LOVE OF MY LIFE

LOVE OF MY LIFE
Dunia itu Sempit ya??


__ADS_3

Rose masih memeluk Nayla ketika dia tak jauh dari pintu masuk dibandara.


"jaga dirimu baik baik Nay,,"ucap Rose ditelinga Nayla.


"Kau juga harus menjaga dirimu Rose."balas Nayla menepuk punggung Rose pelan.


Adrian berdiri dibelakang Nayla dan melihat mereka dengan tatapan haru.


Perlahan Nayla menarik tubuhnya,matanya menatap Rose dalam,air mata disudut matanya hanya menunggu waktunya untuk membasahi pipinya.menahan kesedihannya,Nayla tersenyum sebelum berkata,


"Hubungi aku ketika kau tiba disana."kata Nayla.


"Pasti."Rose mengangguk,air matanya bergulir.


"Ayolah...hentikan ini.Hanya perlu beberapa jam penerbangan untuk sampai disana."ucap Nayla menghapus air mata Rose."Akan ku usahakan agar aku bisa kesana untuk melihatmu.."kata Nayla pasti.


"Akan ku tunggu."jawab Rose.


"Sampai jumpa lagi Nay."kata Rose.Matanya pun beralih ke Adrian dan tersenyum.


"Sampai bertemu lagi Adrian.Tolong jaga dia ya."kata Rose melirik Nayla.


"Tentu."jawab Adrian tersenyum.


Rose pun melambai pada Adrian dan Nayla lalu berbalik memasuki bandara.Nayla berbalik ketika Rose menghilang dari pandangannya.


"Kita kembali ke kantor"kata Nayla datar.


"Baik."jawab Adrian membungkukkan sedikit badannya.


Nayla berjalan dengan Adrian dibelakangnya.Ketika mencapai mobil milik Adrian,langkahnya terhenti.


'Apakah sebaiknya aku naik taksi?biar bagaimanapun juga,dia bukanlah Rose.'pikirnya.


"Apakah ada yang salah nona Nayla?"tanya Adrian sopan.Tangannya terhenti dipintu mobil.


'Sangat ada,dan kaulah letak salahnya.kenapa masih seformal itu padaku?'gerutunya dalam hati.


"Tidak."jawab Nayla singkat namun belum beranjak dari tempatnya berdiri.


"Anda bisa duduk dimanapun ada merasa nyaman,saya tidak keberatan."kata Adrian seolah membaca pikirannya.


"kembalilah lebih dulu,ada yang harus kulakukan sebentar."kata Nayla membatalkan niatnya membuka pintu mobil Adrian.


Adrian mengerutkan keningnya,menatap tidak mengerti kearah Nayla.


"Saya tidak keberatan mengantarkan anda kemanapun."kata Adrian lagi.


"Aku menghargainya.tapi,pekerjaan kantor tak akan menyelesaikan dirinya sendiri."jawab Nayla.


"Pergilah lebih dulu,aku akan kembali secepat yang aku bisa ketika urusanku selesai."kata Nayla tegas.


Sesaat Adrian tertegun dengan perubahan Nayla,namun akhirnya mengangguk patuh.


"Baik.saya akan kembali."kata Adrian.


Nayla hanya mengangguk dan tersenyum tipis.Begitu mobil Adrian hilang dari pandangannya,Nayla mencegat taksi untuk kembali kekantor.


Di taksi,pikiran Nayla melayang kembali pada malam festival ketika dia bertemu Thomas dan Ethan.Mereka secara langsung mengagumi buku yang ditulis olehnya.Melihat betapa antusiasnya mereka membicarakan buku yang dia ciptakan,tak bisa dipungkiri hal itu membuatnya senang.


Nayla mendesah pelan.Tiba tiba bayangan Rory muncul dimatanya.


'kenapa aku mengingat dia ya?'pikirnya. 'benar juga,aku lupa menanyakan apa pekerjaannya.'tambahnya


Nayla mengelengkan kepalanya,berusaha menyingkirkan bayangan Rory yang tiba tiba menganggunya.Perlahan tangannya merogoh kedalam tasnya mencari kacamatanya dan mengeluarkan buku yang Rory belikan untuknya.


'Benar benar,alih alih aku membeli ini,justru Rory lah yang membelikan buku ini untukku.dia terang terangan menolak uang yang kuberikan ketika aku ingin mengganti uang yang telah dia gunakan.'bisik hatinya.


Mendesah pelan.Nayla memakai kacamatanya lalu mulai membuka buku,menengelamkan diri pada buku yang ada ditangannya.Setelah beberapa waktu,Nayla memberi intruksi pada sopir taksi untuk memilih rute yang berbeda untuk mengulur waktu dan berencana turun diarah yang berbeda dengan kantornya dimana memerlukan waktu dengan berjalan kaki untuk mencapai kantor.


Perlahan,taksi melambat dan mulai menepi,menyadari itu,Nayla menutup bukunya dan mengeluarkan uang setelah melihat angka yang tertera di argo taksi.Ketika akhirnya taksi itu berhenti,Nayla menyerahkan uang pada sopir dan segera keluar.


