
~Dukung karyaku dengan komen,like dan vote yaaa..dukungan dari kalian sangatlah berharga.~
----------
Rory diam dan menunggu Nayla berhenti bicara.
"Aku tidak suka jika kamu benar-benar menjalankan niatmu untuk kembali sebelum konser dan tour mu berakhir," bujuk Nayla.
"Lalu kenapa kamu tidak memberikan kabar apapun padaku, Nay?' protes Rory.
"Itu bukan niatku, sungguh!" sangkal Nayla.
"Kamu membuat alasan yang justru terdengar aneh untuk didengar, Nay," sambut Rory.
"Tidakkah kamu merasa cukup aku masih bisa berdebat denganmu sebagai jawabannya, Roy?" bujuk Nayla.
"Tapi aku sangat mengkhawatirkanmu, Nay," kekeh Rory.
"Aku akan baik-baik saja," tutur Nayla meyakinkan. "Sebagai gantinya, berikan penampilan terbaikmu di konser kali ini dan biarkan aku melihat hasil rekamannya, bagaimana?" pinta Nayla.
"Tapi,,, bagaimana dengan keadaanmu sekarang?" tanya Rory masih khawatir.
"Sejujurnya,,, aku mulai mengantuk setelah minum obat sebelum aku menghubungimu," canda Nayla.
"Nay,,,,!" Rory memperingatkan.
"Aku sungguh-sungguh," jawab Nayla tertawa pendek. "Aku mengantuk, tapi jika aku tidur sekarang, kaulah yang akan lebih khawatir dan berasumsi sembarangan," sindirnya.
"Baiklah, istirahatlah,!" pinta Rory sedikit lega.
"Tapi, berjanjilah Roy!" harap Nayla.
"Apa,?" tanya Rory.
"Kamu harus memberikan penampilan terbaikmu dan memberikan hasilnya padaku,!" pinta Nayla.
"Selama kau berjanji akan tetap baik-baik saja dan lebih memperhatikan kesehatanmu, maka aku juga akan berjanji padamu," tutur Rory.
"Aku janji," jawab Nayla.
"Maka aku juga akan menjanjikan hal yang sama padamu," balas Rory.
"Istirahatlah,! Aku akan menghubungimu lagi nanti," janji Rory.
"Aku akan menantikannya," sambut Nayla.
Panggilan dari Rory pun berakhir. Nayla meletakkan poselnya di meja dan membaringkan tubuhnya.Matanya yang terasa sangat berat membuatnya tidak memerlukan waktu lama hingga dirinya terlelap.
...****************...
Di sisi lain pada waktu yang sama.
Rory menyimpan ponselnya di ruang ganti yang telah di siapkan.
Beberapa waktu lalu, Rory mendatangi Martin, berniat untuk mengatakan akan kembali malam ini. Tapi, Nayla terus menghubunginya dan berhasil menghentikannya. Hingga membuatnya meninggalkan Martin dan tidak menggatakan niat yang sempat memenuhi pikirannya.
"Hhaahh,,,,!" desah Rory.
"Selalu saja, dia membuatku khawatir tapi juga menenangkanku pada saat yang sama," gumamnya pelan.
Tok,,,
Tok,,,
Tok,,,
Suara ketukan pintu mengalihkan perhatian Rory yang segera melihat jam yang melingkar di pergelangan tangannya.
"Masuk," sambut Rory.
"Kau sudah siap?" tanya Thomas yang muncul di balik pintu.
"Sebentar lagi," jawab Rory. "Apakah yang lain sudah siap?" sambungnya.
"Mereka menunggu di belakang panggung," jawab Thomas sembari menutup pintu. " Apakah terjadi sesuatu padanya?" tanya Thomas.
Rory menoleh cepat menatap ke arah Thomas dengan tatapan kaget.
"Tidak perlu seterkejut itu padaku, Rory," sambut Thomas tertawa.
"Bagaimana kau bisa tau?" tanya Rory ngeri.
"Dari wajah khawatirmu mengatakan, kau tadi menemui Martin dan ingin meninggalkan konser ini, apakah aku salah?" tebak Thomas.
"Apakah kau sadar bahwa sekarang kamu menjadi mengerikan seperti halnya Kevin?" sambut Rory.
