LOVE OF MY LIFE

LOVE OF MY LIFE
64. Ketajaman Perasaan


__ADS_3

### Keesokan harinya....


Nayla terbangun saat matahari telah bersinar terang. Dirinya mendapati Rory telah duduk disampingnya mengantikan Kevin saat terakhir kali dirinya melihat Kevinlah yang duduk disana.


"Selamat pagi, Ma Chéri ," sapa Rory mencium kening Nayla.


"Apakah kamu tidur nyenyak?" tanya Rory tersenyum.


" Kurasa_,,,," jawab Nayla tidak melanjutkan kalimatnya.


Nayla menatap Rory telah berpakaian rapi. Bukan hanya Rory, tapi semua yang berada disana telah berpakaian rapi.


"Kalian akan pergi?" tanya Nayla. "Apakah ada acara resmi yang akan kalian hadiri?" sambungnya.


Rory membelai wajah Nayla, dan tersenyum lembut.


"Aku ingin tetap disini menemanimu, tapi aku juga harus melakukan ini. Hanya satu hari, dan aku janji akan kembali sebelum gelap. Kevin akan menemaimu dan kembali lebih dulu setelah jam makan siang," terang Rory.


"Aku menyesal meninggalkanmu disaat seperti ini, tapi aku harus," tutur Rory.


"Aku mengerti, Roy. Jangan membuatnya terdengar seperti kamu melakukan kesalahan," sambut Nayla tersenyum.


"Aku merasa lebih baik dari sebelumnya, dan ada dokter juga perawat disini. Jadi kamu tidak perlu khawatir," sambung Nayla.


"Kau tidak tau kan betapa aku mengkhawatirkanmu disaat keadaanmu tidak baik-baik saja ketika aku meninggalkanmu?" ungkap Rory.


"Errr,,,," Nayla memutar bola matanya. "Entahlah, aku tidak menyadarinya," jawab Nayla.


"Nay,,," Rory melipat tangannya.


"Maaf membuatmu khawatir," sesal Nayla.


"Jangan mmeminta maaf, tapi kamu harus berjanji padaku, kamu akan tetap baik-baik saja hingga aku kembali," harap Rory.


Nayla mengangguk pelan lalu tersenyum.


"Apakah kamu ingin makan sesuatu, Nay? Aku akan mencarinya dan memebelikannya untukmu sebelum kembali," tanya Ethan.


"Itu sama saja kamu mencari masalah dengan Chris, bukan?" sindir Nayla.


"Ha ha,, kau benar," jawab Ethan mengacak-acak rambutnya.


Nayla tersenyum, tepat ketika mata Nayla bertemu dengan mata Martin, Nayla merasakan sesuatu yang terasa tidak biasa.


"Roy,,," panggil Nayla.


"Hem,,? Kamu memerlukan sesuatu?" tanya Rory.


"Aku hanya_,,,"


Tok,,,


Tok,,,


Tok,,,


Suara ketukan pintu menyela dan memotong apa yang ingin dikatakan Nayla.


"Selamat pagi, Nay," sapa Irene dengan senyum ramahnya.


Tak lupa, Irene tesenyum ramah pada Rory dan teman-temannya yang selalu berada disana menjaga Nayla.


"Kamu sudah bangun?" tanyanya sambil meletakkan nampan berisi makanan dan obat.


"Ya,,, baru saja," jawab Nayla.


"Apakah kamu merasakan ada yang tidak nyaman?" tanya Irene sembari menyuntikan cairan obat pada Nayla.


"Ehmmm,,, kaki kananku terasa sakit. Apakah itu baik-baik saja?" tanya Nayla.


"Untuk lebih jelasnya, dokter Chris akan datang sebentar lagi, dan akan menjelaskannya padamu," tutur Irene.


"Kamu tidak mengatakan padaku kalau kakimu sakit, Nay," sela Rory.


"Tadi aku tidak merasakannya," sanggah Nayla. " Itu baru saja terasa saat Irene datang," sambungnya.


"Jadi kalian saling mengenal?" tanya Rory menyipitkan mata.


"Tentu saja," jawab Irene.


Nayla menatap Irene dangan wajah memelas, berharap Irene tidak menceritakan siapa dia sebenarnya.


"Bukankah kalian tau bahwa dokter Chris adalah kakak dari Nayla?" tanya Irene yang disambut dengan anggukan kepala.


"Lalu,?" sela Ethan.

__ADS_1


"Ketika Nayla sakit, saya-lah yang diminta dokter Chris untuk merawatnya. Seiring waktu kami menjadi dekat karena hal itu," terang Irene.


Nayla tersenyum pada Irene seolah mengucapkan terima kasih.


"Begitukah?" sambut Rory mengarahkan pandangannya pada Nayla.


"Apakah hal aneh jika aku mengenal salah satu perawat di sini,?" tanya Nayla.


"Tidak, hanya saja itu terasa seperti ada yang kamu tutupi dariku yang diketahui olehnya," jawab Rory.


