LOVE OF MY LIFE

LOVE OF MY LIFE
43. Konflk


__ADS_3

Di Bandara, Nayla keluar seorang diri dengan langkah gontai.Ketika tangannya berniat memanggil taksi,sebuah tangan menghentikannya dan menarik tubuhnya ke dalam pelukannya.


Nayla terkejut dengan hal yang tiba-tiba terjadi hingga kehilangan keseimbangan.Koper miliknya terjatuh dan dirinya telah berada di dalam pelukan seseorang.


"Maaf," sesalnya berbisik di telinga Nayla.


Merasa mengenali pemilik suara itu, Nayla membiarkan orang itu memeluknya.


"Ini di bandara,Roy,!" tegur Nayla berbisik. "Banyak yang melihat di sini,bagaimana jika seseorang mengenalimu?" imbuh Nayla.


"Tidak akan," jawab Rory. "Biarkan aku mengantarmu pulang, kamu tidak keberatan tentang itu kan?" harap Rory melepaskan pelukannya dan menatap mata Nayla.


"Untuk kali ini, tidak!" tegas Nayla.


"Karena perkataan Martin?" sindir Rory.


"Sebagian besar ya. Tapi,karena yang dia katakan itu benar. Dan aku juga tidak bisa jika hal buruk menimpamu," ungkap Nayla.


Tangan Nayla terulur untuk menyentuh wajahnya yang tertutup masker, namun gerakannya terhenti dan Nayla menurunkan tangannya lagi, mengepalkan tangan lalu menunduk


"Apakah sekarang kau bahkan tidak mau lagi menyentuhku?" tuduh Rory.


Nayla mendongak untuk menatap mata Rory lagi.Suaranya berubah dengan mata yang memperlihatkan sebuah luka di sana.Nayla kembali tersenyum mencoba membuat suasana hati Rory membaik.


"Apakah kamu menyesali keputusanmu untuk jujur padaku, Roy?" balas Nayla merasakan kekecewaan Rory.


"Tentu saja tidak," sanggah Rory cepat lalu memalingkan wajahnya.


"Hhaahhh,,,,!" desah Nayla pelan. "Mau secangkir kopi?" tawar Nayla. "Ada kedai kopi yang lumayan di sekitar sini, hanya perlu lima menit berjalan kaki," ucap Nayla tersenyum.


"Dengan catatan, kamu membolehkanku mengantarmu pulang, maka aku akan menggatakan ya," tuntut Rory.


"Roy, tolonglah! Jika kita menghadapi ini dengan amarah, Itu tidak akan mendapatkan hasil baik, beri aku kesempatan untuk membuktikan padanya bahwa aku tidak seperti yang dia pikirkan.Tolong jangan marah padanya," harap Nayla.


"Setelah semua perlakuannya padamu? Tidak akan! Bagaimana aku tidak marah padanya?" sergah Rory kesal.


"Aku hanya tau, kamu bisa mengendalikan amarahmu dengan baik," sanggah Nayla tersenyum.


"Tidak jika itu berhubungan denganmu," sambut Rory.


"Aku pun juga tidak,Roy," balas Nayla. "Karena itu jugalah aku melakukan ini. Bukan berarti kita tidak bisa bertemu, tapi untuk saat ini, kita dinginkan dulu kedaannya.Kamu mengerti maksudku kan?" tanya Nayla.


"Aku sangat mengerti, tapi tidak bisakah aku mengantarmu pulang?" pinta Rory.


Nayla mengelengkan kepalanya dan tersenyum.


"Apakah kau membenciku?" tanya Rory.


"Kamu tau dengan jelas kalau itu tidak mungkin kan?" sambut Nayla.


"Jika aku memintamu datang ke tempat dimana aku tinggal dan latihan selama ini, termasuk ada Martin di dalamnya, apakah kamu akan melakukannya?" tanya Rory.


"Tentu saja aku akan melakukannya. Mereka bagian dari dirimu, keluargamu, dan mereka juga penting bagimu," jawab Nayla. "Tapi, untuk saat ini, kita mengalah untuk sementara, dan biarkan keadaan membaik," ucap Nayla lembut.


"Baiklah,,, Tapi, aku akan tetap memastikan kamu pulang dengan aman.Aku akan meminta sopir untuk mengantarmu pulang.Dan jangan membuatku merasa lebih buruk dengan penolakan darimu.Aku sudah cukup buruk karena meninggalkanmu di Paris," tutur Rory dengan kepala tertunduk.


"Hei,,, Jangan rusak wajah tampan ini dengan ekspresi tidak enak di lihat itu," seloroh Nayla lalu meletakkan telapak tangannya di pipi Rory.


BLITZZ,,,,!!!


Nayla menurunkan tangannya dan menoleh dengan cepat, merasa seseorang telah mengawasi mereka tidak jauh dari tempat mereka berdiri.


