LOVE OF MY LIFE

LOVE OF MY LIFE
76. Terungkap


__ADS_3

Kevin menatap Nayla yang masih menutup matanya, dan terlihat lebih tenang dari terakhir kali Kevin melihat raut wajah ketakutan dalam tidurnya. Tangannya terulur mengenggam tangan Nayla.


"Apakah kamu akhirnya berhenti bermimpi buruk setelah semua ini, Nay?" tanya Kevin lirih.


Matanya beralih kepada adiknya yang tertidur sembari mengenggam tangan Nayla. Tertidur disamping ranjang dengan posisi membungkuk.


"Apakah sejak awal kau sudah tau bahwa dialah dibalik ini semua?"


"Kenapa sekarang aku justru merasa sesak dengan semua hal tulus yang kamu lakukan?" lanjutnya.


"Kumohon, cepatlah bangun dan katakan padaku kenapa kau melakukan semua ini," ucap Kevin lagi seraya mencium kening Nayla.


Kevin duduk di kursi lain yang berseberangan dengan Rory, dan mengengam tangan Nayla, hingga ia jatuh tertidur.


Tanpa disadari oleh mereka, seseorang memperhatikan mereka dari celah pintu, dan kembali menutup pintu, lalu pergi begitu saja.


*** Pada keesokan harinya.


Berita tentang Rory tersebar dengan cepat. Rekaman dimana Nayla yang melindungi Rory menjadi bahan perbincangan di berbagai media sosial.


Disisi lain, Nayla akhirnya membuka matanya, dan mengedarkan pandangannya.


Wajah yang semula menunjukan rasa khawatir berubah lega ketika Nayla tersenyum lemah kepada mereka yang mengelilinginya.


"Kamu selalu saja memiliki cara untuk terus membuatku takut," desah Rory lega.


"Maaf," ucap Nayla lemah.


Tak lama kemudian, Chris muncul diikuti Irene dibelakangnya. Ia segera memeriksa Nayla dan mengatakan tidak ada yag perlu dikhawatirkan kerena kondisinya stabil.


"Pergilah lebih dulu, aku akan menyusul nanti," ucap Chris pada Irene.


"Baik, dok," jawab Irene patuh.


Setelah Irene keluar, dan pintu tertutup, Chris menatap Nayla dengan banyak pertanyaan terlukis diwajahnya.


"Apakah kalian sedang menghakimiku sekarang?" sindir Nayla.


Pandangan Nayla bertemu dengan Kevin, lalu tersenyum meminta maaf.


"Sejak kapan kamu tau dia orangnya?" tanya Kevin sembari mengepalkan tangannya.


Semua yang berada didalam ruangan itu menatap Kevin bingung, lalu menatap Nayla.


"Sejak awal. Sejak sebelum insiden pertama terjadi," jawab Nayla.


"Dan kamu menyimpan semuanya sendiri?" sambut Kevin menahan emosi yang bergejolak didalam hatinya.


"Karena aku tau bagaimana kamu akan bereaksi jika aku mengatakannya," jawab Nayla.


"Apa yang sedang kalian bicarakan? Apa maksudnya?" sela Rory.


"Martin, kau pasti tau sesuatu, bukan?" tanya Thomas.


Martin terdiam dan menatap Kevin. Tidak tau bagaimana cara untuk mengatakannya.


"Jika kamu ingin mambicarakan hal berat, lebih baik dilakukan nanti. Dia baru saja bangun," ucap Chris sedikit kesal.


"Tak apa. Aku baik-baik saja. Aku tau dia menyimpan banyak pertanyaan yang ingin segera tau jawabannya," ucap Nayla.


"Tapi_,,,"


"Aku baik-baik saja, Chris," potong Nayla.


"Aku minta maaf karena merahasiakan ini darimu," tutur Nayla.


"Dengan kamu meminta maaf, tidak akan merubah fakta apapun. Akan tetapi, kenyataan dia telah menyeretmu kedalamnya tidak bisa kusangkal," ungkap Kevin.


"Sejak kapan kamu berpikir bahwa ALISHA berada di balik semua ini?" tanya Kevin lagi.


"APAAA,,,!!!"


Serentak semua orang mengeluarkan suara terkejut. Tidak bisa mempercayai apa yang baru saja mereka dengar.