Nayla terdiiam sembari menatap Rory yang juga menatapnya, seolah ingin menggali kebenaran yang Nayla sembunyikan.


"Jangan membebani pasien yang baru saja bangun dengan pertanyaan berat seperti itu," sela Chris


Chris berdiri diambang pintu dan segera masuk. Mengejutkan semua yang berada disana.


"Itu sama saja kamu menyiksanya," sambung Chris menatap Rory dengan tangan terlipat.


"Aku tidak bermaksud begitu," sanggah Rory.


Chris tersenyum mengelengkan kepalanya. Matanya beralih pada teman-teman Rory yang lain yang tengah duduk di sofa, sebagian berdiri.


"Jadi, kalian bersiap pergi?" tanya Chris.


"Yah,,, kami pergi 30menit lagi," terang Martin setelah melihat jam pada pergelangan tangannya.


Chris mengangguk mengerti, lalu beralih menatap Nayla dan mulai memeriksa kondisinya.


"Kamu kurang tidur, Nay. Apa yang membuatmu terjaga? Apakah mereka menganggumu?" cecar Chris.


"Aku bahkan tidak terbangun sama sekali saat malam," sambut Nayla.


"Aku menjaga Nayla sepanjang malam, dan dilanjutkan Rory hingga pagi. Nayla tidak terbangun ketika malam, apa yang menyebabkan dia kurang tidur?" celetuk Kevin.


Chris tersenyum mendengar penjelasan Kevin. Dirnya juga tau persis mereka menjaga Nayla secara bergantian tanpa henti.


"Apakah kamu bermimpi buruk lagi?" tanya Chris membuat Nayla dan Kevin terdiam.


'Bagaimana dia bisa tau?' batin Kevin.


"Karena dia adalah adikku, tentu saja aku tau," ucap Chris seolah membaca pikiran Kevin.


Kevin melebarkan matanya mendengar ucapan Chris yang menjawab apa yang ada didalam pikirannya.


'Apa dia membaca pikiranku?' batinnya lagi.


"Kalau begitu, jangan membaca wajahku lagi," erang Kevin mencengkram rambutnya dan berjalan menjauh dari Chris.


Hal itu sontak membuat mereka tertawa. Chris kembali mengarahkan pandangannya pada Nayla.


"Aku membuatkan sup kesukaanmu, makanlah sedikit! untuk mengisi perutmu," ucap Chris mengusap lembut kepala Nayla.


Nayla mengangguk pelan sebagai jawabannya sebelum Chris pergi meninggalkan ruang rawat bersama Irene.


"Dia membuat sup? Apakah kamu yakin akan memakannya?" tanya Ethan.


"Hei,, pertanyaanmu terdengar meremehkan, kau tau?" sindir Nayla tersenyum.


"Aku hanya bertanya," sanggah Ethan.


"Dia hanya membuatkan sesuatu yang tepat untuk ku makan, Ethan," jelas Nayla.


"Ah,, Ya,, tentu saja," sambut Ethan mengosok belakang leherya menyadari pertanyaan konyolnya.


"Sudah cukup bicaranya, sekarang kamu harus makan," sela Rory.


"Kita biarkan dulu Rory disini sebentar, sementara yang lain ikut aku. Kita tunggu dimobil. Ada beberapa orang yang masih harus kuhubungi," papar Martin.


"Baiklah, sayang sekali tidak bisa menemaimu," sesal Ethan.


"Apakah maksudmu, sayang sekali tidak bisa mencicipi sup yang dibuat Chris untuk Nayla, begitu?" sindir Nathan.


"Apa sih," sungut Ethan.


"Kami akan kembali lagi nanti, Nay. Ku harap kamu tidak keberatan dengan keributan yang akan terjadi selama kami disini," seloroh Thomas.


"Aku sangat berterima kasih, kalian menjagaku," sambut Nayla.


Thomas tersenyum hangat, dan segera menarik tangan Ethan sebelum ia kembali bicara. Nathan dan Kevin mengikuti dari belakang.


"Tidak perlu terburu-buru, kami akan menunggumu dimobil," ucap Martin pada Rory.


Rory mengangguk pelan tanpa suara, dan segera memalingkan wajahnya. Martin tersenyum getir sesaat dan menghilangkannya didetik berikutnya. Berusaha agar Nayla tidak menyadarinya.


"Kami pergi dulu," ucap Martin mengarahkan pandangannya pada Nayla.

__ADS_1


"Aku senang kondisimu membaik, Nay. Kuharap kamu segera pulih," harap Martin.


"Terima kasih. Berhati-hatilah dalam perjalanan," sambut Nayla tersenyum.


Martin tertegun selama beberapa saat, kemudian berbalik meninggalkan Rory dibelakangnya. Mereka keluar dari ruangan dan membiarkan Nayla makan dengan Rory yang menyuapinya.


