LOVE OF MY LIFE

LOVE OF MY LIFE
Lebih Dekat


__ADS_3

Adrian melirik Nayla untuk kesekian kalinya,rasa tak nyaman terlihat jelas dari wajahnya.Dia lebih dulu tiba dikantor dan mengerjakan tugasnya yang biasa dia kerjakan ketika Rose masih disana.


Nayla yang hari itu tak banyak bicara menambah kecanggungan diantara mereka.Nayla terlihat fokus dengan komputer yang didepannya namun cukup merasakan rasa tidak nyaman yang dirasakan Adrian.Setelah menghela nafas panjang,dia pun berkata pada Adrian.


"Adrian,bisakah aku minta tolong ambilkan titipanku dimeja Lucie?jika dia belum menyelesaikannya,bantulah sebentar."kata Nayla mengarahkan pandagannya pada Adrian.


"Baik."jawab Adrian segera beranjak dari tempatnya.


Setelah Adrian menutup pintu,Nayla bangun dari duduknya untuk merenggangkan badan dan berjalan kearah jendela.Melihat keramaian kota dan kesibukan orang orang didalamnya.


Sementara itu,Lucie terlihat binggung ketika Adrian menghampirinya.


"Haa..???Titipan apa?"tanya Lucie binggung.


"Nona Nayla mau meminta yang dititipkan padamu."kata Adrian.


"Tidak ada yang di titipkan padaku."jawab Lucie dengan kebinggungan yang terlihat jelas.


"Lalu kenapa nona Nayla memintaku untuk mengambilnya darimu jika tidak ada?"tanya Adrian tak mengerti.


"Hemmm...."Lucie meletakkan dua jari didagunya."Coba kau ulangi apa yang dia katakan padamu."pinta Lucie.


Adrian berdeham sesaat sebelum mengulang apa yang dikatakan Nayla padanya.


"Tolong ambilkan titipanku dimeja Lucie,kalau dia belum menyelesaikannya,bantulah sebentar."Adrian menjawab dengan menirukan cara Nayla berbicara.


Lucie pun tergelak,mulai mengerti tujuan Nayla meminta Adrian keluar dari ruangannya dan mengarahkan padanya.Karena selain Rose,hanya Lucie yang sangat mengerti bagaimana Nayla.


"Apa kau merasa tak nyaman saat didalam yang hanya satu ruangan dengannya tanpa Rose diantara kalian?"tanya Lucie tepat sasaran menatap lekat ke mata Adrian.


"Aku..."Adrian tak bisa melanjutkan kalimatnya.


"Atau merasa gelisah?"tanya Lucie lagi.


"Itu..."Adrian mengaruk kepalanya."Bagaimana kamu.."


"Bukan aku,tapi dia yang menyadarinya"potong Lucie mengibaskan tangannya.


"Itu juga alasan kenapa kau diminta keluar sebentar untuk menenagkan pikiranmu."lanjutnya


"Dia selalu mengatakan,pekerjaan tak akan berakhir baik jika pikiranmu tidak berada dihalaman yang sama dengan pekerjaan yang ada didepanmu."kata Lucie lagi.


Adrian tertegun.Pikirannya seketika kembali kesaat dimana Rose mengatakan padanya Nayla yang terlihat abai akan sesuatu namun hal yang sebenarnya dia sangat memikirkannya,terlebih orang yang ada disekitarnya.Dan sekarang dia merasakannya,betapa tajam perasaanya terhadap apa yang ada disekitarnya.


"Lebih baik kau kembali kesana.pekerjaanmu akan lebih berat karena mendekati jadwal bukunya diterbitkan."kata Lucie membuyarkan lamunan Adrian.


"Terima kasih Lucie"kata Adrian dan segera membalikan badannya menuju ruangan Nayla untuk kembali berkerja.


"Hei,,Adrian.."panggil Lucie menghentikan langkah Adrian.


"Ya..?"tanya Adrian membalikan badan.


"Cobalah untuk tidak bersikap formal padanya,sejujurnya dia tak menyukainya ketika diperlakukan seolah posisi dia lebih tinggi."saran Lucie.


