LOVE OF MY LIFE

LOVE OF MY LIFE
33.Aku Ingin Jujur...Tapi??


__ADS_3

Rory berada dikamarnya dengan beberapa koper yang telah terisi sebagian pakaiannya.Matanya melirik ponselnya dan merenung.


'Haruskah aku mengatakannya bahwa aku akan ke Paris beberapa hari?'pikirnya.


'Kalaupun aku tak mengatakannya,aku ingin mendengar suaranya.Aku sudah tak mendengar suaranya dalam beberapa hari,dan hanya mengandalkan pesan.Lalu sekarang jika aku ke Paris,akan lebih sulit untuk bertemu.Aku akan menghubunginya sebentar.'pikirnya lagi.


Meraih ponselnya yang tergletak,Rory memutuskan untuk menghubungi seseorang yang dirindukannya.Menggeser satu nomor untuk dihubungi, 'Ma Chéri'' terlihat dilayar ponselnya dan terdengar nada sambung.Tak lama kemudian,sebuah suara terdengar dari ponselnya.


"Aku baru saja berfikir kenapa kau tak menghubungiku.Apa kau membaca pikiranku Roy?"sapaan Nayla membuat Rory mengeluarkan tawa renyahnya.


"Apakah itu sebuah olokan yang terdengar seperti pujian atau sebaliknya?"jawab Rory balas bertanya.


"Bagaimana kedengarannya?"balas Nayla.


"Satu hal yang pasti adalah,aku bukan penguntit."jawab Rory tertawa diikuti Nayla.


"Untungnya aku mengenalmu Roy,jika tidak mungkin aku akan meragukan yang kau katakan."kata Nayla.


"Sarkasme anda diperhatikan nona."kata Rory.


"Oh..Maaf,,tapi itu adalah reaksi defensif yang mungkin akan dilakukan oleh sebagian besar orang."jawab Nayla.


Rory tertawa membenarkan.


"Kurasa aku tak akan pernah bisa menang jika berhadapan denganmu dalam adu argumen."kata Rory disela tawanya.


"Aku meragukan itu.Sejauh yang kutau,kaulah yang lebih unggul dalam adu argumen."jawab Nayla.


"Mungkin saja,tapi kaulah yang paling keras kepala disni."kata Rory.


"Heeiiii....."seru Nayla.


Mereka pun tertawa lagi,Rory kembali menimbang nimbang apakah dia harus mengatakan pada Nayla atau tidak tentang perjalanannya.


"Jika kamu ragu untuk mengatakannya,jangan katakan Roy,"kata Nayla tiba tiba mengejutkan Rory.


"Eh,,,Hahh..Apa maksud.."


"Aku hanya merasakan kau ragu ragu dari suaramu.Aku tak tau apa yang ingin kau katakan,tapi jangan paksakan untuk mengatakannya jika kamu tak ingin."potong Nayla.


"Pernakah ada yang mengatakan padamu bahwa kau terdengar mengerikan ketika menebak suasana hati seseorang?"tanya Rory dengan rasa terkejut yang tersisa.


"Ha ha ha..Aku akan menganggap itu pujian.Tapi aku serius dengan perkataanku.Terkadang kau tak harus mengatakan apa yang tidak ingin kau katakan,aku akan mengerti."kata Nayla lembut.


"Hhaahh...Bagaimana bisa kau sama seperti ibuku yang selalu membacaku dengan mudah?bukan hanya pikiranku tapi juga suasana hatiku."desah Rory.


"Aku tersanjung."jawab Nayla."Tapi itu membuatku ingin tau seperti apa ibumu."lanjutnya.


"Aku sudah memikirkan itu,"jawab Rory."Dan ku harap aku juga bisa melakukan hal yang sama denganmu."lanjutnya.


Ada jeda sesaat setelah Rory mengatakan itu.Sebelum akhirnya Nayla menjawab setelah mengatur suaranya.


"Tentu Roy."jawab Nayla.


"Jadi,kamu tak keberatan jika aku ingin mengenal keluargamu?"tanya Rory antusias.


"Tentu saja tidak."jawab Nayla.


"Terima kasih Nay,,kau tak tau betapa senangnya aku mendengar itu."kata Rory.


"Tak perlu berterima kasih untuk hal seperti itu Roy."kata Nayla."Jadi...?"tanya Nayla.


Rory menghembuskan nafas pelan sebelum berkata,


"Nay..Dengar,memang benar ada yang ingin kukatakan padamu."kata Rory.


"Oke,,,katakanlah."jawab Nayla."Aku mendengarkan."lanjutnya.


"Ini berkaitan dengan pekerjaanku.Karena akan ada beberapa pekerjaan lain,mereka akan melakukan perjalanan ke Paris dalam beberapa hari.Dan aku ikut bersama mereka."Rory berkata dengan pelan pelan.


Nayla terdiam,mencerna apa yang baru saja dikatakan Rory padanya.

