
~Dukung karyaku dengan komen,like dan vote yaaa..dukungan dari kalian sangatlah berarti~
---------
"Nay,,, Tunggu,,,!" teriak Thomas ketika Nayla sampai di pintu luar gedung.
Nayla menghentikan langkahnya dan menahan air matanya sebelum menoleh kebelakang. Thomas berlari menghampiri Nayla, dan tanpa diduga Ethan juga berada di belakang Thomas.
"Kenapa kalian mengejarku? Jangan sampai kalian juga ikut di beritakan karena berada di sekitarku," cegah Nayla.
"Aku yakin hal itu tidak akan terjadi," jawab Thomas melirik ke arah Ethan.
"Kenapa kau mengikutiku?" protes Thomas.
"Percaya dirimu terlalu tinggi sobat," sindir Ethan "Aku mengikuti Nayla, bukan kamu," sambung Ethan lalu menjulurkan lidahnya.
Seutas senyum kecil tumbuh di sudut bibir Nayla melihat tingkah mereka. Dirinya pun menyadari, mereka bersikap demikian untuk menghiburnya.
"Jangan lakukan semuanya sendiri,Nay!" larang Thomas.
"Aku harus melakukannya, Thomas," jawab Nayla.
"Itu akan membahayaan dirimu," Thomas memperingatkan dengan nada khawatir yang tulus.
"Aku tidak akan bertindak gegabah," ucap Nayla tenang.
"Bukan itu masalahnya, Nay," tukas Ethan.
"Aku tau apa yang harus dan tidak aku lakukan," sambut Nayla.
"Tapi_,,"
"Apakah kalian juga percaya foto-foto itu?" tanya Nayla memotong kalimat Ethan.
"Tentu saja tidak, aku sedikitpun tidak percaya dengan semua itu. Walaupun aku belum lama mengenalmu, tapi aku sangat yakin kamu bukanlah orang yang akan bersikap begitu," ungkap Ethan.
"Kalau begitu, hal itu cukup bagiku untuk mendorong agar aku tetap melakukannya apapun yang terjadi," sambut Nayla.
"Tapi kamu tidak harus melakukan semuanya sendiri, Nay," sanggah Thomas.
"Aku juga tidak bisa membiarkan kalian terlibat lebih jauh, aku tau persis apa yang aku lakukan. Aku akan menghubungi Roy saat aku menemukan sesuatu yang berguna, selama itu, tolong katakan padanya agar tidak menghubungiku," harap Nayla.
"Biarkan kami membantumu, Nay!" tutur Thomas.
"Tentu, aku akan meminta bantuan kalian nanti," sambut Nayla.
"Kalau begitu, berikan ponselmu!" pinta Ethan.
"Untuk apa?" tanya Nayla.
"Menyimpan nomor kami dan kami juga akan menyimpan nomormu," terang Ethan.
"Baiklah," Nayla merasa kalah dan tidak punya pilihan lain selain membiarkan mereka menyimpan nomor ponsel mereka di ponsel miliknya.
Setelah selesai bertukar nomor ponsel, Nayla pamit untuk kembali ke kantor.
"Hubungi kami kapanpun, kami pasti membantumu, kami juga akan membantu semua cara untuk mendapatkan informasi yang berguna," ucap Thomas sebelum Nayla menjalankan mobilnya, Nayla hanya mengangguk dan berlalu pergi.
Setibanya di kantor, Nayla di kejutkan dengan Darwin atasannya yang telah berada di dalam ruangannya. Sesuai dugaan Adrian, Darwin langsung mengenali foto Nayla yang tercetak di surat kabar.
"Kita tuntut saja pihak yang menerbitkan berita ini,!" dengus Darwin.
"Tidak mungkin,!" sangkal Nayla. "Tolong jangan lakukan itu, pak!" pinta Nayla.
__ADS_1
"Kau tidak perlu memikirkan tentang kondisi kantor ini, hal seperti itu tidak akan berdampak besar," bujuk Darwin.
