LOVE OF MY LIFE

LOVE OF MY LIFE
70. Rencana 2


__ADS_3

Rory menatap Nayla yang tengah menatapnya, menunggu jawaban Nayla dengan cemas.


Tak lama seutas senyum tersungging dibibir Nayla.


"Sepakat," sambut Nayla sembari mengedipkan matanya.


Rory tersenyum lega, dan mengusap lembut kepala Nayla.


"Istirahatlah,!" pinta Rory.


"Omong-omong, dimana Alisha? Dia belum kembali sejak menerima telepon tadi kan?" tanya Nayla.


"Ah,,, aku hampir lupa. Dia pamit pergi saat aku menghubungi teman-temanku," sela Kevin.


"Dia berkata ada pekerjaan yang tidak bisa dia abaikan, dan buru-buru pergi," jelasnya.


"Begitu ya?" sambut Nayla lesu.


"Ku pikir kita bisa mengbrol lebih banyak," keluh Nayla.


"Aku akan menyampaikan itu padanya, kurasa dia akan senang mendapatkan teman mengobrol," ucap Kevin tersenyum.


Nayla mengangguk sebagai jwabannya, sementara Rory merapikan selimut yang menutupi tubuh Nayla dan kembali meminta Nayla untuk istirahat.


...****************...


### Keesokan harinya,,,,,


Tersebarnya pengungkapan yang dilakukan Rory dan teman-temannya membuat gempar semua pengemar mereka.


Surat kabar, situs internet dan media sosial berisi tentang pengungkapan Rory dan teman-temannya.


Diluar dugaan, mereka yang semula menghujat berbalik arah mendukung hubungan Rory dan Nayla.


Sebagian besar mereka bahkan menyebarkan video permintaan maaf atas kata-kata kasar mereka.


Diruang rawat Nayla, terlihat Nayla mengerjapkan matanya ketika snar entari memasuki kamarnya.


"Selamat pagi,"


Suara lembut menyapa saat Nayla mengerjapkan matanya, dan melihat Chris meletakkan nampan berisi sarapan untuknya dimeja.


Nayla mengedarkan pandangannya, lalu menatap Chris yang tengah mengganti infus miliknya dengan yang baru.


"Pagi,,," balas Nayla.


"Apakah semua orang pergi?" tanya Nayla saat dirinya tidak menemukan Rory dan teman-temannya diruang rawatnya.


"Yah,, mereka pergi pagi-pagi sekali. Mereka bilang itu hal penting, dan dia tidak ingin menganggu tidurmu," papar Chris.


"Sebagai gantinya, dia memintamu untuk menghubunginya ketika kau bangun," tambahnya.


"Begitu ya," gumam Nayla.


"Lalu, Irene?" tanya Nayla lagi.


"Dia ijin satu hari, katanya padaku, ibunya sakit dan dia harus merawatnya sebelum saudaranya datang mengantikannya," terang Chris.


Nayla mengangguk mengerti.


Chris mengeser kursi dan meraih nampan sebelum duduk. Tangannya mulai mengaduk sup dan menyendoknya, kemudian menyodorkan sendok berisi sup pada Nayla.


"Aku akan memakannya nanti, Chris," tolak Nayla menjauhkan tangan Chris.

__ADS_1


"Aku meragukan itu. Sajauh yang ku tau, kau tidak pernah menyentuh makananmu ketika kau bilang akan memakannya," sindir Chris.


"Aku hanya_,,,"


"Makanlah dua atau tiga suap saja, maka aku akan diam dan tidak memaksamu untuk makan lagi, setidaknya sampai jam makan siang," potong Chris sebelum Nyala menyelesaikan kalimatnya.


"Hahhh,,," desah Nayla.


Chris kembali menyupakan sup pada Nayla, dan tidak lagi ditolak. Nayla menerima suapan dari tangan Chris.


"Apakah kau sudah menghubungi Adrian?" tanya Chris.


"Lebih tepat jika kukatakan dialah yang menghubungiku," jawab Nayla.


"Kau tidak menceritakan apapun padanya kan?" tanya Nayla.


"Tidak, tapi kurasa dia mungkin tau sesuatu terjadi padamu," terka Chris.


"Ah,,, kau benar. Dia kelewat peka, sama seperti Rose. Bahkan bisa dikatakan dia Rose versi laki-laki," celetuk Nayla.


"Ha-Ha,,, terima kasih, apakah itu pujian?"


Sebuah suara skeptis muncul bersamaan dengan terbukanya pintu dan memperlihatkan sosok pria yang baru saja dibicarakan oleh Nayla.


Adrian melangkah masuk, dan menutup pintu dibelakangnya.


Tangannya membawa buket bunga dan dua paper bag ditangan satunya. Ia segera meletakkan bunga dan paper bag di sofa, lalu menghampiri Nayla.


"Dalam keadaan seperti ini pun, kau masih sempat untuk merubah olokan menjadi pujian," gerundel Adrian.


"Padahal aku khawatir setengah mati padamu karena beberapa hari kau tidak mengabariku, bahkan Chris tutup mulut. Tapi kau di sini mengolokku, apakah kau senang sekarang?" cecar Adrian.


Adrian melipat tangannya dan menatap Nayla. Memasang wajah marah yang justru membuat Nayla terbahak.


