
Nayla mengangkat kepalanya dan mengarahkan pandangannya pada Kevin, lalu tersenyum.
"Aku tidak marah padamu,dan kamu bisa menyimpan ponselku hingga apa yang menurutmu waktu yang tepat untuk menceritakan semuanya padaku," tutur Nayla tenang.
"Maaf jika aku terkesan membebanimu, aku tidak akan mencari tau apapun sebelum kalian yang menceritakan semuanya padaku," imbuhnya.
"Kenapa aku jadi merasa bahwa akulah yang menjadi jahat disini," sambut Kevin.
"Aku tidak bermaksud begitu," sanggah Nayla. " Hanya saja, rasanya salah jika aku terus membuat orang-orang disekitarku terus khawatir padaku," jelas Nayla.
"Kau bisa bersikap sesuai dengan keinginanmu dan aku akan membereskan sisanya," tutur Kevin.
Nayla tertegun mendengar perkataan Kevin. Namun tidak bisa mengatakan apapun sebagai balasannya.
Untuk sesaat, Nayla seolah melihat sosok kakaknya-lah yang mengatakan hal itu padanya. Kalimat yang selalu diucapkan padanya ketika dirinya masih kecil.
Keheningan mulai menyelimuti keduanya, hingga suara pintu dibuka mengalihkan perhatian mereka.
Rory muncul diikuti dengan teman-temannya. Tak lama kemudian, Chris masuk, bersamaan dengan ponsel Kevin yang berdering.
"Ya?" jawab Kevin cepat setelah melihat siapa yang menghubunginya.
"Baiklah, aku tunggu disini. Kalian bisa langsung masuk. Kebetulan sekali kami semua sudah berkumpul," ucapnya.
Nayla mengerutkan keningnya dan menatap Rory dengan alis terangkat. Namun, Rory hanya mengangkat bahunya tanda dirinya juga tidak tau apapun.
"Mereka dalam perjalanan kemari," ucap Kevin.
"Siapa?" tanya Thomas.
"Teman-temanku, yang diminta Nayla untuk datang kesini," jawab Kevin mengarahkan pandangannya pada Nayla sekilas.
"Bukankah tadi kamu bilang mereka datang setelah gelap?" tanya Nayla heran dengan perubahan tiba-tiba.
"Mereka sudah menyelesaikan pekerjaan mereka," jelas Kevin.
"Ah,,begitu," sambut Nayla menganggukan kepalanya.
"Omong-omong, siapa yang datang menjengukmu, Nay?" sela Ethan sembari menunjuk bunga dan paper bag disofa.
"Eh,,, itu,,, temanku," jawab Nayla.
"Dia tau kamu sakit?" sambung Nathan.
"Aku yang memberitaunya, karena dia terus menghubungiku menanyakan kenapa Nayla tidak bekerja," sela Chris.
"Ah,, begitu rupanya. Aku mengerti," sambut Nathan.
"Apakah tidak apa dia membaca buku?" tanya Rory pada Chris.
"Dia hanya tidak boleh melakukan aktivitas fisik berlebihan. Jika hanya mebaca, itu tidak masalah. Namun, bukan berarti bisa terus membaca buku, dia tetap perlu mengatur waktunya saat membaca," terang Chris.
Rory mengngguk mengerti dan menatap Nayla yang juga tengah menatapnya dengan senyum diwajahnya.
"Apa ada sesuatu diwajahku?" tanya Rory dengan alis terangkat.
"Ada," jawab Nayla.
"Benarkah?" sambut Rory menaikkan alisnya. "Apa itu? Dan disebelah mana?" sambungnya sembari mendekatkan wajahnya pada Nayla.
Nayla mendorong kening Rory dengan dua jarinya, dan menatap lekat kedalam matanya.
"Sekarang, jelaskan padaku, apa yang kalian sembunyikan dariku!" pinta Nayla.
"Aku merasa kalian merencanakan sesuatu dibelakangku, dan itu menyangkut tentang diriku didalamnya," ucap Nayla.
Mereka saling pandang satu sama lain, lalu serentak menatap Nayla yang masih sabar menunggu penjelasan dari mereka.
