
Nayla berjalan menyusuri jalan dengan gitar dipunggungnya, meninggalkan Antony dan Elvina yang menghabiskan makan malam bersama.
Sementara itu, Rory masih bersembunyi. Menunggu waktu yang pas untuk keluar. Keterkejutan masih memenuhi wajah mereka.
"Tak bisa ku percaya. Dia bisa menyanyi seindah itu. Suaranya menakjubkan," puji Ethan. "Dan ku akui, aku bahkan akan kalah jika melawannya," imbuhnya.
"Dia bahkan bisa bermain gitar sama bagusnya dengan Rory," timpal Nathan.
"Dan dia bisa membuat lagu," sambung Kevin.
"Apakah sebenarnya dia juga seorang penyanyi?" celetuk Martin.
Seketika mereka menatap Martin. Memikirkan hal yang sama. Tapi kemudian, mereka mengeleng, selama mereka berada didunia musik, mereka tidak pernah mendengar nama Nayla ataupun penyanyi yang menyembunyikan identitasnya.
"Ayo pergi, sepertinya dia sudah agak jauh," ajak Rory.
Mereka mengangguk setuju dan segera pergi meninggalkan tempat itu tanpa disadari Antony dan Elvina. Ketika mereka berada didekat mobil mereka, Rory menatap Nayla yang memilih untuk berjalan kaki lalu menatap teman-temannya.
"Kita ajak saja sekalian untuk pulang bersama," sambut Kevin.
"Atau kita bisa makan malam bersama," sambung Thomas.
Rory mengangguk dengan senyum diwajahnya. Sementara Nayla terus melangkah tanpa menyadari sedikitpun bahwa Rory mengikutinya.
Ketika Nayla merasakan sebuah mobil menepi didekatnya dan akhirnya berhenti, ia menghentikan langkahnya, digantikan dengan keterkejutan diwajahnya ketika melihat Rory keluar dari mobil.
"Lho,,, Roy? Apa yang sedang kamu lakukan disini?" tanya Nayla terkejut.
"Masuk!" ucap Rory sembari mengerakkan kepalanya kearah mobil yang terbuka.
"Ada apa?" tanya Nayla bingung.
"Masuk saja!" pinta Rory.
Nayla mengerutkan keningnya, namun tetep menurut masuk kedalam mobil. Dengan dibantu Rory, ia melepaskan gitar dari punggungnya.
Rory meletakkan gitar yang dibawa Nayla ditempat biasa ia meletakkan gitar miliknya, dan duduk disamping Nayla.
"Apakah urusan kalian sudah selesai?" tanya Nayla memecah keheningan.
"Ya,,, urusan kami sudah selesai, dan dalam perjalanan pulang kami melihatmu," jawab Thomas.
"Kemana kau pergi hingga malam seperti ini kamu masih diluar?" tanya Kevin.
"Menemui teman lama, karena lama tidak bertemu, sepertinya aku lupa waktu," jawab Nayla tenang.
'Dia memang tak berbohong, itu juga yang membuatnya menjawab dengan tenang. Tapi, kenapa dia tidak menjelaskannya?' batin Kevin.
"Kau yakin hanya itu?" pancing Kevin.
"Uhm,,," Nayla memutar bola matanya. " Baiklah, sebelum menemui temanku, aku memang pergi ketempat lain sebentar," jawab Nayla.
"Dan dimana itu? Siapa yang kamu temui?" cecar Kevin.
"Di kantor tempatku bekerja,dan tentu saja itu adalah rekan kerja," jelas Nayla.
"Apakah ada masalah ditempatmu bekerja?" tanya Thomas.
__ADS_1
"Tidak, dan itu sungguh melegakan karena mereka memberiku waktu lebih banyak," jawab Nayla.
"Lalu, gitar yang kamu bawa?" tanya Rory.
"Ah,, itu, temanku yang memberikannya untukku," jawab Nayla.
"Apa alasannya dia memberimu gitar?" tanya Rory.
"Dia berkata padaku sebagai ucapan terima kasih, padahal aku sudah menolaknya. Tapi, dia bersikeras memberikannya padaku," jelas Nayla.
'Tak satupun pertanyaan dijawab dengan kebohongan, hanya saja dia tidak menjelaskan lebih banyak dari yang diperlukan. Tapi kenapa?' batin Rory.
"Kamu bisa memainkannya?" tanya Rory lagi.
"Jika dibandingkan denganmu, aku hanya seorang amatir, Roy," jawab Nayla tersenyum kecil.
"Entah kenapa aku ragu kalau kamu amatir," celetuk Ethan.
"Itu karena kamu tidak pernah mendengar permainanku. Dan kau tau? Itu akan menjadi terapi telinga terburuk," sambut Nayla.
"Bagaimana jika kamu memainkannya dan biarkan kami yang menilai?" tantang Nathan.
"Aku justru ingin meminta Roy untuk mengajariku cara memainkannya," kilah Nayla.
"Apakah kamu sudah makan?" tanya Rory menganti topik pembicaraan.
"Hemm,," Nayla mengelengkan kepala. " Aku berencana makan malam setelah ini, itu sebabnya aku memilih berjalan sebentar untuk mencari sesuatu yang menarik selera makanku, dan kamu muncul," terang Nayla.
"Kalau begitu, kita makan malam sebelum pulang," ucap Martin.