"Sangat, bahkan cara kamu marah pun sama persis dengannya," sambut Nayla masih tertawa.


"Melihatmu seperti ini, kurasa kau lebih dari kata baik-baik saja," balas Adrian masih melipat tangannya.


"Baiklah,,, Baiklah,,, Hemm,," Nayla menghentikan tawanya dan menatap Adrian.


"Terima kasih karena sudah mengkhawtirkan aku, aku sangat tersentuh," ucap Nayla memunculkan seutas senyum dibibir Adrian.


"Dan,,, terima kasih sudah membawakan apa yang aku minta," sambung Nayla melirik paper bag dengan mata berbinar.


"Astaga,,, apakah satu-satunya yang membuatmu senang adalah buku?" sambut Adrian menepuk dahinya.


Nayla tertawa sembari memegang perutnya, me tak lama kemudian Adrian dan Chris ikut tertawa.


"Menyebalkan, kau sangan ahli dalam membuat oang lain khawatir padamu," ungkap Adrian setelah tawanya mereda.


"Kalaupun aku mengatakan tak berniat melakukan hal itu, apakah kau akan percaya?" tanya Nayla.


"Tidak," tegas Adrian.


"Jahat sekali," protes Nayla.


"Sama seperti yang biasa kau lakukan bukan?" balas Adrian.


"Baiklah, aku tak bisa mengelak dari itu," jawab Nayla.


"Tapi sungguh, aku sangat mengkhawtirkanmu. Bagaimana kamu bisa sampai seperti ini? Apa yag terjadi sebenarnya?" tanya Adrian.


" Aku hanya terlibat insiden kecil, dan sekarang baik-baik saja," terang Nayla.

__ADS_1


"Jangan bercanda,!" hardik Adrian.


"Keadaanmu sekarang sama sekali tidak menunjukan kau baik-baik saja," ucap Adrian geram.


"Bukankah yang terpenting sekarang aku tidak apa-apa?" sambut Nayla tenang.


"Hahhhh,,, Baiklah, aku mengarti. Aku tidak akan memaksamu untuk mengataknnya," desah Adrian.


Adrian berbalik dan meraih paper bag yang semula ia letakkan disofa, dan mengeluarkan isinya.


Buku dengan cover berwarna merah gelap dan corak hitam yang mengelilingai sebuah gambar siluet orang menghisap cerutu, dan bertuliskan karya A. Conan Doyle.


Buku yang telah berpindah tangan dari tangan Adrian ketangan Nayla.


"Aku tidak diperbolehkan keluar jalan-jalan ketaman, tapi membaca tidak ada larangan kan, Chris?" ucap Nayla mengerjapkan matanya dengan memelas.


Chris meletakkan satu telapak tangan diwajahnya lalu menghela nafas panjang.


"Aku benar-benar bosan, Chris. Selama aku tidak keluar bukankah itu tidak apa-apa,?" rayu Nayla.


"Dengan syarat, kau harus makan setengah dari sup ini," balas Chris.


"Hei,,, itu diluar kesepakatan awal kan!" protes Nayla.


"Ya atau tidak sama sekali," jawab Chris mengambil alih buku yang ada ditangan Nayla. "Kau hanya perlu memilih jawabanmu," imbuhnya


"Tapi_,,," keluh Nayla menatap buku ditangan Chris.


"Tck,,," decak Chris sembari menyodorkan buku itu kepada Nayla.


"Aku hanya bercanda," tutur Chris. "Setidaknya pagi ini kamu mau makan," imbuhnya.


Chris bangun dari duduknya setelah Nayla menerima buku darinya. Ia bangun dari duduknya dan meletakan mangkuk sup dimeja samping ranjang.


"Karena disini sudah ada Adrian, aku akan pergi sebentar," ucap Chris, lalu menatap Adrian.


"Tapi, bukan berarti kau harus terus berada disini. Kau bisa pergi jika memang harus pergi," saran Chris.


"Aku mengerti," jawab Adrian.


Chris pergi meninggalkan ruang rawat Nayla.


"Apakah kau menyembunyikan sesuatu dariku juga dari Cris, Nay?" tanya Adrian seraya duduk.


"Ya," jawab Nayla singkat sembari merobek segel buku dan membukanya, lalu mulai membaca. "Walaupun aku ragu jika Chris tidak mengetahuinya," imbuhnya.


"Apakah kau juga merencanakan hal gila sendirian lagi?" tanya Adrian lagi.


"Ya, " jawab Nayla.


"Tapi, ini belum saatnya bagimu untuk tau," sambungnya.


Adrian menatap Nayla yang asik membaca, namun tidak mengabaikan pertanyaannya.


'Dia kembali ke sikap tegasnya, padahal tadi aku bisa melihat sisi manja darinya,' batin Adrian.


"Lalu apa rencanamu selanjutnya?" tanya Adrian serius.


Nayla meletakkan buku dipangkuannya dan menatap Adrian, menaikan alisnya.


"Aku berasumsi kamu membuat rencana dan melakukan rencana yang kau buat sendirian," tebak Adrian.


Nayla menghela nafas panjang, dan menatap Adrian, memasang wajah serius.

__ADS_1


...****************...


__ADS_2