LOVE OF MY LIFE

LOVE OF MY LIFE
67. Penelepon yang dicurigai Kevin


__ADS_3

###Diwaktu yang sama. . . .


Setelah kepergian Rory, tak berselang lama Chris masuk kedalam ruangan dan tersenyum melihat Nayla yang tengah duduk bersandar dengan mata yang menatap luar jendela.


"Jangan memasang wajah seperti itu,!" ucap Chris saat berada di samping ranjang Nayla.


"Kamu tetap belum diperbolehkan keluar," sambungnya.


"Aku tau," jawab Nayla tanpa menoleh.


"Apakah kakimu masih sakit?" tanya Chris.


"Ya,,, tapi sudah berkurang," jawab Nayla menoleh menatap Chris.


"Apakah kakiku baik-baik saja?" tanya Nayla.


"Terdapat keretakan dikakimu, tapi itu akan sembuh jika kamu tidak keras kepala," seloroh Chris.


"Begitukah?" sambut Nayla menaikan alisnya.


"Memang perlu waktu untuk pulih, tapi kau bisa menyingkat waktu untuk pulih dengan tidak terlalu banyak aktivitas berat," terang Chris.


Nayla menganggukan kepalanya dan kembali menatap jendela.


"Kenapa kamu melakukannya, Chris?" tanya Nayla.


"Melakukan apa?" tanya Chris bingung.


"Kamu sengaja membuat sup itu untuknya, dan secara tidak langsung memintaku agar dia memakannya," ucap Nayla masih memalingkan wajahnya.


"Tck,,, ternyata dugaanku benar, kamu menyadarinya," decak Chris sembari duduk disamping ranjang Nayla.


"Sangat mudah menyadari sup itu berbeda dari biasanya. Jadi, kamu mau menjawabnya?" tanya Nayla menatap Chris.


Chris menyisir rambut dengan jarinya, lalu mendesah pelan.


"Karena dia tidak makan apapun saat menjagamu, dan yang terpenting karena dia sangat peduli padamu," ungkap Chris.


"Bisakah kau berhenti melakukan hal seperti itu padaku, Chris?" pinta Nayla.


"Tidak bisa, dan tidak akan pernah bisa," tegas Chris.


"Kau tidak harus melakukanya sampai seperti itu, Chris. Kau memiliki kehidupanmu sendiri, dan tidak perlu terus mengurusku," ucap Nayla.


"Apa maksudmu dengan mengatakan hal konyol itu, Nay?" tanya Chris menatap Nayla tajam.


"Karena kau masih menyimpan rasa bersalah itu didalam hatimu," jawab Nayla balas menatap Chris.


Chris tersentak dan langsung memalingkan wajahnya.


"Dengan kamu memalingkan wajah seperti itu, hanya membuktikan apa yang kukatakan adalah benar," ucap Nayla lagi.


"Hal itu sudah berlalu beberapa tahun lalu, Chris. Lepaskan saja semuanya, aku juga sudah tau apa yang terjadi saat itu, dan apa yang menjadi alasan atas sikapmu," jelas Nayla.


"Tidak bisa, aku tidak bisa melakukannya," jawab Chris.


"Kau memiliki kehidupanmu sendiri, Chris. Aku tidak ingin menjadi beban bagimu," ucap Nayla.


"Beban?" Chris menaikan alisnya. " Apakah kau menganggap dirimu seperti itu ketika bersamaku?" tanya Chris bangun dari duduknya.


"Dan apakah itu juga alasannya kamu selalu menolak semua yang aku lakukan? Kau adikku, apakah salah jika aku ingin melakukan sesuatu untukmu?" cecar Chris.


Nayla mengeleng lemah, lalu tersenyum tipis.


"Aku bukan adikmu, aku hanyalah adik dari sahabatmu. Jadi, jangan menanggung tanggung jawab yang seharusnya bukan milikmu," jawab Nayla.


"LOUISE,,,!!!" sentak Chris, sembari mengepalkan tangannya.

__ADS_1


"Ada saat dimana kamu harus melupakan masa lalu untuk dapat melangkah lebih jauh kedepan, Chris. Dan kamu tau jelas akan hal itu," ucap Nayla masih tetap tenang.