"Kurasa kita memang tidak bisa menyembunyikan apapun terlalu lama darinya," cetus Nathan.
"Jadi, apa itu?" tanya Nayla lagi.
"Kami mengungkapkan bukti yang kamu dapatkan didepan publik. Dan yah, itu benar-benar menghentikan semua rumor tentangmu dan Rory," ungkap Thomas.
__ADS_1
"Hanya itu?" tanya Nayla menyipitkan matanya. "Ini memang melegakan, tapi aku merasa kalian masih menutupi hal lain," imbuhnya.
Mereka saling melirik karena gugup, tidak tau apakah baik bagi Nayla untuk mengetahui yang sebenarnya disaat kondisinya masih belum, benar-benar pulih.
Nayla menghela nafas panjang, tangannya terulur untuk meraih gelas yang ada dimeja. Gerakan Nayla terhenti saat tangan Rory menghentikannya dan membantu Nayla mengambil gelas berisi air.
Nayla tersenyum, dan menerima gelas dari Rory, kemudian meneguk isinya perlahan.
"Kami mengungkapkan hubungan kalian berdua," ungkap Martin membuka suara.
"BURR,,,!!!"
"Uhuk,,Uhuk,,, Kau bilang apa?" Nayla menyemburkan air yang baru saja ia minum.
"Hei,,, pelan-pelan," tegur Rory menyapukan jarinya dibibir Nayla.
"Aku akan jelaskan semuanya, aku hanya menunggu waktu yang pas untukmu," terang Rory.
'Akhh,,, sial,,, aku sudah menutupi semuanya dari Adrian. Tapi, jika begini Adrian tentu akan tau,' keluh Nayla dalam hati.
Tok,,,
Tok,,
Tok,,
Disaat kegelisahan memenuhi hati Nayla, ketukan pintu mengalihkan perhatian mereka.
Mereka mengarahkan pandanganya kearah pintu, tak lama kemudian, muncul empat pria yang segera disambut Kevin.
"Masuklah," ucap Kevin tersenyum hangat.
"Apakah kami datang diwaktu yang tidak tepat? Kalian semua terlihat tegang," ucap salah satu dari mereka.
"Sama sekali tidak. Justru sebaliknya," sambut Kevin.
Kevin berbalik menghadap Nayla. Tersenyum hangat dan menunjuk mereka dengan satu tangan.
"Biarkan aku mengenalkan mereka padamu, Nay," ucap Kevin.
"Dia Jeffry, Reymod, Jack, dan Brandon," papar Kevin kepada Nayla.
Kevin berbalik dan menghadap Mereka lalu menunjuk Nayla dengan telapak tangannya.
"Dan dia Nayla, juga Chris, kakak dari Nayla," papar Kevin memperkenalkan Nayla beserta Chris pada mereka.
"Senang bertemu denganmu, Nayla," ucap Brandon ramah.
"Senang juga bertemu denganmu, Chris" sambungnya menoleh kearah Chris.
"Senang bertemu dengan kalian semua," sambut Nayla tersenyum hangat.
"Senang bertemu kalian," sambung Chris.
"Jadi kalian sudah mengenal mereka semua?" tanya Nayla menunjuk Rory dan teman-temannya dengan matanya.
"Tentu saja, Kevin teman kami, dan semua temannya juga menjadi teman kami, begitu juga sebaliknya," terang Jack.
"Ah,, begitu rupanya," gumam Nayla.
Mereka tersenyum simpul. Hingga Kevin kembali membuka suara.
"Sebenarnya kita tidak seharusnya membahas ini disini. Namun, Nayla bersikeras dan mengatakan tidak ada waktu lagi selain disini," terang Kevin.
"Jadi, apakah tidak masalah jika membicarakan ini sekarang, Chris?" tanya Kevin.
"Kalaupun aku melarangnya, kau tau bagaimaa dia akan bereaksi, bukan?" Chris balas bertanya.
"Ha ha,, kau benar," sambut Kevin sembari menyisir rambut dengan jarinya.
"Baiklah, sebelum itu aku akan menjelaskan tentang mereka padamu, Nay," ucap Kevin.