"Aku menolak melakukannya," sambut Nayla.
"Nay,!" protes Darwin.
"Pak,,, bukan hanya aku dan kantor ini yang di libatkan, tapi beberapa orang yang tidak ada kaitannya juga terlibat di sini," sanggah Nayla.
"Lalu apa yang akan kau lakukan, Nay?" tanya Darwin.
"Mencari bukti bahwa berita itu palsu," terang Nayla.
"Caranya?," sela Adrian.
"Dalam hal ini aku perlu bantuanmu," jawab Nayla menatap Adrian.
"Katakan saja, aku akan melakukan apapun," sambut Adrian.
"Ambil alih pekerjaanku untuk sementara. Lagi pula, naskahku sudah siap di serahkan jika di minta. Dan waktu deadline masih jauh," jelas Nayla.
"Aku akn melakukan semuanya," jawab Adrian.
"Kamu juga bisa mengandalkanku, Nay," sela Darwin.
"Itu tidak akan perah kulupakan, pak. Karena pak Darwin senantiasa di pihakku," sambut Nayla.
"Kamu pantas di percaya lebih dari siapapun, Nay," ucap Darwin.
"Selama seminggu kedepan, tolong jangan menghubungiku dengan alasan apapun. Jika ingin tetap menghubungiku, gunakan saja surat dan titipkan pada penjaga keamanan yang ada di apartemenku, kalian bisa melakukannya kan?" harap Nayla.
"Aku mengerti," jawab Adrian.
"Oke," jawab Drwin.
"Tentu, pak," sambut Nayla.
Nayla berpamitan untuk pergi meninggalkan kantor untuk kembali ke apartemennya.
Sementara itu, di tempat yang berbeda, Rory duduk termenung di kursi santai yang ada di atap.
Menyendiri, dan memainkan gitar asal-aslan. Memikirkan kembali sikap yang telah dia tunjukan pada Nayla.
'Kenapa aku bersikap begitu? Jelas-jelas dia datang karena membutuhkan penjelasan, dan dia juga bisa memberikan penjelasan, tapi kenapa justru aku bersikap seperti itu?' batin Rory.
'Apakah aku lebih baik menghubunginya saja? Atau datang ke apartemennya? Tapi tadi sudah dengan jelas melarangku,' lanjutnya.
Rory mengacak-acak rambutnya lalu mendesah pelan.
"Tidak ada gunanya kamu menyesali apa yang sudah terjadi," celetuk seseorang dari belakang Rory.
Rory mengarahkan pandangannya ke sumber suara dan tersenyum lesu begitu tau Thomas telah berdiri di sana dengan tangan di saku celananya.
"Semua memang terjadi begitu cepat dan tiba-tiba. Tapi, ku akui, Nayla bersikap lebih baik darimu," sindir Thomas.
Rory tertunduk lesu membenarkan perkataan Thomas. Namun, tak bisa di pungkiri, hatinya bergejolak tatkla melihat kedekatan Nayla bersama pria yang dilihatnya di malam festival saat itu.
Terlebih lagi, Nayla terlihat akrab dalam foto yang di lihatnya. Walaupun dirinya juga tau, foto itu bisa saja di rekayasa.
"Aku tidak akan mengajarimu bagaimana harusnya kamu bertindak dan bersikap, tapi aku tak bisa lepas dari peranku untuk meningatkanmu, jangan berasumsi tentang sesuatu yang belum kau ketahui kebenarannya," harap Thomas.
Thomas menepuk punggung Rory sebelim pergi.
'Dia satu-satunya orang yang bisa bersikap bijak di sini, apakah karena dia sudah menikah yang membuatnya bisa mengesampingkan hatinya?' batin Rory.
__ADS_1
Rory menghembuskan nafasnya dengan berat. Tangannya merogoh saku celananya dan mengeluarkan ponsel yang kali ini terasa sunyi.
