
Nayla meletakkan telapak tangan di dahinya disertai hembusan nafas panjang.
"Kenapa sekarang kalian menjadikan ruang kerjaku menjadi tempat santai?" protes Nayla.
"Karena ini tempat ternyaman yang pernah ada," celetuk Ethan sembari merenggangkan tubuhnya yang tengah duduk di beanbag.
"Royy,,,!" protes Nayla memberikan wajah memelas pada Rory.
"Apa? Jangan memasang wajah seperti itu! Aku juga setuju dengannya," jawab Rory dengan seringai lebar.
Rory mulai memetik gitar ditangannya, tersenyum lembut ketika menatap Nayla, dan mulai menyenandungkan lagu yang merupakan lagu gabungan dari ciptaannya dan Nayla. Lagu yang mereka buat bersama dan telah mereka sempurnakan.
Nayla menghampiri Rory dengan senyum diwajahnya, dan menjatuhkan diri dibelakangnya, bersandar di punggung Rory. Mulai menyenandungkan lagu bagiannya.
Mereka bernyanyi secara bergantian, ada saat dimana mereka bernyanyi beriringan. Lagu yang dinyanyikan hanya dengan menggunakan gitar tidak menurunkan kesan hangat dari lagu itu.
Setelah mereka mengakhiri lagunya, Martin menghampiri mereka berdua, memberikan tatapan bangga pada keduanya.
"Satu hal yang kurang dari lagu kalian," ucap Martin.
"Apa?" tanya Rory dengan kening berkerut.
"Judul," jawab Martin dan Nayla.
Secara bersamaan, Martin dan Nayla mengatakan hal yang sama, mereka saling pandang untuk beberapa saat lalu tertawa.
"Kita hanya menuliskan lagu baru tanpa judul karena saat itu keadaan sangat rumit, tapi kita tidak bisa terus menundanya. Kita harus memikirkannya sebelum kamu akan menjadi lebih sibuk untuk persiapan pernikahan kalian berdua," tutur Martin.
Apa yang dikatakan Martin memang tidak bisa disangkal, dalam keheningan panjang, mereka yang berada disana turut memikirkannya.
"Jika lagu Rory berjudul Wish I Saw You dan lagu Nayla berjudul Remember Of You, bagaimana cara mengabungkan judul lagu keduanya? Jika di gabungkan langsung, tidakah itu terlau panjang untuk sebuah judul lagu?" ujar Ethan masih tetap membaca buku.
Nayla tampak termenung, begitu juga dengan Rory. Mengulang kembali tiap lirik lagu dibenak mereka, secara bersamaan mereka mengangkat wajah mereka menatap Martin. Seolah mereka telah membuat kesepakatan, Rory dan Nayla serentak membuka suara.
"LOVE OF MY LIFE,"
Nayla segera menoleh kearah Rory yang saat itu juga melakukan hal yang sama. Tidak bisa menyembunyikan wajah terkejut mereka, detik berikutnya mereka berdua tertawa.
"Sepertinya kita berpikir sama," sambut Rory.
Nayla hanya mengangguk sebagai tanggapan setuju dengan pendapat Rory.
"Ck Ck,,, Kalian,,, aku tidak bisa berkomentar apapun," sindir Martin tersenyum geli.
"Tapi, aku setuju dengan judul nya. Adakah yang keberatan tentang ini?" tanya Martin mengedarkan pandangannya.
Mereka hanya mengangkat bahu mereka, sebagai tanda tidak keberatan sama sekali. Hingga suara pintu yang dibuka membuat mereka segera mengarahkan pandangan mereka kearah pintu.
Adrian masuk dengan ponsel yang menempel ditelinganya, melangkah mendekati Nayla.
"Dia akan datang sebentar kesini, jadi kamu bisa menemuinya langsung," ucap Adrian tiba-tiba setelah panggilan teleponnya berakhir.
"Dia?" kening Nayla berkerut, menatap bingung.
"Siapa?" tanya Nayla.