Hening. . . .
__ADS_1
Tidak satupun dari mereka menyela Kevin setelah teman-teman Kevin datang. Untuk sesaat, Nayla melirik Rory, dan beralih ke Thomas, Ethan ,Nathan dan Martin. Mereka menutup rapat mulut mereka.
"Mereka semua bisa dikatakan mahir dalam bela diri. Lebih tepatnya lebih unggul jika dibandingkan denga kami semua," ungkap Kevin.
"Meski begitu, mereka juga memiliki keunggulan lain," terangnya.
"Keunggulan yang berbeda satu sama lain namun tetap tidak menutupi kemampuan utama mereka?" sambung Nayla
"B-Benar," jawab Kevin sedikit terkejut.
Nayla menunjuk Brandon.
"Anda yang paling unggul dalam kemampuan fisik, anda bahkan bisa mengalahkan tiga teman ada walaupun mereka menyerang bersama," papar Nayla.
Brandon melebarkan matanya karena terkejut. Mengabaikan hal itu, Nayla menunjuk Jack.
"Anda unggul dalam menggunakan senjata api," ucap Nayla, lalu beralih kearah Reymond.
"Anda adalah penjinak bom, dan ahli merakit senjata," lanjut Nayla.
"Dan anda," ucap Nayla menunjuk Jefry.
"Anda juga unggul dalam kemampuan fisik, perbedaanya adalah anda bisa menahan nafas lebih lama dan dapat berlari lebih cepat dibandingkan dengan yang lain," ucap Nayla.
"Kalian semua mengikuti pelatihan polisi walaupun pada akhirnya kalian tidak bergabung dengan polisi," imbuhnya.
Hening. . . . .
"EEEEHHHHHH,,,,,,!!!!!"
Semua yang berada disana berseru bersama, termasuk Jefry dan yang lain turut terkejut.
"SSHhhh,,," Chris mendesis kesal karena mereka tidak menjaga suara mereka.
"Ingatlah ini masih dirumah sakit, suara kalian terlalu keras," hardik Chris.
Mereka serentak menutup mulut mereka, dan mengarahkan pandangan mereka kearah Nayla dengan tatapan bertanya.
"Bagimana kamu bisa tau sedetai itu, bahkan saat aku belum mengatakan apapun tentang mereka?" tanya Kevin masih belum bisa menghilangkan keterkejutannya.
"Dari fisik mereka," jawab Nayla singkat.
"Bagaimana bisa?" tanya Rory.
"Dari cara mereka berjalan, tangan mereka yang memiliki bekas luka dan postur tubuh mereka," terang Nayla.
"Tapi bagaimana kamu bisa menebaknya dengan begitu detail? Bahkan tidak meleset sedikitpun?" sambut Brandon.
"Emmm,,, anda selalu mengunakan perban untuk melilit tangan anda_,,"
"Tolong jangan terlalu formal padaku, bicara santai saja," potong Brandon.
"Tapi,,,," Nayla melirik Kevin yang menganggukan kepalanya.
"Baiklah, terima kasih sebelumnya," ucap Nayla.
"Jadi, apa?" tanya Brandon lagi.
"Anda- eh kamu sering belatih dengan melilitkan perban, hal itu terlihat dari kedua tanganmu memiliki warna yang sedikit berbeda, dan juga ada bekas disana," terang Nayla.
"Woww,," sambut Brandon melebarkan matanya.
"Sejujurnya aku juga penasaran, tapi untuk sekarang kamu katakan saja dulu rencana yang sudah kamu susun," sela Reymond.
"Terlepas dari waktu yang terbatas, kamu juga masih butuh istirahat lebih banyak," imbuhnya.
Mereka mengangguk setuju. Walapun disisi lain, hati mereka memiliki banyak pertanyaan, namun memutuskan untuk menyimpannya dan meminta Nayla menjelaskannya nanti.
"Baiklah," sambut Nayla tersenyum.
Nayla menarik nafas dan menghembuskannya perlahan.
"Aku ingin kalian menyebarkan berita tentang kepulanganku besok," tegas Naya.
__ADS_1
"APAAAA,,,????"
****************