
###Hari berikutnya
Berita tentang Rory kian merangkak naik. Hal itu juga berdampak pada Nayla. Seisi kantor terkejut dengan fakta Nayla adalah kekasih dari penyanyi idola mereka.
Karena hal itu, Adrian terus diganggu dengan pertanyaan-pertanyaan yang membuatnya terpaksa mengunci ruangan Nayla dimana ia berkerja didalamnya.
" Arrgghhh,,,, Nayla,, kenapa kau tidak mengatakan hal ini saat aku mengunjungimu di rumah sakit?" gerutu Adrian.
"Mereka terus bertanya dan aku terpaksa berbohong dengan mengatakan tidak tau dimana kamu dirawat," sambungnya.
Dering ponselnya mengalihkan perhatian Adrian dan segera mengeluarkan ponsel dari saku celananya. Berharap Nayla menghubunginya setelah beberapa hari tidak ada kabar. Dan dikejutkan dengan kabar penusukan.
"Ahh,, ternyata kau Rose," desah Adrian sedikit kecewa.
"Hei,,, apa maksudmu?" sergah Rose.
"Aku tidak mendengar kabar Nayla beberapa hari terakhir. Apakah terjadi sesuatu?" tanya Rose cemas.
"Maksudku, apakah berita dimedia sosial itu benar?" sambung Rose.
"Jawab aku, Adrian!" desak Rose tidak sabar.
" Tenanglah! Beri aku kesempatan untuk bernafas," sambut Adrian.
" Satu kantor juga meributkan hal yag sama. Pekerjaanku bahkan menumpuk karena hal ini," erang Adrian.
" Tentu saja mereka akan begitu. Hal seperti ini aku bahkan tidak pernah menduganya," sambut Rose.
"Lalu, bagaimana keadaannya sekarang? Apakah dia baik-baik saja? Aku selalu gagal menghubungi Chris," keluh Rose.
"Sebelum berita tentang penusukan itu, dia sudah membaik. Tapi aku tidak tau bagaimana keadaannya sekarang. Aku kesulitan untuk meluangkan waktu pergi kesana. Teman-teman kita dikantor bisa saja mengikutiku hanya untuk mengetahui dimana Nayla sekarang," terang Adrian.
"Kenapa kau tak tanyakan padanya? Setidaknya tentang dia yang menjalin hubungan dengan seorang bintang? Penyanyi yang kau pun tau siapa dia?" cecar Rose.
"Kau sangat bisa di andalkan untuk meledakkan kepalaku, Rose," decak Adrian sedikit kesal.
"Kalau begitu ceritakan padaku,!" desak Rose.
"Aku benar-benar tidak tau tentang dia yang menjalin hubungan dengan seorang penyanyi,"
"Saat rumor itu tersebar, dia tidak menceritakan apapun padaku. Bahkan ketika aku berulang kali menanyakannya, dia selalu mengelak untuk menjawab,"
"Jadi, kupikir itu hanya rumor. Dan tentang pernyataan Ace sang penyanyi itu, aku mengetahuinya setelah aku mengunjungi Nayla, dan itupun aku tau dari teman kita"
Adrian menjelaskan situasi yang tengah ia hadapi setelah berita itu tersebar. Dimana teman-teman kantornya memberondongnya dengan pertanyaan yang tidak bisa ia jawab.
Mereka bahkan mendesak Adrian untuk menghubungi Nayla dan menanyakan dimana Nayla berada.
"Mereka bena-benar gila," sambut Rose tertawa.
"Ya, dan mereka juga membuatku gila," gerutu Adrian.
"Kalau ku pikir lagi, kurasa kau akan sulit untuk menemuinya kali ini. Mereka pasti menjaga ketat Nayla yang dirawat. Bahkan Chris tidak bisa dihubungi, itu lebih membuatku yakin situasinya menjadi lebih rumit," ucap Rose.
"Kurasa kau benar, tapi itu juga hal baik. Setidaknya dia tidak sendirian," sambut Adrian.
