LOVE OF MY LIFE

LOVE OF MY LIFE
84. Buku


__ADS_3

Diruang kerja kantor Nayla dipenuhi dengan tumpukan buku yang masih menunggu untuk diberi tanda tangan.


"Media sosial hanya berisi tentang buku mu, Nay," ucap Adrian memecah keheningan.


"Syarat untuk membeli buku pun tidak membuat mereka merasa terbebani. Mereka justru dengan senang hati menerima persyaratan ketika membeli buku kali ini," ucapnya lagi.


"Aku bahkan tidak menyangka pak Darwin menyiapkan ini dengan sangat teliti, namun tetap meledak dipasaran," sambut Nayla tetap menunduk.


"Mereka hanya diminta untuk tidak mempublikkan fotomu dan membeli dengan kartu identitas, tapi mereka dengan senang hati melakukannya," terang Adrian.


"Komentar yang menunjukkan keberatan pun, nyaris tidak muncul. Hanya, beberapa memang mempertanyakan kenapa harus menggunakan kartu identitas untuk mendapatkan bukumu," tutur Adrian.


"Heemm,,," gumam Nayla pelan.


Nayla masih sibuk dengan memberikan tanda tangan disetiap buku yang sudah dicetak dan akan terbitkan beberapa hari kemudian.


"Apa yang membuatmu melakukan ini, Nay?" tanya Adrian.


"Aku hanya teringat Rose pernah menyarankan ini. Entah kenapa, aku ingin mengikuti sarannya," terang Nayla.


"Apakah kau juga akan membuka identitasmu didepan publik suatu saat nanti? Jika iya, ini adalah langkah awal yang sangat baik," ucap Adrian.


"Aku memang memikirkan itu, tapi aku belum memutuskannya," jawab Nayla.


"Arrgghh,,, kapan ini akan selesai? Aku sudah melakukan ini selama lima jam, dan masih belum selesai," keluh Nayla melemparkan penannya.


"Hei,,, bersyukurlah ini hanya ratusan, bukan ribuan seperti biasanya," sambut Adrian menahan tawa.


"Aku lebih baik membuat naskah dari pada melakukan ini," gerutu Nayla.


"Padahal, ketika kau sudah di kenal, akan ada hari dimana kamu mengadakan sesi tanda tangan dan bertemu pengemarmu," tutur Adrian mengambil pena yang dilempar Nayla.


"Aku hanya berarap, itu bukan diwaktu dekat ini," jawab Nayla asal.


"Sayangnya, aku tidak bisa membantu dibagian ini," ucap Adrian meletakkan pena dimeja.


"Masih berapa banyak yang tersisa?" tanya Nayla.


"Hanya 200," jawab Adrian enteng.


"Haahh,," desah Nayla.


"Ah,, aku hampir lupa," ucap Nayla tiba-tiba menegakkan badannya.


"Apa?" tanya Adrian bingung.


"Adrian, apakah kau ingat sesuatu tentang, Val?" tanya Nayla.


"Val?" kening Adrian berkerut, dan mencoba mengingat sesuatu.


"Aku seperti pernah membaca nama itu di salah satu surat dari pengemarmu," jawab Adrian. " Tapi, aku juga ragu," imbuhnya.


"Tck,,, kurasa memang Rose yang akan ingat ini," decak Nayla.


"Kalau begitu, kamu hubungi saja dia," sambut Adrian.


"Aku yakin dia akan senang jika kamu juga mengatakan kabar ini padanya," tambah Adrian.


Ponsel Nayla berdering bertepatan dengan Adrian menyelesaikan kalimatnya. Ketika Nayla melihat layar ponselnya, ia tersenyum lebar dan memperlihatkan penelepon pada Adrian yang langsung tersenyum setelah melihatnya. 'ROSE'

__ADS_1


"Kejutan yang sangat menyenangkan," ucap Nayla setelah menempelkan ponsel ditelinganya.


