LOVE OF MY LIFE

LOVE OF MY LIFE
102. Chapter bonus. Edisi sebelum pernikahan


__ADS_3

### Beberapa minggu sebelum pernikahan


Tanpa sepengetahuan Rory, secara rutin diam-diam Nayla mengunjungi Alisha. Pada awalnya Alisha menganggap Nayla hanya ingin mengoloknya, namun setelah Nayla beberapa kali datang dan tidak pernah membahas hal yang sensitif untuknya, Alisha menerima kunjungan Nayla dengan senyum hangat.


Alisha yang terlambat mengetahui siapa Nayla sebenarnya terkejut saat beberpa dari petugas yang berjaga di selnya mendekati Nayla dan meminta tanda tangan di buku yang mereka bawa.


Lebih mengejutkan lagi, Alisha sendiri juga menyukai dan mengagumi buku karya Nayla.


"Aku tak pernah menyangka bahwa ternyata kaulah penulis yang selalu menjadi perbincangan banyak orang. Kenapa kamu tidak mengtakannya sejak awal? Dengan begitu, kamu tidak akan menerima hinaan dari orang lain," tanya Alisha.


"Karena aku lebih nyaman dengan orang-orang yang mengabaikanku," jawab Nayla.


"Dan sekarang kamu berubah pikiran?" tanya Alisha yang dijawab dengan anggukan kepala.


"Kenapa? Tentu kamu memiliki alasan jika kamu sampai rela meninggalkan zona nyamanmu," ucap Alisha.


"Aku tidak ingin Roy juga menanggung hal ini. Aku tidak bisa membiarkan orang lain merendahkannya hanya karena mereka menganggap aku hanyalah pekerja biasa di kantor redaksi buku, rasanya sangat menyebalkan ketika aku bisa menutup mulut mereka tetapi aku tetap diam," terang Nayla.


"Ahh,, aku tau seperti apa rasanya, berpura-pura memang tidaklah selalu menguntungkan," desah Alisha.


"Lalu, bagaimana dengan rencana pernikahanmu?" tanya Alisha penasaran.


"Itu, Haahh,, jangan tanya! Semua hal yang harus dilakukan terasa melelahkan, dan tak pernah ada waktu untuk benar-benar istirahat," keluh Nayla.


Alisha tertawa singkat, namun sedetik kemudian menatap Nayla dengan perasaan bersalah yang bersarang dihatinya.


"Kenapa kamu terus bersikap baik padaku disaat aku bahkan berencana untuk membunuhmu?" tanya Alisha lirih.


"Sebelum aku menjawabnya, bisakah aku menanyakan sesuatu padamu?" jawab Nayla balas bertanya.


'Sudah ku duga, di pasti akan tetap bertanya, dan aku yakin itu tentang aku dan Relena. Tapi, tak apa. Aku tak keberatan jika dia memang ingin menggali informasi lebih dalam dariku, toh aku akan berada disini selama beberapa tahun,' batin Alisha.


"Kamu tidak perlu menjawabnya jika pertanyaanku terasa membebanimu, Alisha, aku tidak akan mendesakmu," ucap Nayla tersenyum tulus.


Alisha mengeleng pelan, lalu tersenyum.


"Katakanlah, aku akan menjawabnya sebaik mungkin dan tanpa menutupi apapun," jawab Alisha.


"Apakah kamu akan melakukan apa saja untuk adikmu meskipun itu akan merugikan dirimu sendiri?" tanya Nayla.


Alisha menatap Nayla untuk beberapa saat, ia sama sekali tidak menduga akan mendapatkan pertanyaan seperti itu. Mengambil jeda sejenak untuk berpikir sebelum menjawab.


"Selama itu bukan sesuatu yang salah, maka Ya, aku akan melakukan apapun untuknya. Bahkan jika bayarannya adalah nyawaku sendiri. Yang aku tau hanyalah, dia harus bahagia. Tapi, jika dia memiliki langkah salah, aku akan melakukan apapun untuk menyadarkannya," jawab Alisha.


"Sama seperti saat ini. Ketika aku keluar nanti, aku akan terus mencari cara untuk menyadarkannya jika dia masih tetap mengambil langkah salah," imbuhnya.


"Apakah semua kakak akan melakukan hal itu?" tanya Nayla.


Nayla berusaha sebisa mungkin untuk menekan perasaannya, menutupi apa yang bergejolak di hatinya dari Alisha.


