jeffy dengar sebelum Nayla kehilangan kesadarannya.


Setelah mendengar hal itu, Jefry bergerak mendekati wanita yang bersadar dimobil segera masuk kedalam dan berniat kabur setelah melihat Jeffry menghampirinya.


Dan benar saja, wanita itu melajukan mobilnya meninggalkan tempat itu. Saat itulah Jeffry menyadari posisi mereka ditempatkan dengan sangat akurat.


Begitu mobil itu melesat, Jefrry meminta Jack untuk menembak ban mobil wanita itu dan segera berlari meghmapiri mobil yang telah kehilangan kendali dan menabrak pembatas jalan.


#####


"Jadi semua telah tertangkap?" tanya Martin setelah Jeffry menyelesaikan ceritanya.


"Benar, dan kau bisa menemuinya jika kau mau, Kevin," ucap Jeffry.


"Kenapa aku harus menemuinya?" sambut Kevin heran.


"Kau tentu bertanya-tanya kenapa dia melakukan hal sampai sejauh ini bukan?" jawab Jack balas bertanya.


Saat ketegangan meningkat, pintu ruang darurat terbuka dengan Chris muncul dari balik pintu.


"Bagaimana keadaannya?" tanya Rory cemas.


"Lukanya cukup dalam, namun dia sudah melewati masa kritisnya. Kita hanya perlu menunggu dia bangun," papar Chris.


"Aku akan segera memindahkannya ke ruang rawat. Setelah itu kalian bisa melihatnya," sambungnya.


Chris meninggalkan mereka tanpa mengatakan apapun lagi. Masuk kedalam ruangan pribadinya serta mengunci pintunya.


Chris bersandar pada pintu dan terduduk dlantai. Tangannya mencengkram kepalanya. Terus menyalahkan diri sendiri.


"Bodoh,,!" rutuknya.


"Kenapa aku tidak menyadarinya saat dia meminta obat penghilang rasa sakit?"


"Sial,,," Chris mengepalkan tangan an memukul lantai. Merutuk dirinya sendiri yang kembali gagal melindungi Nayla.


Chris mendongak sembari meletakkan punggung tangan didahinya.


"Aku kembali gagal melindunginya, maafkan aku, Nick," gumamnya pelan.


Butiran air mata jatuh dari mata Chris. Tidak bisa berhenti menyalahkan dirinya sendiri.


Disisi lain, Rory dan teman-temannya menunggu Nayla di ruang rawat. Semetara Jeffry dan yang lain berjaga diluar.


Kevin mengikuti saran Jeffry untuk pergi kekantor polisi ditemani Brandon dan Martin.


Kevin kembali kerumah sakit saat tengah malam, dan mendapati semua temannya tertidur di sofa yang berada di ruang rawat Nayla.

__ADS_1


Seolah ingin memberi Kevin ruang, Martin tidak mengikuti Kevin masuk kedalam ruang rawat setelah mengetahui apa yang sebenarnya.


...****************...


__ADS_2