LOVE OF MY LIFE

LOVE OF MY LIFE
46.LDR (Ketahuan Sakit... Lagi)


__ADS_3

~Dukung karyaku dengan komen,like dan vote yaaa..dukungan dari kalian sangatlah berharga~


### 2 bulan pun berlalu.....


DDRTT,,,,


DDRTT,,,,


DDRTT,,,,


Ponsel Nayla bergetar untuk kesekian kalinya. Namun, Nayla hanya meletakkan kepalanya dimeja kerja dengan mata terpejam.


Beberapa pesan masuk dan panggilan tak terjawab muncul di layar ponselnya yang baru saja berkedip.Tak lama kemudian, ponselnya berdering beberapa kali dan di susul dengan dering telepon yang ada di apartmennya. Namun masih belum cukup untuk membangunkan Nayla yang memejamkan mata.


Di sisi lain pada waktu yang sama, Adrian berulang kali menghubungi Nayla dengan cemas, namun tidak kunjung di angkat.Nayla telah mengirim naskahnya ke E-mail Adrian beberapa menit lalu, dan sekarang Nayla yang tidak bisa di hubungi membuatnya khawatir.


'Aku harus kesana. Ini tidak seperti biasanya,' batinnya.


Adrian meninggalkan pekerjaannya dan bergegas menuju apartemen Nayla dengan perasaan tidak tenang. Begitu tiba di apartemen Nayla, tanpa membuang waktu, Adrian segera menuju lantai di mana Nayla tinggal.


Membuka pintu dengan kunci cadangan yang ada di tangannya, Adrian segera menuju ruang kerja Nayla dan di kejutkan dangan keadaan Nayla yang tidak sadarkan diri dengan wajah pucat.


Adrian segera mengendong Nayla untuk membawanya ke rumah sakit setelah menyambar ponsel yang tergletak di meja dengan terburu-buru.


"Bagaimana keadaannya?" tanya Adrian pada Dokter yang baru saja memeriksa keadaan Nayla.


"Dia kelelahan, dan kekurangan asupan," jawabnya.


"Apakah belakangan ini pekerjaannya banyak?" tanya dokter itu yang tidak lain adalah Chris.


"Pekerjaan memang bertambah sejak satu bulan terakhir. Aku sudah berusaha agar bisa menangani semuanya,dan tidak membiarkan dia mengambil alih. Tapi, aku masih kalah cepat di bandingkan dengannya," sesal Adrian.


"Yaahh,,, ini tidak bisa di katakan sebagai kesalahanmu. Dia memang terlalu keras kepala. Tapi, aku penasaran dengan satu hal," ucap Chris sembari duduk di kursi panjang yang ada di depan ruang rawat Nayla.


"Apa itu?" tanya Adrian berdiri bersandar dinding di depan Chris.


"Saat dia sakit dua bulan lalu, kondisi tubuhnya terbilang cukup baik jika di bandingkan dengan waktu sebelumnya, apa penyebabnya?mungkin saja hal itu bisa membuat kondisinya sekarang membaik lebih cepat," tanya Chris.


"Aku bahkan tidak begitu menyadarinya karena dia saat itu sangat jarang ke kantor. Namun, dia memang terlihat lebih ceria dari sebelumnya," ungkap Adrian.


"Apakah kau tidak tau siapa saja yang tengah dekat dengannya?" tanya Chris.


"Sama sekali tidak, dia sama sekali tidak menceritakan apapun selain lebih sering tidak datang ke kantor," jawab Adrian.


"Kemana dia pergi?" gumam Chris.


"Aku sama sekali tidak tau tentang itu," sesal Adrian murung. "Apakah kondisinya sekarang buruk?" sambung Adrian.


"Dia akan membutuhkan waktu lebih lama dari sebelumnya untuk sadar," jawab Chris. " tapi kau bisa pulang, Adrian. Aku yang akan menjaganya," imbuhnya.


"Tapi,,,"


"Datanglah besok setelah pulang kerja, bahkan saat itu dia kemungkinan belum sadar," ucap Chris lesu.


"Seburuk itu?" pekik Adrian segera menegakkan badannya.