"Aku baru saja membicarakan tentangmu bersama Adrian, dan kamu menghubungiku," imbuhnya.


"Hoo,,, apakah itu artinya kau merindukanku?" sambut Rose diiringi tawa.


"Sangat. Aku tidak mendengar kabarmu dalam beberapa hari terakhir. Bagaimana kabarmu?" tanya Nayla.


"Sangat baik, dan kuharap kamu juga begitu," jawab Rose.


"Aku tidak dalam keadaan sekarat, kau tau?" sambut Nayla terkekeh pelan.


"Aku juga baik," imbuhnya.


"Hei,,, katakan padaku! Apakah kau benar akan meletakkan fotomu dibuku yang akan diterbitkan kali ini?" tanya Rose.


"Yah,,, itu benar, dan hanya buku ini saja," jawab Nayla.


"Ini kabar yang sangat mengembirakan, aku senang mendengarnya," sambut Rose.


"Kamu memberikan banyak sekali kejutan kali ini. Kau yang menjalin hubungan dengan penyanyi itu, kabar tentang kecelakaan dan sekarang kabar kamu mulai membuka identitasmu," ucap Rose.


"Apa yang bisa kukatakan? Aku memikirkan apa yang pernah kau katakan padaku, dan berpikir untuk mencobanya. Mencoba untuk keluar dari zona nyamanku," jawab Nayla.


"Tentunya itu bukan hal mudah untukmu," tutur Rose.


"Ya, tapi aku tau aku tidaklah sendiri," sambut Nayla melirik Adrian.


"Kau bisa mengandalkanku dan Adrian, juga mereka yang kini berada disekitarmu," ucap Rose


"Kamu benar. Ah,, aku ingin menanyakan sesuatu padamu," ucap Nayla.


"Apa itu?" tanya Rose.


"Tentu saja. Dia satu-satunya pengemarmu yang paling sering mengirim surat dan hadiah. Termasuk buku favoritmu, sebagian besar kamu dapatkan darinya," ungkap Rose. "Kenapa?" imbuhnya.


"Aku hanya pernah tidak sengaja bertemu dengannya, dan aku ragu apakah mereka orang yang sama atau bukan," jawab Nayla.


"Begitu rupanya, kalau begitu, kamu bisa mengatakan apa yang ingin kamu ketahui ketika dia kembali mengirim surat padamu," saran Rose.


"Akan kupikirkan itu nanti, terima kasih, Rose," ucap Nayla.


"Bukan masalah," jawab Rose. "Hei,,, aku harus pergi. Aku harus menyiapkan makan malam," ucap Rose.


"Ah,,, aku hampir melupakan itu. Perbedaan waktu terkadang sedikit menganggu" seloroh Nayla.


"Ha ha ha, kau benar. Sering seringlah memberiku kabar, Nay," harap Rose.


"Tentu, aku akan mengusahakan itu," sambut Nayla.


Rose mengakhiri panggilannya.


'Entah kenapa aku merasa bahwa mereka adalah orang yang sama. Terakhir kali aku bertemu dengannya adalah sebelum insiden terjadi, dan hingga sekarang tidak pernah bertemu lagi,'


Nayla mengelengkan kepalanya dan mencoba kembali fokus dengan apa yang ada didepannya.


### Di tempat lain.


Sementara itu, di gedung tempat Rory tinggal, Thomas, Nathan dan Ethan yang membaca kabar tentang buku yang akan terbit dengan identitas penulis idola mereka menyambutnya dengan antusias.

__ADS_1


Mereka yang tengah berkumpul diruang santai membicarakan tentang buku, hingga melupakan bahwa Rory, Kevin dan Martin tidak mengetahui apapun tentang buku yang mereka bicarakan.


"Aku harus bisa mendapatkan bukunya," ucap Ethan.


"Aku juga ingin mendapatkannya. Disini dikatakan buku dicetak sangat terbatas, dan ketika membeli, harus menggunakan kartu identitas," ucap Thomas.


