
Diselengarakannya pesta pernikahan Rory dan Nayla dihadiri oleh beberapa tamu yang juga sesama penyanyi, agensi musik, dan rekan bisnis kedua orang tua Rory. Mereka tak henti-hentinya memuji betapa serasinya Rory dan Nayla.
Semua teman dari kantor Nayla pun turut hadir di acara pernikahan mereka. Bahkan beberapa penulis buku lain juga hadir untuk memberikan ucapan selamat.
Hingga, ketika acara telah berakhir, Gloria dan Rose membantu Nayla mengganti gaun pengantinnya dengan drees yang lebih ringan. Dimana Rory dan Nayla akan pergi ke suatu tempat yang telah disiapkan oleh orang tua Rory dan orang tua Chris.
"Semua yang kamu perlukan sudah tersedia disana, mama sudah menyiapkannya jauh-jauh hari," ucap Gloria.
"Mama yang terbaik," sambut Nayla.
"Kau harus benar-benar menikmati liburanmu," ucap Adrian.
"Dan biarkan kami yang mengurus pekerjaanmu," timpal Vania tersenyum jahil.
"Ah,,, sepertinya aku juga bisa memberimu pekerjaan lebih banyak nanti," balas Nayla.
Vania tersenyum lebar, seolah itu tidak akan menjadi masalah besar baginya.
Vania,,, dia yang akhirnya berkerja pada Nayla, membantu Adrian dalam segala hal yang berkaitan dengan pekerjaan Adrian. Pada awalnya Rory dan yang lain keberatan dengan keberadaan Vania karena momen buruk yang pernah mereka dapatkan, namun setelah melihat bagaimana Vania bekerja, mereka menginjinkan Nayla mempekerjakan Vania.
Bahkan Vania tidak mempermasalahkan bayaran yang akan dia terima, asal mendapatkan satu buku baru setiap terbit secara gratis.
Vania dan Rose memeluk Nayla secara bergantian. Begitu pula Gloria, Kevin dan Chris. Mereka memberi Nayla pelukan singkat sebelum Nayla masuk kedalam mobil. Sementara yang lain hanya merangkul bahu Rory.
Hingga, mereka berdua masuk kedalam mobil dan memulai perjalanan mereka dengan mobil yang langsung di kemudikan oleh Rory.
"Apakah kamu tidak lelah jika harus mengemudi, Roy?" tanya Nayla memecah keheningan.
"Tidak sama sekali," jawab Rory tersenyum.
"Apakah perjalanan kita jauh?" tanya Nayla lagi.
"Hanya tiga puluh menit," jawab Rory.
Tangan Rory meraih tangan Nayla, lalu meremasnya dengan lembut.
"Kamu bisa tidur selama perjalanan jika kamu merasa lelah," ucap Rory.
"Tidak," jawab Nayla membalas genggaman tangan Rory.
"Itu sama saja aku mengurangi waktuku untuk melihatmu," imbunya.
"Hei,,, jangan mengodaku disaat seperti ini," sambut Rory, lalu tertawa.
Perjalanan mereka pun berlanjut, entah kemana Rory akan membawa Nayla, karena Rory tidak mengatakan apapun tentang tempat yang akan mereka tuju.
Hingga, setelah beberapa menit di perjalanan, mereka tiba disebuah Cottage yang cukup besar yang telah diterangi cahaya lampu.
Rory segera keluar dari mobil. Saat Nayla juga akan melakukan hal yang sama, Rory telah membuka pintu mobil untuknya dan menahannya.
"Kamu tidak berpikir aku akan membiarkanmu berjalan sendiri kan, Ma Chéri? " tanya Rory.
Nayla menatap Rory bingung, namun Rory justru tidak mengatakan apapun selain mengendongnya.
"Ehh,, Roy,,?" Nayla sedikit terkejut saat Rory mengangkat tubuhnya.
"Berpegangan saja, dan biarkan aku membawamu kedalam," ucap Rory.
Nayla tersenyum, lalu melingkarkan tangannya dileher Rory. Membiarkan Rory membawanya memasuki Cottage.
Suasana hangat menyambut mereka saat masuk kedalam. Nayla lebih terkejut saat mereka masuk kedalam kamar dan Rory menurunkan Nayla.
Kamar yang cukup besar telah dihias dengan bunga mawar dan lilin yang menyala dibeberapa sudut. Aroma tenang aromaterapy menguar dari lilin yang menyala. Tempat tidur bertiang empat dan berseprai putih dengan tebaran kelopak bunga mawar diatasnya.
"Wowww,,,, tempat ini,,," gumam Nayla masih melihat sekeliling.
"Apakah kamu menyukainya?" tanya Rory melingkarkan tangannya dipinggang Nayla dari belakang.
"Sangat," jawab Nayla. "Ini indah," imbuhnya.
Rory meletakkan dugunya dibahu Nayla, tersenyum puas menyadari usahanya terbayar hanya dengan Nayla menyukai apa yang ia siapkan.
"Bisa beri aku waktu untuk membersihkan diri sebentar, Roy?" pinta Nayla.
"Selama yang kamu butuhkan, Ma Chéri," jawab Rory.