"Kau lupa? Hari ini kamu sepakat untuk menemui orang yang aku rekrut, dan dia bersedia datang kesini untuk bertemu denganmu," jawab Adrian seraya memasuka ponsel kedalam saku celana.
"Sepertinya aku melupakan bagian itu," sambut Nayla tersenyum canggung.
"Itu hal wajar, kamu memiliki banyak pekerjaan akhir-akhir ini," balas Adrian.
"Apa maksudnya kamu merekrut seseorang? Untuk apa?" sela Rory.
"Aku memerlukan satu orang lagi untuk membantu Adrian," jwab Nayla.
"Kenapa?" tanya Rory lagi.
"Beberapa pekerjaan menjadi lebih banyak dan Adrian kesulitan untuk mengatasinya. Sedangkan aku juga sibuk dengan pekerjaanku sendiri," terang Nayla.
"Begitu," jeda sesaat sebelum Rory kembali berkata.
"Aku bisa membantu mencarikan seseorang untukmu," tawar Rory.
"Jika kamu siap untuk sakit hati, lakukan saja," celetuk Adrian.
"Haa,,, apa maksudnya sekarang?" tanya Rory bingung.
"Tidak mudah menemukan orang yang akan dia terima. Aku hanya mencari, tapi Nayla yang tetap mengabil keputusan apakah di terima atau tidak," terang Adrian.
"Kau hanya perlu mencari apa yang dia inginkan sesuai degan karakternya," jawab Rory.
"Akan lebih baik jika kau melihatnya nanti," jawab Adrian.
Suara bel pintu terdengar tepat setelah Adrian menyelesaikan kalimatnya. Ia segera keluar untuk membuka pintu, tak lama setelah itu, Adrian kembali muncul. Meminta Nayla keluar untuk menemui seorang pemuda yang tengah menunggu.
__ADS_1
"Lebih baik kalian tetap disini, karena aku mengatakan hanya ada aku dan Nayla," ucap Adrian.
"Bukan itu saja," sambung Adrian sebelum Rory mengeluarkan suaranya.
"Dia akan merasa tidak nyaman jika kalian ada didepannya," sambung Adrian.
"Aku tidak akan lama, hanya menemuinya dan berbicra sebentar, lalu memintanya pergi, oke?" hibur Nayla menepuk lembut pipi Rory.
Nayla beranjak menemui orang yang telah menunggunya, meninggalkan Rory dan yang lain diruang kerjanya. Namun, mereka tetap berusaha mencuri dengar apa yang dibicarakan Nayla sekaligus melihat siapa orang yang akan Nayla rekrut.
"Kenapa harus pria?" gerutu Rory.
"Dan dia tampan," goda Thomas.
"Sepertinya Nayla menyukainya, lihat dia! tersenyum seperti itu," pancing Ethan.
"Berisik,,!" sunggut Rory.
"Sepertinya dia akan menjadi sainganmu," timpal Kevin.
"Kenapa sekarang kau juga ikut-ikutan?" gerutu Rory.
"Heee,,,, kenapa? Hal yang wajar jika seorang kakak mengoda adiknya, bukan?" ucap Kevin membela diri.
"Sekarang aku merasa geli mendengarnya," ujar Rory meringis.
"Jangan pernah mengatakan hal mengelikan itu lagi padaku," sambung Rory mencemooh.
"Sstt,, diamlah!" tegur Nathan.
Mereka diam dengan patuh, kembali melihat Nayla yang tengah mengatakan sesuatu yang tidak bisa mereka dengar. Tak lama kemudian, pemuda itu berdiri, lalu mengulurkan tangannya pada Nayla yang menyambutnya dengan senyum hangat.
Nayla kembali kedalam ruang kerja diikuti Adrian, dan memergoki Rory dan yang lain mengintipnya, namun memilih untuk tidak mengatakan apapun.
"Jadi,,, bagaimana?" tanya Adrian setelah Nayla berada didalam ruang kerja.
"Tidak," jawab Nayla mengelengkan kepalanya.
"Haa,, dengan serius? Ini sudah orang kedelapan, Nay?" gerutu Adrian.