"Tak masalah. Hal itu sepadan alaskan aku bisa mendapatkan bukunya," jawab Ethan.


"Apalagi, ini adalah buku edisi khusus dimana akan ada foto dan tanda tangan penulis aslinya," imbuhnya.


"Aku setuju," sambut Thomas.


"Kapan buku itu diterbitkan?" tanya Ethan.


"Tiga hari lagi," sela Nathan.


"Kuharap, kita tidak memiliki jadwal di hari itu," harap Nathan.


"Aku penasaran, apa yang membuat kalian bertiga sangat menyukai buku karya NYLOES,?" tanya Kevin.


"Akan lebih mudah dijelaskan jika kau membaca satu saja bukunya, maka kamu akan mengerti," jawab Thomas enteng.


Nathan bangun dari duduknya dan masuk kedalam kamarnya. Tak lama kemudian kembali lagi dengan buku ditangannya.


"Baca saja selama sepuluh menit, kita lihat, apakah kau akan terus membaca atau melemparkan buku ini," tantang Nathan.


Tak lupa, Nathan juga memberikan buku dengan judul berbeda pada Martin dan Rory.


Mereka bertiga menerima dengan enggan, dan mulai membuka buku yang memiliki cover dengan corak sederhana, lalu membacanya.


Waktu terus berlalu, tak satupun dari mereka bertiga terlihat ingin berhenti membaca. Mereka terus membaca tiap lembar buku ditangan mereka. Ketika Nathan merebut buku dari tangan Kevin, sontak saja Kevin protes dan meminta bukunya kembali.


"Bagaimana?" tanya Nathan menaikan alisnya.


"Apakah kalian sadar, kalian sudah membaca selama setengah jam?" sindir Nathan.


Rory dan Martin mendongak menatap Nathan, lalu beralih melihat jam yang ada diruangan itu. Dan benar, mereka tanpa sadar telah menikmati buku itu hingga tidak merasakan waktu berjalan dengan cepat.


"Kuakui, ini buku yang bagus," puji Rory.


"Aku seolah terbawa dalam suasana yang ada didalam buku ini," imbuhnya.


"Baiklah, pendapatku juga sama. Ini buku yang bagus- ah tidak, ini buku yang sangat bagus," ucap Martin dengan tulus.


"Aku tidak bisa berkomentar, karena tidak menemukan kecacatan di buku ini. Dan yah, satu kata, hebat!" puji Kevin.


Thomas dan Ethan bersorak senang.


"Kurasa aku bisa mengerti kenapa buku ini selalu habis terjual dalam hitungan hari. Tapi kenapa buku yang akan diterbitkan kali ini justru mengurangi jumlah? Bukan menambah jumlah bukunya?" tanya Martin.


"Karena buku yang akan terbit nanti berisi foto dan tanda tangan asli sang penulis, dimana sang penulis yang selama ini menutupi identitas aslinya," jelas Ethan.


"Tapi, jika dengan hal itu, bukankah siapapun yang membelinya bisa saja menyebar luaskan fotonya?" timpal Rory.


"Tidak sesederhana itu. Siapapun yang membeli buku itu, diharuskan untuk tidak mempublikasikan apa yang mereka dapatkan dan membeli buku dengan kartu identitas untuk tetap menjaga privasi penulis," terang Ethan.


"Tapi ada rumor bahwa suatu saat, entah kapan, sang penulis akan muncul di depan media," sambung Nathan.


Rory sedikitpun tidak mendengarkan apa yang dikatakan Nathan, pikirannya kembali kepada Nayla yang membantu temannya melamar seseorang yang dicintai.

__ADS_1


'Apa yang bisa aku lakukan untuknya? dia bahkan bisa memiliki rencana yang begitu manis untuk temannya, lalu apa yang bisa aku rencanakan sekarang untuk melamarnya?' batin Rory.


...****************...


__ADS_2