
Disebuah ruangan, Nayla terbaring dengan Rory yang duduk disampingnya, mengenggam tangannya dengan lembut saat tangannya merasakan luka goresan yang cukup dalam ditelapak tangan Nayla.
Sementara yang lain duduk di sofa panjang yang ada di ruangan itu, duduk bersandar dengan wajah lelah.
Sesekali tangan Rory membelai telapak tangan Nayla yang terluka kerena menganggam sesuatu yang tajam.
Rory menoleh saat merasakan sebuah sentuhan dibahunya, lalu tersenyum lelah. Kevin menatapnya khawatir.
"Istirahatlah,! Aku akan menjaganya," tutur Kevin hati-hati.
Rory mengeleng lemah. "Aku masih ingin menjaganya," jawab Rory.
"Kamu perlu istirahat,!" ucap Kevin lgi.
Rory mengabaikan Kevin dan memalingkan wajahnya. Kembali menatap Nayla yang masih belum sadarkan diri. Engan melepaskan tangannya.
Kevin mundur dan kembali duduk di sofa bergabung bersama yang lain.
"Apakah tanganmu baik-baik saja, Kevin? Aku hampir melupakannya," tanya Thomas.
"Jika dibandingkan dengannya," ucap Kevin menunjuk Nayla dengan dagunya. "Aku tak tau apa artinya luka yang ku dapatkan ini," sambungnya.
Kevin menangkupkan telapak tangan pada wajahnya. Menyesali semua yang telah terjadi.
"Ini bukan salahmu, Kevin," hibur Thomas menepuk bahunya pelan.
"Dilihat dari sudut manapun, tidak ada sedikitpun ruang dimana aku tidak bersalah. Dan kau tau itu, Thomas," ratap Kevin.
"Apa kau ingin tau sesuatu?" tanya Thomas tiba-tiba.
Kevin mendongak menatapThomas binggung. Tidak bisa menangkap maksud Thomas.
"Apa maksudmu?" tanya Kevin mengerutkan keningnya.
"Jika dia melihatmu seperti ini, dia tak akan menyukainya," tutur Thomas.
"Aku meragukan itu setelah semua yang terjadi menimpanya," sambut Kevin.
"Aku justru meragukan ucapanmu," balas Thomas.
"Seberapa dekat kamu mengenalnya?" selidik Kevin.
"Kami memang tidak mengenal Nayla sedekat Rory mengenalnya, tapi kami percaya padanya," sela Ethan.
"Heh,,, kalian berdua memang selalu berada di pihaknya," sambut Kevin mencemooh dirinya sendiri. "Dan ku akui, aku memang telah salah menilainya," imbuhnya.
"Kuharap dia segera sadar," harap Kevin.
Suara notifikasi pesan terdengar dari ponsel Kevin, dan segera membukanya.
Pesan dari Martin muncul untuk memberitaukan pelaku kekerasan yang mereka tangkap tidak mau membuka mulutnya saat ditanya siapa yang menyuruh mereka.
Martin pergi kekantor polisi setelah mengetahui kondisi Nayla stabil dan memutuskan untuk berangkat seorang diri.
Namun, kesaksian dari Kevin dan Rory tetap diperlukan untuk penyelidikan. Mereka diminta untuk datang keesokan harinya.
__ADS_1
Kevin mendesah pelan setelah membaca pesan Martin.
"Apa sesuatu yang buruk terjadi?" tanya Thomas.
"Aku dan Rory diminta untuk datang ke kantor polisi besok pagi," papar Kevin.
"Kalau begitu, kalian hanya perlu datang. Aku yang akan menjaga Nayla. Biar aku yang meyakinkan Rory untuk pergi," ucap Thomas.
Kevin mengangguk pelan.
Tanpa disadari, mereka tertidur karena kelelahan. Begitu pula dengan Rory juga tertidur dengan meletakkan kepalanya diranjang Nayla tanpa melepaskan tangannya.
_ _ _ _ _ _ _ _ _
*Keesokan harinya*
Kevin dan Rory pergi ke kantor polisi setelah Thomas berhasil meyakinkan Rory untuk tetap pergi.
Selama kepergian Kevin dan Rory, mereka bertiga (Thomas, Ethan dan Nathan) bergantian menjaga di samping Nayla.
Tok,,,
Tok,,,
Tok,,,
Suara ketukan pintu mengalihkan perhatian mereka, dan serentak menoleh kearah pintu.
Chris masuk diiringi Irene dibelakangnya muncul dari balik pintu dan menyapa mereka.
"Kantor polisi," jawab Thomas.
"Apakah itu berkaitan dengan pelakunya?" tanya Chris lagi.
"Benar. Pihak kantor polisi membutuhkan kesaksian Rory dan Kevin dan juga sebagai saksi kekerasan yang mereka lakukan," terang Thomas.
"Baiklah, keadaannya normal. Kalian bisa meninggalknnya untuk membeli sarapan. Aku yakin kalian tidak makan apa pun sejak kemarin," ucap Chris setelah selesai memeriksa kondisi Nayla.