"Kita bersama sejak lama, Rory, sangatlah wajar jika aku mengenalmu dengan sangat baik," sanggah Thomas.
"Jadi, apa yang terjadi?" sambung Thomas.
Rory mendesah pelan sebelum mulai meceritakan kejadian yang menimpa Nyala saat itu.
"Dia sakit. Menurut perkataan perawat yang merawatnya, dia pingsan selama 2 hari. Tapi, baru saja dia menghubungiku dan mengatakan dia baik-baik saja," terang Rory.
" Ya Tuhan,,, bagaimana dia bisa pingsan?" pekik Thomas.
"Perawat itu mengatakan dia kelelahan. Tapi, dia tidak mengatakan alasanya pastinya," jawab Rory lesu.
__ADS_1
"Dia justru memintaku agar aku tetap fokus di sini dan meyakinkanku bahwa dirinya baik-baik saja," papar Rory.
"Dia sangat memikirkanmu. Berikan saja apa yang dia inginkan sebagai gantinya! Lagi pula, kita akan kembai dua bulan lagi, itu akan berlalu dengan cepat," hibur Thomas sembari menepuk pelan bahu Rory.
"Hahhh,,, kau benar," jawab Rory.
"Ayo kita menemui mereka," ajak Thomas.
Rory mengangguk setuju dan beranjak dari duduknya meninggalkan ruang ganti, menuju belakang panggung dimana teman-temannya telah menunggu.
Rory pun menepati janjinya dengan memberikan penampilan terbaiknya di panggung.
Sorakan para penonton yang puas dengan penampilan memukau yang di perlihatkan Rory membuat namanya kian melambung.
Martin dan para staf dari agensi musik pun memberikan decakan kagum atas penampilan yang baru saja di perlihatkan Rory pada mereka.
Di akhir penampilannya, Rory mempersembahkan lagu yang di buat untuk Nayla sebagai puncak acara sekaligus penutup.
"Kalian memiliki waktu dua jam untuk istirahat, setelah ini akan ada sesi tanya jawab. Dan besok pagi kita akan ke Venesia sebagai tujuan selanjutnya," jelas Martin saat mereka telah berada di ruang istirahat.
Seluruh anggota FM mengangguk mengerti, dan mengistirahatkan tubuh mereka di sofa.
"Apakah kalian ingin makan sesuatu?" tanya Martin.
"Bisakah kita makan Pizza?" seloroh Ethan mengangkat tangannya.
"Tentu, kau bisa makan itu jika memang itu yang kamu inginkan, Ethan," sambut Martin tersenyum geli.
"Eeehhh,,, seriusss,,,?" pekik Ethan senang.
"Tentu saja aku serius, aku akan pesankan untukmu. Bagaimana dengan yang lain?" tanya Martin lagi sembari mengeluarkan ponselnya bersiap memesan makanan.
"Aku mau burger," timpal Nathan.
"Aku juga mau burger," sambung Thomas.
"Aku sama seperti Ethan, pizza," timpal Kevin.
"Oke,,, Rory? Apa yang ingin kamu makan?" tanya Martin mengarahkan pandangannya pada Rory yang sejak tadi diam.
"Aku tidak lapar. Aku hanya ingin istirahat, tolong panggil aku setengah jam sebelum sesi tanya jawab dimulai," jawab Rory seraya berdiri dan melangkah menuju pintu meninggalkan ruangan.
"Ada apa dengannya?" gumam Ethan setelah Rory keluar.
"Apakah kau tau sesuatu, Kevin?" tanya Nathan.
"Apakah dia masih marah padaku?" ucap Martin pelan.
"Dia tidak marah padamu, Martin," jawab Kevin menenagkan.
"Kali ini aku tidak tau apa yang terjadi, bukankah kalian juga melihatnya? Penampilannya kali ini dia benar-benar memukau?" balas Kevin bertanya.
Meski binggung, dan saling pandang satu sama lain, mereka pun setuju untuk mengikuti saran Thomas dan mulai membicarakan hal lain. Sementara Rory yang sedang di perbincangkan oleh mereka, tengah bermain dengan ponselnya. Mencoba menghubungi Nayla dengan wajah cemas.