Martin berjalan dengan mata terus tertuju pada ponselnya. Ketika mereka telah tiba di pintu keluar, langkahnya terhenti saat teringat sesuatu.


"Arhh,,sial,, aku melupakan sesuatu," ucap Martin menghentikan langkahnya, membuat yang lain turut menghentikan langkahnya.


"Ada apa?" tanya Kevin.


"Aku meninggalkan Tablet ku di meja, aku akan mengambilnya sebentar," ucap Martin.


Martin segera berbalik dan setengah berlari kembali keruang dimana Nayla dirawat.


********


"Ayolah,,, makan sedikit lagi," bujuk Rory. "Ini bahkan bau suapan ketiga," imbuhnya.


Nayla memalingkan wajahnya saat Rory menyodorkan sendok berisi sup kemulutnya. Tangannya mendorong kembali tangan Rory agar menjauh.


"Rasanya benar-benar tidak enak. Aku tidak mau makan lagi," keluh Nayla.


"Justru karena tidak enak, kamu harus memakannya," bujuk Rory lagi.


"Kamu memerlukan asupan lebih agar pulih lebih cepat. Makanan akan terasa enak ketika kamu sehat,"sambungnya.


"Kalau begitu, kamu saja yang menghabiskannya," sambut Nayla.


"Kamulah yang sakit disini," balas Rory.


" Jika kamu memakan setengahnya, aku janji akan menghabiskan setengah sisanya. Kamu belum makan apapun sejak kemarin, benar bukan?" tebak Nayla.


Rory menatap lekat mata Nayla. Seolah mencari tau sesuatu. Kemudian matanya beralih pada sup yang ada di tangannya.


'Bagaimana dia bisa tau? Apakah salah satu dari mereka mengatakan sesuatu pada Nayla?' pikir Rory.


"Mereka tidak ada sangkut pautnya dengan aku tau kamu tidak makan sejak kemarin, Roy," ucapan Nayla kembali mengejutkan Rory.


Rory mengangkat wajahnya dan kembali menatap Nayla yang tengah tersenyum lembut padanya.


"Karena aku juga akan melakukan hal yang sama jika itu terjadi padamu," ungkap Nayla.


"Apa yang sudah kulakukan dimasa lalu hingga aku seberuntung ini mendapatkanmu, Nay?" ucap Rory dengan mata berkaca-kaca karena haru.


"Tidakkah kamu merasa akulah yang seharusnya mengatakan hal itu? Aku bahkan tidak pernah bermimpi akan berkencan dengan seorang bintang, dan sekarang dia justru menjadi kekasihku," tutur Nayla tulus.


Rory mengusap puncak kepala Nayla dengan lembut dan penuh kasih.


"Aku sangat beruntung memilikimu disisiku, jadi kamu harus kembali sehat, dan makanlah sedikit lagi," bujuk Rory lagi.


"Ish,,, aku berharapkamu lupa soal makanannya," decak Nayla memajukan bibirnya.


"Satu suapan yang kamu makan, aku juga akan makan satu suap, bagaimana? Apakah itu adil?" Rory terus membujuk dengan segala cara.


"Sepakat, kamu tidak boleh menarik ucapanmu, Roy," sambut Nayla cepat.


"Tck,,, aku tau itu," decak Rory gemas lalu mengacak gemas kepala Nayla.


Rory menatap sup yang ada ditangannya, dan mulai menyendokkan sup itu perlahan kearah mulutnya sendiri.


"Heemm,,, ini enak, dan terasa hangat diperutku," ucap Rory berkomentar.


"Itu bukan sup untuk orang sakit, Roy. Tapi sup itu untuk menambah stamina, dan memperbaiki daya tahan tubuh," terang Nayla.


"Apakah Chris selalu membuatkan ini untukmu ketika kamu sakit?" tanya Rory kembali menyuapi Nayla.


"Yah,,, dia selalu membuatnya, karena dia tau aku tidak akan pernah makan makanan rumah sakit. Dan itu membuatnya kesal, jadi dia membuatnya sediri," ungkap Nayla.


"Apakah aku boleh mendengar lebih banyak tentangmu, Nay?" tanya Rory lagi.


"Tentu, Roy. Tapi bukankah sekarang bukan waktu yang pas?" Nayla belas bertanya.


"Aku tau, tapi mendengarmu akan menceritakannya padaku itu membuatku senang. Aku bisa mendenganya nanti setelah urusanku selesai," sambut Rory.


"Sebelum itu, bolehkah aku meminta satu hal padamu, Roy?" harap Nayla.


"Kamu bisa meminta apapun padaku," jawab Rory.


"Sungguh?" tanya Nayla memastikan.


"Katakan saja, dan aku akan memberikannya. Apa yang ingin kamu minta?" tanya Rory.


Rory meletakkan mangkuk sup dipangkuannya. Matanya menatap Nayla penasaran dengan apa yang ingin diminta Nayla.

__ADS_1


"Berbaikanlah dengan, Martin," ....


...****************...


__ADS_2