"Tapi--,,"
"Kalian juga memerlukan asupan untuk bisa tetap menjaganya bukan?" Chris memotong ucapan Thomas.
Thomas terdiam dan saling melempar pandangan dengan Ethan dan Nathan.
"Aku akan membeli makanan yang mudah untuk dimakan, kalian berdua tetap disini," ucap Ethan memutuskan kebingguan yang terjadi.
"Irene akan tetap disini menjaganya jika kalian masih khawatir tentang hal itu," ucap Cris.
"Aku percaya dia bisa melakukan tugasnya dengan baik, tapi kami hanya ingin tetap menjaganya," sambut Ethan.
"Baiklah jika itu yang kalian inginkan, panggil aku jika kalian memerlukan sesuatu. Aku masih harus memeriksa pasien lain, aku akan kembali lagi nanti," ucap Chris mengalah.
Mereka mengangguk mengerti dan berterimakasih sebelum Chris pergi meninggalkan ruangan.
Seperti kesepakatan sebelumnya, Ethan pergi untuk membeli makanan semtara Nathan dan Thomas menjaga Nayla.
__ADS_1
Sepeninggal Ethan, Thomas kembali menghampiri Nayla yang masih terbaring. Bertanya-tanya dalam hatinya.
'Jika dokter kakak Nayla, lalu yang pemakaman itu bukankah Nayla menyebutkan kata kakak saat itu?' batin Thomas.
'Kenapa semua terasa rumit? Apakah dia memiliki dua kakak? Rory bahkan tidak tau apapun karena Nayla tidak menceritakan apapun padanya? Sebanyak apa rahasia yang kau simpan Nay?'
Thomas terus bertanya-tanya dalam hatinya. Berpikir ingin menanyakan semuanya pada Chris, tapi waktu dan kondisinya tidak mendukungnya.
"Dia kakak Nayla, tapi kenapa tidak memiliki kemiripan sedikitpun?" celetuk Nathan memecah keheningan. Memutuskan pikiran Thomas.
"Apa maksudmu,?" tanya Thomas.
"Apakah kamu tidak menyadarinya?" ucap Nathan balas bertanya.
"Mereka sedikitpun tidak terlihat seperti kakak beradik," papar Nathan.
"Kita hanya tidak tau apa kisah dibaliknya. Tapi aku percaya apa yang dokter itu katakan," sambut Thomas.
"Selain itu, reaksinya memang menunjukkan sosok kakak yang menyayangi adiknya. Tidakah kau melihatnya? Dia bahkan siap untuk membunuh siapapun yang menyakiti adiknya," lanjutnya.
"Itu memang masuk akal, tapi entahlah, aku hanya merasa ada yang aneh," ungkap Nathan.
"Karena dia memberi kesan seperti dia menyayangi Nayla sebagai seorang pria?" tebak Thomas.
"Salah satunya," jawab Nathan.
"Kau tau? Terkadang seseorang lebih memilih menutup rapat rahasianya ketika itu terlalu menyakitkan untuk dikatakan, terlebih itu akan membuatnya kembali mengingat apa yang ingin mereka lupakan. Mungkin saja itulah rahasia yang selalu Nayla simpan selama ini," papar Thomas.
"Hhaahh,,,," desah Nathan. " Diantara kita, kaulah yang paling bijak disini. Apakah itu karena kaulah satu-satunya yang sudah menikah disini?" sambut Nathan.
"Aku hanya melihat dari sudut pandang yang berbeda," sanggah Thomas. " Tapi aku mempelajari hal baru saat mengenal Nayla. Dia bisa mengatasi apapun yang ada didepannya dengan tetap mempertahankan senyumannya," ungkap Thomas.
"Aku setuju tentang itu," sambut Nathan.
Tiba-tiba, jari tangan Nayla menunjukan pergerakan. Air mata kembali mengalir dari matanya yang masih terpejam.
"Aku akan panggil dokter," ucap Nathan cepat dan langsung pergi meninggalkan Thomas.
Bertepatan dengan pintu yang tertutup, Nayla kembali mengumamkkan kata-kata yang membuat Thomas tidak bisa berhenti memikirkannya.
"Kak,,, Nick,,,"
Nayla mengigau sesaat. Satu detik kemudian kembali hening. Tidak ada lagi pergerakan yang sempat dilihat Thomas sebelumnya.
Pintu terbuka. Nathan masuk bersama Irene dibelakangnya. Irene segera memeriksa Nayla dan mengatakan semua baik-baik saja.
"Untuk sekarang masih aman. Kita berdoa saja kondisinya tidak menurun," ucap Irene menenagkan mereka.
Thomas mengangguk dan berterima kasih, membiarkan Irene kembali meninggalkan mereka.
"Dia benar-benar membuatku khawatir," rutuk Nathan setelah Irene menutup pintu.
Meski begitu, nathan menghembuskan nafas lega saat mendengar Nayla baik-baik saja.
...****************...
__ADS_1