
***Apartemen Nayla***
Nayla tengah menuangkan air digelasnya dan membawanya ke ruang kerja untuk mengistirahatkan matanya. Setelah meletakkan gelas dimejanya, Nayla duduk seraya meletakkan tangan diantara kedua matanya.
Bersandar dikursinya dan memejamkan mata sejenak, Nayla mengirimkan email pada Rose ketika melihat jam sudah menunjukan pukul 2 siang.
Setelah pulang dari pertemuannya dengan Rory, ia tengelam menyelesaikan naskah nya yang belum selesai dan baru saja menyelesaikannya.
"Setidaknya aku sudah mengirimkannya pada Rose. Sekarang aku hanya perlu tidur. Kepalaku sakit sekali," keluh Nayla sembari memijit pelipisnya.
Ketika Nayla bangkit dari duduknya, pandangannya mengabur. Ia mengelengkan kepalanya berharap pandangannya kembali normal. Namun tiba-tiba kakinya melemah membuat Nayla kembali duduk.
Tangannya terulur untuk meraih gelasnya, berpikir minum akan membuatnya lebih baik. Ketika tangannya telah mencapai gelas, pandangannya menghitam dan kepalanya terjatuh dimeja, menjatuhkan gelas yang baru saja terangkat ke lantai.
"PRAANGG,,,!!!!"
Suara keras gelas meninggalkan keheningan bersamaan dengan Nayla yang tak bergerak dengan kepala berada dimeja dan mata terpejam.
******
Rose memeriksa ponselnya beberapa menit kemudian setelah berbunyi dan memeriksa komputernya untuk membuka email setelah membaca pesan dari Nayla untuk melihat emailnya.
"Hmmm,,, dia sudah menyelesaikanya," ucap Rose.
"Menyelesaikan apa Rose?" tanya Adrian yang telah menyesuaikan diri bicara santai pada Rose.
"Naskah baru darinya," jawab Rose.
"Hahh,,?? bukankah deadline nya masih satu minggu lebih?" tanya Adrian kaget.
"Dia tak pernah mencapai deadline jika berkaitan dengan karyanya," jelas Rose. "Tunggu sebentar,aku akan menghubunginya dulu," imbuhnya.
"Apakah ada sesuatu yang terjadi?" tanya Adrian heran.
"Aku berharap tak ada yang terjadi," gumam Rose mulai cemas saat Nayla tak kunjung menjawab panggilannya
"Ayolah Nay,,,, angkat teleponnya!" harap Rose.
"Mungkin dia sedang istirahat Rose, jadi dia tak manjawab panggilanmu," hibur Adrian menenangkan.
"Dia tak pernah mengabaikan telepon ku ketika dia baru saja mengirimkan naskahnya," jawab Rose masih berusaha menghubungi Nayla.
"Tidak,,,tidaak,,,tidak,,,jangan lagi,,?" gumam Rose panik dan khawatir.
"Tenanglah Rose,, Bukankah biasanya dia akan menghubungimu lagi saat tau kamu menghubunginya?" tanya Adrian masih tidak mengerti dengan sikap Rose yang terlihat sangat khawatir.
"Aku sama sekali tak bisa tenang jika seperti ini keadaannya," jawab Rose cemas.
"Kita kesana! kau ikutlah denganku! tinggalkan dulu pekerjaanmu!" perintah Rose seraya mengambil tasnya dan berjalan cepat meninggalkan ruangan.
Mau tak mau Adrian pun mengikuti Rose yang berjalan dengan terburu-buru.
"Sebenarnya apa yang terjadi Rose?" tanya Adrian saat didalam mobil.
"Kau akan tau nanti," jawab Rose singkat.
Ketika tiba diapartemen, Rose segera mengeluarkan kunci cadangan apartemen Nayla dan melangkah cepat menuju ruang kerja Nayla.
'Dia memiliki kunci cadangan?dan langsung masuk begitu saja?apakah itu tak masalah?' tanya Adrian dalam hatinya.
__ADS_1
Adrian mengikuti Rose menuju ruangan yang masih terbuka saat Rose masuk.Tubuh Adrian mematung ketika melihat Nayla dalam keadaan tak sadarkan diri dimeja kerjanya.
"Nay,,, hei,,,Nay,,, sadarlah!" ucap Rose cemas sembari mengoyang pelan bahu Nayla.