"Ada apa?" tanya Rory.


"Kamu harus pergi dari sini, Roy!" pinta Nayla.


"Kenapa? Apa yang salah?" tanya Rory bingung.


"Aku akan mengatakannya, tapi tidak sekarang," janji Nayla. "Pergilah,!" pinta Nayla seraya mendorong pelan Rory.


"Sopir akan datang tidak sampai lima menit, hubungi aku ketika kau sampai di apartemen mu!" pinta Rory.


"Aku akan melakukannya, Sampai jumpa lagi, Roy," janji Nayla melambaikan tangannya.


Dengan langkah berat, Rory meninggalkan Nayla menuju mobilnya.Meninggalkan bandara dengan hati yang berkecamuk.


Sementara itu,Nayla mengedarkan pandangannya mencari seseorang yang mungkin terlihat mencurigakan, namun tidak dia temukan.


'Aku yakin sekali ada yang memotret kami, tapi siapa? Dan di mana dia? Ku harap ini bukan pertanda buruk,' batin Nayla was-was.


Nayla meninggalkan bandara ketika mobil yang di siapkan Rory datang menjemputnya.Entah bagaimana, hati Nayla merasa gelisah memikirkan semua kemungkinan yang mungkin bisa terjadi.


Dalam perjalanan pulang, baik Nayla dan Rory memikirkan hal yang sama. Tentang hal yang terjadi selama mereka di paris. Di tempat yag berbeda, namun di waktu yang sama mereka menghela nafas panjang mengingat perdebatan yang tidak mereka harapkan akan terjadi.


'Akankah semua berjalan dengan baik?' batin mereka


###Flashback ketika masih di paris###


"Apa kau yakin tidak apa-apa jika aku di sini Roy?" tanya Nayla ketika tiba di tempat Rory dan teman-temannya berlatih dan beristirahat.


"Tentu saja tidak apa-apa," jawab Rory. "Lagi pula, kamu sudah mengenal mereka," sambungnya.


"Mereka?" Nayla mengerutkan keningnya.


Rory tersenyum lebar sembari mengandeng Nayla menyusuri gedung dan berhenti di depan pintu ganda.


Ketika Rory mendorong pintu itu, Nayla terpana dengan bagian dalam ruangan itu.


Sebuah dance studio yang cukup luas terbentang di depannya.Lampu-lampu putih menghiasi langit-langit rungan.Cermin besar yang menutupi seluruh dinding, dan lantai marley yang menutupi seluruh ruangan.


Di sudut ruangan terdapat tiga pintu dengan tulisan berbeda di tiap pintunya.Kursi panjang juga tersedia di sisi ruangan dan beberapa loker di sis lain.

__ADS_1


Pandangan Nayla terhenti di tengah ruangan tempat tiga orang yang familiar baginya tengah duduk dengan badan berkeringat.


"Yoo,,,! Akhirnya kamu mengatakan yang sebenarnya, Rory?" sambut Thomas melambaikan tangan ketika melihat Rory mengandeng Nayla.


"Lho,,, kalian__,,," Nayla tidak bisa meneruskan kalimatnya dan menatap Thomas,Ethan dan Nathan tengah duduk di lantai dengan keringat yang membasahi wajah mereka.


"Aku tidak menyangka kamu akan seterkejut itu melihat kami, apakah kami semenakutkan itu?" kelakar Ethan sambil menyeringai.


"Apakah kamu memiliki kata yang lebih buruk dari menakutkan, Ethan? Jika ada,aku akan menggunakannya," sambut Nayla belum bisa menggatasi keterkejutannya.


"Ha ha ha,,, entah kenapa aku masih terkejut kamu mengenaliku dengan mudah," puji Ethan.


"Jangan mengolokku!" sambut Nayla.


"Tapi kami justru menikmatinya karena kamu tidak mengenali kami," timpal Nathan.


"Yah,,,! Kau benar, Nathan. Setidaknya dia tidak histeris ketika bertemu kita, terutama Rory," sambung Thomas.


"Hei,,, Hentikan! Itu justru membuatku semakin merasa konyol," sahut Nayla dengan wajah mulai memerah.


Mereka tertawa menikmati reaksi Nayla yang mengarahkan pandangannya pada Rory,


"Kenapa kamu tidak mengatakan kalau mereka juga termasuk?" protes Nayla.


"Kenapa aku haus mengatakannya ketika aku berencana mengajakmu kesini?" sanggah Rory.


Nayla memajukan bibirnya tidak bisa menemukan balasan yang tepat untuk menjawab Rory, dan memilih memalingkan wajahnya.


"Jadi kalian satu grup? Seperti Boyband? Atau apapun itu?" tanya Nayla.


