
Hujan turun sangat lebat saat waktu menunjukan tepat tengah malam.Seorang gadis kecil tengah menunggu di halte seorang diri.Tangannya yang kecil memeluk tubuhnya sendiri ketika angin berhembus kencang,tubuhnya mengigil.Tak jauh dari tempat dia berdiri,seorang pria bertopi dengan payung ditangannya juga sepatu boot yang berlumuran tanah dan pakaian yang setengah basah.Pria itu mendekati gadis itu perlahan,ketika gadis kecil itu menoleh saat pria itu semakin dekat wajah nya berubah cerah dan berlari kearah pria itu dengan senyum cerianya.
"Kakak."seru gadis itu langsung memeluknya.
"Hei hei..pakaian kakak basah Louise,nanti kamu ikut basah."kata pria itu sambil menjauhkan tubuh gadis kecil darinya.
"Kan cuma air,Kak Nick berlebihan ah."katanya manja tidak mau melepaskan pelukannya.
"Itu tetap bisa membuatmu demam,"kata Nick menjauhkan tubuh adiknya dari tubuhnya dengan lembut.Tangannya terangkat lalu meletakkan dua jarinya di dahi adiknya dan mendorong pelan"Dan ini juga sudah larut malam,tak baik untukmu kalau basah karena air hujan."kata Nick mengusap kepala adiknya.
"Yuk,kita pulang."ajak Nick mengengam tangan adiknya dan mengarahkan payung kearahnya untuk meghindari agar adiknya tidak terkena hujan.Mereka pun berjalan meningalkan halte.
"Maaf ya Louise,karena kakak tiba tiba lembur membuatmu ikut pulang selarut ini."kata Nick sedih.
"Kak Nick kan ngak salah,kenapa minta maaf ke Louise sih.Hari ini Louise senang kok bisa membaca lebih lama di perpustakaan."kata Louise sambil tertawa.Nick membalasnya dengan senyum lembut.
"Kakak tau ngak,bibi perpustakaan bilang kalau dongeng yang Louise buat baguss banget lho,terus katanya bisa dikirimkan ke percetakan majalah."kata Louise bersemangat.
"Waahh....Kalau begitu adik kakak hebat dong."puji Nick.
"Siapa dulu kakaknya, kak Nicholas."jawab Louise melihat kakaknya dengan senyum bangga.
"Eehh,kok kakak sih,kan kamu yang menulis dongengnya."protes Nick.
"Aku kan tetap adik kak Nick."jawab Louise.
'Iya deh,,"kata Nick tersenyum.
"Kak.."panggil Louise.
"Mungkin ngak sih kalau Louise nulis dongeng terus dijadikan buku seperti diperpustakaan?"tanya Louise polos.
"Tentu saja bisa.Kalau kamu bisa terus menulis dan menulis dengan baik,kamu bisa menjadi penulis terkenal."kata Nick memberi semangat pada adiknya.
"Sungguh?"tanya Louise menghentikan langkahnya dan menatap wajah kakaknya."Apa dengan itu kita jadi bisa memiliki banyak uang?"tanyanya lagi."jadi kak Nick ngak perlu bekerja sampai malam lagi,dan kak Nick bisa mengajakku jalan jalan."lanjutnya.
Nick menatap wajah adiknya dengan senyum lembut yang tak lepas dari bibirnya lalu berlutut didepan adiknya,mengusap kepalanya pelan.
"Kamu itu adik kakak yang terhebat,kamu pasti bisa menjadi penulis terkenal,tentu saja kamu juga akan banyak uang,bisa jalan jalan kemanapun kamu mau.Tapi kakak tetap harus bekerja untukmu"kata Nick lembut lalu menyentuh hidung Louise dengan hidungnya.
"Saat kamu terkenal nanti,kakak akan bilang kesemua orang bahwa kamu Nayrela Louise adalah adik kebanggan kakak."kata Nick menepuk dadanya sendiri,membuat Louise akhirnya tertawa.
"Ngak mau ah,Louise ngak mau pakai nama Louise sendiri."kata Louise setelah tawanya mereda.