"Entahlah, aku tidak tau jika orang lain. Tapi aku dan Kevin akan bersikap sama. Kevin juga sangat menyayangi adiknya, dan sekarang dia juga menyayangimu sama seperti manyayangi adiknya sendiri, bahkan lebih," papar Alisha.


"Begitu rupanya," Nayla bergumam pelan.


"Terima kasih sudah bersedia menjawab Alisha," ucap Nayla.


"Kenapa kamu bertanya begit_,,,"


"Jam besuk telah habis, saya meminta anda untuk segera meninggalkan tempat ini, nona,"


Penjaga sel menyela kalimat Alisha hingga ia gagal menyelesaikannya.


"Ah, baik. Tunggu sebentar," jawab Nayla ramah.


Nayla kembali mengarahkan pandangnnya pada Alisha.


"Alasanku bertanya hal itu karena, jawabannya berhubungan dengan apa yang kamu tanyakan tadi padaku," jawab Nayla seraya berdiri.


"Aku akan mengunjugimu lagi lain kali, jaga dirimu, Alisha," ucap Nayla sebelum pergi.


"Hei,,,!"


Suara Alisha menghentikan langkah Nayla yang segera berbalik untuk menatapnya. Menunggu apa yang ingin Alisha katakan padanya.


"Aku tau kamu sudah menemukan siapa yang telah menyuruh orang itu membuat drama plagiat, aku akan memperingatkan mereka untuk tidak menganggumu. Namun, jika mereka tetap melakukannya, lakukan saja apa yang ingin kamu lakukan tanpa mengaitkan aku didalamnya, aku tau kamu tidak akan melakukan sesuatu tanpa dasar," tutur Alisha tersenyum tulus.


"Aku akan mengusahakan hal itu, aku berharap hatiku tidak mengalahkan logikaku ketika hal itu terjadi didepan mataku," jawab Nayla.


Nayla membalikkan badanya dan keluar dari tempat kunjungan tahanan. Ia tidak langsung menuju dimana mobilnya terparkir, namun Nayla justru duduk dikursi panjang yang terletak tak jauh dari pintu masuk LP.


Merenungi apa yang dikatakan Alisha sebelum dirinya keluar.


'Bagaimana dia bisa tau kalau aku sudah menemukan pelakunya?' pikirnya.


Sementara itu, Alisha yang menatap punggung Nayla yang menjauh, juga memiliki pemikiranya sendiri.


'Dia terlihat lembut dan selalu diam. Tapi dia bisa mendapatkan informasi sampai bagian terkecil untuk membalikkan keadaan. Akan lebih baik jika aku memperingingatkan mereka untuk berhenti mengusiknya sebelum mereka menyesalinya. Dia bukan orang yang mudah untuk disentuh,' batin Alisha.


Nayla bangun dari duduknya dan merenggangkan badannya, berniat untuk segera pergi meninggalkan LP sebelum dirinya ketahuan menghilang terlalu lama.

__ADS_1


Namun, langkahnya terhenti saat akan mencapai mobilnya oleh tiga wanita yang ia pernah temui ketika di Paris bersama Rory.


"Lihat ini, siapa yang baru saja mengunjungi seorang kriminal," cibir salah satu dari mereka.


"Ah,,, kalian. Apakah kalian datang untuk mengunjugi Alisha?" tanya Nayla ramah.


"Aku rasa itu bukan hal yang harus kamu tau untuk saat ini," jawabnya sinis.


"Kalau begitu, aku permisi. Semoga hari kalian menyenangkan," ucap Nayla sembari berbalik.


"Apakah setelah dia ketahuan melakukan plagiat, kau lantas meninggalkannya? Apakah kau berencana mencari seseorang yang lebih kaya darinya?" cibir salah satu dari mereka.


"Itu berarti namanya dalam dunia musik akan tengelam bukan?"ejak yang lain.


"Hahh,,," desah Nayla pelan seraya kembali berbalik menghadap mereka.


"Aku berencana diam dan melepaskan kalian mengingat kalian adalah teman Alisha. Aku akan memberi kalian saran gratis," ucap Nayla melangkah mendekati mereka.


Mereka terdiam seolah ada yang tengah mengintimidasi mereka.


"Jika kalian tidak cukup mampu untuk membayar seseorang untuk membuat drama konyol tentang plagiat, akan lebih baik kalian tutup mulut," ucap Nayla dingin.


"Oh,, haruskah aku menyebutkan satu persatu kasus yang orang tua kalian timbulkan?" ujar Nayla menaikan alisnya.


