
"Kita akan kedatangan anggota keluarga baru," ungkap Rory dengan berbisik.
"Keluarga baru?" ulang Nayla mengerutkan keningnya.
"Apakah Kevin akan menikah? Dengan siapa? Apakah dia akan kembali bersama Alisha?" cecar Nayla.
"Aduhh,,," Nayla mengaduh dan segera mengusap dahinya saat Kevin menyentil dahinya.
"Apa sih? Ini kan sakit," sungut Nayla.
"Salah sendiri berbicara tanpa rem," sambut Kevin.
"Haruskah aku menegaskan padamu sekali lagi bahwa aku tidak mungkin bersama Alisha?" tanya Kevin sedikit kesal.
"Kenapa? Dia cantik, dan baik. Jauh lebih baik dari sebelumnya," ucap Nayla tanpa dosa.
"Itu tetap tidak merubah fakta dia pernah menyakitimu. Kamu mungkin bisa memaafknnya, tapi aku tidak, dan aku tidak mencintainya," tegas Kevin.
"Kalau begitu, Vania saja," celetuk Nayla.
"Hei,,, apa-apan? Kenapa kau menyeretku sekarang?" sembur Vania.
"Kenapa? Kamu tidak mau?" tanya Nayla polos.
"Kau tau persis bukan itu masalahnya bukan?" jawab Vania.
"Pertanyaanku kan kamu mau atau tidak? Kenapa harus menjawab sepanjang itu?" balas Nayla.
Vania terus melontarkan jawaban, namun tetap tidak memberikan jawaban antara mau atau tidak.
Sementara Kevin hanya terdiam. Nayla justru menangkap Kevin melirik Vania yang tengah mengeluarkan argumennya pada Nayla.
"Kenapa sekarang mama seperti tidak mengenali anak mama sendiri?" sela Gloria tertawa.
"Mama cantik dan anggun, papa tampan dan bijak. Kevin memang tampan, tapi dia arogan, mama yakin Kevin anak mama?" ucap Nayla blak-blakan.
"NAYLAA,,," Kevin menekan suaranya dan menatap Nayla dengan berkacak pinggang.
"Iyaa,, Ampun,, aku berhenti bicara," sambut Nayla meletakkan tangan ditelinganya. (Salah satu kebiasaan Nayla ketika meminta maaf) memasang wajah memelas.
Semua orang serentak tertawa, melihat aksi kakak beradik yang sangat langka mengingat Nayla hanya adik ipar Kevin. Namun, Kevin selalu menepisnya dan mengatakan Nayla adalah adiknya.
"Kalau bukan Kevin yang akan menikah, lalu siapa yang kamu sebut anggota keluarga baru, Roy?" tanya Nayla kembali beralih pada Rory.
__ADS_1
"Apakah Martin? Si kembar atau Thomas menikah lagi?" berondong Nayla.
"Hei,,, Kenapa sekarang aku?" sembur Thomas tidak terima.
"Aku sudah cukup dengan satu istri, kau tau?" imbuhnya.
"Aku hanya menebak, mungkin saja kamu juga ingin memiliki satu di sini," jawab Nayla enteng.
"Rory, aku heran kau masih waras sampai sekarang. Bagaimana kau bisa menghadapinya setiap hari?" sambut Thomas mengusap wajah dengan kedua telapak tangannya.
"Karena dia tidak punya pilihan, sedangkan kau punya," jawab Nayla seenaknya.
"Kau harus ingat, dia memiliki pengemar terbanyak diantara kami, Nay, dia hanya perlu memilih," jawab Thomas.
"Mereka hanya tertarik pada Roy seperti lalat karena dia tampan, kalau ada yang lebih tampan darinya, dia akan diabaikan," balas Nayla.
"Secara tidak langsung, kamu justru mengatakan bahwa Thomas lebih tampan dari Rory," sela Ethan.
"Errr,,," Nayla memutar bola matanya. "Aku tidak setuju tentang itu," jawabnya.
Ethan terbahak mendengar jawaban spontan Nayla. Merasa Nayla tidak lagi seperti yang ia kenal sebelumnya.
"Lalu siapa? Apakah aku akan bertemu dengannya?" tanya Nayla masih belum menangkap apa yang ingin dikatakan Rory padanya.
"Kamu memang akan bertemu dengannya, tapi nanti," jawab Rory.
"Siapa? Kenapa nanti?" tanya Nayla penasaran.
Alih-alih menjawab, Rory justru meraih tangan Nayla, dan meletakkan tangan Nayla diatas perutnya, tanpa menurunkan tangannya sendiri.