Tut,,,
Tut,,,
Tut,,,
'Kenapa lama sekali? Apakah terjadi sesuatu padanya?' batinnya.
Setelah percobaan ke-3, akhirya Rory mendengar suara seseorang menjawab telepon darinya dengan suara cerianya.
"Hai, Roy,?" sapa Nayla senang. "Aku sudah menunggumu sejak tadi, bagaimana pertunjukannya?" sosor Nayla.
"Aku mengkhawatirkan keadaanmu, tapi kenapa kau justru khawatir tentang konserku,!" geram Rory.
"Bukankah aku sudah bilang kalau aku baik-baik saja? Aku tidak berbohong tentang itu, aku lebih ingin tau bagaimana konsermu kali ini?" desak Nayla.
"Tapi, katakan padaku, bagaimana kondisimu?" pinta Rory.
"Jauh lebih baik dari sebelumnya. Terlebih setelah aku tidur pulas sebelumnya. Dan aku akan pulang besok pagi," terang Nayla.
"Syukurlah,,, aku senang mendengarnya," sambut Rory lega.
"Berhenti menganti topik! Katakan padaku bagaimana acaranya!" perintah Nayla.
"Semua berjalan lancar, dan mendapat respon yang sangat baik, bahkan di luar dugaan kami," papar Rory.
"Itu luar biasa,!" seru Nayla bersemangat. "Ceritakan lebih banyak!" pinta Nayla.
"Kami akan ada sesi tanya jawab setelah ini. Dan besok pagi kami akan ke Venesia sebagai tujuan selanjutnya," ungkap Rory.
"VENESIAAA,,,," pekik Nayla. "Kota di atas air?" imbuhnya. "Itu hebat, dan kabar yang sangat bagus untuk di dengar," lanjutnya.
"Benar, apakah kamu menyukai tempat itu?" sambut Rory tersenyum.
"Apakah kau bercanda?" tukas Nayla antusias. " Tentu saja aku menyukainya, itu kota yang sangat indah," sambungnya.
"Kamu pernah kesana?" tanya Rory.
"Sayangnya tidak. Aku belum memiliki kesempatan untuk berkunjung kesana," terang Nayla.
"Kalau begitu, bagaimana jika kita merencanakan liburan kesana setelah aku kembali?" tawar Rory.
"Sungguh? Apakah kamu serius?" sambut Nayla senang.
"Sangat serius, jika aku tau kamu akan sesenang ini dengan Venesia, aku akan mengajakmu kesana sejak awal," ungkap Rory.
__ADS_1
"Aku sangat senang, Roy. Terlebih aku bisa kesana bersamamu," terang Nayla.
"Tapi, katakan padaku! Apa yang membuatmu lama mengangkat teleponku?" tukas Rory.
"Aku baru saja dari toilet. Tidak mungkin aku bisa mengangkat teleponmu jika aku berada di sana, bukan?" sambut Nayla.
" Apa kau yakin?" tanya Rory.
" Oh,,, Ayolah Roy,! Aku tidak sedang berusaha berbohong padamu," jawab Nayla.
"Baiklah,,, aku percaya," ucap Rory. " Istirahatlah lebih banyak," imbuhnya.
"Oh,,, aku melupakan satu hal. Kabari aku saat kamu tiba di apartemenmu besok," harap Rory.
"Tentu, aku akan melakukannya," janji Nayla.
"Bye,,, Ma Chéri, " ucap Rory lalu mematikn ponselnya.
Nayla meletakkan ponselnya begitu panggilan berakhir bertepatan dengan pintu kamar yang terbuka, memperlihatkan sosok Chris di baliknya.
"Ini sudah malam, Nay," ucap Chris mengingatkan. "Seharusnya kau istirahat jika kau memang ingin pulang besok," sambungnya.
"Itu juga yang akan aku lakukan sekarang. Aku hanya menghubungi seseorang," jawab Nayla sembari memperhatikan Chris telah melepas jas dokternya.
"Apa kamu selesai bekerja?" imbuh Nayla.
"Ya,,,shift kerjaku telah berakhir," jawab Chris.
"Lalu apa yang kau lakukan di sini?" tanya Nayla lagi.
"Menjagamu dan akan mengantarmu pulang besok pagi," jawab Chris datar.