"Tunggu nona."cegah sopir taksi menghentikan Nayla yang akan meninggalkan taksi.


"Ya?"Nayla membungkuk untuk melihat sopir yang duduk dibelakang kemudi,


"Uang kembalian anda..."dia berkata sambil mencari uang kembalian yang belum lengkap.


"Untukmu saja."kata Nayla ramah.


"Tolong jangan nona."balasnya masih mencari uang pecahan.

__ADS_1


"Apakah anda ada uang pas saja nona?"tanya sopir."Saya belum memiliki banyak penumpang hari ini,jadi saya tidak memiliki uang pecahan."ata sopir beralasan.


"Tidak."jawab Nayla mengelengkan kepalanya.


"Kalau begitu,tolong anda ambil saja uangnya.saya tidak memiliki uang cukup untuk kembalian."kata sopir dengan senyum ramah.


"Anda hanya perlu menyimpan sisanya.anda sudah mengantar saya,dan sudah menjadi hal yang seharusnya untuk membayar."kata Nayla lalu pergi begitu saja mengabaikan sopir taksi yang memanggilnya.


"Akan ku ingat nona cantik tadi."kata sopir itu mendesah pelan.


Nayla berjalan santai dengan buku ditangannya,kepalanya menunduk dan matanya tertuju pada buku.Meskipun matanya tertuju pada buku,hal itu tak menyulitkannya dengan semua yang terjadi disekitarnya.


Di arah yang berlawanan,mobil yang di naiki Rory tengah berhenti dilampu merah.Dengan Rory yang mengemudi,Thomas,Ethan dan Nathan duduk dikursi penumpang.


Thomas bersiul lalu tertawa ringan.


"Woww...siapa yang akan menyangka hari ini pun bisa melihatnya."katanya tiba tiba membuat tiga temannya mengarahkan pandagan mereka padanya.


"Apa maksudmu?"tanya Ethan.


Thomas mununjuk keluar mobil yang segera diikuti oleh ketiga temannya.


Nayla yang tengah berjalan dengan kepala menunduk menuju kearah yang berlawanan dengan mereka.


"Dia....siapa?"tanya Nathan.


"Kita pernah menyapanya ketika di cafe beberapa hari lalu.kau ingat?"jawab Thomas.


Nathan mengerutkan kening,melihat baik baik wajah Nayla,merasa ragu dengan ingatannya.


"Yang dikantor pak Darwin?"tanya Nathan.


"Tepat."sambut Ethan.


"Ehhh,,,aku baru menyadarinya sekarang,bukankah waktu itu dia tidak mengenakan kacamata?dan aku juga baru ingat sekarang,baik ketika di kantor pak Darwin ataupun di cafe dia memakai kacamata.tapi watu itu dia tidak memakainya kan?"Ethan berkata dengan rasa heran.


"Benar juga..aku juga baru menyadarinya sekarang."jawab Thomas.


"Memangnya kalian bertemu lagi dengannya dimana?"tanya Nathan.


"Saat malam festival."jawab Ethan.


"Apa dia akan baik baik saja berjalan sambil membaca seperti itu?"tanya Nathan.


Tepat setelah pertanyaan Nathan keluar,dari arah yang berlawanan dengan Nayla,ada seorang pria melaju mengunakan skateboard dengan keranjang bunga ditangannya.


"Ouhh,,,dia tak akan selamat."gumam Nathan.


Thomas menurunkan kaca mobil berniat mengingatkan Nayla,namun yang terjadi justru membuat empat pasang mata mereka tercengang.


Tepat ketika pria itu berada dijangkauan Nayla,dengan langkah ringan,Nayla membalik badannya dan membiarkan pria itu meluncur dengan mulus.


"Thanks Nay.."Seru pria itu berlalu begitu saja.


"Pastikan saja kau tak salah masuk toko lagi."jawab Nayla mengangkat tangan kanannya.


Bersamaan dengan Nayla menurunkan tangannya,sebuah bola mengelinding kearahnya yang disambut dengan gerakan ringan kakinya membuat bola melambung keatas,mendarat dengan sempurna ditangan kanannya.seorang anak laki laki berlari mengejar bola itu.


"Terima kasih kak Nay."ucap seorang anak laki laki mengambil alih bola dari tangan Nayla.


"Sama sama sayang."balas Nayla mengusap pelan kepala anak itu dan melanjutkan langkahnya lagi tanpa mengalihkan pandangannya dari buku.


Nayla yang tak menyadari ada empat pasang mata melihat tindakannya dengan mata melebar dan mulu terbuka terus berjalan dengan langkah ringan menuju kantornya.


TIIINNNNNN..........


Suara nyaring klakson mobil mengejutkan mereka,berulah mereka menyadari lampu telah berubah hijau.Dengan gerakan cepat,Rory mulai menjalankan mobilnya.


"Jika Nathan yang berjalan disana,aku tak bisa membayangkan apa yang akan terjadi."celetuk Thomas menoleh kearah Rory.


Pernyataan Thomas meingatkan Rory pada Nathan yang membentur kursi ketika dia berjalan sambil membaca.Tak terhindarkan,tawa Rory pun pecah.