"Lho..kenapa?nanti kamu ngak dikenal dong?"tanya Nick binggung.
"Louise mau pakai nama kak Nick."jawabnya,.
"kok nama kakak?"tanya Nick menaikan alisnya."terus kalau orang orang ngak tau kamu gimana?"tanya Nick.
"yaa tidak apa apa kan,yang orang orang tau bukunya aja.kalau orangnya kan kak Nick."jawabnya sambil terkikik.
"Nanti ngak ada yang minta tanda tangan kamu dong?"tanya Nick lagi.
"Kan ada kakak."jawabnya tersenyum manja.
"Kakak kalah deh."kata Nick mengangkat tangannya."Tapi rasanya tetap ngak cocok kan?"tanya Nick lagi.
"Eemmm..."gumamnya sambil meletakkan telunjuknya didagu dan matanya melihat keatas."Kalau digabungin gimana?"tanyanya pada akhirnya.
__ADS_1
"Digabungin gimana?"tanya Nick mengerutkan kening.
"Nama kakak dan Louise"jawabnya.
"Memangnya kamu ada ide.?"tanya Nick.
"Eemmm"gumamnya lagi sambil berfiikir.
"Udah ah.kita pulang dulu,"kata Nick seraya berdiri."Yukk.."ajak Nick pada adiknya.
Merekapun melanjutkan langkah mereka.Beberapa menit kemudian Louise membuka suaranya
"Kalau Nicloes gimana menurut kak Nick?"tanyanya tiba tiba.
"Susah menyebutkannya dong?"kata Nick membuat adiknya cemberut.Nick hanya tertawa melihatnya.
"Tapi kakak jadi terfikir satu nama yang bisa digunakan laki laki ataupun perempuan."kata Nick membuat Louise menatap wajah kakaknya penasaran.
"NYLOES"ucap Nick menatap adiknya tersenyum.
"Kenapa Nyloes?itu kan sama aja nama aku kakak.."gerutunya cemberut.
"Kakak merubah dari nama Nicholas dan Louise,ternyata nama kita unik ya?"kata Nick tersenyum lebar.
"Eehhh tunggu Louise."kata Nick menarik tangan adiknya saat hendak menyeberang jalan."Masih lampu merah."kata Nick.
"Kan ngak ada yang liat,ini juga sepi."jawabnya.
"Kakak kan liat.Dan itu juga tetap berbahaya."jawab Nick pura pura marah.
"Iya iya.kak Nick serem tau kalau marah.gimana mau dapat pacar kalau kakak serem begitu."jawabnya cemberut.
"Baca buku dong,Louise kan deket sama temen bibi.temen bibi cantik banget.terus punya pacar ganteng.Kak Nick kan lebih ganteng,tapi kak Nick yang ngak punya pacar."kata Louise panjang lebar.
"Udah ah,kamu ini ada ada aja.kakak ngak mau cari pacar,kalau kakak nanti ngak bisa dapat pacar kan ada kamu,jadi kamu aja yang jadi pacar kakak.mau kan?"tanya Nick mengoda adiknya.
"Ngak mau,,"jawabnya sambil menjulurkan lidah lalu tertawa bersama.
Ketika lampu jalan berubah hijau,mereka melanjutkan perjalanan mereka lagi.Bertepatan dengan itu sebuah mobil melaju kencang kearah mereka tanpa terkendali.saat Nick menyadarinya,sepersekian detik kemudian dia sebisa mungkin mendorong adiknya ketepi jalan agar aman.Bertepatan dengan tubuh adiknya yang terlempar kepinggir jalan,mobil itu menghantam tubuh Nick dan terlempar jauh dan mendarat ditanah dengan keras.sedangkan mobil itu pergi begitu saja meninggalkan mereka berdua.
Louise berusaha bangun dengan rasa sakit disekujur tubuhnya.Kakinya menghantam pembatas jalan membuat dia meringis kesakitan saat berjalan.Dengan berjalan pinjang,dia mendekati tubuh kakaknya yang tidak bergerak.Berusaha keras agar mencapai kakaknya,dia pun mulai memanggil kakaknya,berharap agar kakaknya membantu dia berjalan.