"Kantor redaksi buku ilegal? Plagiat karya yang dicetak? Atau kasus bunuh diri seorang penulis yang ditutupi?"


Ketiga wanita itu tersentak mundur. Menatap Nayla dengan ekspresi ngeri.


'Bagaimana dia bisa tau semua itu?' batin mereka.


"Dan apa yang tadi kalian katakan? Aku mengunjungi seorang kriminal? Benarkah?" tanya Nayla.


"Bukankah itu memang benar?" balasnya.


"Aku penasaran, bagaimana perasaan Alisha jika mendengar hal ini keluar dari mulut kalian, yang dia anggap sebagai teman," ujar Nayla.


"Apa maksudmu?" tanyanya dengan nada kesal.


"Permisi,,"


Suara seseorang menyela mereka sebelun Nayla sempat menjawab.


"Ya?" sambut Nayla tersenyum.


"Aduh,,, aku jadi deg-degan gini," gumam pemuda yang menghampiri Nayla tersenyum malu.


Pemuda itu menunduk malu, berusaha menyusun kalimatnya sebelum bicara.


"Tentu," jawab Nayla.


Pemuda itu menyerahkan buku ditangannya dengan pena didalamnya.


"Siapa namamu?" tanya Nayla.


"S-saya,,, Malvin," jawabnya malu-malu.


"Hmm,,, Malvin. Baiklah, ini," ucap Nayla sembari mengembalikan buku.


Malvin bersorak senang ketika melihat bukunya lagi. Namanya tertulis di samping tanda tangan Nayla. Ia kembali mengucapkan terima kasih dan berlalu pergi.


"Kenapa dengan pemuda tadi? Kenapa meminta tanda tangannya?" gumam salah satu dari mereka.


Ketika Nayla akan kembali berbicara, sebuah mobil yang cukup ia kenali berhenti tepat di belakang mobil miliknya.


Beberapa saat kemudian, Martin keluar dari mobil diikuti Adrian.


"Aish,,, ketahuan," keluh Nayla pelan, namun cukup untuk di dengar ketiga wanita didekatnya.


"Apa yang sedang kau lakukan disini?" tanya Martin sedikit kesal.


"Apakah kau mengabaikan apa yang aku minta, Nay?" timpal Adrian.


"Kenapa kalian berdua bisa bersama?" jawab Nayla balas bertanya.


"Aku berencana datang ke apartemenmu, tapi Martin datang ke kantor untuk bertemu denganmu," jelas Adrian.


"Kenapa?" kening Nayla berkerut.


"Akan ku jelaskan nanti," jawab Adrian.


"Apakah mereka menganggumu lagi, Nay?" tanya Martin menatap tajam pada tiga wanita yang ada didekat Nayla.


"Tidak, aku hanya tidak sengaja bertemu mereka sebelum pulang.


"Kau menemui, Alisha?" tebak Martin.


"Ya," jawab Nayla singkat.


Hembusan nafas kasar keluar dari mulut Martin. Ia kembali menatap tiga wanita itu, namun tidak mengatakan apapun. Martin justru berbalik menghadap Nayla dan meraih tangannya.

__ADS_1


"Berikan kunci mobilmu pada Adrian, dan kau ikut denganku," perintah Martin dengan nada tegas.


"Kau tidak keberatan kan, Adrian?" tanya Martin berpaling kearah Adrian.


"Tidak sama sekali," jawab Adrian.


Merasakan suasana berbeda, dan Nayla juga merasa tersudut hanya bisa menurut. Nayla tidak melawan saat Martin menuntunnya untuk masuk ke mobil setelah memberikan kunci mobil.


Keheningan menyelimuti didalam mobil selama perjalanan. Martin mengemudi dengan Nayla disampingnya. Sebenarnya Nayla juga tau Martin menyimpan banyak pertanyaan untuknya, sama seperti dirinya juga meyimpan beberapa pertanyaan untuk Martin.


"Beri aku alasan kenapa kau harus menemui orang yang bahkan berencana membunuhmu? Dia bahkan sukses mengirimmu kerumah sakit dalam keadaan kritis," tanya Martin memecah keheningan.


Dari suaranya saja, Nayla tau dia kesal, dan menahan emosinya. Martin juga bertanya tanpa menatapnya sedikitpun, tapi ketegangan ditangannya sangat terlihat jelas.


"Dia sudah menyesalinya, dan dia juga sudah berubah," jawab Nayla.


"Benarkah? Tidakkah kau berpikir dia bisa melakukannya untuk kedua kalinya_ tidak ketiga kalinya, dia sudah dua kali, apa kau melupakan itu?" sergah Martin.