"Dia ada disini," ucap Rory tersenyum.
"Aaa,,,??" Nayla gagal melontarkan pertanyaan lagi.
Ia melebarkan matanya, mencari tau apakah apa yang dikatakan Rory adalah kebohongan atau bukan. Namun, Rory hanya tersenyum, seolah dibalik senyum itu mengatakan 'Aku tidak berbohong'.
"J-jadi, aku,,,aku,,," Nayla menundukkan kepala menatap perutnya, lalu mengusap pelan.
Tanpa Nayla sadari, air mata telah mengalir membasahi pipinya. Tidak tau dengan kata apa ia akan mengungkapkan apa yang ia rasakan saat ini.
"Kamu tidak sedang berbohong padaku untuk menyenangkanku saja kan?" tanya Nayla parau.
Rory, mengeleng pelan, dan mengecup kening Nayla.
__ADS_1
"Kamu hamil, Ma Chéri," ucap Rory.
Segera Nayla memeluk Rory yang berdiri disampingnya, dengan melingkarkan tangan dipinggang Rory diposisi duduknya. Hingga air mata lolos dari matanya tanpa bisa ia cegah.
"Kenapa kau sekarang jadi cengeng?" ledek Kevin mencubit lembut pipi Nayla.
"Ish,,,, jauhkan tanganmu," Nayla menepis tangan Kevin tanpa melepaskan pelukannya.
Rory hanya tersenyum sembari membelai lembut kepala Nayla melihat kekonyolan yang di buat istri dan kakaknya. Dimana mereka selalu memiliki bahan untuk di jadikan adu argumen mereka. Pertengkaran konyol yang selalu menghiasi setiap saat mereka bertemu.
Tak mau ketinggalan, semua orang yang berada disana memeluk Nayla. Mengurung Nayla dan Rory dalam pelukan besar, lalu tertawa bersama.
Sementara kedua orang tua mereka tersenyum haru melihat betapa banyaknya perubahan yang terjadi hanya dengan Nayla masuk kedalam keluarga mereka.
Kevin yang selalu tampak keras berubah drastis jika menyangkut apapun yang berhubungan dengan Nayla menjadi lembut dan terkadang sangat suka mengoda Nayla.
Rory menjadi lebih hati-hati dan berpikir bijak setelah menikah. Bahkan tidak pernah lagi memaksakan keinginannya dan memilih mengalah jika itu berhubugan dengan Nayla.
Keduanya bahkan kompak menjadi sangat protektif jika itu akan membuat Nayla di posisi tidak aman.
Martin pun menjadi lebih membuka pikirannya dan lebih berpikir kritis ketika menghadapi sesuatu. Namun sering kali ia menjadi pelampiasan Nayla, namun tidak pernah mengeluhkannya.
Thomas dan si kembar pun senantiasa menjadi penengah di dalam tim sekaligus dalam ikatan keluarga mereka, termasuk Sean dan Bob yang baru dipekerjakan Rory khusus untuk Nayla.
Omong-omong, Chris sekarang menjadi dokter terbaik di rumah sakit tempatnya bekerja selama ini, sekaligus menjadi penanggung jawab mengelola rumah sakit.
Vania dan Adrian?
Adrian tetap menjadi asisten Nayla dan di bantu Vania.
Beberapa hari setelah keluar dari rumah sakit , Nayla mengatakan kepada Rory tentang rencananya menyatukan Kevin dan Vania.
Nayla memiliki alasan sederhana, karena mereka berdua cenderung memiliki karakter yang sama. Dan Rory setuju begitu saja, ia hanya merasa Vania tidaklah seburuk yang ia bayangkan sebelumnya. Terbukti dengan selama bekerja pada Nayla, ia melihat ketulusan murni dari Vania.
Rory juga merasa yakin, bahwa intuisi Nayla selalu benar, dan selalu ada alasan masuk akal dibalik setiap perkataan dan tindakan Nayla.
Satu hal yang membuat Nayla lebih yakin adalah, ia merasakan ketertarikan satu sama lain diantara Vania dan Kevin.
Dan akhirnya Rory dan Nayla melakukan segala cara, melakukan berbagai hal yang membuat mereka terjebak bersama, menciptakan drama kebetulan, dan hal lain untuk mendekatkan Vania dan Kevin.
...****************...
Chapter Bonus,,, Ending...
__ADS_1
Terima Kasih untuk untuk para Readers yang telah setia membaca.. Baca juga karya author yang lain yaa,, salam hangat dari author,,,