"Berhenti mengatakan filosofi seperti itu padaku,!" hardik Chris mulai kesal.


"Kau bahkan tidak melakukan hal yang kau sebutkan padaku, dan di dalam hatimu pun kau masih terus berharap untuk kembali bersama Nick. Apakah kau pikir aku akan memerima itu? Apakah kau pikir aku akan membiarkanmu meninggalkanku seperti Nick yang meninggalkan kita?" sergah Chris.


"Apakah kau juga tau, betapa takutnya aku saat kondisimu memburuk hingga detak jantungmu sempat berhenti?" lanjut Chris.


Emosi Chris yang semula ia tahan, tumpah begitu saja. Nayla meraih tangan Chris, berharap bisa menenagkannya. Namun Chris menepis tangan Nayla begitu menyentuh tangannya.


"Apakah sekarang kamu menyalahkanku, Chris?" tanya Nayla.


"Aku memintamu untuk melepaskan masa lalu yang telah mengikatmu, karena aku juga tau itu menyesakkan, dan terasa berat," jelas Nayla.


"Aku tidak memintamu untuk melupakannya, aku hanya memintamu melepaskan dan membiarkan semuanya mengalir sepert_,,,, Ugh,,," Nayla tidak menyelesaikan kalimatnya ketika merasakan sakit dikepalanya.


Nayla mencengkram kepalanya. Merasakan semua yang berada disekelilingnya berputar.


Chris menoleh cepat. Emosi yang semula memenuhi hatinya, menguap begitu saja berganti dengan rasa khawatir.


"Aku tidak apa-apa," ucap Nayla menahan tangan Chris saat ia akan menyuntikan obat pada Nayla.


"Dan aku tidak ingin tidur untuk saat ini," sambungnya.


"Setidaknya itu mengurangi ras sakit yang kau rasakan, Nay," ucap Chris khawatir.


"Aku lebih tidak ingin tidak merasakan apapun yang da disekitarku," jawab Nayla bersikeras.


"Tapi_,,,"


"Aku tidak apa-apa, hanya sakit yang tiba-tiba datang dan itu akan berlalu dengan cepat," potong Nayla.


"Apakah penyebab sakit kepalaku karena benda yang mengenai kepalaku?" tanya Nayla.


"Ya,,, salah satunya adalah kerena benturan," jawab Chris.


"Kalau begitu, itu bukan hal yang harus dikhawatirkan bukan?" sambut Nayla. "Karena kaulah yang merawatku," sambungnya tersenyum.


"Tentu saja," jawab Nayla.


Tok,,,


Tok,,,


Tok,,,


Suara ketukan pintu menyela mereka, membuat mereka menoleh hanya untuk melihat Irene muncul dibalik pintu.


"Maaf dok, jadwal operasi anda 15menit lagi kami sudah menyiapkan ruang operasinya," terang irene.


"Aku segera kesana," jawab Chris.


Irene mengangguk dan segera pamit. Chris kembali menoleh pada Nayla.


"Maafkan aku harus meninggalkanmu," sesal Chris. "Aku akan meminta perawat lain untuk menjagamu," sambungnya.


"Itu pekerjaanmu, Chris. Sudah seharusnya kamu melakukan tugasmu," jawab Nayla.


"Aku akan segera kembali, begitu operasinya seesai," janji Chris.


Nayla mengangguk pelan. Menatap Chris yang menutup pintu dan kembali mengarahkan pandanagnnya keluar jendela.


"Apakah aku terlalu kejam padanya? Aku mengatakan kata-kata yang tentu menyakiti hatinya. Tapi apa yang bisa kulakukan agar dia tidak terus menyalahkan dirinya sendiri?" gumam Nayla pada dirinya sendiri.


Dering ponsel yang berada dimeja, mengalihkan perhatian Nayla. Ia segera meraih ponselnya dan tersenyum kecil saat melihat layar ponselnya. ' ADRIAN'


Diwaktu yang sama, Kevin telah berada didepan ruang rawat Nayla. Tepat saat tangannya membuka pintu, dan pintu telah sedikit terbuka. Langkahnya terhenti ketika mendengar Nayla menyebut nama pria lain.

