
Lagu yang mengalun mengisi keheningan, seolah mereka yang mendengar tidak rela jika ada interupsi didalamnya.
Tanpa Nayla sadari, dilayar belakangnya mulai menampilkan foto dirinya bersama Rory.
Foto yang berubah setiap beberapa detik, foto yang menceritakan tentang pertemuan pertama mereka, dan terus berganti dengan foto selanjutnya yang menunjukan perjalanan mereka berdua. Kisah cinta mereka.
Lirik lagu yang dinyanyikan Nayla bersamaan dengan setiap foto yang berubah seolah menceritakan bagaimana mereka bisa bersama dan apa saja yang mereka pejuangkan.
[[ ...Namamu ada dibibirku, hingga membuat tidurku terjaga.
[[...Aku memikirkanmu disetiap nafas yang kuhembuskan.
[[...Berjalan seperti angin, dan aku terbang seperti pasir.
[[...Setiap perjalanan dan tatapanku hanya berakhir padamu.
--_ _ _---_ _ _ - - -
[[...Tolong beritahu aku, bagaimana seseorang tidak bisa jatuh cinta padanya?
[[...Bagaimana bisa aku mencintainya disaat aku takut jatuh?
[[...Namun, saat melihatnya, segala kebimbanganku mendadak hilang,
[[...Aku ingin menjadi milikmu, seperti yang selalu kukatakan,
[[...Tiap tarikan nafas, tiap jam, dan tiap langkah menjadi lebih dekat,
[[...Membawa hatimu padaku, dan tak kan kubiarkan semua berlalu begitu saja.
- - - _ _ _ - - - _ _ _ - - -
Seluruh penonton terpaku menatap layar dibelakang Nayla yang tidak menyadarinya. Beberapa wanita meletakkan tangan di mulut mereka. Saat ditengah menyanyikan lagunya, Nayla menoleh kebelakang untuk mencari tau apa yang sebenarnya orang-orang lihat hingga membuat mereka memperlihatkan ekspresi yang tidak bisa ia mengerti.
Segera setelah Nayla menoleh kebelakang, ia melebarkan matanya saat foto dirinya bersama Rory terpampang di layar besar dibelakangnya.
Nayla mencoba protes disela jeda lagu yang ia nyanyikan, namun teman-temannya justru mengerakkan tangannya dengan isyarat terus bernyanyi.
Foto ketika Nayla dan Rory bertengkarpun muncul, membuat siapapun yang melihatnya tertawa singkat dan terharu setelah melihat foto berikutnya. Hingga foto ketika Rory melamarnya dan ketika acara pernikahan mereka. Foto terakhir adalah foto ketika mereka merayakan bersama satu tim termasuk Sean dan Bob saat Nayla mendapatkan penghargaan atas karyanya dan Rory mendapatkan penghargaan penyanyi terbaik.
Hingga ketika Nayla menyelesaikan lagunya, sorakan penonton jauh berbeda dengan espektasinya. Semua menikmati apa yang ditampilkan Nayla, sorakan yang ia terima jauh lebih meriah dari sebelumnya.
Nayla kembali memainkan gitarnya dengan nada berbeda, menandakan lagu kedua akan dimainkan, membuat penonton kembali diam.
'Jika Rory masih belum datang, maka aku hanya bisa menyelesaikan lagu ini sendiri,' batin Nayla.
\=\=\=_ _ _\= \= \=
{{@Nayla,,,
{{ ...Tetaplah dekat dihatiku setiap waktu, mungkin setiap nafas ini mengingatkan hubungan kita.
{{...Kamu harus tau apa yang ada dipikiran dan hatiku.
{{...Mendekatlah, akan ku katakan apa yang belum pernah kukatakan.
{{...Kamu ada disetiap masaku, kamulah masa kini dan masa depanku.
{{...Kekasih,,,
Jeda petikan gitar sesaat, ketika Nayla akan membuka suara lagi dimana itu adalah saat Rory yang harus mengisi suara, tiba-tiba suara Rory telah mengisi mengiringi suara gitar, muncul dari belakang panggung.
Nayla tersenyum tipis, dan merasa lega bahwa Rory benar-benar datang tepat waktu.
[[@Rory.
[[ ...Kamu harus tau, aku tergila-gila padamu.
[[...Sejak aku mencintaimu, rasanya melayang bagaikan angin.
[[...Aku meminta dari kehidupan, hanya dirimu seorang.
[[...Jangan mengodaku, datanglah lebih dekat dan katakan isi hatimu.
