
Martin menghentikan langkahnya didepan ruangan dimana Nayla dirawat. Tangannya terulur membuka pintu, namun terhenti ketika dirinya mendengar Nayla menyebut namanya.
"Berbaikanlah dengan Martin," pinta Nayla.
Martin membelalakan matanya. Tubuhnya membeku ditempat, pintu yang telah terbuka sedikit, cukup baginya untuk mendengar apa yang Nayla ucapkan.
'*Bagaimana dia bisa menyadarinya begitu cepat? Dan kenapa dia justru memikirkanku? Setelah apa yang telah aku lakukan padanya, terlepas bagaimana sikapku padanya, bagaimana bisa? Bagaimana bisa dia justru masih peduli padaku? Aku tau, aku pantas mendapatkan hukumannya, tapi kenapa kau menghukumku seberat ini, Nay*la?' ratap hati Martin.
"Kamu akan melakukannya kan?" tanya Nayla lagi.
Rory membatu, tangannya tiba-tiba terkepal menahan amarah. Dengan lembut Nayla melepaskan kepalan tangan Rory dan menyelipkan tangannya sendiri kedalamnya.
Rory tersentak saat merasakan tangan Nayla, seolah menyadarkannya dan berusaha menutupinya, ia tersenyum kaku sebelum berkata.
"Apa maksudmu, Nay?" tanya Rory.
"Pertanyaanmu justru terdengar kamu menggakui apa yang aku katakan, Roy," sambut Nayla.
"Kamu marah padanya, itu bukan masalah. Dan itu juga hal yang pasti akan dilakukan oleh semua orang. Tapi, jangan terlalu lama marah padanya. Dia memiliki alasan atas sikap yang dia tunjukan padamu," tutur Nayla.
"Tapi dia menempatkanmu dalam bahaya, Nay," sergah Rory.
"Bukan dia, tapi akulah yang masuk kedalamnya atas kemauanku sendiri," sambut Nayla lembut.
"Dan dia yang mendorongmu untuk melakukan itu," dengus Rory.
Nayla mengelengkan kepalanya, lalu tersenyum.
"Alasan terbesarku melakukannya adalah aku tidak bisa membiarkanmu dan orang-orang yang tidak tau apa-apa terlibat dalam hal yang bisa menghancurkan hidup mereka. Terutama kamu, Roy," ungkap Nayla.
"Tetap saja, sikapnya tidak bisa dibenarkan," ucap Rory kesal. " Kamu yang berada disini sekarang juga karena dia," dengus Rory.
"Roy,,," Nayla meremas lembut tangan Rory. " Ada masanya hal yang tidak kamu ingikan terjadi, justru terjadi dengan cepat. Dan kamu tidak bisa menghindarinya. Saat hal itu terjadi, kamu tidak bisa menyalahkan orang lain sebagai penyebabnya," tutur Nayla hati-hati.
"Aku tidak menyalahkannya, tapi dia memang telah mendorongmu untuk melakukannya," sambut Rory bersikeras.
"Kalau begitu, kaulah yang lebih bersalah disini," cetus Nayla seraya melepaskan tangannya dan memalingkan wajahnya.
'Bagaimana caranya aku melunakkan sifat keras kepalanya? Aku tau dia marah untukku, tapi sikapnya juga tidak sepenuhnya dibanarkan disini. Setidaknya dari sudut pandangku,' batin Nayla.
"Karena saat aku melakukannya, aku hanya memikirkanmu, bukan yang lain, termasuk Martin," sambungnya.
"Sekarang kamu menyudutkanku?" keluh Rory menutupi wajah dengan telapak tangannya.
Nayla kembali mengarahkan pandangannya pada Rory, tangannya terulur menurunkan tangan Rory dari wajahnya dan tersenyum hangat.
"Bukankah itu terasa tidak nyaman?" tanya Nayla menaikan alisnya.
"Bayangkan jika kamu terus merasa seperti itu dalam waktu lama? Itu juga yang pasti dirasakan Martin jika berhadapan denganmu," tutur Nayla.
Rory termenung, merenungi apa yang dikatakan Nayla memang benar adanya. Rory hanya bersikap acuh pada Martin sejak Kevin memukulnya saat itu, dan dirinya terus menyalahkan Martin. Bahkan kini dirinya sangat jarang berbicara dengan Kevin.
__ADS_1
"Dia sangat peduli padamu, Roy. Aku bisa melihatnya. Hanya saja, dia memiliki caranya sendiri ketika menunjukan perhatiannya," terang Nayla.
"Kamu tidak tau apapun tentangnya, Nay," tukas Rory.
"Kalau begitu, katakan padaku,!" pinta Nayla. "Kapan dia pernah bersikap dan bertindak hanya untuk kepentingan pribadinya?" tanya Nayla menatap lekat mata Rory.
Martin tercekat dari balik pintu mendengar apa yang baru saja Nayla ucapkan. Tanpa sadar, air matanya menetes.
'Apakah dia yang selama ini aku ragukan? Dasar bodoh!!! Bagiamana bisa mataku justru tertutup oleh kekhawatiran dan berasumsi dia yang memiliki hati murni akan menyakiti Rory,' rutuk Martin dalam hati.
Rory terdiam tidak bisa menjawab apa yang Nayla tanyakan. Selama ini dirinya juga tau Martin tidak pernah memprioritaskan dirinya sendiri dan memberikan perhatian penuh untuk tim.