"Dia seorang kakak, Martin," jawab Nayla tenang.


"Kevin juga seorang kakak," balas Martin mulai terlihat kesal.


"Jika aku ada di posisinya, aku juga akan melakukan hal yang sama," ungkap Nayla.


"CIITTTTT,,,,!!!"


Martin menginjak rem mendadak dan segera membalik badannya menatap Nayla yang sedikit terkejut dengan aksi Martin.


"Apa sebenarnya yang ingin kau katakan? Kau bukan orang yang akan menyakiti orng lain," sergah Martin.


"Dia hanya bersikap sebagai seorang kakak," terang Nayla.


"Tapi bukan berarti harus menyakiti orang lain," tukas Martin.


Nayla membalik badannya dan menghadap Martin. Membuat posisi mereka saling berhadapan.


"Bisakah kamu memberiku waku untuk menjelaskan tanpa interupsi darimu?" tanya Nayla.


Martin terdiam, namun memberi anggukan pelan sebagai tanda setuju.


"Alisha hanya ingin adiknya bahagia, namun dia tidak tau apa yang disembunyikan adiknya. Dia hanya membuat syarat mutlak untuk dirinya sendiri bahwa dirinya harus bisa membuat adiknya bahagia bagaimanapun caranya,"


"Ketika dia tau bahwa adiknyalah yang melakukan kesalahan, dia menekankan pada diinya sendiri bahwa dia harus bisa membuat adiknya kembali,"


Nayla menjelaskan dengan hati-hati, akan tetapi hal itu masih belum cukup bagi Martin.


"Tapi tetap saja, dia seharusnya mencari tau lebih dulu apa yang sebenarnya. Bagaimana bisa kamu membandingkan dirimu dengan dirinya?" sangkal Martin tidak puas.


"Aku selalu menyalahkan diriku sendiri atas kematian kakakku, Martin," ungkap Nayla membuat Martin tertegun.


"Kau tau? Selama ini aku selalu menganggap bahwa akulah yang membunuh kakaku, aku selalu menyalahkannya kenapa menyelamatkanku dan meninggalkanku, kenapa dia tidak membiarkan saja agar aku bisa bersamanya,"


"Setelah banyak hal yang aku lalui, betapa aku ingin melindungi seseorang yang berarti untuku, hal itu membuatku mengerti kenapa saat itu kakakku lebih merelakan hidupnya,"


"Hal itu juga sama dengan yang Alisha alami,"


Setiap kalimat yang diucapkan Nayla membuat Martin tidak bisa lagi menyangkalnya. Ada akhirnya ia hanya bisa mendesah pelan, tidak tau bagaimana harus menanggapi apa yang baru saja Nayla katakan.


'Inikah maksud dari yang kamu sebut mencari jawaban padaku saat itu?' batin Martin.


Martin Kembali menjalankan mobilnya dalam diam, masih mencerna semua yang baru saja ia dengar.


"Apakah mereka juga tau aku disana?" tanya Nayla setelah jeda keheningan panjang.


"Hanya aku yang tau karena aku melacak GPS mu, sedangkan mereka menunggu di apartemenmu," jelas Martin.


"Termasuk dia?" tanya Nayla lagi.


"Dia curiga, tapi dia bersikap tidak tau apapun," jawab Martin.


"Apakah kamu akan mengatakan hal ini padanya?" tanya Nayla cemas.


"Tidak," jawab Martin. "Kaulah yang harus mengatakannya sendiri padanya, dan percayalah dia juga tidak akan mendesakmu dengan pertanyaan. Dia berubah drastis sejak insiden terakhir, dan selalu bersikap hati-hati jika ada hal yang berhubungan denganmu," papar Martin.


"Jadi, kaulah yang harus mengatakannya dengan atau tanpa diminta olehnya," harap Martin.


"Aku mengerti," jawab Nayla.


Martin melirik sekilas,lalu terseyum. Ia terus menjalankan mobilnya hingga sampai di gedung apartemen dimana Nayla tinggal.


Melihat mobil Nayla telah sampai lebih dulu, mereka berdua segera menuju lantai apartemen Nayla dan mendapati semua oang telah berada di ruang kerja Nayla.


Bersantai, membaca buku, dan Roy?


Bermain gitar, menyanyikan lagu yang ia buat.


Nayla meletakkan telapak tangan didahinya disertai hembusan nafas panjang


----To be continued----

__ADS_1


See You Next Yea :) :)


__ADS_2