LOVE OF MY LIFE

LOVE OF MY LIFE
69. Rencana


__ADS_3

Keheningan memenuhi ruangan selama beberapa saat. Hingga. . . .


"APAAAAA,,,,,,!!!!!"


Mereka serentak berseru tidak setuju.


"Apa kau sudah gila," sambut Thomas.


"Jangan konyol," timpal Kevin.


"Aku tidak setuju," ucap Rory.


"Aku juga tidak setuju jika itu membahayakanmu lagi," timpal Martin.


"Leluconmu keterlaluan, Nay," ucap Nathan dan Ethan bersamaan.


"Aku tidak merasa apa yang aku katakan adalah hal salah," sambut Nayla datar.


"Apa maksudmu? Sudah cukup kamu melakukan sesuatu hingga sejauh ini! Jangan lakukan apapun lagi," hardik Rory.


"Tidakkah kau percaya pada kami?" sambung Kevin.


"Aku percaya kalian bisa melakukannya. Tapi apakah kalian yakin itu bisa menuntaskan semuanya?" tanya Nayla.


Mereka terdiam. Sejujurnya mereka juga sedang mendapatkan jalan buntu ketika orang yang mereka tangkap memilih bungkam.


"Katakan padaku,! Berapa orang yang kalian tangkap?" tanya Nayla.


"6 orang. Karena disana memang hanya ada enam orang," jawab Martin.


"Tidak," balas Nayla mengelengkan kepalanya.


"Disana ada tujuh atau delapan orang, jika ditambah dengan orang yang memberi mereka perintah, itu berarti ada tiga atau empat orang yang belum tertangkap," ungkap Nayla.


"Bagaimana kamu bisa tau hal ini?" tanya Thomas.


"Dan kamu mengatakan hal ini dengan sangat yakin," timpal Ethan.


"Karena aku melihat siluet dibalik dinding, dia bersandar dan sedang berbicara melalui ponselnya," terang Nayla.


"Aku berasumsi, bahwa orang itu sedang berbicara dengan orang yang memerintahkan mereka," sambungnya


Ungkapan mengejutkan Nayla membuat mereka membeku. Baru menyadari permasalahan yang mereka hadapi tidaklah sederhana seperti kelihatannya.


"Mereka yang tidak tertangkap akan datang lagi dan kembali mengusik, Roy. Karena tujuan awal mereka adalah kamu, Roy," ungkap Nayla.


"Tapi, kenapa aku? Lalu kenapa mereka juga menargetkan kamu?" ucap Rory.


"Untuk alasanya aku tidak tau, tapi hal yang pasti adalah mereka akan datang lagi," balas Nayla.


"Bagaimana kamu bisa berpikir sampai sejauh ini, Nay?" tanya Nathan.


"Kerena dia memiliki intuitif tinggi," suara Chris tiba-tiba menyela mereka, membuat mereka segera menoleh.


Chris telah berdiri dibelakang mereka dengan tangan terlipat.


"Sejak kapan kau berdiri disana?" sambut Kevin menutupi keterkejutannya.

__ADS_1


"Sejak dia mengatakan hal konyol itu kepada kalian," jawab Chris menunjuk Nayla dengan dagunya.


"Tapi, harus kuakui semua yang dia katakan sangat masuk akal," sambungnya.


"Kalian sibuk memprotesku, hingga tidak menyadari Chris telah berada disana," timpal Nayla.


"Kenapa kamu diam saja, Nay?" protes Ethan.


"Lupakan itu!" cetus Nathan. " Sekarang kembali ketopik,!" sambungnya.


"Kalaupun yang kamu katakan itu benar, aku tidak setuju jika kamu kembali berurusan dengan mereka yang sudah membuatmu seperti ini," sanggah Nathan.


"Benar, pasti ada cara lain selain kembali melibatkanmu, Nay," timpal Thomas.


"Sejak awal aku sudah terlibat, dan kalian tau persis hal itu," tandas Nayla.


"Sejak aku mengatakan ingin menyelesaikan ini, aku sudah memikirkan kemungkinan ini akan terjadi," ungkap Nayla.


"Jangan bilang kau juga sudah memikirkan rencana yang akan kau lakukan," sambut Ethan tersenyum ngeri.


"Ya, dan aku yakin kali ini akan berhasil. Hanya saja ini membutuhkan lebih banyak bantuan kalian," papar nayla.


Mereka kembali terdiam, saling pandang satu sama lain. Tidak menyangka bahwa Nayla sudah memikirkan semuanya sampai sejauh itu. Tidak menyangka Nayla justru telah melangkah melebihi mereka.


"Jika itu melibatkan kami, itu artinya kamu tidak harus kembali terlibat kedalamnya bukan?" ucap Rory cemas.


Nayla mengarahkan pandangannya pada Rory. Wajah yang memancarkan kekhawatiran , dan tetap menolak usul yang Nayla ajukan.