"Aku takut jika jawabannya adalah iya,,, Jadi, biarkan dia lebih banyak istirahat. Aku akan menghubungimu saat dia sadar," bujuk Chris.


"Baiklah, tapi aku ingin melihatnya sebelum pulang, apakah bisa ?" harap Adrian.


"Tentu, kamu bisa melihatnya. Aku tinggal dulu," ucap Chris pamit.


Adrian mengangguk dan masuk ke dalam ruang rawat Nayla setelah Chris pergi.


"Nay,,, kau bahkan menjadi lebih kurus dari sebelumnya," gumam Adrian sedih. "Dan kau memiliki keahlian membuat aku khawatir terhadapmu," sambungnya.


Adrian duduk di samping ranjang dimana Nayla terbaring lemah, meletakkan tangannya di atas tangan Nayla.


Tanpa sengaja, tangannya menyentuh gelang yang terpasang di pergelangan tangan Nayla dan memperhatikan gelang itu.


"Apakah kamu merindukannya, Nay?" gumamnya lalu mendesah pelan.


Adrian terus duduk di sana menjaga Nayla, hingga tanpa di sadarinya saat itu langit telah berubah gelap.


Suara pintu di buka mengalihkan perhatian Adrian, dan tersenyum lesu saat melihat Chris masuk tanpa jas dokternya. Hal itu menandakan Chris telah selesai dengan sift kerjanya dan akan menjaga Nayla, sementara dirinya harus pulang.


"Kamu akan mengirim pesan atau menghubungiku saat dia bangun kan, Chris?" harap Adrian.


"Itu hal yang pasti bukan?" sambut Chris tersenyum.


"Baiklah,,, aku akan pulang dan datang lagi besok," ucap Adrian.


Chris hanya mengangguk.


Adrian bangun dari duduknya dan melangkah mendekati pintu. Kepalanya menoleh untuk sesaat sebelum pergi, dan melihat Chris telah duduk di kursi yang berada di samping ranjang dengan tangan yang mengenggam tangan Nayla.

__ADS_1


' Apakah Chris mencintainya?' pikir Adrian, lalu pergi meninggalkan ruang rawat Nayla.


Sementara itu, Chris berniat memeriksa ponsel Nayla untuk mencari tau penyebab perubahan pada Nayla.Namun, gerakannya terhenti memikirkan perasaan Nayla.


'Tidak,,,Tidak,,,Tidak,,, aku tidak boleh melakukannya. Dia mungkin tidak akan marah padaku, tapi dia akan kecewa padaku, itu akan menyulitkanku untuk mendekatinya lagi,' bisik hati Chris.


Chris menggelengkan kepalanya, menghilangkan niat hatinya untuk memeriksa ponsel Nayla.


"Nay, aku sangat berharap kau kembali terbuka lagi padaku seperti dulu," ucap Chris pelan penuh harap.


Chris duduk menyandarkan punggungnya dengan kedua tangan terlipat hingga tanpa di sadarinya, dirinya terlelap hingga pagi menyapa dan menyadari Nayla masih belum sadarkan diri.


Setelah memeriksa keadaan Nayla dan memastikan kondisinya, Chris meninggalkan ruang rawat Nayla.


>>>> waktu pun berlalu.


...


...


Chris kembali ke ruang rawat Nayla ketika hari telah gelap.


"Apa yang sebenarnya terjadi padamu?" gumam Chris sedih.


"Kamu masih belum sadar dari kemarin, kumohon, jangan menakutiku seperti ini, Louise,!" pinta Chris dengan suara lirih.


"Cepatlah sadar!" harap nya sembari duduk dan mengenggam tangan Nayla.


Dengan penuh kasih, Chris mengusap wajah pucat Nayla dan menelungkupkan wajahnya di samping Nayla hingga dirinya kembali tertidur karena kelelahan setelah bekerja dan terbangun pada pagi harinya.


Dering ponsel Nayla yang berada disamping ranjangnya mengisi keheningan beberapa saat setelah Chris keluar. Seorang perawat yang kebetulan sedang memeriksa kondisi Nayla sesuai perintah Chris, memilih mengabaikan ponsel Nayla. Namun, ponsel Nayla kembali berdering lagi dan lagi. Hingga saat panggilan ke-5, suster itu memberanikan diri untuk mengangkat panggilan yang masuk.