"Kau tak perlu melakukan itu. Lagi pula besok aku bisa menggunakan taksi, dokter dan perawat di sini juga bisa menjagaku," sanggah Nayla.
"Aku lebih tenang jika menjaga mu dengan tanganku sendiri, dan perawat yang aku percaya untuk menjagamu sedang ijin. Mana bisa aku tenang," sergah Chris.
"Lakukan sesukamu," tukas Nayla.
Nayla lalu berbaring memunggungi Chris yang tersenyum dengan mengeleng-gelengkan kepalanya.
Pada keesokan harinya, Chris telah mempersiapkan kepulangan Nyala sebelum dirinya bangun, dan menuntunnya saat keluar dari rumah sakit.
Chris melingkarkan tangannya di bahu Nayla, ketika mereka berjalan keluar dari rumah sakit dan akan memasuki mobil Chris, sekali lagi Nayla merasa dirinya tengah di awasi.
Nayla mengedarkan pandangannya ke sekeliling namun tidak melihat siapapun yang terkesan mencurigakan.
"Ada apa, Nay?" tanya Chris.
"Entah kenapa, perasaanku tiba-tiba tidak enak. Tidakkah kau merasa seseorang mengawasi kita disini?" bisik Nayla.
"Tidak. Mungkin itu hanya perasaanmu saja, bukankah kau memang sedikit sensitif ketika sakit?" sambut Chris.
"Kurasa itu mungkin benar," jawab Nayla.
'Tapi aku bersumpah merasakan seseorang memotret kami di sini, rasanya tidak masuk akal jika itu hanya perasaanku saja,' sangkal hatinya.
Nayla berusaha menyembunyikan kegelisahannya di depan Chris hingga tiba di apartemennya. Firasat buruk yang di rasakan sejak kembali dari Paris justru lebih menguat dari sebelumnya.
Beberapa hal aneh yang di alaminya sejak Rory berangkat ke Itali juga menganggu pikirannya.
"Maaf ya Nay, aku hanya bisa mengantarmu sampai di sini," sesal Chris.
"Aku harus kembali bekerja karena ada jadwal operasi pagi ini," imbuhnya.
"Dengan kamu mengantarku langsung saja itu cukup untukku, Chris. Dan aku berterima kasih untuk itu," sambut Nayla.
"Kau tak perlu berterima kasih padaku. Kau bukan orang lain bagiku, Nay," jawab Chris.
Nayla tersenyum tipis dan segera keluar dari mobil, ingin menghindari percakapan tentang hubungannya dengan Chris.
Chris menjalankan mobilnya menjauh dari apartemen Nayla setelah semua barang Nayla di keluarkan oleh security yang menyambut kedatangan Nayla.
"Saya bantu bawakan barang anda, Nona," ucapnya sopan.
"Terima kasih pak Ben," sambut Nayla.
"Bukan masalah, Nona," jawab Ben.
"Mari, Nona," lanjutnya.
Nayla berjalan dengan Ben di belakangnya membawakan barang miliknya.Saat tiba di depan pintu, Nayla meminta Ben untuk meletakkan barangnya dan akan memasukkan ke dalam sendiri.
Ben hanya mengangguk patuh dan segera meninggalkan Nayla.
Nayla membuka pintu apartemen dan mendapati sebuah surat yang terselip di bawah pintu.Perlahan, Nayla mengambil surat itu dan membaca isinya.
>>> AKHIRI HUBUNGANMU DENGANNYA,!!!<<<
Hanya satu kalimat dengan huruf besar tertulis memenuhi satu lembar kertas.
Nayla menatap kertas itu dangan hati gelisah.
"Kertas ini memiliki aroma parfum, apakah jika aku mengetahui siapa pemilik parfum ini akan membuatku mengetahui siapa pelakunya?" gumam Nayla.
"Aku akan abaikan untuk saat ini, tapi aku harus mencari tau siapa yang melakukan hal konyol ini," tegasnya pada diri sendiri.
Nayla meremas kertas itu dan melemparkannya ke tempat sampah, lalu masuk ke kamarnya untuk berganti pakaian.
Setelah selesai, Nayla keluar lagi meninggalkan apartemennya menuju minimarket terdekat.
__ADS_1
...****************...