__ADS_1
Rory mengangkat kepalanya, dan mencium kening Nayla. Membiarkan Nayla masuk ke kamar mandi untuk menggunakan waktu privasinya.
Beberapa menit berlalu, Nayla keluar dengan jubah mandi melekat ditubuhnya. Membuat Rory terpana selama beberapa saat dan segera masuk ke kamar mandi, berusaha mengendalikan dirinya sendiri.
Nayla yang tidak menyadari perubahan wajah Rory, hanya mengabaikannya saat Rory masuk ke kemar mandi untuk menggunakan waktu privasinya.
Ia melangkah keluar menuju balkon. Melihat pemandangan luar yang terasa luar biasa baginya.
Sebuah danau kecil memantulkan cahaya bulan, pohon mapel yang berkilau karena sinar terang dari bulan membuat tempat itu seperti bukan dari duniannya. Dibawah pohon mapel terdapat meja panjang yang menyatu dengan kursi, menambah kesan manis tempat itu.
Nayla tersenyum tipis membayangkan menikmati waktu sore dengan duduk disana, ditemani dengan minuman ringan dan juga kudapan buatan tangan.
Matanya terpejam untuk sesaat, menarik nafas dalam-dalam seolah ingin meresapi semua yang ada disekelilingnya, lalu perlahan membuka kembali matanya, tersenyum.
"Indah sekali," desah Nayla.
"Kau tau apa yang lebih indah?"
Suara Rory menyela lamunannya, membuat Nayla segera berbalik dan melihat Rory mengenakan jubah mandi yang sama dengannya menghampirinya.
Rory mengosok kepalanya menggunakan handuk lain untuk mengeringkan rambutnya. Tanpa sadar, Nayla terus menatap Rory, terpana dengan apa yang ia lihat, menumbuhkan seringai kecil diwajah Rory.
"Apa yang kamu lihat?" goda Rory.
"Ah,,, tidak,, bukan apa-apa," jawab Nayla gugup, lalu memalingkan wajahnya, merasa tertangkap tengah menatapnya.
"Benarkah?" tanya Rory, perlahan mendekati Nayla.
"Hei,,, Ma Chéri, kamu tidak harus berpaling jika memang tidak ada apa-apa, kamu bisa menatapku sebanyak yang kamu inginkan," goda Rory.
Nayla kembali mengarahkan pandangannya pada Rory yang bergerak semakin dekat. Rory terus melangkah hingga mereka tidak lagi memiliki jarak diantara keduanya, membuat Nayla melangkah mundur.
Dengan gerakan pelan, Rory terus mendorong Nayla hingga terjebak di pagar pembatas balkon dan diantara kedua tangan Rory.
"Kamu terlihat jauh lebih indah dari apapun yang ada disini," bisik Rory.
Rory mulai mendekatkan wajahnya, ia menjatuhkan handuk dari tangannya saat bibirnya menemukan bibir Nayla.
Tangannya bergerak dan meletakkannya di belakang leher Nayla. Bergerak dengan hati-hati, Rory mulai mengangkat tubuh Nayla dan kembali masuk kedalam, membaringkan Nayla diatas tempat tidur dengan perlahan setelah mereka menanggalkan jubah mandi mereka.
#### 2 bulan kemudian.
Sebuah gedung perpustakaan tampak ramai dengan pengunjung yang tertib dalam antrian panjang mereka. Mereka melangkah maju dan berhenti lagi setiap beberapa menit seolah menunggu giliran.
Diujung antrian, terdapat sebuah meja dengan seseorang duduk dibaliknya. Setiap orang yang telah mencapai meja berseru sanang seraya menyerahkan buku ditangan mereka.
Wanita berkaca mata itu tersenyum hangat menyambutnya dan memberikan tanda tangan disetiap buku yang ia terima. Bertanya dan menjawab pertanyaan yang mereka tanyakan dengan senyum hangat diwajahnya.
Di belakang wanita itu, berdiri seorang pria yang seolah melindunginya. Wajahnya terlihat serius, namun tersenyum ketika wanita itu memintanya agar tidak menakuti setiap orang yang mendekat.
Pria itu sedikit membungkuk untuk mengatakan sesuatu kepada wanita itu,
"Maaf, nyonya. Saya mendapat telepon dari tuan, apakah harus saya terima? Atau menunggu anda?" tanyanya sopan.
Wanita itu yang tidak lain adalah Nayla tersenyum hangat.
"Terima saja. Dia akan khawatir jika kamu tidak menerimanya," jawab Nayla.
"Baik, saya akan menerimanya sebentar," pamitnya.
Pria itu mundur tiga langkah dan menjawab pangilan dari ponselnya. Sesekali pria itu mengangguk dan mengatakan sesuatu sebagai jawaban.
"Nona Nyloes, apakah saya boleh bertanya?" tanya seorang gadis yang bukunya tengah ia tanda tangani.
"Tentu, apa itu?" jawab Nayla balas bertanya.
"Apakah anda akan mengadakan sesi tanda tangan seperti ini lagi nanti?" tanyanya penuh harap.