[[...O sayang,,,
Sorakan penonton bertambah meriah. Mereka yang sempat berarap lagu baru dari idola mereka akan dinyanyikan bersama tokoh wanita merasa harus mengubur harapan mereka kembali bersemangat.
Lagu yang mereka harapkan justru menjadi pembuka dari acara konser malam itu.
Rory menyanyikan lirik bagiannya seraya berjalan menghampiri Nayla. Menatap wajahnya dengan cinta dimatanya.
Juga rasa terima kasih karena sudah mengendalikan situasi disaat dirinya tidak di sana.
[[@Rory
[[...Kau datang kedalam hatiku, disetiap ku hembuskan nafasku.
[[...Kau melangkah bagaikan angin, aku mengikutimu bagaikan butiran pasir
[[...Siapa yang **a**kan mencintaimu seperti ini, seperti yang aku lakukan.
\=\=\=_ _ _ \=\=\=
{{@Nayla
{{...Sekarang,, dalam keinginan ini,,dalam jalan ini,, dan cinta ini,,
{{...Apapun yang aku katakan,, kamu selalu menyetujuinya,,mengapa?
[[@Rory
[[...Aku tak pernah percaya pada diriku,
__ADS_1
[[...Biarkan aku memberitahumu selagi kamu bersamaku
{[ @Rory & Nayla
[{... Aku mendengarmu memanggil namaku dari hatimu,
[{...Akankah kamu selamanya bersamaku?
[{...Dan ya, kaulah masa kini dan masa depanku.
\=\=\=_ _ _\=\=\=
Selama mereka berdua menyenandungkan lagu, sesekali Rory membelai wajah Nayla dengan senyum diwajahnya.
Ketika lirik terakhir dinyanyikan, Nayla mengakhiri petikan gitarnya beberapa saat setelahnya. Hingga suara musik utama pun diperdengarkan dengan munculnya anggota seluruh tim yang disambut antusias seluruh pononton yang ada didalam gedung.
Salah satu kru dengan cepat menarik kursi yang tadi menjadi tempat duduk Nayla beserta gitar ditangannya dan membawanya kebelakang panggung.
Hal itu juga menjadi tanda bahwa sudah saatnya Nayla menyingkir, namun tangan Rory justru menahannya.
Rory mulai bernyanyi lagi, dengan anggota tim yang bergerak lincah dibelakang mereka berdua, mengelilingi mereka berdua.
Nayla memasang wajah memohon, namun di abaikan Rory seolah itu bukan masalah. Bahkan penonton kembali berseru agar Nayla kembali bernyanyi bersama mereka.
Rory menarik Nayla kearahnya, lalu memutar tubuhnya. Gerakan tangan dan tubuhnya seolah membantu Nayla untuk menari seirama dengan lagu yang mereka nyanyikan. Menuntunnya dengan gerakan lembut.
Menarik, mendorong, berputar, hingga tanpa disadari gerakannya terlihat alami.
Ketika mereka mencapai akhir lagu, mereka semua mengucapkan teruma kasih atas dukungan yang telah diberikan kepada mereka. Mereka mendapatkan sorakan termeriah dari konser-konser sebelumnya.
Setelah mengucapkan terima kasih sekali lagi, mereka pamit dan meninggalkan panggung.
"BUGH,,,!!!"
"Adduhh,,!"
Nayla memukul punggung Rory begitu mereka masuk keruangan pribadi mereka.
"Apa kau sudah gila? Bagaimana jika aku mengacaukan pertunjukannya? Kenapa harus menahanku di sana sih? Itu hanya akan membuatku menjadi bahan lelucon sempurna, kau tau?" cecar Nayla kembali memukul punggung Rory.
"Aduh,, sudah,, cukup,, Aww,, Ma Chéri," Rory mengaduh dan berusaha menghindar namun gagal.
"Kamu kan tidak mungkin mengacau setelah menyelamatkan kami dari kekacauan," sanggahnya.
"Tetap saja, kenapa aku harus disana hingga akhir? Itu bukan rencanaku," sungut Nayla.
"Karena kamu khawatir konser kami akan gagal?" tanya Rory.
"Itu satu-satunya alasan yang masuk akal bukan?" sambut Nayla.
"Lagi pula mereka menyukainya," sela Thomas tertawa terbahak-bahak.
"Oh,, kau terlihat senang sekali melihatku seperti ini?" sindir Rory menatap teman-temannya satu persatu yang tertawa terbahak-bahak.
"Melihatmu menjadi karung tinju itu hal yang sangat langka," sambut Ethan tertawa sembari memegangi perutnya.
"Coba saja! Dan kau yang akan menjadi karung tinjuku," balas Rory memasang wajah mengancam.