__ADS_1


"Kapan penerbangannya?"tanya Nayla pelan.


"Besok."jawab Rory.


"Besok..????"seru Nayla kaget."Dan kau baru mengatakannya sekarang?"tanya Nayla lagi.


"Aku tau..Aku minta maaf tentang hal itu.Beberapa hari ini aku benar benar sibuk hingga melupakannya,itu juga alasan kenapa aku sempat ragu untuk mengatakannya."jelas Rory.


"Baiklah,Aku mengerti."jawab Nayla.


"Kamu tak marah?"tanya Rory.


"Apakah kau mengharapkan aku marah Roy?"tanya Nayla.


"Tidak..tentu saja tidak."jawab Rory cepat.


"Bagaimana aku bisa marah ketika kau berkata jujur padaku?"tanya Nayla."Tapi tetap saja,aku berharap kau mengatakannya lebih cepat."tambahnya.


"Aku tak akan mengulanginya Nay.Aku janji."kata Rory."Ada satu hal lagi"tambahnya.


"Apa itu?"tanya Nayla.


"Aku tak ingin besok kau datang ke bandara dengan alasan apapun."kata Rory serius.


"Alasannya?"tanya Nayla agak kecewa.


"Agensi yang aku ikuti terbilang memiliki banyak pengemar.Aku hanya tak ingin terjadi sesuatu padamu jika kamu berhadapan dengan mereka.Terlebih paparazi akan selalu mencari kesempatan sekecil apapun itu."kata Rory."Bahkan mereka juga tak akan ragu untuk menyebarkan kebohongan."tambahnya.


"Baiklah..Aku mengerti."jawab Nayla.


"Aku serius Nay..."kata Rory lagi.


"Aku sungguh mengerti Roy..Aku menghapus rencanaku setelah kau mengatakan alasannya,Oke."jawab Nayla.


"Terima kasih sudah mengerti Nay."kata Rory.


"Jadi...Kurasa kau perlu berkemas bukan?"tanya Nayla.


"Yahh...Aku baru menyelesaikan sebagian.Aku merindukanmu dan ingin sekali mendengar suaramu.Jadi aku menundanya sebentar."kata Rory.


"Sayangnya..Aku tak bisa melihat wajah tersipu yang ada diwajahmu."kata Rory menyeringai.


"Itu bukan sanjungan,tapi itu yang aku rasakan,Tidakkah kau merindukanku?sedih sekali rasanya."kata Rory lagi pura pura sedih.


"Dasar konyol..Mana mungkin aku tak merindukanmu?Kita bahkan tak bertemu setelah beberapa hari.Tentu saja aku juga merindukanmu."jawab Nayla.


"Terdengar jauh lebih baik.."sambut Ror tertawa kecil."Tapi aku akan memastikan kita akan segera bertemu."kata Rory pasti.


"Maksudmu setelah kau kembali?"tanya Nayla.


"Pikirkan saja kemungkinan terbaiknya."jawab Rory misterius.


"Kuharap kau tetap memberi kabar padaku."kata Nayla.


"Pasti aku akan melakukannya."jawab Rory.


"Hanya mendengar kamu mengatakannya,itu terasa cukup untukku."kata Nayla.


"Dan aku akan lebih memastikan itulah yang akan terjadi."kata Rory pasti.


"Sampai bertemu lagi Nay"kata Rory.


"Sampai bertemu lagi"jawab Nayla


Obrolan mereka berakhir,


Rory menghembuskan nafasnya lega telah mengatakan semuanya pada Nayla.Tidak...Rory mengelengkan kepalnya dengan keras.


"Tidak bisa..aku tidak bisa mengakuinya sekarang,Tidak dengan cara seperti ini.Aku jujur tentang semuanya.Tapi bukan dengan cara ini.Aku harus mengatakan semua itu didepannya.Hanya itu cara terbaiknya,karena hanya cara itu juga dia bisa menilai apakan itu kebohongan tanpa dasar atau tidak."kata Rory pelan.


Menarik nafas dalam dalam dan menghembuskannya perlahan,Rory kembali melanjutkan mengemasi perlengkapannya.

__ADS_1


Sementara itu pada saat yang sama,Nayla termenung setelah mengakhiri panggilannya dengan Rory.Dengan duduk bersandar,kepalanya menegadah keatas,menatap langit langit ruang kerjanya.


Perlahan,Nayla mengarahkan pandangannya pada foto yang ada dimeja kerjanya dan berkata pelan.


"Haruskah aku mengatakan semuanya padanya kak?"kata Nayla pelan."Menurut kak Nick apa yang sebaiknya kulakukan?Haruskah aku jujur?Jika aku mengatakan padanya,apa yang akan terjadi selanjutnya?apakah dia akan menatapku berbeda?"kata Nayla pelan,lalu mengelengkan kepalanya.


