
Tinggalkan jejak kalian dengan koment, saran dan kritik kalian untuk menciptakan alur yang lebih baik.~~~
------------------------
Nayla menjalankan mobilnya dengan perlahan dan hati-hati. Menelusuri jalan dan berhenti sesaat ketika terdapat sebuah gang kecil dengan gerombolan pria bertubuh besar tengah duduk santai disana. Duduk di atas motor besar mereka.
Nayla memperhatikan wajah tiap pria disana. Namun tak satupun dari mereka yang dikenalinya.
"Tak satupun dari mereka yang terlihat sama dengan yang ada di foto," gumamnya pelan.
"Hahhh,,, aku harus mencari lebih jauh lagi," ucap Nayla memberi semangat pada diri sendiri.
Dengan harapan akan mendapatkan sesuatu, Nayla kembali menelusuri jalan dan berhenti di tiap gang yang menjadi kemungkinan orang yang di carinya berada.
Namun, semua berakhir nihil. Nayla kembali ke apartemennya ketika hari telah sepenuhnya gelap. Menjatuhkan diri di sofa dan menutupi wajah dengan tangannya, Nayla menghela nafas panjang.
Wajahnya terlihat lelah dan kurang tidur. Namun, hal itu tidak menghentikannya untuk terus mencari tau keberadaan orang yang di carinya.
Dering ponselnya mengalihkan perhatian Nayla, dengan gerak cepat Nayla mengeluarkan ponselnya dan menerima panggilan telepon yang masuk.
"Bagaimana?" sosor Nayla begitu menempelkan ponsel di telinganya.
"Aku mendapatkannya, kamu akan terkejut dengan hasilnya. Aku sudah mengirim rekamannya ke E-mail milikmu," sambut wanita yang ada di seberang telepon.
"Thank God,,,! Terima kasih, ****. Kamu sudah mau membantuku. Sesuai janjiku, aku akan menepatinya," sambut Nayla.
"Tidak perlu," tukasnya.
"Tapi bukankah itu yang kamu mau?" tanya Nayla tak mengerti.
"Bukan itu yang aku mau sebenarnya," ungkapnya.
"Lalu,,?" tanya Nayla lagi.
"Erhm,,,," gumamnya berubah canggung. " Aku hanya ingin membantumu, apakah itu salah?" jawabnya canggung.
"Tidak, tapi kenapa?" tanya Nayla lagi.
"Aku,,, ingin,,,ber,,,te-man denganmu," jawabnya terbata. "Apakah itu berlebihan?" ucapnya gugup.
"Bukankah kita memang berteman?" Nayla balas bertanya.
"Tapi kan_,,,"
"Aku selalu menganggapmu teman, sejak awal hingga saat ini aku menganggapmu teman," potong Nayla.
"Terima kasih, Nay. Itu sudah lebih dari cukup. Aku akan terus membantumu sebisaku. Hubungi aku kapanpun kamu memerlukan sesuatu. Sekarang lebih baik kamu cek dulu rekamannya, semoga itu bisa membantumu," tuturnya penuh perhatian.
"Baiklah, sekali lagi terima kasih," ucap Nayla sebelum mengakhiri teleponnya.
Nayla bergegas beranjak dari duduknya menuju ruang kerja pribadinya dan menyalakan komputernya.
Membuka E-mail dan mulai memutar rekaman yang dikirimkan wanita itu padanya.
"Tidak mungkin," desis Nayla menutupi mulutnya.
Nayla terkejut dengan rekaman yang baru saja di lihatnya. Merasa tidak percaya, Nayla kembali mengulang rekamannya dan memperlihatkan hal yang sama.
Seseorang yang di kenalnya, terlihat jelas di rekaman itu datang menghampiri tiga pria yang tengah duduk di jalan masuk gang dan memberikan sebuah amplop coklat kepada mereka.
Tak lama mereka saling menjabat tangan dan orang yang di kenal Nayla pergi begitu saja. Tiga pria itu adalah orang yang terfoto bersamanya.
"Jadi, mereka memang benar berkerja sama? Tapi, kenapa dia juga berada di sana?" tanya Nayla pada diri sendiri.
"Tidak,, Tidak,, aku tidak boleh berasumsi sendiri dan mengambil penilaian salah. Dia tidak mungkin menjadi dalang di balik semua ini," sangkal Nayla.
"Aku harus mencari bukti, pasti bukan dia, tidak mungkin dia," sambungnya.
