LOVE OF MY LIFE

LOVE OF MY LIFE
93. Multitasking


__ADS_3

Pengakuan Nayla yang mengejutkan, menggemparkan media massa. Banyak dari mereka yang merupakan pengemar Nayla dengan berani mengirim hadiah ketempat dimana Rory tinggal dengan alasan tidak tau alamat Nayla.


Dalam surat-surat yang terselip disetiap hadiah, mereka mengatakan selalu mengirim hadiah kealamat jasa kirim barang tanpa mengetahui alamat asli Nayla.


Dengan dalih mereka tau Rory adalah kekasih Nayla, mereka mengirim hadiah itu kesana.


Setelah beberapa hari berlalu, hubungan antara Nayla dan FM tetap terjalin dengan baik. Kesalahpahaman dengan Adrian pun terselesaikan dengan cepat hanya dengan mereka mendatangi Adrian dan meminta maaf dengan tulus.


Meski beberapa hari Nayla tidak datang menemui Rory, hal itu tidak mempengaruhi hubungan mereka. Rory justru kembali menyusun rencana lain untuk kembali melamar Nayla karena saat itu rencananya gagal.


Siang itu,,,


Rory dan yang lain baru saja selesai berlatih koreografi lagu baru mereka. Saat mereka duduk untuk mengistirahatkan tubuh mereka yang bercucur keringat, pintu ruang latihan terbuka dengan tiba-tiba, memunculkan sosok Nayla dengan topi di kepalanya dan wajah berkeringat.


"Sekarang kau menjadi orang yang cukup bar-bar ya?" sindir Kevin.


Mengabaikan sindiran Kevin, Nayla segera menghampiri Rory dan merebut botol minum ditangannya saat Rory belum selesai meneguk minumannya, menyebabkan air dari botol sedikit tumpah.


"Ehh,, apa-apaan_,,," protesan Rory terhenti saat melihat Nayla langsung meneguk minuman dari botol miliknya.


"Kenapa orang menjadi terlihat mengerikan hanya karena mereka ingin minta foto bersama? Aku hanya ingin membeli makanan ringan dan minuman untuk dibawa kesini, tapi gerombolan orang ingin minta foto terus saja berdatangan, membuatku gagal membeli apapun dan memilih kabur," gerutu Nayla seraya bersandar dipunggung Rory.


Nayla kembali meneguk air dari botol sebelum mengembalikan botol minum itu pada Rory yang segera menerimanya, tertegun sesaat lalu meneguk isinya dalam diam. Seolah itu adalah hal yang biasa mereka lakukan.


"Parahnya lagi mereka memberondongku dengan pertanyaan yang berkaitan dengannya," sambung Nayla sembari mengerakkan kepalanya menunjuk Rory.


"Kau ini,,, kita tidak bertemu selama beberapa hari, dan setelah bertemu kau justru mengerutu pada kami," sindir Ethan.


"Lebih baik kau jelaskan saja tumpukan hadiah itu pada Martin, sebelum dia menyemburmu dengan ceramahnya," goda Nathan.


"Jangan salahkan aku, Roy yang melakukannya, salahkan saja dia," jawab Nayla enteng.


"Uhuk,,," Rory tersedak hingga menyemburkan air yang baru diminumnya.


"Kenapa kau melemparkan kesalahan padaku?" protes Rory.


"Karena kamulah yang mengatakan kepada semua orang tentang hubungan kita," jawab Nayla datar.


"Dan kamu menyesal?" tanya Rory menaikan alisnya.


"Bahkan tidak sedikitpun," jawab Nayla tersenyum lebar.


"Dasar,,,!" Rory mengacak-acak rambut Nayla.


"Hei, aku punya ide. Kenapa kita tidak minta Nayla melihat koreografi kita dan minta pendapatnya? Kita perlihatkan dulu saja gerakan dari koreografernya dan minta pendapatnya," saran Ethan.


"Itu bukan ide buruk," sambut Kevin.


"Dan kebetulan laptop mu masih disini, apakah kamu keberatan, Nay?" tanya Thomas.


"Tidak sama sekali, aku dengan senang hati akan melakuknnya, tapi_,,," Nayla menatap Rory sebelum melanjutkan kalimatnya.


"Aku harus mengirim sesuatu pada Adrian terlebih dulu," lanjut Nayla menatap Rory.


"Tak masalah, aku akan meminta Martin mengirim videonya padamu," sambut Rory.


Nathan mengeser meja dan kursi untuk meletakkan laptop, dan Nayla meminta waktu limabelas menit untuk menyelesaikan urusan kantor sekaligus waktu untuk mereka istirahat.


