LOVE OF MY LIFE

LOVE OF MY LIFE
82. Menyanyi


__ADS_3

"Maukah kamu menikah denganku?"


"...."


"...."


Rory merasakan gemuruh didalam hatinya ketika mendengar pernyataan pria itu yang tidak ia duga. Begitu juga dengan Kevin dan yang lain.


Dengan tangan terkepal, Rory melangkah keluar dari tempatnya bersembunyi, ketika sebuah tangan menghentikannya.


"Apa yang kau pikir akan kau lakukan, Rory?" tanya Thomas setengah berbisik.


"Apa kau pikir aku akan diam saja melihat ini? Dia melamar Nayla, dan kau sudah melihatnya," Rory berkata dengan menahan emosinya.


"Jika kau percaya padanya, kau tak akan melakukan itu," sambut Thomas dengan suara tenang.


"Kita lihat dulu saja," imbuhnya.


Rory menarik nafas dalam dan menghembuskannya perlahan. Pandangannya kembali diarahkan pada Nayla.


Tangan Antony masih mengenggam kedua tangan Nayla. Matanya menatap lekat mata Nayla, ketika tiba-tiba. . . .


"PLAAKKK,,,,!!!"


Suara keras mengejutkan Rory dan teman-temannya ketika melihat Nayla mendaratkan pukulan di tangan Antony, menimbulkan suara keras dan rasa pasnas dikulitnya.


"Apa kau gila?" decak Nayla.


"Begitukah caramu akan melamarnya? Konyol,!" geram Nayla menepuk dahinya.


"Jika kau ingin mendapatkan tamparan sebagai jawabannya, maka lakukanlah," tambah Nayla.


"Arrhhh,,, lalu aku harus bagaimana? Aku benar-benar gugup sekarang," keluhnya mengacak-acak rambutnya.


"Bukankah sudah ku katakan apa yang harus kau lakukan? Jalankan saja, dan ikuti rencanaku," ucap Nayla berkacak pinggang.


Rory dan teman-temannya saling pandang menyadari mereka telah salah paham.


"Benar-benar, dia tidak pernah bisa berhenti membuatku terkejut," ucap Ethan setengah berbisik sedikit terkekeh.


"Kau benar, dia selalu penuh kejutan," sambung Nathan juga berbisik.


"Apa yang aku minta sudah disiapkan?" tanya Nayla.


Ethan dan Nathan kembali diam mendengar pertanyaan Nayla.


"Tentu saja. Tanpa ada satupun yang kurang," ucap Antony bangga.


Antony menghidupkan lampu yang telah dia atur. Seketika tempat yang semula gelap, berubah terang dengan nyala lampu yang yang telah diatur sedemikian rupa, hingga menciptakan kesan seperti ribuan bintang.


"Kau menyiapkan semua ini dengan sangat baik," puji Nayla.


"Apa yang bisa aku katakan? Aku tidak bisa mengatakan tidak ketika kau memintanya," sambut Antony.


Rory dan teman-temannya terpaksa sedikit mundur, menghindari cahaya lampu yang dapat menyebabkan dirinya terlihat.


Nayla segera menuju laptop yang disiapkan Antony dan mulai sibuk dengan mengatur beberapa foto. Laptop itu telah terhubung dengan proyektor yang menghadap dinding dan terletak dengan sudut berbeda dari meja makan.


"Aku perlu memastikan satu hal lagi," ucap Antony.


"Katakan!" pinta Nayla tanpa melihatnya.


"Apakah kau sungguh baik-baik saja? Aku sudah mendengar berita tentangmu, aku tidak akan memaafkan diriku sendiri jika terjadi sesuatu padamu," ucap Antony tulus.


"Aku baik-baik saja, lagi pula kita sudah menentukan tanggal ini sangat lama," jawab Nayla.


"Sikapmu yang selalu mementingkan orang lain membuatku tekesan, tapi juga membuatku kesal disaat yang sama. Karena saat itu juga kamu selalu mengabaikan dirimu sendiri," ujar Antony.


"Oke,,, foto sudah beres," ucap Nayla setelah beberapa menit mengatur foto dan beerapa tulisan, mengabaikan apa yang baru saja Antony katakan.


"Tck,,, tidak bisakah kau mendengarkanku dulu?" decak Antony.


"Tidak," jawab Nayla singkat.


"Sekarang, kau hubungi dia dan minta dia untuk datang kesini," pinta Nayla.


"Bagaimana jika dia menolakku? Bagaimana jika dia justru sudah menyukai orang lain? Bagaimana jika dia tidak menyukaiku? Bagaimana jika_,,,,"


Kalimat Antony teputus saat Nayla menarik kerah bajunya dan menghadapkan wajah Antony didepan wajahnya. Membuat tubuh tingginya membungkuk.


"Bernafas, oke? Tenang dan bernafaslah,!"