Rekaman tanpa suara yang di dapatnya menjadi alasan Nayla terus menyangkal apa yang di lihatnya.
...****************...
__ADS_1
Pada malam berikutnya, Nayla kembali menelusuri jalan yang terekam di rekaman yang telh di lihatnya. Dan benar saja, orang-orang itu berada di sana.
Nayla mimindai tempat itu, melihat tiap sudut dimana kemungkinan ada sebuah celah yang dapat membantunya untuk kabur jika di perlukan.
Setelah beberapa lama di sana, Nayla pergi meninggalkan tempat itu dengan sebuah rencana dalam pikirannya.
"Aku akan kembali lagi besok malam. Aku yakin mereka akan ada di sini lagi besok malam," gumam Nayla.
Nayla kembali ke apartemennya untuk beristirahat sejenak. Mengistirahatkan tubuhnya yang tidak bisa tidur selama empat hari terakhir.
Pada keesokan harinya, Nayla sudah bersiap pergi sejak hari masih siang. Mematut diri di depan cermin, Nayla merapikan rambutnya dan mengikatnya jadi satu ke belakang.
Celana denim dan atasan tanpa lengan di tutupi dengan cardi panjang, Nayla tersenyum tipis di depan cermin melihat bayangannya sendiri.
Nayla pun bergegas meninggalkan apartemennya menuju mobilnya berada. Dengan pelan menjalankan mobilnya kearah gedung dimana Rory tinggal.
Nayla berhenti di depan toko bunga yang terletak tak jauh dari tempat tinggal Rory, kemudian melangkah masuk.
"Selamat siang, nona," sapa penjaga toko tersenyum ramah.
"Penampilan anda berbeda sekali dari biasanya," sanjungnya.
"Apakah aku terlihat aneh?" tanya Nayla tersenyum.
"Sama sekali tidak, nona. Anda tetap cantik seperti biasa, namun hari ini pakaian anda terlihat lebih santai. Namun wajah anda terlihat lelah, apakah anda baik-baik saja?" tegur penjaga toko.
"Aku baik-baik saja, hanya kurang tidur," sambut Nayla tersenyum.
"Apakah masih seperti biasa, nona?" tanya penjaga toko.
"Ya, yang seperti biasa saja," jawab Nayla.
"Baik, akan saya siapkan bunganya, mohon tunggu sebentar," pinta penjaga toko.
Nayla mengangguk dan menunggu di depan toko. Matanya tak pernah bosan memandangi bunga-bunga segar yang mekar dari toko itu.
"Ini dia, bunga anda" suara penjaga toko kembali terdengar.
Nayla menerima buket besar bunga Anyelir dan Amarilis merah yang dirangkai dengan indah.
Penjaga toko itu mengangguk dan tersenyum ramah.
Tanpa Nayla sadari, sepasang mata telah memperhatikannya dari balik mobil yang dia kendarai dari saat Nayla memasuki toko bunga dengan tatapan kaget.
"Apa yang sedang di lakukan Nyala disini? Apakah dia akan menemui Rory? Tapi, Nayla mengatakan tidak akan menemui Rory sebelum menemukan pelakunyakan?" gumamnya.
Pria yang tidak lain adalah Thomas secara tidak sengaja melihat Nayla ketika dia memasuki toko bunga yang ada di dekat gedung dimana mereka tinggal.
"Aku selalu penasaran, kenapa Nayla suka sekali membeli bunga disana. Dan dia juga membeli bunga yang sama lagi ketika aku melihatnya waktu itu," gumamnya lagi.
Thomas segera mengikuti Nayla saat mlihat mobil Nayla mulai berjalan.
Nayla sama sekali tidak berbelok saat gedung tempat Rory berada ada di depannya. Nayla justru menambah kecepatan saat melintasi depan gedung.
Thomas terus mengikuti Nayla selama dua puluh menit hingga saat mobil Nayla melambat memasuki area parkir pemakaman umum. Thomas tercengang saat melihat Nayla masuk ke pemakanan.
Thomas segera keluar dan mengikuti Nayla diam-diam. Hatinya seolah di remas ketika melihat Nayla berlutut di depan sebuah pusara dengan batu nisan bertuliskan nama seseorang.
'Aku hampir menilai dia buruk hanya karena melihat dia membeli bunga. Jadi dia selalu membeli bunga untuk ini?' batin Thomas.
Thomas berdiri dibalik pohon yang berada di dekat dimana Nayla berada. Samar-samar, suara Nayla terdengar pelan di telinganya namun cukup jelas baginya.