"Apa yang aku pikirkan?Jika dia bertanya,aku hanya perlu menjawab.Kenapa aku memikirkan reaksinya?Aku hanya perlu mempercayainya."kata Nayla pada dirinya sendiri.


Nayla menghilangkan semua pikiran buruk yang ada dipikirannya.berhenti memikirkan hal yag belum terjadi.Mengalihkan perhatiannya,Nayla membereskan cangkir kopi yang ada disana dan segera mencucinya.


Untuk sesaat,Nayla teringat ucapan Adrian yang secara langsung mangakui kopi buatannya.


"Kenapa dia terlihat seperti Rose versi laki laki sih."gumamnya pelan seraya mengeringkan tangannya.


Sementara itu,Adrian memikirkan sebuah rencana dikepalanya sepanjang perjalanan pulang dari apartemen Nayla.


Ketika tiba dirumahnya,Adrian menghubungi Rose untuk menanyakan hal hal yang ada dikepalanya.


Pertanyaan pertanyaan muncul dikepalanya.Memikirkan berbagai kemungkinan yang dirasa tak masuk akal dan berakhir dengan meghubungi Rose untuk mengetahui jawabannya.


"Jadi kau meilihat foto itu?"suara Rose terdengar diponsel Adrian.


"Yah..Aku tak bisa lama memperhatikan foto itu.Tapi aku yakin sekali itu foto nona Nayla.Gelang itu juga terlihat sama persis.Itu membuatku berfikir sikap nona Nayla kala itu aku bisa memahaminya sekarang."kata Adrian.


"Apa maksudmu?apakah terjadi sesuatu?"tanya Rose.


"Aku memang tak tau detailnya,tapi aku melihat nona Nayla mencari gelang itu hingga malam di kolam.Dan satu lagi aku ingat nona Nayla sangat marah karena ada yang memutuskan gelang itu."kata Adrian.


"Apa hubugan semua itu Rose?siapa pria itu?Apakah semua sikapnya,gelang itu,dn foto saling berkaitan?"tanya Adrian.


"Hhaahh...kurasa kau memang harus tau.Tapi setelah ini bersikaplah biasa padanya seolah kau belum mengetahui apapun."kata Rose.


"Aku tau apa yang harus aku lakukan."jawab Adrian.


"Tidak sekarang Adrian.."kata Rose.


"Kenapa?"tanya Adrian.


"Aku masih bekerja."jawab Rose.


"ha ha ha...Aku lupa tentang itu.Tentu saja kau masih bekerja,jika disini malam,tentu ditempatmu sekarang masih siang."kata Adrian.


"Aku akan memberitaukan hal sederhana padamu,Pria di foto yang kau lihat adalah kakak nya yang telah meninggal beberapa tahun lalu ketika Nayla berusia 7tahun."kata Rose.


"Lalu orang tuanya?"tanya Adrian.


"Cerita ini cukup panjang Adrian,dan aku akan kesulitan mengatur waktu kerjaku.begini saja.Apakah besok Nayla akan datang kekntor?"tanya Rose.


"Kurasa tidak.Kemarin mengatakan tidak kekantor,dan tadi berkata padaku akan mengurus hadiah hadiah yang ada dikantor nanti."kata Adrian.


"Kalau begitu kita bisa bicara besok.Kebetulan besok aku mengambil cuti ku selama dua hari."kata Rose.


"Baiklah.Terima kasih Rose.dan maaf sudah menganggu waktu kerjamu."kata Adrian.


"Bukan masalah,Nayla lebih sering melakukan ini jika dibandingkan denganmu."kata Rose tertawa."Aku merindukannya."tambah Rose.


"Dan aku mengerti kenapa kau tak kesal padanya ketika dia melakukan itu."kata Adrian.


"Ha ha ha..Kelihatannya kau sudah mulai mengenalnya."kata Rose.


"Yahh..kurasa begitu."jawab Adrian.


"Baiklah..aku tutup dulu.aku harus menyelesaikan pekerjaanku.Selamat malam untukmu disana."kata Rose.


"Selamat siang untukmu disana."balas Adrian.


Rose tertawa singkat sebelum mengakhiri panggilannya.Adrian tersenyum menatap layar ponselnya.Rose yang menjadi teman barunya terasa sangat dekat untuknya.Ikatan baru yang dimulai hanya dalam hitungan bulan terasa seperti hubungan yang telah terjalin selama beberapa tahun.Dan hubungannya dengan Nayla perlahan menjadi lebih dekat.


Dengan kesungguhan hatinya,Adrian bertekad mencari tau apa yang sebenarnya ada di balik sosok Nayla.


Kenapa senyuman itu terasa kosong.Terasa seperti menahan rasa sakit yang cukup dalam.Tapi ditutupi dengan begitu baik dengan senyum ramah yang selama ini dia lihat.

__ADS_1


Pada keesokan harinya,Rose menepati janjinya.


...****************...


__ADS_2