Nayla mulai memutar koreo yang dimaksudkan Rory dan teman-temannya. Memperhatikan dengan cermat setiap gerakan dan liriknya.


"Kalian bisa mulai," ucap Nayla tanpa melihat mereka.


Mereka mengangguk dan mulai berdiri diposisi mereka, detik berikutnya musik pun mulai dimainkan. Merka mulai bergerak, sembari menyanyikan lirik lagu bagian mereka masing-masing.


Sementara Nayla, matanya justru fokus pada laptopnya sembari mengetik dengan lincah. Jari-jarinya mengetik dengan cepat menulis naskah baru lagi. Hingga lagu berakhir, Nayla tidak mengangkat kepalanya.

__ADS_1


"Jadi, bagaimana?" tanya Thomas.


"Sebentar," jawab Nayla masih fokus dengan naskahnya.


"Aish,,, dia justru sibuk menulis naskah, bukan melihat latihan kita," keluh Ethan menepuk dahinya.


Nayla hanya tersenyum kikuk saat Ethan memergokinya menulis naskah, namun sebelum semua protes dari mereka tumpah padanya, Nayla mengangkat tangannya.


"Tunggu, jangan marah dulu. Aku memperhatikan kalian latihan, sungguh!" ucap Nayla.


"Oh ya?" Kevin berdiri di depan laptopnya diikuti dengan yang lain termasuk Rory, melipat tangannya dengan mengintimidasi.


"Haaaa,,,," desah Nayla pelan.


"Baiklah,,aku mulai," ucapnya seraya menatap Thomas.


"Kau melakukan kesalahan di pertengahan lagu, tempomu melambat, tapi di lirik berikutnya kau bisa menutupinya," beralih menatap Nathan.


"Setelah kesalahan Thomas, tempomu berubah terlalu cepat, meski itu hanya di beberapa gerakan,"


"Kau pun sama, kalian melakukan kesalahan sama di waktu yang sama," ucap Nayla menatap Ethan.


Mendengar hal itu, Rory menyemburkan tawa. Terlebih dengan reaksi terkejut dari wajah mereka bertiga yang menatap Nayla seolah ingin menelan Nayla bulat-bulat.


"Jangan tertawa!" hardik Nayla melipat kedua tangannya.


"Dibandingkan dengan mereka semua, kaulah yang paling banyak melakukan kesalahan. Bahkan gerakanmu salah, walaupun harus ku akui, suaramu sangat bisa di andalkan untuk menutupi hal itu. Tapi, tetap saja itu bukan hal menguntungkan jika untuk tim," ucap Nayla dengan tegas.


"Jika harus dikatakan, kau adalah yang terburuk," imbuhnya.


Rory seketika berhenti tertawa sembari mengaruk kepalanya, mengakui yang di katakan Nayla memang benar adanya. Sedikitpun tidak tersinggung dengan ucapan sarkasnya. Ia pun menyadari bahwa tarian adalah kelemahan terbesarnya.


"Kevin nyaris tidak melakukan kesalahan apapun, dan gerakannya paling baik jika dibandingkan kalian semua. Kesalahannya ada di detik terakhir, tapi dia bisa mengatasi hal itu dengan sangat mulus hingga orang lain tidak akan menyadarinya,"


Suara tawa keras memecah keheningan yang terjadi sesaat setelah Nayla menyelesaiikan kalimatnya. Mereka serentak menoleh kearah sumber suara dan melihat Martin tertawa terbahak sembari menepuk tangannya dengan keras.


"Aku hanya mengatakan apa yang aku lihat," sambut Nayla.


"Itulah tepatnya yang ingin ku katakan padamu. Kau mengatakannya dengan tepat sasaran hingga membuat mereka tidak bisa menimpali ucapanmu seperti yang biasa mereka lakukan padaku," sambut Martin.


"Kau bahkan tidak melihat latihan kami, jadi bagaimana mungkin_,,," protes Thomas.


"Logikanya, jika aku tidak memperhatikan kalian, bagaimana caranya aku menilai kalian? Penilian tidak bisa di lakukan secara otodidak bukan?" potong Nayla sembari menaikan alisnya.


"Tapi, bagaimana?" tanya Ethan bingung.


Nayla mengerakkan tangannya dengan gerakan meminta mereka berdiri dibelakangnya.


Saat mereka semua berdiri dibelakang Nayla, ia memperlihatkan layar kecil di pojok atas yang ternyata perekam video dalam keadaan menyala.


"Kamu bisa menilai kami seakurat itu hanya dengan ini? bahkan dalam keadaan menulis naskah?" Ethan berkata dengan wajah tak percaya, lalu menatap Nayla.


"Aku tidak bisa mengabaikan deadline ku, Ethan. Jika aku duduk dan bisa menulis, kenapa tidak?" sambut Nayla santai.