"Kau benar. Kalau begitu, kabari aku jika kau mendapatkan kabar dari Nayla," harap Rose.
"Baiklah, sekarang biarkan aku bekerja. Bukankah ditempatmu sekarang sudah malam?" tanya Adrian.
"Memang benar, tapi aku benar-benar khawatir pada Nayla. Itu sebabnya aku buru-buru menghubungimu begitu aku membaca berita tentangnya," papar Rose.
__ADS_1
"Aku usahakan untuk mengabarimu secepatya," janji Adrian.
Adrian mengakhiri teleponnya. Bersamaan dengan itu, suara ketukan pintu kembali terdengar. Diikuti suara teman-temannya yang memaksanya untuk membuka pintu.
"Haahhh,,,, mereka benar-benar menyebalkan," desah Adrian.
"Sekarang, bagaimana keadaan Nayla? Haruskah aku menghubunginya sekarang?" gumam Adrian.
*********
Sebuah Campervan hitam berhenti didepan kantor polisi. Tak lama kemudian, seseorang keluar dan menurunkan sebuah kursi roda.
"Pelan-pelan," ucapnya sembari mengulurkan tangan.
Nayla keluar dari Campervan dan duduk dikursi roda dibantu Rory dan Kevin.
"Tidak bisakah aku jalan kaki saja? Kakiku baik-baik saja," keluh Nayla.
"Kakimu memang baik-baik saja, tapi kamu masih belum dianjurkan untuk banyak bergerak. Hal itu bisa membuat lukamu terbuka lagi," sambut Rory.
"Jangan mempersulit dirimu sendiri dengan melakukan hal konyol,!" sambung Kevin.
"Chris tidak bisa ikut karena dia harus melakukan operasi. Jika terjadi sesuatu padamu disaat bersama kami, itu sama saja kamu membunuh kami," seloroh Ethan.
"Apa sih,," sambut Nayla terkekeh pelan.
Nayla berhenti protes dan mengarahkan pandangannya kedepan. Sementara Rory mendorong kursi roda dan masuk kedalam bersama teman-temannya.
Mereka disambut ramah oleh petugas polisi yang berjaga disana dan mengarahkan mereka kedalam ruangan dimana mereka akan bertemu Alisha.
Kevin berhasil mengontrol perasaannya ketika Alisha muncul didepan mereka dengan senyum sinis menghiasi wajahnya.
"Apakah ini usaha kalian ingin membuatku terkesan?" cibirnya.
"Jadi selama ini apa yang kau lakukan adalah pura-pura?" tanya Kevin melebarkan matanya.
Ia tak menyangka Alisha akan bersikap jauh berbeda dari sebelumnya. Seolah dirinya langsung mengakui tindakannya tanpa diminta.
"Tentu saja, kenapa aku harus menjalin hubungan dengan orang sepertimu, Kevin. Kau naif sekali," ejek Alisha.
"Kenapa?" tanya Kevin lirih.
"Karena adikmu telah menyakiti adikku," ungkap Alisha. " Kau," menunjuk Rory dengan telunjuknya.
"Kau yang telah menghancurkan hati adikku. Kau pikir aku akan menerimanya?" ucapnya sinis.
"Dan kau lebih memilih wanita ini, yang tidak memiliki kedudukan apapun. Dia yang hanya bekerja sebagai karyawan rendahan. Apa kau sedang membuat lelucon?" dengus Alisha.
"Apa kau pikir_,,," Rory bersiap melontarkan kalimatnya namun segera dihentikan Nayla sebelum Rory selesai bicara.
"Tenanglah," pinta Nayla mengenggam tangan Rory.
"Cih,,, jangan menunjukan sisi malaikatmu di depanku," dengus Alisha.
"Apakah sebuah kedudukan itu sangat penting bagimu?" tanya Nayla lembut.
"Tidak jika bukan karenamu adikku dicampakkan olehnya," jawab Alisha sinis.
"Adikmu?" Rory mengerutkan keningnya.