Rory masih mengingat dengan jelas, beberapa hari lalu, ponselnya senantiasa berbunyi dengan pesan Nayla yang selalu memberinya borongan pertanyaan.
Hubungan LDR yang sempat terjadi di antara mereka, tidak membuat Nayla goyah. Rory menggulir ponselnya dan membuka kembali foto-foto dirinya bersama Nayla.
'Aku bahkn sudah berjanji untuk membawanya liburan ke Venesia, Tck,!' batin Rory tersenyum getir.
Rory merebahkan tubuhnya dengan menjadikan tangannya sebagai bantal. Matanya menerawang menatap langit.
Hingga tanpa disadarinya, Rory jatuh tertidur hingga langit berubah gelap dan merasakan tanganyang menguncang bahunya, mencoba membangunkannya.
"Masuklah ke kamarmu, Jo. Kau bisa sakit jika terus tidur di sini," pinta Kevin.
"Ya, aku akan segera ke kamar, pergilah lebih dulu,!" usir Rory.
"Kau bahkan belum makan,!" ucap Kevn mengingatkan.
"Aku tak lapar, masuklah, aku akan ke kamar sebentar lagi," jawab Rory.
"Jo_,,?" panggil Kevin.
"Tolong, aku hanya ingin sendiri untuk saat ini," pinta Rory.
"Baiklah, aku akan meletakkan roti lapis di kamarmu, makanlah walau sedikit," harap Kevin.
"Ya,!" jawab Rory singkat.
Kevin pun meninggalkan Rory sendirian lagi. Dalam kesendiriannya, Rory menangkup wajahnya dengan kedua telapak tangannya sendiri, kembali mennghembuskan nafas panjang yang terasa berat.
Sementara itu, Nayla terlihat baru saja keluar dari apartemennya dengan sedikit merubah penampilannya.
Rambut panjangnya yang di ikat dan kepala yang tertutupi topi, serta mengenakan kembali kacamata yang lama tergletak.
Nayla berjalan dengan langkah santai menuju minimarket. Mencoba menelusuri kembali jejak teakhir yang dia lakukan sebelum bertemu Val.
'Jika ku ingat lagi, pria itu ukan orang yang sering terlihat di sekitar sini. Itu berarti, orang itu sengaja atau di minta seseorang untuk datang ke sini hanya untuk rencana yang ingin di jalankan,' pikirnya.
Nayla berkeliling di minimarket membeli sedikit barang untuk menghindari kesan mencurigakan.
"Apakah hanya ini, Nona?" tanya penjaga kasir ramah.
"Ya, hanya ini. Setidaknya hanya ini yang ku ingat," canda Nayla.
"Ah,,, nona bisa saja. Mungkin anda perlu berkeliling lagi untuk mengingat lagi apa yang ingin anda beli?" tawarnya ramah.
"Tidak, terima kasih. Aku bisa kembali kapan saja jika memerlukan sesuatu yang lain," tolak Nayla.
Penjaga itu mengangguk mengerti dan tersenyum ramah.
"Terima kasih," ucapnya ketika Nayla telah selesai membayar.
Nayla mengangguk dan pergi dari minimarket kembali ke apartemennya.
Di sepanjang jalan pulang,Nayla kembali mengingat apa saja yang terjadi saat bersama Val.
'Kurasa aku perlu bantuan jika ingin bebas melihat rekaman CCTV yang terpasang di sini,' batinnya.
'Lebih baik aku cek sekali lagi foto-foto itu, dan besok aku harus mulai mencari informasi tentang semua pria itu,' pikir Nayla.
Tidak ingin terlalu banyak membuang waktu, Nayla mempercepat langkahnya mencapai apartemen.
Nayla meletakkan semua foto di meja kerjanya. Melihat dengan teliti foto-foto itu, serta mencoba mengingat kembali hal yang berkaitan dengan semua foto yang ada di depannya.
__ADS_1
...****************...