
Seorang pria mengenakan pakaian security menyambut kedatangan Nayla ketika melihat Nayla keluar dari sebuah mobil.Senyumnya merekah saat nayla berjalan medekat.
"Malam non."sapa pria itu ramah setraya membungkukkan sedikit badannya.
"Malam pak Ben,"balas Nayla tersenyum.
"Maaf non,itu ada paket untuk anda."kata Ben.
"Paket?apa itu dari jasa kirim barang yang saya suruh?"tanya Nayla.
"Bukan non."jawab Ben mengelengkan kepalanya."Paket ini baru datang sore ini,sekitar sepuluh menit sebelum anda datang.kalau dari jasa kirim,barangnya sudah dilantai atas sesuai perintah anda."kata Ben.
"Ahh...begitu..apa pak Ben melihat nama pengirimnya?"tanya Nayla.
"Tidak ada nama pengirim,tapi yang mengantarkan paketnya mengatakan pengirimnya adalah teman anda."kata Ben.
Nayla mengerutkan kening bertanya tanya siapa yang mengirimkan paket untuknya.
"Apakah seharusnya saya tolak non?"tanya Ben."Lain kali saya akan menghubungi anda terlebih dulu sebelum menerima paketnya."tambahnya.
"Ah,,tidak apa apa pak.nanti saya cek sendiri."kata Nayla tersenyum ramah.
"Baik,,paketnya saya letakkan diloby."kata Ben.
"Terima kasih pak Ben.saya masuk dulu."kata Nayla.
"Silahkan non,saya akan kembali berjaga di pos."kata Ben lagi.
Nayla mengangguk lalu kembali melanjutkan langkahnya.Ketika di loby,sebuah kotak hitam ukuran sedang dengan pita kuning emas diatasnya.Menaikkan kedua bahunya,Nayla membawa kotak itu bersamanya.
Setibanya di lantai apartemennya,Nayla membuka kotak itu perlahan dan terpesona begitu melihat isi didalamnya
Sebuah gaun beludru lengan panjang dimana terdapat belahan pada lengannya hingga siku.Panjang gaun yang melebihi mata kaki dengan belahan dilutut menambah kesan elegan.Warna merah tua yang sanggat pas dengan warna rambut coklatnya.
Mata nayla tertuju pada secarik kertas yang ada didalamnya dan membacanya
'Gaun indah untuk seseorang yang sangat cantik akan melahirkan kata sempurna...Roy'
"Aku lupa kalau dia mengatakan akan mengirim gaun."gumam Nayla menepuk pelan dahinya.
"Dia benar benar mengirimkan ini.dan gaun seperti ini...apa dia bercanda denganku?"gurutu nya"musim dingin bahkan belum berakhir,apa dia ingin membuatku membeku?"lanjutnya.
Nayla menjatuhkan tubuhnya di sofa menghembuskan nafas dengan kasar sebelum mengeluarkan ponselnya.Menggulir ponsel ditangannya,dia hanya mencari satu nama untuk dihubungi, 'Roy'
"Apa yang kau kirimkan ini Roy?kenapa memberikan ini padaku?"serbu Nayla begitu suara Rory terdengar dari ponselnya.
"Malam Nay.."sapa Rory santai.
"Jawab Roy.."kata Nayla lagi.
"Ayolah....ucapan selamat malam tidaklah salah untuk mengawali sebuah percakapan bukan?"tanya Rory disertai tawa renyahnya.
Nayla menghela nafas panjang sebelum berkata lagi.
"Malam Roy.."kata Nayla pada akhirnya.
"Begitu lebih baik.Dan yang terpenting apakah kau tak menyukai hadiahnya?"tanya Rory.
"Ini gaun yang indah Roy,aku menyukaiya.Hanya saja ini terlihat terlalu mahal."kata Nayla pelan.
"Tidak ada kata terlalu mahal untukmu Nay,"kata Rory lembut."Kamu pantas menerima apa yang pantas untuk kamu dapatkan."tambahnya.
"Tapi..."
"Bersiap siaplah..sopir akan menjemputmu."potong Rory.
"Haahh..baiklah.."desah Nayla.
"Aku tak sabar untuk melihatmu,sampai jumpa sebentar lagi"kata Rory lalu memutuskan panggilan Nayla sebelum mengatakan apapun.
__ADS_1
"Dasar..Sampai jumpa Roy."kata Nayla pelan menatap ponselnya sambil mengelengkan kepala dan senyum dibibirnya.
Nayla bangun dari duduknya menuju kamarnya untuk mulai bersiap.Gaun itu diletakkan diatas tempat ditidurnya sementara Nayla masuk kedalam kamar mandi dan keluar setelah beberapa menit dengan wajah lebih segar.
