
'Kejutan apa yang bisa aku persiapkan untuknya?' pikir Rory.
'Apakah aku juga bisa membuat kejutan yang jauh lebih baik dan bisa berkesan untuknya?' pikirnya lagi.
Rory meletakkan buku dimeja tanpa suara, lalu bangun dari duduknya. Meninggalkan teman-temannya menuju kamar.
"Apa apa denganya?" ucap Nathan heran.
"Apa aku melakukan kesalahan?" imbuhnya.
"Dia bersikap sedikit aneh setelah Nayla kembali ke apartemannya, bukan?" tanya Ethan.
"Apakah mereka sedang bertengkar?" tebak Nathan.
"Mustahil!" sambut Thomas.
"Setelah semua yang terjadi, dia tidak lagi bertindak gegabah seperti sebelumnya," lanjutnya.
"Bukankah dia bertingkah aneh setelah melihat Nayla membantu teman yang melamar waktu itu?" celetuk Martin.
Serentak mereka mengarahkan pandangan pada Martin, lalu saling pandang dan mengangguk. Seolah mengerti alasan Rory bersikap aneh.
"Kurasa, dia berencana untuk itu, tapi tidak tau apa yang harus dilakukan olehnya," ucap Thomas.
"Aku setuju, haruskah kita membantunya?" tanya Ethan.
"Kita biarkan saja untuk saat ini, dia akan bicara ketika dia ingin," sambut Kevin.
Mereka kembali mengangguk. Tak berselang lama, Rory kembali muncul dengan pakaian berbeda.
"Kamu mau pergi?" tanya Kevin.
"Ya, aku akan kembali nanti malam. Jadi, kalian tidak perlu menungguku untuk makan malam," jawab Rory.
"Jadwal kita akan kembali penuh mulai besok, Rory. Jadi, kembalilah sebelum tengah malam," tutur Martin mengingatkan.
"Aku tau, dan aku akan baik-baik saja untuk kegiatan besok," jawab Rory.
Setelah mengatakan hal itu, Rory melenggang pergi tanpa peduli dengan reaksi Kevin beserta teman-temannya yang kembali menatapnya heran.
Rory mulai menjalankan mobilnya perlahan menuju toko bunga, sebelum akhirnya melajukan mobilnya menuju tempat Nayla bekerja.
"Harusnya tak lama lagi jam pulang, kuharap dia tidak kembali lembur seperti waktu itu," gumam Rory berharap.
Rory berhenti tak jauh dari kantor Nayla, lalu melirik jam yang melingkar dipergelangan tangannya, menunggu Nayla keluar.
Namun, setengah jam menunggu, Nayla tidak kunjung keluar. Beberapa orang telah meninggalkan kantor, tapi tidak dengan Nayla.
"Aku yakin dia belum pulang," gumam Rory.
Rory memutuskan untuk menitipkan bunga yang telah ia beli sebelumnya dengan menyelipkan surat didalamnya pada petugas keamanan yang berjaga disana.
Nayla baru saja menyelesaikan pekerjaannya ketika seseorang mengetuk pintu.
"Masuk," sambut Nayla.
"Maaf menganggu waktu anda, nona," ucapnya ramah.
"Ada apa?" tanya Nayla.
"Ada titipan untuk anda," ucapnya sembari menyodorkan bunga ditangannya.
"Siapa yang mengirimkannya?" tanya Nayla.
"Saya tidak tau, nona. Karena pengirimnya menutupi wajahnya. Namun dia berkata, nona mengenalnya," terangnya.
"Baiklah, terima kasih," sambut Nayla menerima bunga itu.
"Dari pengemarmu?" tanya Adrian.
__ADS_1
"Entahlah," ucap Nayla menaikkan bahunya. "Tapi, bukankah itu hal yang mustahil? Semua surat dan hadiah aku hanya menggunakan alamat jasa kirim barang langganan kita," imbuhnya.
"Mungkin pengemar baru? Dan dia mengirim hadiah kealamat dimana bukumu dicetak," jawab Adrian.