"Aku?" Nayla menunjuk dirinya sendiri dan menatap mereka secara bergantian yang hanya mengangguk.
"Ehmm,,, Enah kenapa aku sedang ingin sesuatu yang dipanggang," jawab Nayla.
"Kalau begitu, kesanalah tujuan kita," sambut Kevin.
"Ehh,,, tunggu. Bagaimana dengan kalian? Kalian tidak harus mengikuti selera makanku," ucap Nayla tak enak.
"Tenanglah, kami bukan pemilih," sambut Rory menepuk pelan kepala Nayla. "Lagi pula, selera kita sama. Dan seleraku, mereka bisa menikmatinya tanpa keluhan," sambungnya.
Dengan bujukan itu, akhirnya Nayla mengangguk setuju.
*******************
### 1 minggu kemudian. . . .
Berita tentang buku yang akan diterbitkan dengan foto penulis beserta tanda tangan asli sang penulis dan dicetak terbatas menjadi bahan pembicaraan.
Nayla telah kembali tinggal diapartemennya sendiri setelah berdebat panjang dengan Rory dan teman-temannya.
"Aku ingin kembali ke apartemenku sendiri," ucap Nayla dua hari lalu setelah mereka menyelesaikan makan malam diruang santai yang ada dilantai 2.
"Kenapa? Apakah kamu kekurangan sesuatu disini? Atau ada yang membuatmu tidak nyaman?" cecar Rory.
"Roy, aku setuju tinggal disini untuk pemulihan, ingat?" sambut Nayla.
"Aku tau, tapi kenapa kamu tidak tinggal disini saja? Setidaknya aku bisa terus menjagamu," ucap Rory.
__ADS_1
"Itu tidak mungkin, dan kamu tau apa alasannya," jawab Nayla.
"Apakah aku membuatmu tidak nyaman berada disini, Nay?" tanya Martin.
"Jangan konyol!" tukas Nayla. "Apa yang membuatmu berpikir begitu?" tanyanya.
"Lalu kenapa kamu menolak untuk pindah?" tanya Kevin.
"Kalian sebenarnya tau apa alasannya. Lagi pula, waktu istirahat kalian juga hampir berakhir, benar bukan?" tanya Nayla.
Mereka terdiam, membenarkan apa yang dikatakan Nayla. Tidak bisa mengatakan hal lain, Rory mendesah pelan sebelum kembali berkata.
"Tapi, jika aku ingin kamu menghadiri acara bersamaku, kamu akan menerimanya kan?" tanya Rory.
"Tentu, aku akan datang jika kamu menginginkan aku datang," sambut Nayla tersenyum.
"Baiklah, aku akan mengantarmu besok," ucap Rory lesu.
Pada keesokan harinya, Nayla menunggu Rory yang sedang mengambil mobilnya, ketika Martin menghampiri Nayla.
"Aku belum meminta maaf dengan benar padamu. Setelah semua yang terjadi, aku tidak memiliki banyak kesempatan untuk berbicara denganmu. Dan membuatku tidak mengatakan maaf dengan benar," ucap Martin berdiri disamping Nayla.
"Untuk?" Nayla mengerutkan keningnya.
"Segalanya, semua kesalahanku, semua ucapan burukku padamu, dan tingkah burukku padamu, aku benar-benar minta maaf padamu," sesal Martin.
"Itu sudah berlalu beberapa hari, Martin. Kamu tidak perlu meminta maaf padaku," sambut Nayla tersenyum hangat.
"Tetap saja, aku itu tidak mengubah fakta bahwa aku telah banyak melakukan kesalahan padamu," ucap Martin dengan tulus menundukkan kepalanya.
"Dan aku sudah memaafkanmu bahkan sebelum kamu meminta maaf," sambut Nayla.
Martin mengangkat kepalanya dan menatap Nayla yang tersenyum hangat padanya.
"Setelah semua yang aku lakukan, bagaimana bisa kamu tetap bersikap hangat padaku?" tanya Martin tersenyum sedih.
"Aku mengerti kenapa kamu melakukannya," jawab Nayla.
"Terima kasih sudah memaafkan aku," ucap Martin yang disambut dengan senyum hangat dari Nayla.
"Kenapa kamu melakukan semuanya hingga sejauh ini, Nay?" tanya Martin.
Bertepatan dengan itu, mobil Rory muncul dan berhenti didepan mereka. Menyela pembicaraan mereka.
Martin membantu memasukan barang-barang Nayla temasuk gitar pemberian Antony dan menutup bagasinya.
Nayla melirik Rory yang telah masuk kedalam mobil, lalu berailh kearah Martin.
"Karena aku juga mencari jawaban dari pertanyaan yang tidak bisa kujawab setelah bertahun-tahun,"
Nayla berkata pelan sebelum akhirnya masuk kedalam mobil dan membiarkan Martin berdiri mematung.
Nayla mendesah pelan ketika mengingat kembali hal yang terjadi dua hari lalu. Ia kembali menatap komputernya dan mulai mengetik.
Mengabaikan berita yang sempat ia baca sekilas tentang buku yang akan ia masukkan foto dirinya dan dicetak terbatas, beserta tanda tangan asli darinya meledak dan menjadi bahan perbincangan di berbagai media.
...****************...
__ADS_1