Rose menarik tubuh Nayla agar terangkat dari meja dan menyandarkan dikursi. Nayla tak merespon ketika Rose menepuk pipinya pelan. Sebuah gelas pecah berada tepat disamping meja menambah kepanikan yang Rose rasakan.
"Adrian,,! bantu aku membawanya ke Rumah sakit!" seru Rose keras menyadarkan Adrian yang sedari tadi berdiri mematung.
Adrian pun tersadar dan dengan cepat menghampiri mereka.
"Biar aku saja yang membawanya," ucap Adrian.
Rose mengangguk dan menyingkir membiarkan Adrian mengangkat tubuh Nayla.
Setelah meraih ponsel Nayla yang berada dimeja dan mengunci pintu, Rose bergegas membawa Nayla kerumah sakit.
'Ya tuhan...Dia ringan sekali,wajah nya sangat pucat.apa yang terjadi sebenarnya?' bisik hati Adrian ketika mengangkat tubuh Nayla.
Mereka pun tiba dirumah sakit. Beberapa menit kemudian Nayla dipindahkan keruang rawat. Seorang dokter keluar dari ruangan dan Rose langsung berdiri. Adrian ikut berdiri disamping Rose.
"Dia tidak apa-apa kan?" tanya Rose cemas.
"Kenapa sulit sekali memintanya untuk makan dengan benar?" gerutu Dokter itu seraya meletakkan tangan didahinya.
"Kamu tau persis bagaimana dia kan?" jawab Rose lesu.
Dokter itu menoleh dan melihat kekhawatiran diwajah Rose.
"Dia tidak apa-apa. Kemungkinan dia akan sadar besok. Kamu bisa datang besok siang Rose, atau setelah selesai bekerja. Aku yang akan menjaganya disini. Jam kerjaku selesai tak lama lagi," tutur dokter itu lembut sembari menepuk bahu Rose.
Adrian hanya bisa memperhatikan interaksi mereka berdua, meski dalam hatinya bertanya-tanya.
"Mereka saling kenal?' batinnya
"Ya,,ku harap," jawab Rose pelan. "Bolehkah aku melihatnya?" tanya Rose.
"Tentu, tapi hanya sebentar," jawab Dokter.
"Terima kasih Chris" ucap Rose.
Dokter yang disebut Chris itu mengangguk lalu pergi meninggalkan mereka. Rose pun masuk ke ruang rawat Nayla diikuti Adrian. Diranjang Nayla terbaring dengan wajah pucat.Terlihat sangat jelas bahwa dia lelah.
"Haahh,,, Nay, kenapa kau suka sekali menakutiku?" desah Rose pelan meletakkan tangannya diatas tangan Nayla dan meremas lembut.
Rose menghela nafas panjang,lalu menatap Adrian.
"Ada yang harus kau ketahui tentangnya Adrian," ucap Rose. "Kejadian ini pasti terulang. Dia sangat buruk untuk menjaga dirinya sendiri," papar Rose.
"Entah bagaimana aku harus mengatakan ini padamu, tapi aku sangat berharap kamu bisa menjaganya mengantikan aku," harap Rose.
Adrian menatap Rose dengan pandangan bingung. Rose memberi isyarat untuk berbicara diluar dan melihat Rose meletakkan ponsel Nayla dimeja yang ada disamping ranjangnya,lalu melangkah keluar.
Duduk dikursi yang berada didepan ruang rawat Nayla, Adrian menatap Rose dengan tatapan penuh tanya.
"Kamu bilang aku menjaganya, bukankah dia memiliki kakak?" tanya Adrian bingung.
Rose mengelengkan kepalanya lalu menghembuskan nafas.
"Yang sebenarnya ingin ku katakan saat itu adalah, dia mengunjungi kakaknya, lebih tepatnya,,, makam kakaknya," ungkap Rose.
__ADS_1
Adrian melebarkan matanya merasa tak percaya dengan yang dia dengar.
"Dia tak memiliki siapapun. Keluarga, saudara, tak ada satupun yang dia miliki. Alasan dia tak memakai nama asli dalam karyanya, satu kantor yang diminta untuk tak menyebutkan namanya diluar kantor, semua berkaitan satu sama lain, karena itulah syarat yang dia minta dari kantor jika ingin karyanya diterbitkan oleh perusahaan kami," papar Rose.
"Bukankah jika tentang nama, itu kantor yang menentukan?" tanya Adrian tak mengarti.