"Anggap saja begitu, karena Rory-lah yang paling menonjol di sini.Menciptakan lagu, memainkan alat musik dan 50% suaranya terekspos," jawab Thomas.


"Dan kalian ber-empat?" tanya Nayla lagi.


"Berlima," sela Ethan.


"Lalu, nama grup kalian?" berondong Nayla penasaran.


"Kenapa aku merasa yang jadi nyamuk di sini," gerundel Rory sembari melipat tangannya.


"Hush,,,!" tukas Nayla meletakkan satu jari di bibirnya, dan berpaling lagi dari Rory, mengabaikannya.


"Jadi, apa?" lanjut Nayla kembali mengarahkan pandangannya pada Thomas.


"Fimm Shadow," jawab Thomas.


Nayla mengerutkan keningnya dan meletakkan jari di dagunya, mencoba mengingat sesuatu.


"FM,?" ucap Nayla sambari memiringkan kepalanya.


"Tepat," timpal Ethan.


"Eehhh,,,,?" pekik Nayla. "Jadi Ace yang selalu di sebut orang kantor itu,,," Nayla menoleh ke arah Rory dengan telunjuk terangkat. "Kamu,,, Roy?" imbuhnya.


"Bagaimana mungkin tidak! Mereka menyebutkan namanya lebih dari 20x sehari," papar Nayla.


"Dan kamu tidak penasaran tentang sosok, Ace yang mereka sebut,?" sambung Nathan.


"Emmmm,,," Nayla bergumam sembari menggosok belakang telinga dengan jarinya, tersenyum malu.


"Tidak,,, sayangnya. Karena mereka akan bersikap demikian ketika melihat ketampanan seseorang," terang Nayla.


"Dan sekarang justru Ace yang tergila-gila padamu," celetuk Ethan.


"Itu_,,,!" Nayla tersipu dengan wajah makin memerah.


"Apa-apaan ini,!" decak Martin di ambang pintu dengan tangan terlipat menatap tajam Nayla.


"Siapa yang mengijinkan orang asing masuk kesini? " sambungnya.


"Aku yang membawanya," jawab Rory.


"Bagus,!" sindirnya. "Apakah menurutmu ini tempat untuk melakukan tur pribadi?" dengus Martin.


"Hei,,,Aku yang mengajaknya, apa masalahnya?" sergah Rory.


"Menurutmu, apa yang akan terjadi jika ini terekspos?" tanya Martin. "Kita di sini hanya beberapa hari dan kabar seperti ini tersebar keluar,!" sambungnya.


Rory bersiap membalas ucapan Martin ketika tangan Nayla meraih tangan Rory dan menghentikannya.


"Saya minta maaf jika kedatangan saya menimbulkan masalah. Saya tidak berfikir jauh tentang akibatnya," sela Nayla.


"Tentu saja kamu tidak memikirkannya," cibir Martin.


Martin memperhatikan Nayla dari atas sampai bawah lalu mencibir.


"Yang aku tau, untuk ukuran orang sepertimu,mereka hanya mengincar ketenaran," sindir Martin.


"Sayang sekali, tebakan anda sangatlah tidak tepat," jawab Nayla tersenyum ramah.


"Begitulah cara seserang mengakui perbutannya,!" sambut Martin tersenyum sinis.


"Dia bahkkan baru tau siapa Rory sebenarnya, Martin," sela Thomas telah berdiri di samping Rory.


"Dan kau percaya dia tidak sedang berpura-pura?" cibir Martin.


"Apakah ketenaran sangat berarti bagi anda, Tuan?" desis Nayla dengan kepala tertunduk,menahan emosinya.


'Ketenaran adalah hal yang aku hindari,' batinya.


"Siapa yang akan menganggap ketenaran tidak berarti?" decak Martin. " Ketenaran dapat meninggikan derajatmu, tapi bagian terburuknya juga bisa membunuhmu.itulah yang akan terjadi jika kau terus berada di sekitar Rory," dengus Martin.

__ADS_1


"Saya tidak akan melakukan hal yang membuatnya masuk ke dalam situasi itu,!" sanggah Nayla.


"Apa yang membuatmu bisa bersikap sepercaya diri itu?" cibir Martin.


"Cukup,,,!!!" bentak Rory. " Ucapanmu keterlaluan, Martin," Rory mengeram kesal menatap Martin.


"Aku sedang tidak ingin mendengar protes apapun," potong Martin sembari mengangkat tangannya. " Berkemaslah! Kita kembali malam ini,!" perintah Martin.


"Apa maksudmu? Bukankah kita seharusnya kembali lusa?" tukas Ethan.


"Aku sudah menyelesaikan urusanku, dan aku harus menggurus sisanya setelah kita kembali, lebih cepat lebih baik," terang Martin.


Rory mendengus kesal dan menarik tangan Nayla membawanya keluar.