"Kakak.."panggilnya dengan suara bergetar.
"kak Nick bangun dong,kaki Louise sakit banget,ini ngak bohong kok."katanya lagi hampir menangis.Melihat Nick tidak merespon,dia hanya berusaha agar lebih cepat mencapai tubuh kakaknya terbaring.
Ketika dia akhirnya berhasil sampai di samping tubuh Nick,air mata nya mengalir deras ketika melihat Nick bersimbah darah.genangan merah mengelilingi tubuh Nick dibawah guyuran hujan.Jatuh terduduk dengan terisak,dia menguncang tubuh Nick,dan tak ada jawaban apapun.
"kakak...kak Nick bangun."katanya terus mengoyangkan tubuh Nick.
"Tooloongg...siapa saja..kumohon..."tangisnya semakin menjadi.
"Aku mohon... Siapa saja...tolong kakakku.."katanya sambil mengangkat kepala Nick dipangkuannya dan memeluknya.
"Aku moh..honn..siapa saja..Aku mohon...Tolong kakakku."isak tangisnya menjadi tidak terkontrol.tak ada siapapun yang datang,suara nya tengelam oleh suara hujan yang turun semakin deras.
"Kakak..bangun..aku..mulai takut,..kakak..."kata katanya terhenti ketika pipinya merasakan tangan seseorang,ketika membuka mata.dia melihat Nick meletakkan tangan di pipinya,tersenyum lemah.
"Maafin kakak Louise,sepertinya kakak ngak bisa antar Louise pulang."kata Nick lemah.
__ADS_1
Louise mengelengkan kepalanya dan menyentuh tangan Nick yang berada dipipinya.
"Kita ke rumah sakit.kakak bisa diobatin disana."kata Louise parau.Namun Nick hanya tersenyum.sebuah senyuman lembut dan penuh kasih yang biasa dia tunjukan pada adik tersayangnya.
"Louise mau maafin kakak kan."tanya Nick mulai terngah engah.Louise hanya mengangguk pelan.
"terima kasih Louise,kamu adik kakak yang terbaik."kata Nick tersenyum lagi.Sedetik kemudian tangannya terkulai dan tak bergerak lagi.
"Kakak...."
"Kakak..."
"KAKAKKKKK...."
Nayla berteriak dan terbanguun dari tidurnya.Nafasnya terengah engah.Air mata mengalir deras dari matanya membasahi wajahnya.Nayla melihat sekeliling dan menyadari dirinya tertidur dimeja ruang kerjanya.Kompuer didepannya masih dalam keadaan menyala.Nayla kemudian mengusap air matanya dan mengatur nafas,setelah merasa tenang,dia pun keluar dari ruang kerjanya menuju dapur untuk mengambil air minum.
Nayla duduk dikursi meja makan yang berdekatan dengan meja caunter dapur lalu meneguk air minumnya beberapa kali.Gelas diletakan di depan tangannya yang berada diatas meja,sedangkan satu tangannya lagi menopang dahinya dengan siku berada dimeja.Air matanya kembali mengalir.
"Kakak...kak Nick aku sangat merindukanmu."ucapnya dengan suara lirih."Beberapa tahun sudah berlalu,tapi aku semakin mmerindukanmu.Apakah kakak bisa mendengarku?"lanjutnya disertai isak tangis.
Nayla menutupi wajahnya dengan kedua telapak tangannya,Airmatanya mengalir semakin deras membasahi pipinya.Suara tangisnya pun terdengar memecah keheningan.Setelah beberapa saat,Nayla mengangkat wajahnya dan mengeleng pelan,tangannya mengusap air mata yang mengalir dan berjalan menuju ruang kerjanya.Matanya tetuju pada bingkai foto yang dia letakan diatas meja kerjanya .Setelah duduk,Nayla meraih foto itu dan mengusap pelan lalu tersenyum.Sebuah foto Nick bersamanya dimana Nayla duduk diatas bahunya dan Nick merentangkan tangan Nayla seolah akan terbang.Senyum ceria terlihat jelas disana.Tangan kiri Nayla terpasang sebuah gelang dengan batu batu kecil warna warni dan mata gelang berbentuk bintang yang terlalu besar dipergelangan tangannya.