"Jika saya bisa mengatur waktunya untuk itu, dengan senang hati saya akan melakukannya," jawab Nayla.
"Sungguh? Bernarkah itu?" sambutnya girang.
"Semoga saja," balas Nayla mengedipkan matanya.
"Tapi nona?" ucapnya menatap Nayla sedikit heran.
__ADS_1
"Apa?" Nayla menaikan alisnya.
"Maaf jika saya terkesan tidak sopan, tapi saya ingat anda tidak memakai kacamata saat itu, lalu sekarang anda memakainya?" tanya gadis di sampingnya.
"Hanya sedikit iritasi, dan akan segera membaik," jawab Nayla tersenyum.
"Sungguh? Anda yakin baik-baik saja?" sambutnya khawatir.
"Kacamata ini hanya digunakan saat berada didepan komputer ataupun buku, jadi itu akan baik-baik saja," jawab Nayla.
"Tapi, anda tetap cantik nona, sungguh," timpal seorang pemuda dibelakang gadis itu.
"Kamu berani sekali, kalau tuan Ace mendengarnya, kamu tidak akan dilepaskan," sindir gadis lain.
"Hemp,,, saya tidak bermaksud apa-apa," pemuda itu menutup mulutnya dengan panik.
Nayla tertawa ringan sembari mengelengkan kepalanya.
"Tidak apa-apa, saya menikmati waktu bercanda bersama kalian," sambut Nayla.
"Saya permisi, nona. Masih banyak mereka yang berada di belakang saya menunggu giliran," pamit dua gadis di depan Nayla.
"Ya, silahkan. Terima kasih sudah membaca buku saya," ucap Nayla.
"Buku anda adalah hal yang mustahil untuk di tolak," jawabnya tersenyum lebar dan berlalu pergi.
Nayla kembali memberikan tanda tangan di setiap buku yang dibawa setiap orang. Hingga beberapa jam berlalu, dan antrian itu berakhir, Nayla merenggangkan badannnya.
Hari telah berubah gelap, dan malam ini adalah jadwal konser yang akan diadakan Rory bersama timnya.
Jadwal mereka yang bertabrakan sedikit menghambat waktu mereka, dan menimbulkan perdebatan kecil, namun mereka tetap menjalankan semuanya dengan tenang.
Nayla melirik pria yang berdiri di belakangnya, pria yang ditugaskan Rory untuk melindunginya. Rory bahkan memperkerjakan sopir baru yang dikhususkan untuk mengantar Nayla kemanapun.
Hal itu terjadi karena saat itu Nayla kembali ditemukan dalam keadaan tidak sadar diruang kerjanya.
Rory yang saat itu kebetulan memiliki jadwal padat hampir terlambat mengetahuinya jika saja Adrian tidak menghubunginya berkali-kali.
Dari kejadian itu, Rory berubah menjadi lebih protektif dari sebelumnya. Terlebih lagi, Nayla kembali disarankan dokter untuk kembali mengenakan kacamata untuk sementara waktu.
Nayla menghembuskan nafas panjang setelah mengingat hal-hal yang terjadi setelah pernikahan mereka.
"Apa yang dikatakannya?" tanya Nayla memecah keheningan.
"Hanya ingin memastikan nyonya baik-baik saja selama sesi tanda tangan berlangsung," jawabnya.
"Hanya itu?" sambut Nayla tak percaya seraya melepaskan kacamatanya.
"Tuan mengharapkan nyonya menghadiri konser tuan, namun tuan akan mengerti jika nyonya tidak datang," ungkapnya.
"Konyol!" sungut Nayla. "Mana mungkin aku tidak datang?" imbuhnya.
"Kita berangkat sekarang," tegas Nayla.
"Anda bisa beristirahat sejenak, nyonya. Atau mungkin anda ingin makan atau minum sesuatu?" tawarnya.
"Tidak, Sean. Kita pergi sekarang. Aku bisa melakukan itu disana. Lagi pula, Bob menunggu sendirian dimobil selama berjam-jam," sanggah Nayla.
"Sesuai keinginan anda, nyonya," jawab pria bernama Sean.
Nayla bangun dari duduknya, sementara Sean membawakan semua barang milik Nayla dan berjalan dibelakangnya.
Mereka berjalan keluar dari gedung perpustakaan yang sudah menjadi miliknya sendiri. Begitu mereka berada diluar perpustakaan, mereka disambut pria dengan pakaian rapi yang segera membukakan pintu mobil dengan senyum ramah diwajahnya.
Begitu Nayla masuk, Bob menutup pintu mobil dengan hati-hati. Dan mengitari mobil untuk masuk dibagian kemudi, sementara Sean duduk di kursi penumpang disamping Bob.
"Kita ke acara konser tuan," ucap Sean.
Bob mengangguk mengerti dan mulai menjalankan mobilnya. Mereka hanya berbicara seperlunya karena tidak ingin menganggu Nayla yang duduk di kursi penumpang belakang.
...****************...
SEE YOU NEXT YEA... :):)
Terima kasih untuk para readers yang telah membaca karya saya. Baca juga karya author yang lain yukk ,,,,,, :);)
__ADS_1