Terdiam beberapa saat, Rory menarik nafas dalam dan menghembuskannya perlahan. Menyerah untuk menyembunyikan semuanya dari Nyala.
"Kamu berkata seolah telah mengenal Martin dalam waktu lama," desah Rory.
"Karena aku mengenal seseorang yang sangat mirip dengannya," sambut Nayla tersenyum.
"Bagaimana kamu bisa menyadarinya?" tanya Rory.
"Kamu tau? Martin sangat payah untuk menyembunyikan apa yang dia rasakan, dan kamu terlalu ceroboh menyembunyikan emosimu," terang Nayla tersenyum konyol.
"Nay,,,!" protes Rory.
"Hei,,, kamu bertanya dan aku hanya menjawab," sambut Nayla membela diri, lalu terkekeh pelan.
"Jangan tertawa,!" sungut Rory.
"Menyebalkan,!!!" gerutu Rory. " Aku tidak bisa melakukan apapun karena kondisimu," sambugnya.
"Haruskah aku bersyukur karena itu?" sambut Nayla terkekeh lagi.
"Ugh,,," Nayla berhenti tertawa dan merintih pelan.
"Dimana yang sakit?" Rory bangun dari duduknya dan meletakkan mangkuk dimeja.
"Tidak,, Tidak apa-apa. Badanku terasa kaku sakali, apakah aku diperbolehkan jalan-jalan ditaman?" tanya Nayla mengerjapkan matanya mengoda Rory.
"Tidak,!" tegas Rory. "Kamu harus tetap disini hingga aku kembali," sambungnya.
"Iya,, iya,, aku tau. Aku hanya bercanda," jawab Nayla tersenyum geli.
"Jangan tertawa lagi! Aku serius," sambut Rory melipat tangannya.
"Lihat kan, kamu sekarang menjadi lebih pemarah dari sebelumnya," goda Nayla lagi.
"Nayyy,,,,,,!!!" Rory mengeram gemas.
"Iya,,, Iya,, ampun,, aku berhenti,," sambut Nayla menutupi mulutnya menahan tawa.
Rory tersenyum lembut dan mendekatkan wajahnya. Meletakkan keningnya di kening Nayla dengan hati-hati, sembari menjaga tubuhnya agar tidak menekan Nayla.
__ADS_1
"Kamu harus cepat sembuh, Nay. Aku selalu merindukan suara tawamu," bisik Rory.
"Aku mencintaimu, Ma Chéri. Sangat mencintaimu," ungkap Rory mencium kening Nayla.
"Akupun mencintaimu, Roy,"balas Nayla tersenyum.
Rory tersenyum lembut, mengusap wajah Nayla pelan tepat ketika suara ketukan pintu terdengar, memperlihatkan Martin ada dibalik pintu ketika pintu itu terbuka.
"Ah,,, maaf. Aku meninggalkan barangku," ucap Martin seraya masuk dan berjalan menuju meja.
"Pergilah, ini sudah waktunya bagimu untuk pergi kan? Jangan biarkan mereka menunggumu terlalu lama," bujuk Nayla.
"Tapi, kamu belum menghabiskan makananmu, Nay," dalih Rory.
"Kita masih memiliki sedikit waktu, jadi Rory masih bisa disini sedikit lagi," sela Martin setelah mengambil tablet dari meja.
"Akan lebih baik jika kalian tiba sebelum waktu yang ditentukan, bukankah itu akan menaikan image kalian?" sambut Nayla tersenyum hangat pada Martin.
"Kamu harus menghabiskan makananmu dulu, setelah itu aku akan berangkat," sela Rory beralasan.
"Oh,, ayolah,, aku sudah makan cukup banyak, dan kalau itu tak cukup, aku akan menghabiskannya nanti," sambut Nayla.
"Tapi_,,,"
"Aku akan baik-baik saja, aku janji," potong Nayla. "Pergilah bersama Martin," pinta Nayla.
"Kamu sudah janji padaku akan melakukan apa yang aku minta kan?" bisik Nayla.
Rory mendesah panjang dan mengangguk kalah. Tidak bisa lagi menolak apa yang diinginkan Nayla.
"Aku pergi bersamamu, Martin, tunggu sebentar," ucap Rory tanpa melihat Martin.
"Aku akan tunggu di depan," jawab Martin.
Rory mengangguk dan membiarkan Martin keluar, menunggunya diluar. Setelah pintu tertutup, Rory kembali mengarahkan pandangannya pada Nayla.
"Aku pergi dulu,ponselmu ada dimeja. Hubungi aku kapanpun kamu mau. Apakah ada atau tidak ada sesuatu yang terjadi sekalipun, kamu bisa menghubungiku," tutur Rory.
"Aku mengerti," jawab Nayla.
"Kevin akan kembali siang nanti untuk menjagamu," papar Rory.
Nayla mengangguk pelan. Rory membungkuk dan kembali mencium kening Nayla sebelum pergi.
"Tetaplah untuk berhati-hati, Roy," harap Nayla.
"Pasti," jawab Rory tersenyum.
Rory melangkah meninggalkan Nayla. Ketika mencapai pintu, Rory kembali manatap Nayla yang masih melihatanya dengan senyum yang tak lepas dari bibirnya. Nayla melambaikan tangannya dan disambut Rory yang juga melambai. Pintupun tertutup.
Rory melangkah sejajar dengan Martin menuju tempat dimana teman-teman menunggu dengan Campervan mereka.
__ADS_1
...****************...