"Kakak tau ngak,gelang ini sekarang sangat pas dipergelangan tanganku,tidak kebesaran lagi seperti saat kak Nick membelikan untukku di taman hiburan."kata Nayla pelan.
"Dan...Nama yang kakak pilih juga dikenal banyak orang.mereka juga menyukainya.Kak Nick suka juga kan?"kata Nayla seolah berbicara didepan kakaknya.
"Besok aku akan mengunjungi kakak lagi setelah menemui Rose.Kakak ngak marah kan kalau aku mendahulukan Rose?"kata Nayla lalu tersenyum lagi.Perlahan,Nayla meletakkan foto itu kembali ketempatnya dan melihat jam yang berada disana.
"Sepertinya bukan besok deh,tapi nanti.sekarang jam 3pagi."kata Nayla tersenyum kecil."Tunggu aku ya kak,Kak Nick pasti merindukan aku juga kan?"kata Nayla lagi tersenyum kearah foto Nick.
Nayla pun mengalihkan perhatiannya kelayar komputer miliknya dan mulai mengetik untuk menghabiskan waktu sampai saat jam menunjukan pukul 6 pagi dan berencana keluar untuk lari pagi.
...****************...
"Heyy...Rory,,mau kemana kau?"tanya Thomas setengah berteriak melihat Rory berlari kecil hendak meninggalkan gedung mereka.
"Lari pagi sebentar untuk menjernihkan kepalaku."jawab Rory lari ditempat untuk menjawab pertanyaan Thomas.
"Bye.."kata Rory lalu berbalik melambaikan tangannya seraya menutupi wajahnya denga masker dan menutup kepalanya dengan hudie jaket yang dia pakai.
"Heyy..jangan lupa jam 9 kita harus pergi."kata Thomas lagi.
Rory tetap berlari namun tangan kanannya terangkat keatas sebagai jawaban kepada Thomas,sedangkan Thomas hanya mengelengkan kepalanya.
Rory berlari kecil menyusuri jalanan kota yang masih tampak sepi.Entah sudah berpa lama berlari,Rory mulai merasa terengah engah dan memperlambat larinya hingga ketika dia melihat taman,Rory memutuskan untuk berrjalan disekitar taman sambil merenggangkan tagannya dan menarik nafas panjang.
Perlahan Rory mengeluarkan ponselnya dengan earphone terhubung ditelinganya dan memutuskan duduk sebentar ditaman sebelum pulang,setelah beberapa menit,Rory meninggalkan taman untuk pulang.
Aktivitas berjalan seperti biasa,Rory dan teman temannya bersiap siap untuk pergi.
"Bisakah kita ke cafe sebentar?"tanya Rory ketika sudah memasuki mobil.Kevin,Thomas,Nathan dan Ethan telah duduk dikursinya masing masing.
Mereka pun mengaggukkan kepala mereka tanpa menjawab.Setelah memberi tanda pada sopir untuk berhenti di cafe sebelum tujuan awal,Rory duduk bersandar dan mengenakan earphonenya lalu memejamkan matanya.
Keheningan masih menyelimuti mereka hingga mereka memasuki area cafe yang hampir kosong setelah segerombolan orang keluar dan seorang wanita masuk setelah orang terakhir keluar dari cafe.Rory terkejut saat melihat wanita itu dari belakang,naun berusaha mengendalikan sikapnya.Merekapun masuk tepat setelah wanita itu masuk.
"Apakah itu Naya?"bisik hati Rory tak percaya dan baru menyadari cafe yang dia masuki ternyata cafe yang dekat dengan kantor dimana Nayla bekerja.Nayla pun duduk dikursi kosong dikuti mereka yang duduk tepat dibelakangnya.
Dua pelayan menghampiri meja mereka dengan senyum ramah.
__ADS_1