"Rencana ini tidak akan berjalan jika aku tidak masuk kedalam rencana ini, Roy. Dan kau tau apa alasanya," jawab Nayla.


"Tapi_,,,"


Rory kembali terdiam. Dan mau tak mau mngakui apa yang dikatakan Naylam meang benar.


"Ini akan membahaykan dirimu lagi, Nay," sela Kevin.


"Kami tidak ingin terjadi sesuatu yang belih buruk padamu," timpal Martin.


"Bukankah kalian bersamaku? Apa lagi yang kalian khawatirkan? lagi pula aku percaya pada kalian semua," sambut Nayla bersikeras.


"Kenapa kamu bersikeras melakukannya, Nay?" tanya Kevin.


Nayla terdiam beberapa saat, menatap Kevin, lalu menunduk sembari mengigit bibir bawahnya..


"Karena aku,,, masih,,, takut," jawab Nayla lirih.


"Dan aku tidak ingin perasaan ini terus berada didalam diriku. Itu sangat tidak nyaman" papar Nayla.


"Tapi, Nay_,,," Kevin masih berusaha menolak ketika ucapanya dipotong Nayla.


"Aku hanya ingin menghilangkan rasa takutku, kenapa kalian menolak untuk membantu? Bukankah kalian sendiri yang mengatakan akan melakukan apapun untuk membantuku?" potong Nayla.


Mereka kembali diam, dan tidak bisa menyangkal ucapan Nayla. Namun, disisi lain masih mengkhawatirkan Nayla.


"Apa rencanamu?" ucap Rory memecah keheningan.


Nayla tersenyum sebelum menjawab,

__ADS_1


"Sebelum itu, apakah diantara kalian memiliki seorang teman yang mahir dalam ilmu bela diri?" tanya Nayla.


"Bela diri? Untuk apa?" tanya Ethan.


"Seperti pengawal?" celetuk Nathan.


"Tidak, jangan gunakan pengawal untuk situasi ini, tapi teman kalian," jelas Nayla.


"Aku memiliki kenalan yang bisa dipercaya. Dan yah, mereka cukup baik dalam bela diri," sambut Kevin.


Nayla mengangguk setuju dan meminta Kevin untuk menghubungi teman-temannya.


"Kenapa kamu memerlukan mereka? Bukankah kami sudah cukup?" tanya Thomas.


"Yah, kalian cukup mampu jika melawan mereka. Tapi, bagaimana jika keadaannya berada ditengah keramaian?" Nayla balas bertanya.


"Itu hanya akan terjadi jika kita menunjukan diri kita dipublik. Tapi, jika kita diam-diam itu tidak akan terja_,,,"


"Bagaimana jika hal itu diluar dugaan kalain? Apakah kalian pikir dia tidak akan mencari informasi apapun yang bergunauntuknya?" potong Nayla.


"Sepertinya masalah ini tidak sesederhana itu. Memikirkan semua kemungkinan, mengundang media untuk datang kesini akan sangat mudah bahkan jika dilakukan hanya satu orang," timpal Chris.


"Jadi, maksudmu teman kami yang bisa ela diri akan mengawasi kami dikejauhan?" tanya Rory.


"Tepat. Orang itu pasti datang," sambut Nayla.


"Bagaimana kamu bisa seyakin itu?" tanya Thomas.


"Seseorang yang membencimu tidk akan melewatkan apapun hal yang bisa menghancurkannya," jawab Nayla.


Thomas tercengang,


'Bahkan dikeadaannya yang seperti ini, dia masih saja memikirkan orang lain,' batin Thomas.


"Mereka akan datang besok," sela Kevin setelah menghubungi beberapa temannya.


"Hanya empat orang, apakah itu cukup?" tanya Kevin menatap Nayla.


"Lebih dari cukup," sambut Nayla.


"Kita bicarakan rencana ini besok,!" ucap Chris.


"Benar, kau harus iistirahat. Kita bisa bicarakan ini saat teman-temanku tiba disini," sambung Kevin.


Nayla menjawab dengan anggukan kepala. Diiringi dengan mereka yang juga mengangguk setuju.


Mereka kembali duduk disofa, dan membiarkan Rory tetap duduk disamping Nayla.


"Kumohon pikirkan lagi, Nay," ucap Rory lirih.


"Jika aku yang ada diposisimu, apakah kau akan berhenti, Roy?" sambut Nayla tersenyum.


Rory meraih tangan Nayla, meremas lembut, lalu tersenyum.


"Baiklah, aku akan ikuti rencanamu. Dengan syarat kamu harus selalu disisiku, aku tidak ingin sesuatu terjadi padamu lagi," harap Rory.


"Mereka pasti akan menargetkanmu lagi," imbuhnya.

__ADS_1


Rory menatap Nayla yang tengah menatapnya, menunggu jawaban Nayla.


...****************...


__ADS_2