
'Nayla tidak mungkin menjalin hubungan dengan pria lain kan?" batin Kevin.
'Tapi, dia bisa masuk keapartemen Nayla dengan mudah. Siapa dia sebenarnya? Apa lagi yang Nayla sembunyikan?' tanya hatinya.
"Kevin,,,??" panggil Nayla mengerutkan keningnya.
"Eh,, ya,, Apa? Apakah kamu memerlukan sesuatu?" sambut Kevin.
"Apakah sesuatu terjadi ketika kalian disana?" tanya Nayla.
"Tidak,!" jawab Kevin cepat. " Semua baik-baik saja dan berjalan lancar," sambungnya.
"Lalu? Apa yang terjadi? Kamu terlihat aneh sejak kembali," cecar Nayla.
"Hanya terpikirkan sesuatu. Dan itu bukan hal yang harus kau pikirkan saat ini," sanggah Kevin.
'Berhenti memikirkan hal konyol. Setelah semua pengorbanannya, tidak mungkin dia akan melakukan sesuatu yang akan menyakiti Rory,' batin Kevin.
"Bolehkah aku menyanyakan sesuatu padamu?" tanya Kevin.
"Tentu, apa itu?" balas Nayla.
"Apakah kamu tidak memberikan kabar pada orang tuamu? Mereka tentu khawatir karena kamu tidak memberi kabar apapun selama berhari-hari," tutur Kevin.
"Tidak perlu,!" jawab Nayla. "Semua baik-baik saja, aku bisa mengatasinya," sambungnya.
Nayla memalingkan wajahnya, kembali menatap luar jendela.
'Kenapa rasanya berat untuk mengatakan yang sebenarya?' batin Nayla.
"Aku mengerti," jawab Kevin.
Kevin memilih diam dan tidak mendesak Nayla. Mengingat kondisinya yang bisa saja menurun kapan saja.
Hening. . . . . .
"Katakan sesuatu padaku, Nay!" ucap Kevin memecah keheningan.
"Seperti?" Nayla balas bertanya dan mengarahkan pandangannya pada Kevin.
"Aku telah bersikap buruk padamu, lalu kenapa kau masih bersikap hangat padaku?" tanya Kevin menundukkan kepalanya.
"Apakah kamu mengharapkan aku berkata ' Aku membencimu'? "balas Nayla.
"Aku_,,," Kevin tidak bisa melanjutkan kalimatnya.
"Ketika aku mengatakan bahwa aku sangat mengerti apa yang kamu rasakan terhadap Roy, itu adalah benar. Dan bukan sekedar untuk mencari perhatian dari kalian," ungkap Nayla.
"Aku tau, kamu tidak sepenuhnya ingin bersikap begitu. Hanya saja keadaan memaksamu untuk melakukannya," lanjutnya.
Kevin terdiam. Keheningan kembali menyelimuti mereka. Hingga suara pintu dibuka mengalihkan perhatian mereka.
Rory dan semua temannya kembali dan segera duduk disofa menghembuskan nafas dengan kasar.
Sementara Rory menghampiri Nayla tanpa menghilangkan senyum diwajahnya.
"Bagaimna keadaanmu?" tanya Rory mengusap lembut kepala Nayla.
"Jauh lebih baik," sambut Nayla tersenyum.
__ADS_1
"Tapi, ada apa dengan mereka? Mereka terlihat kesal," tanya Nayla.
"Ah,,, itu,,," Rory menyisir rambut dengan jarinya.
"Jangan pikirkan hal itu untuk saat ini. Kamu harus pikirkan kesehatanmu lebih dulu," kilah Rory.
Kevin bangun dari duduknya dan membiarkan Rory duduk disamping Nayla.
"Kalau kamu berkata begitu, justru membuatku menjadi lebih ingin tau apa yang terjadi," balas Nayla.
"Hahhh,, baiklah,, ini hanya tentang mereka yang menyerangmu," desah Rory.
"Mereka kesal karena mereka yang berhasil kami tangkap tidak mau mengatakan apapun," terang Rory.
"Ada berapa orang yang kalian tang_,,,," Nayla gagal menyelesaikan kalimatnya ketika tiba-tiba pintu terbuka.
Sosok wanita anggun dan cantik berdiri dibalik pintu dan segera menyerbu masuk dengan buket bunga disatu tangan dan paper bag ditangan lainnya.
Alisha, tunangan Kevin segera memeluk Kevin yang disambut dengan hangat.
"Kenapa kamu kesini?" tanya Kevin.
"Aku tidak bisa menemuimu saat diacara hari ini. Tapi aku sempat bertemu dengan Om dan Tante. Saat mereka bilang tidak bisa datang kemari, aku memutuskan datang untuk melihat keadaannya," jelas Alisha menatap Nayla.
"Aku senang bisa melihamu lagi, tapi aku tidak suka dengan situasinya," ucap Alisha murung.