"Tunggu,,, Tunggu,,, Tunggu,,, apa maksudnya ini? Alisha? Dia? Mustahil," sanggah Thomas.


"Dia sudah bersama kita dalam beberapa tahun, bagaimana mungkin?" sambung Ethan.


"Bukankah dia mencintaimu? Dia tidak mungkin melakukan ini," bantah Rory.


Kevin bergeming. Mengabaikan samua sanggahan teman-temannya, termasuk adiknya.

__ADS_1


"Katakan sesuatu, Nay!" pinta Kevin.


Nayla memejamkan mata untuk sesaat, lalu menarik nafas panjang.


"Aku berusaha mencari bukti bahwa bukan dia, tidak mungkin dia. Tapi, semakin aku mencari bukti yang akan membuktikan dia tidak bersalah, semakin banyak bukti itu justru mengarah padanya," papar Nayla.


Rahang Kevin mengeras. Berusaha setenang mungkin mendengarkan apa yang Nayla katakan.


"Sejak kapan kamu menyelidiki hal ini?" tanya Kevin.


"Saat pertama kalinya aku ketempat kalian," ungkap Nayla.


"Lalu? Apa yang membuatmu menjadi yakin jika Alisha terlibat dengan mereka yang menyerangmu?" tanya Kevin.


"Aroma parfum," jawab Nayla.


"Parfum?" kening Kevin berkerut.


"Aroma parfum yang sama juga ada pada mereka," ucap Nayla lirih. "Aku menyadarinya ketika dia datang mengunjungiku dan memelukku, itu bukanlah aroma parfum yang mudah untuk didapatkan," imbuhnya.


"Apa maksudmu Alisha telah berbuat sesuatu bersama mereka, begitukah menurutmu?" Kevin meninggikan suaranya.


Kevin tidak bisa menyangkal tentang parfum yang disebutkan Nayla. Karena dirinyalah yang memberikan parfum itu pada Alisha. Dan dijual terbatas.


Martin meletakkan tangan dibahu Kevin, berharap hal itu bisa menenangkannya. Kevin mengertakkan giginya, merasakan gemuruh hatinya kian memuncak.


"Aku tidak akan mengatakan itu, bahkan terpikirkan hal itu pun sama sekali tidak terlintas dalam pikiranku," ucap Nayla lembut.


"Hal itu bisa kamu ketahui hanya dengan bertanya langsung padanya," sambung Nayla.


"Haa,, kau benar. Sungguh ironis. Dia yang kupikir memiliki ketulusan, ternyata bebanding terbalik denganmu," sambut Kevin tersenyum kecut.


"Ini juga yang menjadi alasan kenapa aku tidak ingin mengatakannya padamu," papar Nayla.


"Aku sungguh berharap ini hanyalah omong kosong," keluh Kevin terduduk dikursi sembari menangkup wajahnya.


"Aku mengharapkan hal yang sama, sungguh," ucap Nayla.


"Tapi,?" sambut Kevin menatap Nayla.


"Aku memiliki bukti lain yang lebih kuat," ungkap Nayla pelan.


Kevin bangun dari duduknya dan mencari kebohongan dimata Nayla, namun tidak menemukannya.


"Rekaman CCTV," jawab Nayla.


"Haaa,,, begitu rupanya. Aku tidak akan bisa menyangkal lagi, semua benar-benar berakhir," ratap Kevin.


Nayla meraih tangan Kevin dan mengenggamnya.


"Semua akan baik-baik saja, aku tidak apa-apa, Nay," sambut Kevin menepuk pelan tangan Nayla.


"Bisakah kita menemuinya?" tanya Nayla.


"Setelah semua yang dia lakukan padamu? Kamu masih ingin menemuinya?" sergah Kevin.


"Bukan hanya untukku, tapi juga untukmu," sambut Nayla.


Kevin mendesah dan menatap Chris untuk meminta pendapatnya.


"Besok, dan aku ikut," jawab Chris.


"Baiklah," jawab Kevin kalah.


Kevin tersenyum hangat, lalu mengusap pelan kepala Nayla. Detik berikutnya, ia menegakkan tubuhnya lagi. Menutupi rasa sakit dihatinya dengan tesenyum.


'Inikah yang dia rasakan saat tetap tersenyum ketika hal buruk menimpanya? Sangat sesak,' batin Kevin.