Nayla menatap bunga ditangannya, rangkaian bunga Anyelir merah dan Gerbera yang dirangkai dengan begitu manis. Ketika ia melihat lebih dekat, Nayla melihat secarik kertas terselip didalamnya dan segera mengambilnya.
Nayla tersenyum cerah setelah membaca pesan singkat yang ada di kertas itu, lalu bangun dari duduknya.
"Adrian, tolong bereskan ini,! Aku ada urusan," pinta Nayla sembari meraih tas miliknya.
"Ehh,,, apa_,,?" Adrian mengerutkan keningnya dengn bingung.
" Ah,, tolong besok berangkat lebih pagi, aku pergi dulu," pamit Nayla sebelum membuka pintu.
"Hei,,, Nay,,, !!" panggil Adrian.
"Tck,,," decak Adrian kesal saat Nayla mengabaikannya.
Nayla setengah berlari menuju lift, tangannya mengenggam bunga yang ia terima dengan senyum cerah diwajahnya ketika mengetahui siapa yang mengirim bunga itu untuknya.
"Hai,,, Ma Chéri, Aku menunggumu dibawah. Jangan buat aku menunggu terlalu lama, aku merindukanmu,"
Ketika Nayla telah mencapai pintu keluar, ia mengenakan topi sebelum keluar. Matanya melihat sekeliling sejenak, lalu tersenyum ketika melihat sosok yang sangat dikenalnya.
Rory tengah berdiri dengan bersandar pada mobilnya. Masker dan topi yang menutupi sebagian wajahnya tidak menyulitkan Nayla untuk segera mengenalinya.
Menyadari Nayla telah keluar dari kantor, Rory menegakkan tubuhnya dan membuka lebar kedua tangannya ketika Nayla setengah berlari menghampiri dirinya untuk memeluknya.
Rory memeluk erat Nayla, memutar tubuhnya sesaat sebelum menurunkan kambali ketanah tanpa melepas pelukannya.
"Aku merindukanmu," ucap Nayla.
"Apakah itu melebihi rinduku padamu?" sambut Rory.
"Aku yakin jawabannya adalah iya," jawab Nayla tersenyum.
"Kurasa, kita harus secepatnya pergi sebelum seseorang mengenalimu," bisik Rory.
"Anggap saja, itu caraku untuk mengklaim bahwa kamu milikku," sambut Rory.
"Apa-apaan itu?" jawab Nayla tertawa ringan.
Rory membuka pintu mobil untuk Nayla yang segera masuk, dan mengitari mobil untuk membuka pintu disisi lain.
"Bukankah seharusnya kamu sudah mulai sibuk?" tanya Nayla melepas topinya.
"Apakah kau mengusirku?" sambut Rory menyipitkan mata.
Rory melepas topi dan maskernya, lalu meletakkannya dilaci penyimpanan.
"Sejujurnya aku ingin mencobanya, tapi aku tidak bisa menolak wajah tampanmu," goda Nayla.
"Kau mulai lagi," ucap Rory menepuk dahinya.
"Aku bahkan tidak sedang bercanda," jawab Nayla.
"Ya ya,, kita lihat, sampai sejauh mana kamu akan terus mengodaku seperti itu," sambut Rory menghidupkan mobilnya.
"Kemana kita akan pergi?" tanya Nayla setelah Rory menjalankan mobilnya.
Nayla melirik sekilas pada bunga yang ia letakkan di kursi belakang, lalu tersenyum.
"Seolah kau tau aku akan mengajakmu keluar, bukan mengantarmu pulang," jawab Rory fokus mengemudi.
"Kau memberiku kejutan manis ini karena ingin mengajakku keluar, bukan?" tanya Nayla.
"Apakah begitu? Atau kau hanya berpikir begitu?" goda Rory.
"Jadi, apakah bukan?" sambut Nayla kecewa.
__ADS_1
"Hei, Ma Chéri , apakah kau melihat wajahmu saat ini?" Rory tidak bisa menahan tawanya melihat Nayla.
"Ugh,,, menyebalkan," Nayla kembali memukul bahu Rory.