"Oh,, Thank God,,, Apa yang membuatmu sangat lama untuk mengangkat panggilan dariku, Nay?" cecar suara pria dari ponsel Nayla. "Tidakkah kau tau itu membuatku khawatir?" sambungnya.


"Eehmm,,, maaf, pemilik ponsel ini sedang istirahat, dengan siapa saya berbicara? Akan saya sampaikan setelah dia sadar nanti," jawab Suster menghentikan pertanyaan pria di seberang telepon.


"Siapa ini?" ucapnya balik bertanya curiga.


"Saya perawat yang sedang merawat nona Nayla, apakah anda keluarga pasien?" tanya suster.


"Pasien? Dia sakit? Sakit apa? Sejak kapan? Bagaimana kondisinya?" berondong pria itu yang tidak lain adalah Rory.


"Benar, tuan. Menurut pemeriksaan, nona kelelahan, beliau di temukan pingsan dan di bawa ke rumah sakit ini dua hari lalu," jawanya.


"Benar, tuan. Namun, kondisinya sekarang telah stabil, hanya saja, pasien belum sadar," ucap suster menenangkan.


"Di rumh sakit mana dia di rawat?" tanya Rory khawatir.


"Rumah sakit xxx, maaf tuan, dengan siapa saya berbicara? Saya akan sampaikan kepada pasien saat dia sadar," tanya suster.


"Dia akan tau sendiri nanti,dan aku akan kesana secepat mungkin. Terima kasih sudah memberitahuku. Katakan saja untuk menghubungiku kembali nanti ketika dia sadar, setidaknya itu akan lebih menenagkan untuk di dengar," harap Rory.


"Baik, tuan," jawab suster.


Panggilan pun berakhir....


Suster pun meletakkan kembali ponsel Nayla pada tempatnya semula dan pergi meninggalkan ruangan di mana Nayla di rawat.


Tak berselang lama, suster kembali lagi dengan nampan berisi makanan di tangannya. Tepat saat suster itu meletakkan nampan di meja, Nayla menggerakkan badannya, matanya mulai mengerjap dan perlahan terbuka.


Nayla mengamati sekeliling dengan tatapan binggung dan mencengkram kepalanya yang terasa berdenyut ketika berusaha untuk bangun dari posisi berbaringnya.


"Arrrgghh,,," erangnya dan menjatuhkan kepalanya lagi di bantal.


"Tolong, jangan paksakan diri anda untuk bangun, anda belum pulih sepenuhnya," ucapnya sembari membantu Nayla duduk bersandar. "Syukurlah, anda telah sadar," imbuhnya.


"Apakah anda memerlukan sesuatu?" tanya suster ramah.


"Sudah berapa lama aku di sini?" tanya Nayla.


"Tiga hari dengan hari ini," jawab suster.


"Lalu,,, dimana suster Irene?" tanya Nayla lagi.


Suster itu tengah menyiapkan makanan untuk Nayla menghentikan aktivitasnya dan menoleh pada Nayla yang sedang menatapnya.


"Suster Irene ijin selama 4 hari dengan alasan urusan keluarga," jawabnya ramah.


"Ah,,, begitu,,," gumam Nayla.


"Nona, makanlah sedikit saja walaupun anda merasa tidak nyaman. Dokter Chris berpesan anda harus makan ketika sadar untuk mempercepat pemulihan anda," ungkap suster.


"Baiklah," jawab Nayla lesu.


Suster itu menyiapkan meja makan lipat di depan Nayla dan meletakkan makanan beserta obat di atasnya.

__ADS_1


"Oh,,, saya ingin mengatakan satu hal nona," ucap suster.


" Apa itu?" tanya Nayla mulai menyuap perlahan makanannya.


"Sebelumnya saya minta maaf kepada anda, nona. Saya lancang mengangkat panggilan telepon dari ponsel anda. Karena yang menghubungi anda melakukan panggilan beberapa kali, jadi saya mengangkatnya," ungkap suster.