"Aku pernah dengar beberapa orang bisa melakukan multitasking, tapi tidak sampai di titik membagi fokusnya," ucap Nathan mengeleng-gelengkan kepalanya.


"Jangan berlebihan, semua_,,,"


Panggilan dari Adrian melalui laptop Nayla menyela percakapan mereka sebelum Nayla sempat menyelesaikan kalimatnya. Nayla segera menjawab tanpa menyembunyikan apapun lagi dari mereka dan membiarkan mereka juga mendengar apa yang akan dikatakan Adrian padanya.


"Ada apa?" sambut Nayla.


"Kabar baik," ucap Adrian memberi jeda sesaat.


"Bukumu masuk nominasi terbaik lagi, dann,,, ada acrara penerimaan penghargaan malam lusa. Kau harus datang! aku tidak menerima alasan apapun dan mewakili menerima penghargaanmu lagi. Oke itu saja, aku harus kembali bekerja. Bye,"

__ADS_1


"Hei, tung_,,,!"


Adrian mengakhiri panggilannya begitu saja tanpa menunggu Nayla menyelesaikan protesnya.


Mereka yang mendengar Adrian saling pandang satu sama lain, lalu menatap Nayla yang terlihat kesal dengan sikap Adrian yang seenaknya. Sebelum Nayla mengeluarkan kekesalannya, Adrian kembali menghubunginya.


"Bagus kau menghubungi lag_,,"


"Diam dulu,!" potong Adrian.


Nayla mendengus kesal namun menurut untuk diam.


"Aku lupa bilang, besok datanglah ke kantor. Beberapa produser ingin bertemu denganmu. Mereka ingin mangangkat salah satu bukumu untuk difilemkan di perusahaan mereka. Dan tentu saja kaulah yang memutuskannya. Aku akan mengatur jam temu kalian sore nanti, dan mengabarimu segera,"


"Jangan memutuskan jadwal seenak_,,,,"


"Klik,,"


Adrian kembali memutuskan panggilannya begitu saja. Tidak membiarkan Nayla menyelesaikan kalimatnya.


"Arrgghhh,,,kenapa Adrian kembali ke mode menyebalkan sih!" gerutunya.


Nayla mengeram kesal sembari meletakkan satu telapak tangan diwajahnya.


Kekesalan Nayla tidak berlangsung lama ketika tiba-tiba Rory dan yang lain serentak memeluknya, sembari mengucapkan selamat padanya.


"Bisakah kita merayakan ini? Ini kabar yang sangat baik, Nay," ucap Ethan girang.


"Hei, lepaskan aku dulu, aku tidak bisa bernafas," keluh Nayla.


Mereka menjauh dengan teratur, memberi Nayla tatapan mengiba, dan penuh harap.


"Ayo rayakan di apartemenmu," usul Nathan.


"Ide bagus, selama ini kita tidak pernah kesana," sambut Thomas.


"Aku juga penasaran dengan apartemenmu," timpal Rory.


"Selama ini aku hanya menunggu di bawah tanpa masuk kedalam apartemenmu," imbuhnya.


"Kenapa tidak disini saja? Lagi pula disini lebih luas?" ucap Nayla berdalih.


"Oh,, jadi Adrian bisa kesana sedangkan kami tidak?" sindir Kevin.


"Bukan begitu,,," keluh Nayla melirik kearah Martin meminta bantuan.


"Bisakah kamu membujuk mereka? Tolonglah,!" pinta Nayla penuh harap.


"Sayang sekali, tapi aku juga harus mengangkut semua hadiahmu kesana," dalih Martin.


"Apakah kalian bersekongkol?" tanya Nayla menyipitkan matanya.


"Ayolah, Nay! Apa yang salah jika kita kesana untuk sesekali saja? Kamu tidak menyembunyikan mayat atau sesuatu kan?" celetuk Ethan.


"Mungkin kaulah mayat yang akan ku sembunyikan," sahut Nayla cemberut.


"Jadi, kamu tetap tidak mau menunjukan apartemnmu?" sela Kevin.


"Baik,, Baik,, kalian boleh datang. Hanya jika kalian setuju meluangkan waktu kalian untukku besok, cukup satu jam saja," jawab Nayla sedikit berharap.


"Sepakat," jawab Martin cepat.


"Aku bahkan akan membiarkan mereka untuk menemanimu hingga acara pengharganmu nanti," sambung Martin.


Nayla tersenyum setuju.

__ADS_1


Mereka meminta waktu untuk membersihkan diri mereka sebelum berangkat ke apartemen Nayla. Sementara Nayla menunggu di lobi.


...****************...


__ADS_2