Adrian menjawab dengan mengangkat bahunya.


"Aku berusaha mecobanya.hanya agak sulit."kata Adrian meringis lalu pergi meninggalkan Lucie yang mengelengkan kepalanya.

__ADS_1


...****************...


Nayla keluar dari kantor ketika hari sudah berubah gelap.Wajah lelahnya terlihat sangat jelas tergambar diwajahnya.Adrian telah pulang saat hari masih sore.Rasa kesal tumbuh sesaat sebelum Nayla meminta Adrian pulang lebih dulu agar meninggalkannya.


"Haahhhh..."desahnya"Aku benar benar lupa memesan taksi.Sepertinya mulai besok aku harus mengunakan mobilku sendiri.Terlebih lagi Rose sudah tak bersamaku lagi."gumam Nayla pelan seraya melepaskan kacamatanya dan menekan diantara kedua matanya.


Dengan langkah gontai,Nayla berjalan untuk mencari taksi,ketika melihat sebuah taksi tangannya bergerak untuk memanggil taksi itu,namun sebelum hal itu dilakukan,sebuah mobil melambat mendekati dimana Nayla berdiri dan menurunkan kaca mobil.


"Roy.."desis Nayla ketika melihat siapa yang berada didalam mobil.


"Naiklah Nay,jangan hanya berdiri saja."kata Rory dengan senyum dibibirnya.


"Apakah begitu caramu menawarkan tumpangan kepada seseorang?"tanya Nayla dengan alis terangkat.


"Apa kau menantangku Nay?"tanya Rory dengan seringai.


"Tidak.."jawab Nayla cepat,dan masuk kedalam mobil Rory tanpa berdebat lagi mengingat kejadian dimana dia tak segera naik mobilnya,maka Rory akan turun dan membukakan pintu mobil untuknya disertai drama panjang.


"Orang orang akan mengira aku telah mengancammu naik mobil mengunakan pistol."kata Rory terbahak.


"Dan kau harus tau,pernyataan mu itu lebih mengerikan dari sebuah ancaman."jawab Nayla setelah duduk dan memasukan kacamata kedalam tasnya.


"Lalu..apa yang kau lakukan malam malam seperti ini?"tanya Nayla."Kuharap itu bukan menunggu seseorang yang bisa kau rampok."kata Nayla tertawa.


"Hemmm...sejujurnya aku tak ingin berbohong,tapi kelihatannya kau tak akan percaya jika aku mengatakannya."kata Rory mulai menjalankan mobilnya.


"Jangan menghakimi"protes Nayla.


"Ha ha ha..baiklah..aku memang menunggu,dan kaulah yang aku tunggu."jawab Rory menatap Nayla sekilas lalu beralih kejalan lagi.


"Royy..."ucap Nayla mengingatkan


"Lagi pula apa yang salah dengan itu?apapun alasannya aku disana,apakah itu kebetulan atau disengaja aku senang bisa melihatmu.kuharap aku bisa melakukannya setiap hari."ungkap Rory sungguh sungguh.


Hati Nayla berdesir,rasa panas merayap kewajahnya.


"Bolehkah aku menanyakan sesuatu Roy?"tanya Nayla menutupi kecanggungan yang mulai dia rasakan.


"Katakanlah."jawab Rory tanpa menoleh.


"Sebenarnya apa yang kau kerjakan sehari hari?"tanya Nayla hai hati.


"Apa saja yang bisa menghasilkan uang."jawab Rory asal.


"Roy..."Nayla memukul bahu Rory pelan.


"Apaa."Rory menjawab dengan tawa renyahnya.


"Aku serius bertanya."tanya Nayla.


"Jika pekerjaanku tak bagus,apa kau akan berubah sikap padaku?"tanya Rory.


"Itu kasar Roy..."sambut Nayla tak suka.


"Tidak..aku serius Nay,,dan aku menunggu jawabanmu."kata Rory serius.


Setelah jeda sejenak,Nayla menarik nafas dalam dalam dan menghembuskannya dengan cepat.