"Aku tau, tapi aku tidak bisa menerimanya," tegas Nayla.
"Kenapa? Apakah kau khawatir dia (menunjuk Rory) akan cemburu karena kamu menerima pria?" tanya Adrian.
"Kamu tidak menerimanya, Nay?" sela Rory.
"Kenapa?" tanya Rory.
"Dia hanya akan membebani, Adrian. Jika aku menerimanya, pekerjaan Adrian justru akan lebih banyak dari sebelumnya," terang Nayla.
"Dari mana kamu bisa tau?" tanya Adrian.
"Aku bisa tau karakter seseorang hanya dengan melihat dan berbicara dengan mereka, Adrian. Sama sepertimu, Rose juga mengeluh saat mencari orang untuk mengantikannya. Dan kau orang kesembilan yang dipilih Rose," ungkap Nayla.
"Eehh,, aku?" seru Adrian menunjuk diri sendiri dengan wajah terkejut.
"Ya, Rose memberikan datamu padaku. Hanya dengan itu saja, aku yakin kamu bisa bekerja untukku, aku semakin yakin saat pertama kali kau datang kemari dan mengobrol sebentar denganmu," jelas Nayla.
"Hahh,,,, baiklah," desah Adrian.
"Aku akan mencari lagi," imbuh Adrian.
"Sebenarnya aku sudah memilih satu orang, hanya saja aku menunggu kabar darinya karena dia memiliki masalah yang harus diselesaikan," papar Nayla.
"Jika kamu sudah mendapatkannya, kenapa kau tidak bilang?" gerutu Adrian.
"Dia sendiri yang meminta waktu, setelah menawarkan diri padaku. Dia berkata jika sampai masalahnya selesai dan aku belum menemukan orang lain, maka dia akan masuk," jelas Nayla.
"Siapa? Apakah aku bisa melihat datanya?" tanya Adrian.
"Vania," jawab Nayla.
"APAA,,???!" serentak semua orang mengeluarkan suara terkejut.
"Kenapa dia?" protes Rory tak suka.
"Karena dia sangat mengerti apa yang aku mau," jawab Nayla tenang
"Kenapa harus dia? Kita sudah memiliki orang yang memiliki suara sarkas. Kenapa harus ditambah?" celetuk Ethan.
"Wanita kedai burger itu sedikit menyebalkan," timpal Nathan.
"Dia bahkan menghinamu," sambung Thomas.
"Jangan lupa bahwa dia juga membantu menyelesaikan masalah kita," hibur Nayla.
__ADS_1
"Tapi kenapa harus dia? Tidak bisakah kamu mencari yang lain? Aku akan mencari orang yang sesuai dengan kriteria apapun yang kamu sukai, aku pasti menemukannya dan tak masalah jika dia meminta bayaran tinggi," cecar Rory masih tidak setuju dengan keputusan Nayla.
"Aku akan menjawabnya dengan menunjukan secara langsung, jadi beri dia waktu dan kalian bisa melihatnya sendiri," jawab Nayla.
"Kenapa dia menawarkan diri untuk bekerja padamu? Bukankah dia kaya?" cibir Ethan.
"Yah,,, dia hanya ingin melakukan semua yang dia sukai. Dan selama ini, dia memang sangat ingin berkerja padaku," terang Nayla.
"Baik, aku akan membiarkannya. Tapi, aku tidak akan segan jika dia menyulitkanmu," dengus Rory.
Mereka akhirnya menghentikan perdebatan mereka, dan kembali melanjutkan sisa hari itu dengan bersantai. Adrian yang harus pulang sebelum gelap diantar oleh Martin kembali ke kantor, karena mobilnya masiih berada disana.
Selama kepergian Martin, mereka memesan makanan dan minuman untuk dinikmati bersama. Seolah hal itu telah menjadi kegiatan rutin, mereka tidak segan untuk duduk di lantai baralas karpet bulu.
Menikmati makanan tanpa beban yang menekan mereka.
"Pernahkah kamu berpikir untuk pindah, Nay?" tanya Thomas membuka percakapan.