"Relena," jawab Alisha.
__ADS_1
Semua membeku mendengar nama itu. Hal yang tidak diduga adalah Relena yang menjadi adik Alisha.
Amarah seketika meluap dari diri Kevin. Ia menatap tajam pada Alisha, lalu tertawa sumbang.
"Haa,,, ternyata kau tidak mengenali adikmu sendiri dengan baik. Aku sangat berterima kasih mengetahui kebenaran ini lebih cepat. Atau aku akan menyesali hal ini di masa depan sepanjang hidupku," ucap Kevin dingin.
"A-A-Apa maksudmu?" Alisha terbata saat melihat perubahan raut wajah Kevin.
"Bukan Rory yang menghancurkan adikmu. Tapi, adikmulah yang menghancurkan Rory," ungkap Kevin.
"Omong kosong," sambut Alisha meninggikan suaranya.
"Oh,, kalau begitu, tanyakan padanya mengapa ia berhubungan dengan pria lain ketika menjelang pertunangan mereka?" ujar Kevin.
"Apa,,??" Alisha melebarkan matanya.
"Sebelum kau memutuskan untuk melakukan sesuatu, selidikilah lebih dulu adikmu sendiri. Balas dendammu sangat tidak beralasan," dengus Kevin.
"Cukup,,,!" ucap Rory.
"Jangan dilanjutkan lagi. Aku akan menunggu diluar bersama Nayla," sambungnya.
Rory mendorong kursi roda Nayla keluar menuju taman yang berada didekat kantor polisi.
Nayla hanya diam ketika Rory membawanya pergi. Walau didalam lubuk hatinya ia sangat ingin mengetahui apa yang terjadi dimasa lalu Rory, namun ia mengerti, Rory membutuhkan ruang untuk bernafas.
Rory menghentikan langkahnya ketika mereka mencapai pohon rindang dan berlindung dari sinar matahari dibawahnya.
Keheningan berlangsung cukup lama. Namun Nayla tetap tidak membuka suara untuk memulai.
"Maafkan aku," ucap Rory lirih.
"Untuk?" tanya Nayla.
"Atas sikapku_,,,"
"Yang seolah menujukkan kamu masih terikat dengan masa lalumu?" potong Nayla.
"Ahh,,, aku lupa dengan kamu yang bisa membaca pikiranku," desah Rory tersenyum lelah.
"Sejujurnya aku ingin tau apa yang terjadi," ucap Nayla.
"Lalu, kenapa kamu tidak menanyakannya?" tanya Rory.
"Karena aku tau kamu akan menceritakannya ketika kamu ingin. Seperti apa masa lalumu, dan apapun yang terjadi di masa lalu, tidak akan merubah fakta bahwa aku mencintaimu, Roy," papar Nayla.
Rory mengitari Nayla dan berlutut didepan kursi rodanya. Mata mereka menatap satu sama lain.
"Roy yang berada didepanku saat ini,akan tetap menjadi Roy yang kukenal dan kucintai. Tidak peduli bagaimanapun masa lalumu, kamu tetaplah kamu, Roy," ucap Nayla dengan tulus.
Tangannya terulur dan menangkup wajah Rory, lalu tersenyum.
"Jadi, jangan perlihatkan wajah seperti ini lagi padaku. Bukankan kamu sendiri yang mengatakan padaku bahwa kamu tampan? Ketampananmu akan hilang jika wajahmu seperti ini, jadi tersenyumlah!" hibur Nayla.
Rory meletakkan tangannnya diatas tangan Nayla, dan mulai tersenyum.
"Aku tidak akan pernah bisa berhenti bersyukur karena aku bertemu denganmu, Nay," ungkap Rory.
"Tapi, ada satu hal yang sebenarnya mengangguku," ucap Nayla tiba-tiba melepaskan tangan Rory.
Rory menatap mata Nayla, menunggu apa yang ingin Nayla katakan.
__ADS_1
"Apakah kamu tidak malu menjalin hubungan denganku?" .......
...****************...