"Aku bahkan tak ingin membayangkannya."kata Rory disela tawanya.


"Keren juga dia." Nathan berkomentar pelan.


"Tidak sekeren kamu yang membenturkan diri di kursi.begitu?"goda Thomas.


"Membentur kursi?dia?kapan?"tanya Ethan dengan jari menunjuk Nathan.


"Hei...aku bukan membenturkan diri,tapi tak sengaja."bela Nathan.

__ADS_1


"Bahkan setelah berada disana beberapa tahun,kau tidak ingat dimana letak kursi.begitu?"tanya Thomas menahan tawa.


"Itu kan....."Nathan kehabisan kata kata membuat Thomas tersenyum penuh kemenangan.


"Tapi aku setuju dengan Nathan,dia keren juga,bisa menghindari hal hal tadi saat matanya fokus pada buku yang ada ditangannya."kata Ethan.


"Anggaplah dia memiliki refleks yang bagus."jawab Rory.


"Hey...Rory..katakan padaku,apa kau tau sesuatu tentang kacamata yang dia pakai?"tanya Ethan masih penasaran.


"Dia berkata padaku,sebenarnya matanya normal,hanya saja kesehatan matanya terganggu dan disarankan dokter untuk memakai kacamata selama tiga bulan."jawab Rory.


"Bukankah dia memiliki mata yang indah?"tanya Ethan dengan senyum jahil.


Thomas menoleh kearah Ethan yang mengedipkan mata padanya,seolah mengerti bahwa Ethan sedang menggali apa yang ada dipikiran Rory,sebuah senyum jahil terbentuk dibibir Thomas.


"Aku juga berpikir begitu.Ramah,baik, dan sangat mudah ketika mengobrol dengannya."sambung Thomas.


"Kau lupa menyebutkan cantik."tambah Ethan.


"Dan mempesona"sambung Rory tanpa sadar.


"Ohoo...siapa yang baru saja mengakui perasaannya."kata Ethan mengejek lalu tertawa.


"Tidak ada."jawab Rory cepat.


"Bahkan setelah kencan mengenakan pakaian caupel?"sindir Thomas.


"Itu bukan cauple."jawab Rory cepat dan menoleh sebentar pada Thomas sebelum fokus pada jalan lagi.


"Kau payah dalam hal menyangkal."kata Ethan.


"Dan aku hanya menjadi nyamuk disini yang tak mengerti apapun."ucap Nathan menyela pembicaraan mereka.


"Kau akan merasa nyaman ketika kau mengobrol dengannya."kata Ethan.


"Kenapa aku harus mengobrol dengannya,apa hubungannya?"tanya Nathan tak mengerti.


Thomas melirik Rory dan memberi isyarat dengan jarinya.Menangkap isyarat itu,Nathan tertawa.


"Bersyukurlah Kevin dan martin tidak bersama kita sekarang."kata Nathan.


"Untuk saat ini,biarkan saja berjalan seperti ini."jawab Thomas.


"Kurasa Kevin sudah menyadarinya."kata Rory."Dia hanya tidak mengatakannya."tambahnya.


"Lalu apa yang akan kau lakukan?"tanya Thomas.


"Tentu saja melakukan apa yang hatiku katakan."jawab Rory.


"Jadi..kau mengakui perasaanmu?"tanya Thomas dengan seringai diwajahnya.


"Perlu kuingatkan padamu Thomas,aku menyadari kalian ingin menjebakku agar aku mengatakan apa yang aku rasakan.itu alasan kalian dibalik ungkapan manis tadi bukan?"tanya Rory.


"Tidak seratus persen benar,"jawab Ethan.


"Kalau begitu,akhiri saja pembicaraan itu disini dan biarkan berjalan dengan sendirinya.Oke.."kata Rory lagi.


"Oke..itu berarti kau tak masalah kan kalau aku mengajaknya makan malam?"tanya Ethan.


CIIITTTTT....


Rory menginjak rem tiba tiba hingga suara decitan ban mobil terdengar nyaring.Akibat berhenti yang tiba tiba,tubuh mereka membentur yang ada didepannya.


"Kau gila ya."hadrik Ethan mengusap kepalanya yang membentur kursi yang diduduki Thomas.


"Ahhh....kau juga sih cari masalah."erang Nathan mengusap bahunya.


"Jika kau ingin mati,jangan bawa bawa kami."sambung Thomas mengusap dahinya.


Rory menoleh kearah Ethan sesaat lalu menjalankan mobilnya lagi tanpa mengatakan apapun.


"Aku bercanda astaga....dan akan tutup mulut hingga Kevin mengetahuinya sendiri."kata Ethan lagi.


"Aku tau."jawab Rory singkat."Jadi sekarang kita mau kemana?toko langganan kita tutup."tanya Rory.


"Kita makan siang dulu.ini sudah lewat jam makan siang."jawab Thomas.


Rory mengangguk setuju dan menjalankan mobilnya mencari restoran yang mereka inginkan.


...****************...

__ADS_1


__ADS_2