Alisha meletakkan bunga itu di meja, lalu dengan hati-hati memeluk Nayla.
"Terima kasih sudah datang, Alisha," tutur Nayla.
"Senang melihatmu baik-baik saja, Nay," ucap Alisha setelah melepaskan pelukannya.
"Om dan Tante menitipkan ini padaku untuk diberikan padamu," ucap Alisha sembari menunjukan paper bag putih ditangannya.
"Astaga,,, apakah mereka berdua tidak mengatakan apapun padamu?" seru Alisha melirik Rory dan Kevin.
"Aku belum memberitahunya," sanggah Kevin.
"Aku berniat mengatakannya setelah ini," timpal Rory.
"Kalian berdua keterlaluan," gerutu Alisha.
Alisha memalingkan wajahnya dan kembali menatap Nayla yang masih menunggu jawaban Alisha.
"Om dan Tante yang ku maksud adalah kedua orang tua mereka," jelas Alisha.
"Ah,,, Begitu,,," sambut Nayla. "Tolong sampaikan kepada mereka, aku sangat berterima kasih," sambungnya.
"Mereka pasti akan sangat senang mendengarmu mengatakan itu," balas Alisha.
"Mengapa begitu? Bukankah sudah hal yang seharusnya aku mengucapkan terima kasih atas perhatian mereka?" sambut Nayla bingung.
"Uhm,,, mengenai itu,,," Alisha melirik Kevin dan Rory bergantian.
"Biarkan mereka saja yang menjelasknnya," tutur Alisha.
"Aku mengerti," jawab Nayla tersenyum.
"Apakah kamu yakin baik-baik saja, Nay?" tanya Alisha memastikan.
__ADS_1
"Aku sudah jauh lebih baik," jawab Nayla.
"Aku senang mendengarya," sambut Alisha. " Tapi, aku menyesal tidak bisa ikut menjagamu," keluh Alisha.
"Aku bisa mengerti, Alisha," jawab Nayla. "Kamu tidak perlu meras bersalah seperti itu. Lagi pula mereka sudah menjagaku," hibur Nayla.
"Manis sekali," jawab Alisha kembali memeluk Nayla.
Dering ponsel Alisha mengalihkan perhatian mereka. Ia segera mengeluarkan ponselnya dan melebarkan matanya saat melihat layar ponsel.
"Apakah semua baik-baik saja?" tanya Nayla menyadari perubahan wajah Alisha.
"Menyebalkan," gerutunya. " ini panggilan pekerjaan," lanjutnya.
"Tunggu sebentar, aku akan menerima ini sebentar," ucap Alisha segera keluar dari ruangan.
"Maafkan atas sikapnya yang seenaknya padamu, Nay," cap Kevin setelah Alisha menutup pintu.
"Bukan masalah," sambut Nayla.
"Tapi, bolehkah aku menanyakan satu hal?" sambung Nayla.
"Apa itu?" jawab Kevin.
"Apakah kamu mengatakan sesuatu padanya?" tanya Nayla.
"Tidak, aku tidak mengatakan apapun. Kenapa?" Kevin balas bertanya.
"Tidak ada, hanya penasaran. Dan terkejut dia wanita yang enerjik," jawab Nayla.
"Yah,,, begitulah dia. Namun terkadang dia juga bisa menyebalkan, sama sepertimu," sindir Kevin.
"Hei,,, apa maksudnya itu?" protes Nayla.
Mereka yang duduk disofa tertawa renyah. Merasa lega melihat Nayla yang jauh lebih baik hanya dengan melihat Nayla kembali menimpali apa yang Kevin katakan.
Mereka yang semula duduk manghampiri Nayla, lalu tersenyum.
"Aku sempat berpikir senyuman kalian hilang entah kemana sejak kalian datang," sindir Nayla.
"Baiklah, kami memang payah dalam hal menyembunyikan apa yang kami rasakan," sambut Ethan.
"Aku tidak meragukan itu, sama seperti kamu bisa menolak makanan hanya karena kamu dalam keadaan mood yang buruk," ujar Nayla.
"Hei,,, jangan mengingatkan aku tentang itu,!" protes Ethan.
Mereka kembali tertawa. Nayla mengehntikan tawanya dan menatap mereka yang kini berdiri disekitarnya.
"Aku ada permintaan," ucap Nayla serius.
Mereka terdiam dengan perubahan suasana yang tiba-tiba dan menatap Nayla setelah tawa mereka mereda.
"Katakan saja apa yang kamu inginkan," ucap Kevin.
"Kami pasti akan mengabulkannya," timpal Rory.
Naya tersenyum tipis, lalu menarik nafas dalam dan menghembuskan dengan perlahan.
"Aku ingin memancing mereka agar mereka mau membuka mulut mereka dan mengatakan semua yang kita perlukan," ungkap Nayla.
__ADS_1
Hening.. . . . . .
...****************...