"Tentu saja aku akan membawamu keluar. Karena besok, entah aku akan memiliki waktu atau tidak untuk bertemu denganmu, jadi, aku ingin menghabiskan waktuku bersamamu sebanyak yang aku bisa," terang Rory.
"Tapi, kamu bisa memberiku setidaknya kabar melalui pesan kan?" harap Nayla.
"Aku akan meluangkan waktu untuk satu hal itu," tegas Rory.
"Aku senang mendengarnya," sambut Nayla.
"Aku sudah reservasi tempat untuk makan malam. Tapi, sebelum itu, kita akan ke suatu tempat untuk menganti pakaian," papar Rory.
"Baiklah, sesuai keinginanmu," sambut Nayla.
Rory tersenyum senang, satu tangannya meraih tangan Nayla, lalu meremasnya dengan lembut.
Rory masih mengemudi selama beberapa menit, ketika ia menghentikan mobilnya didepan sebuah butik yang juga menyediakan jasa make over, Rory membawa Nayla masuk kedalam.
Seluruh staf butik itu tampak bersikap hormat pada Rory, seolah itu bukan kunjungan pertamanya. Hal itu bisa dilihat dari sikap mereka yang tidak ada satupun meminta tanda tangan ataupun foto bersama.
Rory meminta seseorang yang terlihat akrab dengannya untuk mambantu Nayla.
"Tolong bantu dia, kami ingin makan malam bersama. Carikan sesuatu yang sesuai untuknya," pinta Rory.
"Baik," jawabnya sembari membungkukkan badanya.
"Apakah anda juga?" tanya staf lain
"Ya," jawab Rory.
"Kalau begitu silahkan lewat sini," pintanya sopan.
Rory memasuki ruangan yang berbeda dengan Nayla, dan keluar setelah beberapa menit.
Rory menunggu dengan sabar hingga Nayla selesai sambil membaca majalah yang ada disana. Matanya menagkap sebuah surat kabar yang membuatnya tertarik. Ia pun mengambilnya.
"SETELAH BERTAHUN-TAHUN, AKHIRNYA SANG NYLOES AKAN MENERBITKAN BUKU YANG MEMUAT FOTO DAN TANDA TANGAN ASLI. "
"Ternyata dia seterkenal ini. Tapi, kenapa dia menyembunyikan identitasnya?" gumam Rory.
"Kami sudah selesai, tuan,"
Suara staf yang membantu Nayla terdengar dan membuat Rory menoleh. Staf itu tersenyum,lalu mengeser tubuhnya yang semula menutupi Nayla.
Rory menjatuhkan surat kabar yang ada ditangannya ketika melihat Nayla dengan penampilan berbeda. Dress sebatas lutut warna gradasi abu dan lengan sepanjang siku dengan belahan yang ditambah dengan pita dibahunya.
Dress yang Nayla kenakan membuat apa yang dikenakan Rory terlihat lebih menonjol, seolah memberikan nilai tambah untuk penampilannya.
Seluruh staf yang berada disana terpana menatap Rory dan Nayla yang terlihat begitu serasi, ditambah dengan penampilan mereka.
Tanpa sadar, rahang Rory terbuka. Membuat Nayla menatap dirinya sendiri.
"Apakah aku terlihat aneh?" tanya Nayla ragu.
"Cantik. Kamu terlihat sempurna, " puji Rory tulus.
"Kalian melakukan pekerjaan dengan baik, terima kasih," puji Rory pada staf lalu tersenyum puas.
"Kami senang melayani anda," sambut mereka serentak.
Rory mengulurkan tangannya, yang segera disambut Nayla dengan senang hati. Para staf membereskan barang-barang Rory, lalu memasukannya kedalam bagasi mobil.
"Kita berangkat?" tawar Rory.
"Uhm,," sambut Nayla menganggukkan kepalanya, lalu tersenyum.
Mobil mulai melaju. Menyisakan keheningan diantara mereka berdua. Namun, hal itu justru membuat mereka seakan mengatakan banyak hal tanpa suara melalui mata mereka dan tangan yang saling terjalin.
__ADS_1
...****************...