
Suara ketukan pintu kamar membuat Nayla bangun dari duduknya dan segera membuka pintu kamar setelah mematikan komputer yang baru saja ia gunakan.
"Ah,, kamu Roy? Ada apa?" sambut Nayla setelah membuka pintu.
"Aku ada urusan dengan agensi bersama yang lain, dan kemungkinan kami akan pulang malam. Apakah kamu mau ikut? Kita bisa sekalian makan malam diluar," ajak Rory.
"Ehmm,,, aku disini saja," jawab Nayla.
"Tapi, tidak ada yang menemanimu disini," jelas Rory.
"Aku justru akan merasa tidak nyaman jika aku ikut bersamamu, Roy," jawab Nayla beralasan.
"Tapi, bagaimana jika terjadi sesuatu padamu?" balas Rory cemas.
"Aku akan langsung menghubungimu," sambut Nayla.
"Kamu yakin?" tanya Rory memastikan.
Nayla mengangguk pelan.
"Baiklah, kalau begitu istirahatlah. Aku akan memesankan makanan untuk makan malammu nanti," ucap Rory mengusap kepala Nayla.
"Ehh,,, tidak perlu Roy. Aku akan makan diluar nanti," tolak Nayla.
"Bersama seseorang?" selidik Rory.
"Kurasa tidak," jawab Nayla ragu.
"Apa yang sebenarnya ingin kamu katakan, hm?" tanya Rory mengerutkan keningnya.
"Sebenarnya,,, aku ada janji dengan seseorang. Dia temanku, dan sudah lama kami tidak bertemu. Aku hanya akan menemuinya," terang Nayla.
"Apakah dia seorang pria? Atau wanita?" tanya Rory.
"Keduanya," jawab Nayla.
"Kalau begitu, sopir akan mengantarmu. Aku akan memintanya untuk kembali setelah mengantar kami," ucap Rory.
"Tidak perlu, Roy. Sungguh. Aku bisa menggunakan taksi," tolak Nayla.
"Kenapa harus menggunakan taksi? Kamu bisa menggunakan mobilku jika tidak ingin pergi bersama sopir," sambut Rory tidak setuju.
"Aku sedang tidak ingin mengemudi," jawab Nayla.
"Baiklah, jika memang itu maumu. Hubungi aku ketika kamu telah selesai. Mungkin aku bisa menjemputmu nanti," pinta Rory.
Nayla mengangguk pelan. Sebelum pergi, Rory mengecup kening Nayla, lalu mengusap wajahnya.
"Aku berangkat," ucapnya.
"Hati-hati," ucap Nayla yang dijawab dengan anggukan kepala.
Nayla menutup pintu saat Rory tidak lagi terlihat. Ia segera menganti pakaiannya dan merapikan rambutnya.
Setelah kembali dari perjalanan ke Paris, Nayla tinggal bersama Rory dan yang lain di satu gedung yang sama. Kamarnya dipersiapkan dengan baik. Mulai dari pakaian dan semua yang dibutuhkan menyesuaikan keadaannya.
Nayla menatap bayangan dirinya sendiri dicermin. Kemeja polos yang dibiarkan terbuka tanpa kancing dengan dalaman yang berwarna senada.
Sementara itu, Rory bersama temannya menunggu didalam mobil disudut jalan. Menunggu Nayla keluar.
"Apakah kau masih mencurigai Nayla?" tanya Thomas pada Rory.
"Tidak. Aku hanya ingin tau apa yang sebenarnya dia sembunyikan. Alasan dia bersikap aneh saat pertama kali tinggal disini, dan alasan kenapa dia selalu mencari alasan untuk pergi," jelas Rory.
"Dia selalu terlihat tidak nyaman ketika aku bertanya, itulah sebabnya aku meminta kedua orang tuaku agar tidak menanyakan hal itu padanya,"
"Rencana yang kamu lakukan sekarang, apakah itu karena kamu mendengar dia menghubungi seseorang?" tanya Thomas.
"Ya, aku tidak sengaja mendengar dia akan keluar hari ini dengan menyebut janji yang sudah dia buat ," papar Rory.
"Berbicara tentang orang tuamu, aku tidak menyangka dia menyiapkan hadiah untuk orang tuamu," sela Ethan.
"Aku pun terkejut saat dia memberikan hadiah itu pada mereka, dan dia memberikan hadiah yang bisa di katakan hanya satu-satunya," timpal Nathan.
__ADS_1
"Yah,,, mereka tidak henti-hentinya membicarakan Nayla setelah itu," sambung Kevin.
"Sstt,,, Nayla sudah keluar," sela Thomas.
Mereka memperhatikan Nayla yang melangkah keluar dari gedung. Tangannya melambai memanggil taksi dan segera naik setelah taksi itu berhenti didepannya.
Mereka menyuruh sopir untuk mengikuti Nayla ketika taksi itu mulai bergerak.
Nayla meminta taksi untuk mengantarnya ke kantor dimana ia bekerja. Tangannya menekan ponsel untuk menghubungi seseorang.