"Sepertinya kakak baik-baik saja selama aku tidak datang. Ada yang meletakkan bunga lagi disini selain aku," ucap Nayla tersenyum.
"Oh ya, bukankah aku menepati janjiku? Aku tidak lagi menangis, kak Nick bisa melihatnya kan?" tanya Nayla.
Nayla meletakkan bungga itu bersbelahan dengan bunga yang sudah ada disana entah siapa yang meletakkannya.
"Jika aku mengatakan, aku ingin bersama kakak seperti dulu, apakah kakak akan marah padaku? terkadang aku merasa lelah, tapi aku juga tidak bisa mengingkari janjiku pada kakak," ucap Nayla.
" Tapi, sekarang berbeda, janjiku sudah terpenuhi, dan jika semua ini selesai, aku ingin bersama kak Nick seperti dulu," sambungnya.
__ADS_1
"Aku pasti akan membersihkan namanya, membalik keadaan dan menghentikan semua tuduhan itu. Termasuk tuduhan pada Chris. Jika aku berhasil melakukannya, kakak akan mengajakku kan?" tekad Nayla.
"Aku tau kok, aku sudah menceritakan tentang banyak hal tentangnya pada kakak, tapi entah kenapa, kali ini aku benar-benar lelah. Satu hal yang aku janjikan pada kakak sekarang adalah aku tidak akan lari, aku akan menyelesaikan masalah ini sendiri," terang Nayla.
Nayla tersenyum getir, matanya beralih pada gelang yang ada di pergelangan tangannya, gelang yang tidak pernah di lepaskan olehnya.
"Apakah kakak tau? Aku pernah hampir kehilangan gelang ini." terang Nayla mengangkat tangan dan mengerakkan gelangnya.
"Tapi, dia membantuku mendapatkannya kembali. Saat aku kehilangan gelang ini, aku selalu merasa kakak benar-benar pergi dariku. Dan itu sungguh menakutkan, jadi tolong jangan pergi meninggalkanku lagi," suara Nayla mulai bergetar.
"Aku sangat merindukan kakak," ucap Nayla lagi.
Nayla mengerjapkan mata menahan air matanya. Tatapannya terus tertuju pada pusara di depannya. Setelah beberapa saat, Nayla menghembuskan nafasnya dan berdiri.
Beranjak dari tempatnya tanpa menyadari Thomas yang berdiri di balik pohon telah mendengar semua keluhan hatinya.
Hatinya tersentuh dengan sikapnya, bahkan di situasi yang sedang di hadapinya, Nayla masih sempat menceritakan tentang Rory.
'Dia yang selama ini terlihat kuat, selalu tersenyum dan terlihat seperti tidak peduli dengan sekitarnya, ternyata menyimpan kepedihan yang cukup dalam,' batin Thomas.
Thomas keluar dari tempat persembunyiannya setelah Nayla tidak lagi terlihat. Kakinya melangkah mendekati pusara yang tadi di hampiri Nayla.
"Nicholas L," gumam Thomas membaca nama yang tertera di batu nisan.
"Kapan aku pernah mendengar nama ini ya?" gumamnya lagi.
Thomas menutup matanya dan mencoba mengingat nama yang terdengar tidak asing baginya.
"Apakah salah satu dari mereka ada yang tau nama ini?" gumamnya lagi.
Thomas mengelengkan kepalanya dan mengalihkan pandangannya kearah dimana Nayla menghilang.
"Sepertinya dia sudah pergi, aku juga harus pergi dari sini sekarang," ucap Thomas pada diri sendiri.
Thomas beranjak dari tempatnya dan tetap melangkah dengan hati-hati. Terus memastikan Nayla telah pergi dan tidak melihatnya.
...****************...
Note
Disini author masih sengaja ya menutupi siapa yang membantu Nayla dan siapa yang menganggu mereka.
yang mau nebak-nebak juga boleh, :)
Nama-nama tokoh dalam cerita:
-Nayla
-Rory
-Kevin (kakak Rory)
-Thomas (sahabat Kevin)
-Nathan daan Ethan ( si kembar)
-Martin (Manager grup FM sekaligus sahabat)
-Adrian dan Rose ( Asisten Nayla)
-Vania
-Alisha
-Val
-Lucie
.......
.......
__ADS_1
.......
Yak,,, siapa yang ingat siapa lagi tokoh yang belum masuk