Bahkan Sean terlihat berusaha keras menahan tawanya, seolah Nayla berubah menjadi orang yang berbeda di depannya dalam hitungan menit. Sementara Rory hanya pasrah dirinya menjadi karung tinju untuk meluapkan kekesalan Nayla.
"Sudah lelah memukul?" tanya Rory mengarahkan padagannya pada Nayla yang berhenti memukulnya.
"Hemph,,,," sungut Nayla yang segera memalingkan wajahnya, lalu duduk disofa.
"Aku juga tau kamu yang melakukannya, Vani?" ucap Nayla.
"Apa?" sambut Vania memasang wajah tanpa dosa.
"Kaulah yang menampilkan foto-foto itu," ujar Nayla, membuat Vania tertawa dan langsung mengakuinya.
"Memang benar itu aku, dan mereka menikmatinya termasuk suamimu," goda Vania menyunggingkan senyum lebar.
"Aku bahkan baru tau kamu menulis lagu baru lagi," sela Adrian.
"Benar, dan lagu itu pas sekali dengan foto yang ditampilkan," Martin menimpali.
"Lihat kan? Mereka menyukainya," Vania tersenyum lebar karena mendapat dukungan, sementara Nayla memajukan bibirnya.
Rory kembali tertawa ringan, menghampiri Nayla, dan duduk disampingnya.
"Maafkan aku karena datang terlambat," ucap Rory seraya mengusap lembut puncak kepala Nayla.
"Tapi, aku juga berterima kasih karena kamu percaya padaku dan kamu bisa mengendalikan situasi dengan sangat baik," imbuhnya.
"Apa lagi yang bisa kulakukan selain itu?" Nayla menjawab masih dengan memasang wajah kesalnya.
"Banyak yang bisa kamu lakukan, salah satunya merubah wajah masam ini dengan senyuman yang biasa kamu perlihatkan," ucap Rory sembari mencubit lembut pipi Nayla.
Mendengar hal itu, Nayla akhirnya tersenyum tipis, merasa lelucon kecil Rory terdengar konyol.
"Begitu lebih baik," sambut Rory tersenyum.
"Jadi, apa yang kamu dapatkan?" tanya Nayla.
"Seperti yang kamu duga, dan semua berjalan mulus sesuai rencanamu," jawab Rory seraya bangun dari duduknya.
"Rencana? Apa yang kalian bicarakan?" sela Kevin.
"Jadi, Rory kembali bukan karena meninggalkan sesuatu?" tanya Martin.
"Apakah kita bisa mengatakannya sekarang?" Rory bertanya meminta ijin.
"Yah,,, katakan saja. Lagi pula ini sudah berakhir," jawab Nayla.
__ADS_1
"Kalian berdua merencanakan sesuatu tanpa mengatakannya kepada kami?" tanya Thomas dengan wajah tidak terima.
"Kalau begitu, diam dan dengarkan. Aku akan berhenti berbicara jika mendengar satu interupsi dari kalian, tanpa terkecuali," tegas Rory.
Rory merubah raut wajahnya dengan cepat, menatap satu persatu temannya sebelum mulai berbicara.
"Nayla mengatakan ini tiga hari setelah pernikahan kami, dia mengatakan,,, sebelum pernikahan rutin mengunjungi Alisha," ungkap Rory.
"APAAA,,,???"
Semua berseru kaget, terutama Kevin, wajahnya berubah mengeras saat mendengar nama Alisha kembali disebut. Rory mengabaikan keterkejutan teman-temannya dan kembali melanjutkan.
"Kasus plagiat waktu itu, siapa yang melakukannya dan sabotase kali ini, juga orang yang diam-diam masuk kedalam gedung tempat kalian tinggal dengan rencana merusak apapun yang ada disana, semua dilakukan oleh orang yang sama,"
"Alisha membantu dengan menyebutkan apapun yang memang dibutuhkan kepada Nayla. Karena mereka adalah teman-teman Alisha, sekaligus teman Relena,"
"Dan apapun yang dikatakan Alisha benar, tidak ada satu kebohongan yang di sampaikan kepada Nayla,"
Rory menyelesaikan ceritanya, namun semua mata justru tertuju pada Nayla,
"Kenapa kamu mengunjunginya?" tanya Kevin.
"Aku malas menjelaskan ulang, tanyakan itu pada Martin," jawab Nayla seenaknya.
"Hei,,, Nay,, kenapa kau suka sekali melempar kekesalan padaku?" protes Martin.
"Kau tau, dan kau diam saja? Katakan sesuatu, Martin!" suara Kevin berubah lebih tegas dari sebelumnya ketika betanya pada Nayla.