"Itu berlaku jika dia yang melamar kekantor.Tapi, kantor kamilah yang melamarnya, dan dia mengajukan syarat sederhana. Merahasiakan identitasnya. Kami pernah melakukan kesalahan dengan menyebutkan nama aslinya saat penerimaan penghargaan,dan dia tak marah karena dirinya tak terekspos," terang Rose lalu terdiam sesaat..
"Dia kehilangan kakaknya, satu-satunya keluarga yang dia miliki saat berumur 7tahun. Aku mengetahui fakta ini dari seorang penjanga perpustakaan yang mengatahui kejadiannya. Nayla tak pernah menceritakan apapun tentang masa lalunya pada siapapun, dan aku mengerti alasannya. Itu juga yang membuatku bersikap seolah aku tak tau apapun. Tapi aku juga tau sebenarnya dia menyadarinya," ungkap Rose.
Adrian terdiam mengetahui kebenaran yang dia dengar, dibalik sosoknya yang terlihat ramah,terkadang dingin, dan selalu tersenyum, ada luka dibaliknya.
"Sejujurnya,andai aku bisa, aku tak ingin pindah. Bahkan suamiku merasa berat untuk pindah. Semua yang sudah dia lakukan untukku dan suamiku tak terhitung.Kami hanya bisa membalas dengan menjaganya,memberinya kasih sayang selayaknya keluarga walau itu tak banyak.Harapanku saat ini hanyalah kamu bisa menjaganya. Hubungi aku kapanpun jika ada apa-apa padanya," harap Rose tulus.
"Pasti Rose!" jawab Adrian.
"Sekarang memang belum,tapi aku akan berusaha agar lebih mengerti semua tantangnya." jawab Adrian pasti.
"Jika aku boleh bertanya Rose,apa yang terjadi pada kakaknya?" tanya Adrian.
Rose diam.merasa berat untuk menceritakan semuanya pada Adrian.
"Tidak sekarang," ucap Rose mengelengkan kepalanya, namun cukup membuat Adrian mengerti Rose.
"Aku akan kembali kekantor untuk menyelesaikan semuanya. Kamu bisa di sini lebih lama dan pulang setelahnya," ucap Adrian lembut.
Rose menoleh menatap Adrian ragu.
"Tidak apa-apa, aku bisa menyelesaikannya. Aku tau kamu sangat menghawatirkannya. Akan lebih baik jika kamu menenangkan diri saat aku bisa melakukan hal yang bisa aku lakukan." hibur Adrian lagi lalu tersenyum.
"Terima kasih Adrian." ucap Rose balas tersenyum.
"Tak perlu berterima kasih padaku untuk hal seperti ini." sambut Adrian.
"Aku pergi dulu Rose, hubungi aku jika terjadi sesuatu." pinta Adrian lagi lalu bangkit dari duduknya dan pergi meninggalkan Rose.
Setelah kepergian Adrian,Rose masuk kedalam ruang rawat Nayla dan duduk disamping ranjangnya.
"Kamu harus baik-baik saja Nay, dan tersenyumlah seperti biasa. Menyuruhku melakukan semua yang kamu inginkan seperti yang biasa kamu lakukan." gumam Rose pelan sambil mengengam tangan Nayla.
"Setiap kali kamu seperti ini, aku tak akan pernah bosan mengatakan itu padamu," lanjutnya.
Waktu berlalu dengan cepat,senja pun menyapa bersamaan dengan pintu yang terbuka dan Chris masuk dengan pakaian santainya.
"Kamu belum pulang?" tanya Chris.
"Sebentar lagi," jawab Rose.
"Kamu tak perlu khawatir Rose, dia kurang asupan itu sangat jelas, tapi aku yakin dia lebih baik dari sebelumnya." hibur Chris.
"Aku sangat berarap begitu" jawab Rose.
"Pulanglah,,, aku akan menjaganya, aku tak pulang malam ini," bujuk Chris.
Rose mengangguk dan tersenyum berterima kasih pada Chris. Setelah beberapa menit, Rose pun meningalkan Nayla dan pulang.
Chris duduk disamping ranjang Nayla, menatap wajah Nayla dengan tatapan sedih dan bangga.
"Nick,,,apa kau tau? adikmu, adik kita kini menjadi wanita yang sangat kuat dan sangat cantik, kau pasti bangga padanya, sama seperti aku yang bangga padanya," gumam Chris.
__ADS_1
Chris menyandarkan tubuhnya dan melipat tangannya.Entah sejak kapan,mata Chris terpejam
...****************...