"1 2 3 tarik nafas, 4 5 6 hembuskan perlahan," perintah Nayla.

__ADS_1


Antony terdiam untuk sesaat sebelum mengikuti intruksi Nayla. Ia mulai mengatur nafasnya.


"Bagus," puji Nayla.


"Hubungi dia! Saat dia datang, aku akan menyalakan lampu-lampu ini," jelas Nayla sembari merapikan lagi kerah baju Antony.


"Foto kalian sudah ku atur dan itu akan kuputar saat lagu dimulai, hal selanjutnya lakukan saja seperti yang kukatakan waktu itu," terang Nayla.


"Baiklah," jawab Antony.


"Ahh,, sebentar," Antony berbalik dan mengambil sesuatu di dekat meja.


Ketika Antony kembali berbalik, ia memegang sebuah gitar putih ditangannya.


"Ini dia,,, hal penting yang kamu minta untuk kusiapkan," ucapnya sembari menyodorkan gitar pada Nayla.


"Terlihat masih baru," sambut Nayla menerima gitar dengan mata berbinar.


"Tepat," jawab Antony.


"Kau membelinya?" tanya Nayla melebarkan matanya.


"Tentu saja. Aku tidak bisa bermain gitar. Jika aku perlu gitar bukankah sudah seharusnya aku membelinya?" sambut Antony santai.


"Kenapa kau tak mengatakannya padaku? Kita bisa menggunakan gitarku kan? Kenapa kau membeli yang baru disaat aku memilikinya?" cecar Nayla.


"Lagi pula, aku tidak keberatan membawa gitar saat perjalanan kemari. Membawa gitar tidaklah sulit," imbuhnya.


Ditempat persembunyian Rory, mereka kembali saling pandang. Kembali terkejut dengan apa yang baru saja mereka dengar.


"Dia bisa bermain gitar?" tanya Thomas berbisik pada Rory.


"Aku tidak tau. Dia tak mengatakan apapun tentang itu padaku," jawab Rory.


Mereka kembali memperhatikan Nayla.


"Mana mungkin aku membiarkan itu, aku sudah sangat senang dengan kamu membantuku. Menyiapkan satu gitar bukanlah hal sulit," jawab Antony.


"Haahh,,, apapun keinginanmu," desah Nayla.


Nayla mengangkat gitar dengan hati-hati, lalu menempatkan didepan perutnya. Jari tangannya mulai memetik senar gitar untuk mengetes suaranya.


"Setelannya sempurna," puji Nayla. " Aku tidak perlu melakukan tuning. Dimana kau mendapatkan ini, Antony?" tanya Nayla penasaran.


"Kurasa, aku harus datang kesana," sambut Nayla antusias.


"Aku bisa mengantarmu kapan saja," balas Antony.


"Terima kasih," ucap Nayla.


"Jadi, lagu apa yang kau pilih? Apakah kau sudah memutuskan?" tanya Nayla.


"Bisakah kita menggunakan lagu yang kamu buat?" tanya Antony penuh harap.


"Tidak," tegas Nayla.


"Ayolah,,, aku sangat menyukai lagu yang kamu buat. Itu membuatku merasakan aku adalah tokoh utama di lagu itu ketika mendengarmu menyanyikan lagu itu," bujuk Antony.


"Tidak," tegas Nayla lagi. "Masih banyak lagu dari penyanyi terkenal lain yang jauh lebih baik dari itu," sambungnya.


"Kalau begitu, lagu dari kekasimu, FM," tantang Antony.


"Errr,,," Nayla memutar bola matanya. " Jujur, aku tidak tau lagunya," jawab Nayla.


"Jahat sekali, kau berkata seperti itu tanpa beban," sindir Antony.


Nayla hanya mengangkat bahunya.


"Kalau begitu lagu buatanmu," desak Antony.


"Aku sudah bilang tidak," jawab Nayla.


"Hahh,,," desah Antony. " Aku serahkan saja padamu, kau yang menentukan," ucap Antony menyerah.


Antony menunjuk ponselnya sebagai tanda akan meghubungi seseorang. Tanpa menjauh dari Nayla, suara diseberang ponsel menjawab akan datang setelah Antony mengatakan membutuhkan bantuannya.


Nayla menjelaskan bagaimana dan apa yang harus dilakukan Antony. Sedangkan dirinya duduk di kursi yang berada didekat meja kecil dimana laptop Antony berada.


Tak lama kemudian,,,


"Antony,,, apakah kau disini?"


Suara seorang wanita berseru memanggil. Nayla menyalakan lampu yang menerangi jalan dimana wanita itu berdiri. Dia yang juga menjadi teman Nayla yang selalu ia sebut dengan nama Elvina.

__ADS_1


Elvina terkejut dengan lampu yang menyala tiba-tiba, seolah menuntunnya untuk menuju satu titik. Dengan perlahan, ia mulai melangkah.