"Jangan banyak bertanya! Aku akan ke kantor sebentar. Bisakah kau mencarikan aku topi atau apapun itu agar aku bisa masuk keruanganku tanpa hambatan?" pinta Nayla begitu panggilannya terhubung.
"Aku akan menunggumu di bawah," jawabnya.
"Terima kasih," balas Nayla dan segera mematikan ponselnya.
Taksi itu mulai melambat dan menepi didepan kantor tempat Nayla bekerja. Tak jauh dari pintu masuk, Adrian telah menunggunya.
"Maaf pak, apakah anda bisa menunggu? Anda tetap nyalakan saja argometernya," pinta Nayla sopan.
"Tentu nona, saya tidak keberatan menunggu," sambut sopir taksi ramah.
Nayla tersenyum berterima kasih dan segera masuk ditemani Adrian. Menuju ruang kerjanya dimana atasannya telah menunggu.
"Bagaimana keadaanmu, Nay?" tanya Darwin.
"Saya baik pak, terima kasih," jawab Nayla.
"Banyak sekali hal yang terjadi akhir-akhir ini, Adrian bahkan sampai kesulitan hanya untuk menemuimu," ungkap Darwin.
"Saya sendiri juga tidak memiliki pilihan lain," jawab Nayla mendesah pelan.
"Aku hanya ingin memastikan permintaanmu tentang buku yang akan diterbitkan kali ini, apakah kamu sudah yakin?" tanya Darwin.
"Saya yakin, pak," jawab Nayla tanpa keraguan.
"Baiklah, kamu hanya perlu mentanda tangani ini. Jangan khawatir, aku membuat kontrak ini sedetail mungkin. Kamu masih bisa merahasiakan identitasmu karena aku memberikan persyaratan bagi siapapun yang akan membeli bukumu," terang Darwin.
"Terima kasih banyak, pak," sambut Nayla.
Nayla mengangguk dan pamit pergi dengan diantar Adrian. Mereka berjalan dalam keheningan hingga mencapai pintu keluar.
"Maaf sudah membebanimu, Adrian," sesal Nayla.
"Jangan mengatakan kalimat seolah aku orang lain bagimu. Aku mengerti dengan keadaannya. Dan kamu tidak perlu menghkhawatirkan apartemenmu, aku akan mengurusnya," ucap Adrian dengan tulus.
"Terima kasih banyak," ucap Nayla.
Nayla segera masuk kedalam taksi lagi dan melambai ringan pada Adrian yang segera membalasnya.
"Kamu sudah melakukan banyak hal untukku, sekarang adalah giliranku," gumam Adrian.
Adrian berbalik dan kembali masuk kedalam kantor setelah taksi yang dinaiki Nayla menjauh. Hingga ia tidak menyadari mobil Rory yang kembali mengikuti Nayla.
"Apa yang dia lakukan? Dia tidak di pecat kan?" tanya Ethan membuka suara.
"Entahlah, mungkin jika tentang pekerjaan, dia akan menjawab ketika ditanya," sambut Rory.
Matanya terus mengawasi taksi yang terus berjalan menuju gedung dimana mereka tinggal. Namun, taksi itu justru berhenti didepan toko bunga yang berada tak jauh dari gedung.
Rory menatap dalam diam ketika Nayla tersenyum cerah dengan buket besar bunga Anyelir merah dan Amarilis ditangannya dan segera kembali masuk kedalam taksi.
Taksi itu terus berjalan hingga melewati gedung tempat tinggal Rory. Mereka yang melihat Nayla sibuk dengan pikiran mereka masing-masing. Hingga, ketika taksi yang dinaiki Nayla berhenti, membuat mereka tercekat.
Taksi itu berhenti di area parkir sebuah pemakaman. Nayla keluar dari taksi setelah berpesan kepada sopir untuk menunggu.
Menghembuskan nafas pelan dan memasang senyum diwajahnya, Nayla melangkah masuk.
Rory segera turun dan mengikuti Nayla diikuti semua temannya. Dengan berjalan pelan dan menjaga jarak, mereka bersembunyi dibalik pohon yang tidak jauh dari tempat Nayla berada. Membuat mereka samar-samar mendengar Nayla berbicara seolah ada seseorang didepannya.
"Apakah kakak baik-baik saja selama aku tidak datang? Kuharap, kakak tak marah padaku," ucap Nayla mulai berlutut.
"Begitu banyak hal yang terjadi, kadang membuatku kehilangan waktuku untuk mengunjungi kakak. Sepertinya aku masih payah dalam mengatur waktu," Nayla tertawa pelan dan meletakkan buket bunga diatas makam kakaknya.
__ADS_1
"Apakah kak Nick ingat bangunan dimana kakak bekerja waktu itu? Beberapa hari ini, aku menginap disana. Awalnya, kupikir aku bisa melihat kakak jika aku menginap disana," menarik nafas pelan.
"Toko bunga, persimpangan jalan, aku sangat berharap bisa melihat kakak sekali saja, tapi tetap saja kakak tidak menemuiku,"
"Gelang ini,,," Nayla mengangkat tangan menatap gelang yang melingkar dipergelangan tangannya.