"Dan kamu mengatakan keadaanku yang sebenarnya?" tanya Nayla datar.


"Benar," jawab suster mulai merasa tidak enak.


"Baiklah,,,tidak apa-apa. Sekarang singkirkan saja ini!" pinta Nayla seraya menunjuk makanan yang ada di depannya.


"Tapi, anda belum makan, nona," tukas suster.


"Aku sudah selesai," tegas Nayla sebelum meminum obatnya. " Ah,,, kapan orang itu menghubungiku?" sambungnya.


"Tidak sampai dua jam yang lalu," jawab suster.


"Baiklah,,, tolong tinggalkan aku sendiri," pinta Nayla.


Mau tak mau suster itu pun mengangguk dan pergi meninggalkan Nayla sendiri.


Nayla memeriksa ponselnya dan menyadari ternyata yang menghubunginya adalah Rory.


" Ku pikir yang menghubungiku adalah Adrian," gumamnya pelan.


Tanpa membuang waktu, Nayla menghubungi Rory.


"Hai, Roy," sapa Nayla saat mendengar suara Rory.


"Apa yang terjadi padamu,Nay? Kamu sakit apa? Bagaimana kamu bisa berakhir di rumah sakit? suster bilang kamu pingsan selama 2 hari? Bagaimana bisa? Apa yang terjadi?" berondong Rory dengan suara khawatir.


"Bisakah kamu memberiku satu atau dua pertanyaan saja, Roy?" pinta Nayla terkekeh pelan.


" Jangan tertawa, jelas sekali ini tidak ada yang lucu," tukas Ror.


"Aku baik-baik saja, Roy" ucap Nayla lemah.


"Dari suaramu saja aku tau kamu berbohong, Nay," sindir Rory.


"Aku sungguh baik-baik saja," ucap Nayla meyakinkan.


"Aku akan segera kembali," ucap Rory tiba-tiba.


" Ku harap itu hanya candaan," sambut Nayla.


" Aku tidak akan bercanda jika itu berkaitan denganmu, terlebih lagi itu adalah kondisimu" jawab Rory.


"Tidak, Roy! Jangan lakukan itu! Kumohon," pinta Nayla.


"Dan membiarkanmu sendirian di sana?" sergah Rory.


"Aku tidak benar-benar sendirian disini. Dokter dan perawat menemaniku di sini," sanggah Nayla.


"Bagaimana dengan konser mu, Roy?" tanya Nayla mengalihkan perhatian Rory.


"Apakah konser adalah satu-satunya hal yang ingin kamu dengar, Nay?" tukas Rory.


"Tentu saja tidak. Aku lebih ingin mendengar bagaimana kabarmu," sanggah Nayla.


"Woww,,,, kau bahkan tidak mengatakan kabarmu padaku dan kau memintaku untuk menggatakan kabarku? Tidakkah kau merasa bahwa kau terlalu egois?" cecar Rory. "Aku akan kembali hari ini juga,!" sambungnya.


"Tidak, Roy! Jangan bertindak gegabah," sambut Nayla.


"Aku tidak peduli dengan apapun lagi, aku akan menemui Martin sebentar," ucap Rory.


"Tunggu dul__,,," kalimat Nayla terhenti saat menyadari Rory memutus panggilannya.


"Eerrgghhh,,,, menyebalkan, kenapa dia suka sekali asal mematikan telepon sebelum aku selesai bicara," geram Nayla.


Nayla kembali menghubungi Rory.


Memikirkan hal buruk yang mungkin bisa saja terjadi jika Rory tidak di hentikan, membuatnya melupakan sakitnya untuk sesaat.


Setelah percobaan yang ke-5 akhirnya Rory mengangkat teleponnya.


"Tunggulah sebentar,Ma Chéri , aku hanya perlu beberapa menit untuk berbicara dengan Martin," ucap Rory setelah panggilannya terhubung.


"Dengarkan aku, atau aku akan marah padamu,!" ancam Nayla.


Rory menghela nafas panjang dan mengalah mendengarkan Nayla bicara.


...****************...


__ADS_1


__ADS_2