Ketika ia tiba di akhir lampu, sebuah layar besar menampilkan foto dirinya, bersamaan dengan itu, Nayla mulai memetik gitar yang ada ditangannya.


Melodi lembut gitar mengalun memenuhi tempat itu. Elvina menoleh kearah Nayla yang tengah memainkan gitar.


Nayla memberi isyarat agar Elvina melihat kearah layar yang mulai berganti menjadi foto dirinya yang berbeda, dan ketika foto dirinya bersama Antony muncul, Nayla mulai menyenandungkan lagu.


Suaranya yang tenang bersenandung begitu lembut membelai telinga siapapun yang mendengarnya. Menuntun mereka yang mendengarnya dalam ketenangan.


[[ Hidupku telah menemukan bagiannya yang hilang...


[[Hari ini aku akan menghargai apa yang kita miliki...


[[Selama aku hidup, aku hanya akan mencintaimu...


[[Dengan cincin ini...


Lampu yang menerangi dimana Antony berdiri menyala. Antony melangkah mendekati Elvina, dan berlutut dengan mengangkat kotak cincin didepan Elvina.


Dilayar terdapat tulisan WILL YOU MARRY ME dengan latar belakang foto kebersamaan mereka.


Elvina meletakkan tangan menutupi mulutnya, air matanya mengalir dengan perasaan haru dan kebahagiaan yang tidak terkira, hingga akhirnya ia mengangguk, membuat Antony tesenyum bahagia dan mengenakan cincin itu dijari Elvina.


Mereka berpelukan bahagia, dengan lagu yang masih menalun lembut. Foto-foto mereka masih berganti dengan foto-foto yang berbeda.


[[ Aku akan katakan pada dunia..


[[ Kamu adalah alasanku, kamulah yang aku percaya dengan sepenuh hati...


[[Sampai nafas terakhirku, aku hanya akan selalu mencintaimu...


Nayla masih bersenandung. Mereka menatap Nayla ketika lagu telah berhenti dengan Nayla yang mengakhiri dengan petikan lembut dari gitar ditangannya. Dan bertepuk tangan saat nada gitar terakhir.


"Selamat untuk kalian berdua," ucap Nayla sembari meletakkan gitar.


Elvina menghampiri Nayla dan memeluknya. Air mata bahagia masih mengalir membasahi pipinya.


"Semua ini pasti kamu yang melakukannya. Seorang Antony tidak mungkin bisa merencanakan hal ini," ucap Elvina setengah terisak.


"Semua murni rencanaya, aku hanya melengkapi apa yang dia rencanakan," jawab Nayla tersenyum.


"Terima kasih," ucap Elvina.


"Baiklah,,, sekarang adalah malam kalian, aku harus segera menyingkir," kelakar Nayla.


"Tidakkah kamu ingin bergabung untuk makan malam?" tanya Elvina.


"Maaf sekali, aku harus menolaknya. Aku hanya akan menjadi penganggu diantara kalian. Lagi pula kalian tentu ingin menikmati waktu untuk berdua, bukan?" sambut Nayla.


"Kami akan senang jika kamu bergabung," sela Antony.


" Terima kasih. Tapi, aku tetap menolak," jawab Nayla.


"Ah,, ya,, ini,," ucap Nayla menyodorkan gitar pada Antony. " Milikmu," imbuhnya.


" Itu milikmu," sambut Antony.


"Lelucon yang payah," cibir Nayla.


"Aku sungguh-sungguh. Aku membeli itu untukmu," ucap Antony tersenyum.


"Aku tidak bisa menerimanya. Ini terlalu berharga," sambut Nayla.


" Setelah semua yang kamu lakukan untukku, bahkan sepuluh gitar yang sama masih belum cukup untuk menebusnya, Nay. Jadi, kumohon terimalah, itu untukmu," harap Antony.


"Tapi_,,,"


" Jangan memikirkan tentang harga, Nay! aku serius membeli dengan niat ingin memberikan itu padamu. Setidaknya hanya itu yang bisa kuberikan," potong Antony.


"Jadi, tolong terima pemberianku," pinta.


Nayla terdiam dan berpikir sejenak. Matanya beralih pada gitar yang ada ditangannya. Gitar itu memang menarik hatinya, namun ia merasa Antony berlebihan jika memberikan gitar itu padanya.


Pandangannya kembali beralih pada Antony yang masih menatapnya penuh harap. Membuatnya tidak memiliki pilihan lain.


"Baiklah, aku menerimanya. Terima kasih, Antony. Aku akan menjaga dan merawatnya dengan baik," janji Nayla.


"Kalau begitu, aku akan pergi sekarang," pamit Nayla.


Antony dan Elvina mengangguk dan mengucapkan terima kasih sekali lagi, lalu begantian memeluk Nayla singkat sebelum Nayla pergi meninggalkan mereka berdua.


...****************...

__ADS_1


__ADS_2