"Jangan berpikir kau bisa pergi kemanapun, Rory!" tekan Martin.


"Aku hanya mengantarnya, apa lagi masalahmu,?" Rory menjawab dengan ketus tanpa menoleh.


"Dia akan selamat sampai tujuannya menggunakan taksi,kau tidak bisa pergi kemanapun.Beberapa hal harus kau urus sebelum kembali," tuntut Martin.


"Mengantarnya tidak memakan waktu sampai satu jam, aku akan mengurusnya setelah mengantarnya," jawab Rory.


"Roy, aku bisa kembali sendiri," bisik Nayla.


"Mana bisa begitu," sembur Rory. "Aku yang memintamu datang, dan aku harus membiarkanmu pergi begitu saja dengan cara seperti ini?" hardiknya.


"Aku tau kau tak akan melakukannya, hanya saja keadaan ini tidak mendukung perlawananmu, Roy," sanggah Nayla.


"Tetaplah di sini,aku akan menghubungimu ketika sampai," bujuk Nayla.


"Tapi,,," protes Rory.


"Tidak apa-apa, aku akan baik-baik saja.Aku juga bisa menghubungi sopir yang ada di hotel untuk menjemputku jika kau khawatir tentang itu," potong Nayla.


"Dia sudah memutuskannya, apa lagi masalahnya?" sela Martin.


Rory mengabaikan Martin dan menarik Nayla keluar.


"Kau tidak bisa kemanapun, bukankah aku sudah mengatakannya?" seru Martin ketika Rory mencapai pintu.


"Aku hanya mengantarnya sampai depan. Apa kau puas?" geram Rory tanpa menoleh dan berlalu pergi setelah membanting pintu.


Rory menggengam kuat tangan Nayla tanpa memperhatikan reaksi Nayla yang meringis kesakitan karena Rory meremas terlalu kuat tangannya.


"Roy,,,!" panggil Nayla.


"Hemmm,,," gumam Rory.


"Bisa berhenti sebentar!" pinta Nayla.


"Kenapa?" tanya Rory masih terus melangkah.


"Apakah kau sedang membayangkan meremas batu, dan berniat melemparkannya ke wajah seseorang?" tanya Nayla.


Rory menghentikan langkahnya dan menoleh dengan mengerutkan keningnya.


"Apa maksud__,,," pertanyaan Rory terhenti saat akhirnya menyadari tangannya telah meremas tangan Nayla terlalu kuat.


"Ya Tuhan,,, maafkan aku," sesalnya sembari memeriksa tangan Nayla yang telah memerah.


"Entah kenapa aku jadi merasa De javu," ucap Nayla terkekeh pelan.


"Itu sama sekali tidak lucu,!" tukas Rory. "Aku melakukannya lagi," sesal Rory. "Menyakitimu lagi," imbuhnya.


"Baiklah,,,! Aku sudah cukup di antar sampai di sini.Kembalilah sebelum dia marah padamu," pinta Nayla.


"Aku tidak peduli," jawab Rory.


"Tapi aku peduli, Roy!" sambut Nayla.


"Kamu jauh-jauh ke paris,dan mendapat perlakuan seperti itu, itu seperti mimpi buruk,, bukan?" desah Rory dengan kepala tertunduk.


"Apa kau mau tau sesuatu?" tanya Nayla.


"Apa?" sahut rory.


"Selama kita di sini, semua waktu yang telah kita habiskan bersama, tidak ada satupun melebihi kebahagiaan yang ku rasakan saat aku bersamamu.Aku bahagia bersamamu adalah hal yang tidak bisa aku sangkal," ungkap Nayla.


"Aku menikmati semua waktu yang aku habiskan bersamamu tanpa penyesalan di dalamnya, Roy," sambungnya.


"Jadi, kembalilah ke dalam, dan aku akan menghubungimu ketika tiba di hotel.Aku akan mengambil penerbangan besok pagi," papar Nayla.


"Baiklah,, tolong beri aku kabar setiap saat!" pinta Rory.


"Pasti,!" janji Nayla.


Rory memeluk erat Nayla dan mencium lembut keningnya.


Dengan berat hati,Rory mengantar Nayla menuju mobil dan menatap kepergian Nayla hingga mobil yang di naiki Nayla menghilang dari pandangannya.


####Flashback off


"Hhaahhh,,,,,!" Rory menghembuskan nafas dengan keras.


CIITTTTT,,,,,!!!


Tiba-tiba Rory menghentikan mobilnya.


"Ah,,, sial! Aku lupa memberitahukan padanya, lebih baik aku ke apartemennya saja. Jika Nayla terlalu khawatir tentang identitasku, aku bisa memintanya menemuiku," gumam Rory.


Dengan cepat, Rory memutar mobilnya menuju apartemen Nayla.

__ADS_1


...****************...


__ADS_2