"Bagaimana caramu mendapatkannya semua yang kamu dapatkan, Nay. Bukankah kamu sama sekali tidak keuar dari rumah sakit?" tanya Rory.


"Ada yang membantuku untuk mendapatkannya," jelas Nayla.


"Siapa?" sela Chris.


Nayla melirik kearah pintu, lalu tersenyum kecil.


"Masuklah! Mau sampai kapan kamu berdiri didepan pintu?" ucap Nayla.


Mereka serentak mengarahkan pandangannya kearah pintu. Begitu pintu terbuka, wajah seseorang yang tidak asing bagi Rory, Thomas, Ethan dan Nathan muncul.


"Vania," sambut Nayla tersenyum.

__ADS_1


"Kau,,," desis Rory.


"Apa yang kau lakukan disini?" sembur Ethan.


"Bagaimana kau bisa tau Nayla ada disini?" timpal Thomas.


"Haruskah ku panggil keamanan untuk mengusirnya?" sambung Nathan.


"Ehhh,,, ??"


Vania yang baru saja datang bingung dengan reaksi Rory dan teman-temannya.


"Hei,,, hentikan. Dia sudah membantuku. Kenapa kalian bersikap seperti itu?" tegur Nayla yang sama bingungnya.


"Bagaimana kami bisa melupakannya setelah apa yang dia katakan di kedai burger waktu itu?" sambut Thomas kesal.


"Kedai burger?" gumam Vania.


Vania terdiam dan kembali mengingat apa yang dikatakan Thomas padanya. Seketika wajahnya memerah menahan malu dan rasa bersalah.


"Hei,, Nayrela,, apa-apakah yang saat itu bersamamu adalah mereka?" tanya Vania berubah gugup.


"Aku menyesal mengatakannya, tapi itu memang benar," papar Nayla.


"Ehhhhh,,,," Vania mengeluarkan suara terkejut, matanya melebar tidak percaya.


"Maafkan saya," ucap Vania membungkukka badannya.


"Ayolah,,, kenapa kalian mengintimidasi orang yang telah banyak membantu?" sungut Nayla.


"Tapi dia_,,,"


"Dia sudah meminta maaf," potong Nayla cepat.


"Dan itu juga sudah lama berlalu," imbuhnya.


"Cih,,, baik. Hanya karena kamu yang memintanya," dengus Rory menatap tajam Vania.


"Kemarilah, Vania," pinta Nayla.


"Aku,,, akan kemari lagi besok. Aku lebih baik pergi," ucap Vania gugup.


"Hei,,, tunggu dulu," cegah Nayla.


"Tidakkah kalian perlu mengatakan sesuatu padanya?" sindir Nayla menatap Rory dan teman-temannya.


Rory menghembuskan nafas dengan kasar lalu metatap Vania yang bersiap pergi.


"Maaf,, dan terima kasih sudah membantu kami," ucap Rory.


"Maaf," sambung Ethan dan Nathan bersamaan.


"Aku juga minta maaf, serta berterima kasih padamu," timpal Thomas.


"Ehhh,,, ini bukan salah anda sekalian, sayalah yang pada awalnya memang bersalah," jawab Vania. "Lagi pula saya tidak membantu banyak," kilahnya.


"Nayrela, aku benar-benar harus pergi. Aku senang bisa melihatmu. Kuharap kamu segera pulih.


"Tapi_,,"


"Aku pasti akan datang menjengukmu lagi," potong Vania.


"Baiklah, sekali lagi terima kasih untuk semuanya," ucap Nayla tulus.


"Dengan senang hati," jawab Vania tersenyum.


"Kalian harus menceritakan ini kepada kami!," sela Kevin setelah Vania keluar.


Kevin menarik semua temannya dan meninggalkan Rory bersama Nayla.


"Aku akan keluar, aku sudah terlalu lama disini," ucap Chris.


"Istirahatlah," ucap Chris menepuk lembut kepela Nayla.


Nayla mengangguk pelan, lalu tersenyum. Beberapa saat kemudian, ruangan berubah hening.


"Apakah Kevin akan baik-baik saja?" tanya Nayla memecah keheningan.


"Aku berharap, dia akan baik-baik saja," jawab Rory.


"Biar bagaimanapun, Kevin mencintai Alisha," sambungnya.

__ADS_1


...****************...


__ADS_2