"Kenapa?" jawab Nayla balas bertanya.
"Yah," Thomas manaikan bahunya. "Ruang kerjamu telah penuh, begitu juga ruang sebelah. dan satu kamar kosong yang tidak kamu sentuh karena itu berarti bagimu,"
Ada jeda sesaat sebelum Thomas kembali melanjutkan.
"Maksudku, setelah kalian menikah,, ekhm,," Thomas berdeham kecil seraya melirik Rory dengan senyum jahil.
"Ah,, aku mengerti. Aku juga penasaran dengan jawabannya," timpal Ethan.
"Kenapa kalian yang ribut? Aku sudah memikirkan hal itu jauh hari," sambut Rory.
"Apakah kalian berencana untuk mengusirku?" tanya Rory menyipitkan matanya.
"Mana mungkin," sanggah Thomas, kemudian tertawa.
"Aku justru berharap Nayla mau tingal bersama kita. Toh gedung itu masih memiliki ruangan luas dilantai atas. Dan kalau itu tidak cukup, kita bisa renovasi gedungnya," lanjutnya.
Nayla termenung, mencerna kembali apa yang dikatakan Thomas padanya. Dirinya tidak lagi sendirian, setelah menikah tentu saja kemungkinan pindah pasti tetap ada, beradaptasi dengan tempat baru, ia akan mengahadapi semua itu.
Itu artinya ia juga harus melepaskan semuanya, ia tidak lagi bisa bersikap egois untuk tetap tinggal di apartemen miliknya sendiri.
Rory meletakkan telapak tangannya di kepala Nayla seolah memahami keresahan hatinya. Tersenyum lembut padanya seolah mengatakan semua akan baik-baik saja.
"Jangan dipikirkan, dimanapun kamu ingin tinggal, maka disitulah kita berada. Kamu bisa bersikap egois hanya padaku, dan aku akan menerimanya dengan senang hati," ucap Rory.
"Tapi_,,,"
"Aku tidak keberatan dengan apapun keputusanmu, jadi jangan terlalu memikirkannya," potong Rory.
"Lihat ini, siapa yang beubah menjadi sangat dewasa sekarang," goda Kevin.
"Berisik,,!" sungut Rory menurunkan tangannya.
Mereka kembali tertawa, menikmati reaksi Rory yang selalu menjadi sasaran empuk mereka untuk dijahili.
"Kami akan kembali, ini sudah larut," ucap Rory lagi setelah melihat jam dipergelangan tangannya.
Nayla mengangguk pelan, membiarkan mereka membereskan kekacauan yang mereka buat sebelum pulang.
Ketika mereka diambang pintu dengan Nayla yang mengantar mereka, Rory berbalik menatap Nayla.
"Istirahatlah lebih awal, besok kita harus memilih pakaian pernikahan. Aku akan menjemputmu," ucap Rory.
"Aku tau, itu juga berlaku untukmu, bukan?" balas Nayla.
"Kurasa,,,"
"Apa?" tanya Nayla penasaran.
"Aku akan menghubungimu sebelum tidur," jawabnya terkekeh pelan.
Rory kembali meletakkan telapak tangannya di kepala Nayla.
"Sudah ku bilang kan, jangan di pikirkan lagi!" tegur Rory.
"Wajahmu ini terlalu memperlihatkan kegelisananmu dengan jelas," imbuhnya.
"Ingatlah bahwa aku tidak akan memaksamu melakukan apapun, kamu bisa melakukan apa saja. Dan jika hal itu menimbulkan masalah, aku akan menyelesaikannya," tutur Rory.
Rory mengecup lembut dahi Nayla. Mendekatkan bibirnya di telinga sembari berbisik.
"Fais de beaux rêves, Ma Chérie," bisik Rory.[Semoga mimpi indah, sayang,]"
Nayla tersenyum, meraskan kegelisahan hatinya terangkat begitu saja. Ia sadar, Rory juga mencintainya sama seperti dirinya mencintai Rory sepenuh hatinya.
...****************...
__ADS_1
See you next yea... :):)