"Aku sempat merasa sudah waktunya untuk merelakannya ketika kembali hilang dariku. Karena aku percaya kakak tidak akan meninggalkanku. Tapi, lagi-lagi dia membawa gelang ini kembali padaku, dan berusaha keras untuk memperbaikinya"
"Dia bahkan memiliki teman yang juga sangat baik padaku hingga mereka menjagaku disaat aku sakit. Diantara mereka ada satu orang yang sangat mirip dengan kak Nick," Nayla tersenyum kecil.
"Walau dia sedikit lebih cepat marah dari kakak, tapi cara dia melindungi seseorang itu sama dengan cara kak Nick melindungiku. Bahkan, saat aku tidak memakai gelang ini dan dia ada didekatku, aku merasa kakak juga ada disana,"
"Termasuk ketika dia sedang berdebat dengan Chris. Hahhh,,( mendesah pelan lalu tertawa pendek) Aku tau kakak tak akan menyukainya karena aku berhenti memanggil Chris dengan sebutan kakak, tapi aku bisa menjanjikan satu hal pada kak Nick,"
"Aku akan memanggil Chris kakak lagi jika kak Nick menemuiku satu kali saja, karena aku sangat merindukan kak Nick dan juga Chris yang dulu," Nayla tersenyum lagi, mengerjapkan mata untuk menahan air matanya.
"Sekarang aku juga mengerti, aku akan hidup lebih baik. Dan kakak lihat kan? Aku tidak mudah menangis lagi. Karena aku sangat yakin bahwa kakak tidak pernah meninggalkanku dan selalu disisiku," Nayla mulai berdiri.
"Aku akan meluangkan lebih banyak waktu untuk datang mengunjungi kakak, sampai bertemu lagi, kak Nick,"
Nayla menutup matanya untuk sesaat, lalu tersenyum ketika merasakan angin berhembus lembut menerpa wajahnya.
Dengan hal itu, Nayla meninggalkan makam dengan senyum tipis diwajahnya. Sementara Rory masih terpaku ditempatnya bersembunyi.
"Apakah ini yang dia sembunyikan selama ini?" desisnya sembari mengusap wajahnya.
"Sebaiknya kita segera kembali ke mobil, sebelum kita kehilangan Nayla," ucap Thomas.
Tak seorangpun dari mereka bisa membuka suara, mereka hanya berjalan meninggalkan pemakaman setelah melihat sebentar makam dengan bunga diatasnya, dan berdoa dalam diam.
Mereka kembali mengikuti Nayla dalam keheningan. Pikiran mereka masih mencoba untuk mencerna apa yang baru saja dilihatnya.
'Apakah ini sosok yang aku ragukan sejak awal? Semua ucapanku ternyata adalah pisau yang menyayat hatinya," batin Martin.
'Jadi ini yang dia maksudkan mengerti dengan jelas apa yang aku rasakan? Tapi aku menganggapnya hanya bualan, nyatanya dia merasakan hal yang jauh lebih sakit dariku,' batin Kevin.
'Diakah yang selama ini selalu tersenyum tanpa beban? Sulit mempercayai ini jika aku tidak melihatnya,' batin Ethan.
"Sebenarnya, aku sudah hal tau ini ketika insiden terjadi," ungkap Thomas memecah keheningan.
"Dan kau hanya diam?" sambut Rory terdengar kesal.
"Lalu apa? Aku harus mengatakannya disaat kamu justru terpengaruh dengan rumor yang beredar?" tandas Thomas.
Rory kembali tercekat, perkataan Thomas terasa menampar wajahnya.
"Sekarang bukan waktunya membahas ini, aku akan menceritakan itu nanti. Yang kuminta sekarang adalah, berhenti berasumsi tanpa dasar yang jelas sebelum kau menyelidiki dengan benar," tegas Thomas.
Rory terdiam, kembali merasakan pukulan telak. Sesuatu yang tidak bisa ia sangkal walaupun ingin.
Ketika hari mulai gelap, taksi yang dinaiki Nayla mulai menepi. Tak lama kemudian Nayla keluar dan taksi itu pergi.
"Sepertinya disini Nayla akan bertemu dengan orang yang dia katakan," gumam Thomas.
Nayla berjalan masuk kedalam yang terlihat seperti gang kosong dan sedikit gelap. Hanya ada cahaya diujung jalan gang itu. Mereka segera mengikuti Nayla dengan perasaan khawatir.
Di ujung gang itu, sebuah meja dan sepasang kursi telah disiapkan dengan cahaya lilin menerangi meja dan dihiasi mawar merah.
Seorang pria dengan setelan jas abu tua segera menoleh ketika mendengar suara langkah kaki Nayla.
"Kamu datang?" sambut pria itu tersenyum cerah.
"Kau mengenalku, Antony. Aku sudah janji akan datang, tentu saja aku datang," sambut Nayla.
Antony melangkah mendekati Nayla. Senyum diwajahnya berubah menjadi senyum gugup. Ketika jarak mereka hanya beberapa senti, antony meraih kedua tangan Nayla.
"Apa?" Nayla menaikan alisnya bingung.
"MAUKAH KAMU MENIKAH DENGANKU,???"
"...."
"..."
__ADS_1
...****************...