__ADS_1


"Pertama...Apa yang kau miliki dan apa yang tidak kau miliki tak akan merubah siapa kamu.."kata Nayla mengangkat telunjuknya.


"Kedua..Terlepas dari apa pekerjaanmu,apa yang kau lakukan untuk pekerjaan itu tak akan merubah cara pandangku padamu bahwa kau baik."ucap Nayla menaikkan jari tengahnya.


"Dan ketiga...Apa kau berfikir aku menunjukan sikap tertentu hanya berdasarkan apa yang aku dapat?jika IYA,percayalah aku sangat ingin menendangmu bagaimanapun caranya."Nayla menaikan jari manisnya dan memasang wajah serius.


Rory tak bisa menahan tawanya lagi,Perlahan Rory memperlambat mobilnya,menepi ditempat yang terlihat aman dan berbalik untuk menatap Nayla.


"Kau benar benar unik Nay.Selama ini aku mencoba membuat orang lain terkesan padaku,walau itu harus berbohong sekalipun.Tapi disini justru akulah yang terkesan padamu."ungkap Rory.


"Jangan menelan mentah daging yang baru kau terima tanpa memasaknya Roy"kata Nayla.


"Dengan jawabanmu seperti itu membuatku yakin apa yang ku katakan benar."jawab Rory.


Nayla terdiam,menatap Rory yang tengah menatapnya dalam membuatnya merasakan debaran yang tak pernah dia rasakan sebelumnya.


"Jadi..apa jawabannya?"tanya Nayla mengalihkan perhatiannya merasakan pipinya memanas.


"Hahh..?"Rory menaikan alisnya.


"Pekerjaanmu Roy..jangan mengelak,kau sudah menjanjikan jawabannya padaku."kata Nayla.


"Sejujurnya aku berharap kau melupakan hal itu."jawab Rory.


"Tidak akan."kata Nayla.


"Hahhh...baiklah...Aku bekerja di sebuah Agensi musik.Ku harap jawaban itu cukup untuk saat ini."kata Rory memalingkan wajahnya dan mulai menjalankan mobilnya lagi.


'Untuk saat ini,aku jawab itu saja untuk sementara.aku akan mengatakan yang sebenarnya nanti.'pikirnya.


"Apakah karena itu yang membuat kamu mengetahui banyak makanan dari berbagai negara?seperti mengikuti kemana seorang artis pergi?.aku sempat berfikir kau seorang food vlogger"ucap Nayla disertai tawa.


"Ah...Seharusnya aku menjawab itu saja."jawab Rory ikut tertawa.


"Ini sudah lewat jam makan malam,tapi lebih baik dari pada tidak sama sekali.Apa yang ingin kau makan Nay?"tanya Rory.


"Apakah hanya untuk bertanya harus menyiapkan dialog sepanjang itu?"tanya Nayla tertawa.


"Karena kau terbiasa dengan jawaban penolakan."jawab Rory.


"Apakah seburuk itu?"tanya Nayla.


"Ayolah...kau hanya harus menjawab."Rory mengerang pelan membuat Nayla tertawa pelan.


"Hemmm...Kita bisa berhenti ditempat pertama yang kita temui setelah ini."jawab Nayla.


"Kau yakin?"tanya Rory.


"Ya,,tentu saja,apakah ada yang salah?"tanya Nayla.


"Tidak..hanya saja didepan kita hanya ada kedai burger."jawab Rory."Atau kita bisa mencari tempat lain,Bistrot,cafe atau restoran lain?"tanya Rory.


"Aku baik baik saja tentang kedai burger,kurasa itu tak masalah."jawab Nayla.


"Oke,,kedai burger kalau begitu."sambut Rory.


Nayla mengangguk dengan senyuman.

__ADS_1


Di belakang mereka,sebuah mobil mengikuti mereka dengan hati hati.Ketika Rory memasuki kawasan parkir kedai burger,mobil itu pun melakukan hal yang sama dan memarkirkan mobilnya ditempat yang tak terlihat oleh Rory.Mengawasi Rory melalui mobil mereka tanpa Rory sadari


...****************...


__ADS_2