Kini sasaran mereka berubah pada Martin, memberikan tatapan intimidasi penuh.
Martin menghembuskan nafas panjang, menatap Nayla dengan wajah memelas, namun diabaikan. Membuat ia tidak memiliki pilihan lain dan mengatakan apa yang pernah Nayla katakan padanya.
"Sean mengatakan padaku kamu tidak makan sejak siang, apa itu benar?" tanya Rory.
"Apakah dia ditugaskan untuk mengadu padamu?" sambut Nayla.
"Aku bertanya, Ma Chéri, apa jawabanmu?" Rory membalas pertanyaan yang dilontarkan Nayla.
"Iya, itu benar," jawab Nayla.
"Adakah sesuatu yang ingin kamu makan? Setidaknya kamu harus makan sesuatu," tutur Rory lembut.
"Hemmm,,, bisakah kita makan bersama? Pas sekali Adrian dan Vania ada disini, jadi_,,,"
"AKU MAUU,,,"
Jawaban serentak menyela kalimat Nayla yang belum selesai, membuat mereka berdua menoleh dan menyadari bahwa teman-temannya telah berhenti berdebat dan kini mengelilinginya.
Mereka saling pandang selama beberapa saat, lalu tertawa. Merasa mereka memperdebatkan masalah kecil dan terasa konyol, menganggap apa yang baru saja terjadi tidak pernah terjadi.
Mereka akhirya pergi meninggalkan gedung pertunjukan setelah menganti pakaian mereka dan menuju mobil yang siap menunggu mereka kecuali Adrian dan Vania yang harus menuju dimana mereka mamarkir mobil.
Ketika Nayla masuk kedalam mobil dengan Rory dibelakangnya, lagi-lagi Nayla mengernyit dan menutup hidungnya.
"Ada apa?" tanya Rory.
"Apakah kamu mengganti pengharum mobilnya, Bob?" tanya Nayla.
"Aa??" ekspresi Bob tampak bingung.
"Tidak, nyonya. Ini masih sama, bahkan saat anda berada di mobil ketika menuju kemari," jawab Bob sedikit bingung.
"Kenapa dengan pengharum mobilnya?" tanya Rory.
"Bisakah ganti aromanya? Baunya tidak enak," jelas Nayla segera menjauh dari mobil.
"Kita naik mobil bersama yang lain untuk sementara, di perjalanan Bob bisa mencari aroma yang lain sekaligus menghilangkan sisa bau yang masih ada," saran Rory.
Nayla mengangguk setuju.
"Kamu ikuti kami saja dari belakang, nanti carilah pengharum mobil dengan aroma lain," titah Rory.
"Baik, tuan," jawab Bob.
'Aneh, tadi saat perjalanan kemari, nyonya tidak berkomentar apapun, kenapa sekarang mengatakan baunya aneh? Ini kan aroma yang di pilih sendiri oleh nyonya,' batin Bob.
"Ayo ke mobil mereka," ajak Rory.
Nayla mengangguk, dan membiarkan Rory menuntunnya menuju mobil mereka yang berada dibelakang mobil yang dikemudikan Bob.
'Ukh,,, kenapa sekarang kepalaku berdenyut?' keluh Nayla dalam hati.
"Ada apa dengan mobil kalian?" tanya Martin heran saat Rory membuka pintu mobil yang mereka naiki.
"Nayla mencium aroma tidak enak disana, jadi bisakah kami bersama kalian dalam satu mobil?" jelas Rory.
"Naiklah!" jawab Kevin cepat.
"Nay? Apa kau baik-baik saja? Kenapa sekarang terlihat pucat?" Kevin bertanya dan segera turun, berniat membantu Nayla.
"Aku tidak apa-apa, aku hanya ingin makan, pulang dan tidur," jawab Nayla mencoba tersenyum.
"Apakah karena kamu mencium bau tidak enak tadi?" tanya Rory mulai khawatir.
"Mungkin,,," jawab Nayla sedikit memiringkan kepalanya.
"Ayo naik," Kevin berkata dengan tangan menopang lengan Nayla, sementara Thomas yang kebetulan duduk ditempat terdekat, menyambut Nayla didalam.
Namun saat satu kakinya berhasil naik, Nayla merasakan kepalanya kian bertambah berat, dunia seakan berputar, hingga entah bagaimana kegelapan menyambutnya.
Nayla tiba-tiba terkulai saat satu kakinya masih menyentuh tanah, membuat dua pria dibelakangnya segera menagkapnya dan berseru panik.
"NAAYY,,,,!!!!"
__ADS_1
...****************...
SEE YOU NEXT YEA,,, ;) :)