__ADS_1


"Ya, Adrian?" jawab Nayla setelah meletakkan ponsel ditelinganya.


"KEMANA SAJA KAU, NAY,????" suara keras Adrian membuat Nayla reflek menjauhkan ponsel dari telinganya.


"KENAPA KAU TIDAK MENGHUBUNGIKU???" teriaknya.


"Ouhh,,," keluh Nayla menutupi telinganya. " Hei, Adrian! Aku benar-benar masih menyayangi telingaku, bisakah kau kecilan suaramu?" keluh Nayla.


Kevin mematung didepan pintu, membatalkan dirinya untuk segera masuk dan memilih untuk mendengarkan percakapan Nayla dengan seseorang yang tidak dia kenal.


'Adrian? Siapa dia? Nayla tidak mungkin menjalin hubungan dengan pria lain kan? Tapi suara keras pria tadi terdengar dia sangat peduli pada Nayla,' bisik hati Kevin.


"Dimana kau sekarang? Apakah kau baik-baik saja? Aku berusaha menhubungimu dari kemarin, tapi kamu tidak bisa dihubungi. Dan apartemenmu kosong selama beberapa hari," cecar Adrian.


"Tenanglah,!" sambut Nayla. "Aku baik-baik saja sekarang," sambungnya.


"Sekarang? Itu berarti sesuatu terjadi padamu kan? Katakan padaku dimana kamu sekarang!" pinta Adrian.


"Aku berada di ruang biasa aku dirawat," jawab Nayla.


"SEJAK KAPAN KAU DISANA???" teriak Adrian lagi.


"Kau akan benar-benar merusak telingaku jika terus berteriak seperti itu," gerutu Nayla.


"Aku akan kesana nanti setelah bekerja," ucap Adrian mengabaikan gerutuan Nayla.


"Tidak,, Jangan hari ini," larang Nayla.


"Kenapa,?" tanya Adrian.


"Jika kau tidak masalah ditendang Chris saat tiba disini, silahkan saja," gertak Nayla.


"Baiklah,, Baiklah,, aku mengerti. Aku akan datang besok," jawab Adrian.


"Pastikan kau datang sendiri, kau mengerti kan?" balas Nayla.


"Aku mengerti," jawab Adrian.


"Lega rasanya bisa kembali mendengar suaramu, Nay" papar Adrian.


"Tapi aku tidak," gerutu Nayla. " Suaramu adalah terapi telinga terburuk," sambungnya.


"Ukh,,, iya,, baiklah,, aku minta maaf tentang itu, aku benar-benar khawatir," sanggah Adrian.


"Ah,, maaf. Aku harus kembali bekerja, aku senang bisa kembali mendengar suaramu. Aku akan datang besok, sampai jumpa lagi, Nay," ucap Adrian tiba-tiba.


"Sampai jumpa, Adrian," balas Nayla. "Ehh,, tunggu," cegah Nayla.


"Apa?" tanya Adrian.


"Bisakah kau ke apartemenku dan membawakan buku untukku?" pinta Nayla.


"Ada lagi?" sambut Adrian.


"Hanya itu. Bukunya masih tersegel, dan ada di ruanganku," terang Nayla.


"Baiklah. Aku tutup," ucap Adrian.


Panggilan berakhir. Nayla meletakkan ponsel kembali ke meja, bersamaan dengan Kevin yang mengetuk pintu dan masuk kedalam, sedikit mengejutkan Nayla.


"Kamu kembali," sambut Nayla tersenyum.


"Ya," jawab Kevin.


'Siapa yang menghubungi Nayla? Dia bahkan bisa ke apartemen Nayla dengan mudah. Siapa dia?' batin Kevin


Kevin duduk dengan gelisah, memikirkan segala kemungkinan yang berecamuk dalam pikirannya.

__ADS_1


'Nayla tidak mungkin memiliki hubungan lain kan?' pikirnya.


...****************...


__ADS_2