Matanya melihat gaun itu lagi,menimbang nimbang apakah akan memakai gaun itu atau memakai pakaian miliknya sendiri.
"Ahh,,sudahlah..aku coba dulu saja."gumam Nayla pelan."Lagi pula aku sudah tak memiliki pilihan.selesaikan saja ini."tambahnya.
Nayla menatap bayangan dirinya sendiri dicermin.Gaun yang melekat ditubuhnya tampak begitu indah,kain halus menutupi kulit putihnya dan melindunginya dari dingin.
"Wow...gaun ini menajubkan."gumam Nayla pelan.
"Dia memiliki selera pakaian yang sangat bagus."gumamnya lagi.
Nayla duduk dimeja riasnya dan mulai merias wajah serta menata rambutnya.Mengenakan riasan yang berbeda dengan biasanya namun tetap di warna yang tak begitu mencolok untuknya.Salah satu sisi rambutnya dibuat sebuah anyaman simpel dan mengumpulkan semua rambutnya dibahu kanannya.
Merasa telah siap,Nayla mengeluarkan hells miliknya yang senada dengan gaun yang dipakainya dan melangkah keluar dari apartemennya.
Sekali lagi,seorang pria telah menunggunya dengan mobil yang sama saat menjemputnya di malam fetival.
Sopir itu tersenyum ramah dan membukakan pintu mobil untuknya dan menutup pelan setelah memastikan Nayla duduk.
Mobil mulai berjalan meninggalkan apartemen Nayla menembus gelapnya malam.Nayla merasakan penghangat mobil telah dinyalakan saat memasuki mobil itu.Sopir itu juga terlihat sangat mulus menjalankan mobilnya,memastikan Nayla merasa nyaman selama perjalanan.
Waktu terus berjalan hingga mobil mulai menurunkan kecepatannya saat memasuki area Hotel yang terdiri dari beberapa lantai.Akhirnya mobil itu berhenti tepat didepan pintu masuk hotel.
Seseorang membuka pintu mobil untuk Nayla hanya untuk menyadarkan Nayla,Rory lah yang membuka pintu mobil untuknya.Senyum cerah menghiasi wajahnya.
Sejenak Nayla terpesona dengan penampilan Rory malam itu.Setelan Tuxedo hitam yang dipakainya membuatnya terlihat lebih menonjol dibandingkan dengan pakaian yang selama ini Nayla lihat.
"Terima kasih sudah menjemputnya pak."kata Rory pada sopir.
"Keinginan anda adalah perintah tuan."jawabnya dengan senyum ramah
Rory mengulurkan tangannya dan segera disambut Nayla dengan senyum dibibirnya.Mata Nayla melihat sekeliling setelah turun dari mobil untuk sesaat dan beralih kearah Rory untuk melihat lebih jelas tuxedo yang dipakainya.
"Sudahkah aku mengatakan padamu kau terlihat sangat cantik malam ini?"bisik Rory didekat telinga Nayla setelah mobil yang mengantar Nayla pergi.
"Kenapa begitu?"tanya Rory.
"Karena kaulah yang lebih bersinar malam ini.pernahkah ada yang mengatakan padamu bahwa kau terlihat tampan dengan setelan tuxedo?"tanya Nayla.
"Ada,,dan aku baru saja mendengarnya."jawab Rory tersenyum.
Nayla memalingkan wajahnya setelah mendengar jawaban Rory menyadari apa yang baru saja dikatakannya,mencoba menyembunyikan rona merah dipipinya.
"Kenapa kita harus berpenampilan resmi begini Roy?"tanya Nayla.
"Sebelum kita masuk,,..."kalimat Rory mengantung,membuat Nayla mengarahkan pandangannya pada Rory.
Rory mengeluarkan kain sutera hitam dari saku celanannya.
"Oh..tidak lagi..."keluh Nayla mengerti maksud Rory.
"Ayolah..kau tak akan menyesalinya.aku menjamin kamu akan menyukainya."pinta Rory.
"Baiklah..kau rajanya."kata Nayla.
Tersenyum cerah,Rory mulai mengikat kain sutera itu menutupi mata Nayla dengan hati hati.
"Baiklah...sekarang kita jalan."kata Rory mulai menuntun Nayla dengan hati hati,memastikan Nayla tidak terjatuh saat berjalan.
Nayla bisa merasakan ketika mereka memasuki lift dan ketika lift berhenti.Rory mengarahkan langkah Nayla keluar dari lift.
Hembusan angin menerpa wajahnya ketika Rory menghentikan langkah Nayla.Perlahan ikatan yang menutupi matanya dibuka.Nayla mengerjapkan mata untuk menyesuaikan cahaya yang ada disana.Ketika matanya berhasil menyesuaikan diri,Nayla tercengang dengan apa yang ada didepannya.
Mereka berada diatap gedung tinggi dimana telah disediakan sebuah meja dan sepasang kursi disana.Nyala lilin di meja sesekali bergerak ketika angin berhembus pelan.Kelap kelip lampu menerangi disekeliling mereka dipadukan dengan lampu kota yang menyala terang dibawah mereka bagaikan berlian menambah keindahan malam itu.
Rory meraih tangan Nayla dan menuntunya menuju meja yang telah disiapkan.Tiga orang pria memainkan biola mereka,memperdengarkan lagu lembut mengisi keheningan malam.Dua pelayan berdiri tak jauh dari meja mereka siap untuk melayani mereka.
__ADS_1
Rory menarik kursi untuk Nayla,dan satu pelayan menarik kursi lain untuk diduduki Rory.Dengan sigap,pelayan itu mulai menyiapkan makan malam untuk mereka.
Setelah makanan siap,pelayan itu berdiri dengan menjaga jarak,memberikan sedikit privasi untuk mereka.Nayla mencondongkan tubuhnya,mengecilkan suaranya untuk memastikan hanya mereka berdua yang mendengarnya.
"Royy...ini terasa berlebihan,kau tau?"bisik Nayla."lagi pula kita hanya makan malam kan?"tanya Nayla.
"Tidak..Masih ada hal lain.dan kau akan tau nanti."jawab Rory tenang.
"Tapi Roy..ini terlihat sangat mahal bukan?"tanya Nayla lagi.
"Tenang saja.Ada yang membantuku dalam hal ini.Jadi aku tak harus membayar penuh."jawab Rory santai.
Nayla menatap Rory dan menyipitkan matanya.
"Apa kau berfikir aku membohongimu?"tanya Rory.
"Sejujurnya...agak."jawab Nayla.
Hening...
Rory balas menatap Nayla dengan tatapan serius.
'Aku benar benar akan kesulitan mengalihkan pandanganku jika terus seperti ini.Kenapa dia selalu terlihat cantik?'bisik hatinya.
"Roy....."panggil Nayla dengan melambaikan tangannya didepan wajah Rory.
"Ah..Apa?kenapa?"tanya Rory seolah baru saja tersadar.
"Apakah kamu baik baik saja?"tanya Nayla.
"Aku baik,tak ada masalah."jawab Rory berusaha mengatur suaranya agar terdengar normal.
"kau yakin?"tanya Nayla lagi.
"Sangat yakin"jawab Rory.
Keheningan kembali menyelimuti mereka.Hanya suara dari biola yang terdengar.Makan malam pun terasa begitu cepat berakhir
Nayla bangun dari duduknya dan melangkahkan kakinya menuju pagar besi pembatas disisi gedung itu.Mata Nayla berbinar ketika melihat pemandangan kota yang terbentang didepannya.Terpesona dengan kemilau lampu lampu yang menerangi kota.Rory berdiri disampingnya.
"Selama ini aku tak pernah menyadari,kota dimana aku berada didalamnya ternyata seindah ini."kata Nayla tanpa mengalihkan pandagannya dari kota.
"Kita hanya sibuk dengan rutinitas sehari hari tanpa menikmati dengan benar apa yang disajikan tempat dimana kita tinggal."sambung Rory.
"Ya...dan disini benar benar terasa.."kata Nayla lagi dan dengan cepat dipotong Rory.
"Bebas."potong Rory.
"Tepat..seolah kita bisa melakukan apapun tanpa memikirkan apa yang akan dikatakan orang lain"balas Nayla.
"Bagaiman kau bisa menemukan tempat seindah ini Roy?"tanya Nayla.
"Anggaplah sebuah kebetulan,saat aku harus berada disini karena suatu hal yang berkaitan dengan pekerjaan"jawab Rory.
"Itu kebetulan yang menyenangkan.Atau mungkin lebih tepat jika disebut keberuntungan."timpal Nayla
Nayla menutup matanya,menarik nafas dalam dalam,merasakan hembusan angin lembut yang menerpa wajahnya dan menyibakkan rambutnya.
Tertawa kecil,Nayla membuka matanya dan merapikan rambutnya lalu kembali memecah keheningan.
"Aku tak akan pernah bosan jika harus melihat ini setiap hari.Sangat indah"kata Nayla lagi."Dan persis seperti yang kau katakan,aku sangat menyukainya."tambahnya.
"Ya..sangat indah dan aku menyukainya"kata Rory.
Nayla menoleh kearah Rory hanya untuk menyadari Rory mengatakan kalimat tadi namun matanya hanya tertuju pada Nayla,bukan pemandangan kota.
Tatapan matanya melembut,mangunci mata Nayla agar tidak berpaling darinya.
"Aku Mencintaimu Naya."
__ADS_1
...****************...