LOVE OF MY LIFE

LOVE OF MY LIFE
58. Yang Disembunyikan


__ADS_3

Pernyataan Chris saat itu membuat mereka semua terkejut dan menelan ludah mereka. Merasa bersalah karena terus menentang keinginannya, mencurigainya, dan berpikir buruk tentangnya.


"Adik? Bukankah kau anak tunggal?" tanya Victor binggung.


"Tidak," jawab Chris. " Dia adikku, tapi kami memang sempat terpisah," jelas Chris.


'Aneh. Aku ingat sekali Om dan Tante sendiri yang mengatakan bahwa Chris anak tunggal. Adik? Sejak kapan?,' batin Victor.


"Baiklah, aku mengerti. Aku akan mengurus sesuai permintaanmu," ucap Victor berpikir Chris memiliki alasan dibalik ucapannya.


Selesai mengatakan itu, Victor pamit undur diri untuk mengatur pemindahan pasien ke rumah sakit lain sesuai dengan keinginan Chris.


Sementara Rory dan teman-temannya masih membeku di tempat, dan tidak bisa mengatakan apapun, Chris mengeluarkan ponselnya untuk menghubungi seseorang.


"Datang segera ke rumah sakit xxx. Tapi sebelum kesini, siapkan ruang rawat untuk Nayla,!" pinta Chris begitu panggilannya terhubung dengan seseorang.


"Baik," jawabnya patuh.


"Oh, kuminta, agar kamu tidak memberitahukan kepada siapapun, termasuk padanya," harap Chris.


"Baik, saya akan melakukannya," jawabnya.


Chris kembali memasukan ponsel di sakunya. Ketika tiba-tiba Rory mendekatinya dengan wajah yang mengambarkan rasa khawatir yang besar.


"Saya tidak masalah jika dia dipindahkan asalkan itu yang terbaik untuknya. Tapi, ijinkan saya mendampinginya," harap Rory sembari menundukkan kepalanya.


Chris menatap tajam pada Rory, detik berikutnya menatap satu persatu orang yang ada di depannya.


"Aku tidak peduli jika kalian seorang bintang atau apapun itu, tapi aku tidak akan segan pada siapapun jika itu berkaitan dengannya. Aku bahkan tak ragu untuk menuntut kalian--,," ucap Chris dingin.


Tok,,,Tok,,


Suara ketukan pintu menyela sebelum Chris sempat melanjutkan ucapannya. Memperlihatkan wajah Victor di balik pintu ketika pintu terbuka.


"Persiapan selesai," ucapnya.


"Terima kasih," sambut Chris.


Chris melangkah keluar saat ia sudah memeriksa ulang kondisi Nayla dan dua orang perawat datang untuk membantu pemindahan.


Chris menghentikan langkahnya diambang pintu sesaat tanpa membalikkan badannya.


"Kau bisa ikut denganku," ucap Chris menoleh kebelakang dan melirik Rory dari balik punggungnya.


"Tapi hanya kau saja, dan aku tidak akan mentolelir apappun!" tegas Chris dan berlalu meninggalkan mereka.


"Terima kasih," sambut Rory tersenyum lega.


Chris berjalan dengan Victor disampingnya. Sementara Rory mengikutinya dari belakang dengan menjaga jarak.


"Aku sangat mengenalmu, Chris. Aku bahkan mengenal Om dan Tante dengan baik saat kita masih belajar di Amerika. Dan mereka mengatakan kamu anak tunggal, lalu sekarang kamu bilang dia adikmu?" cecar Victor setengah berbisik.


"Terlalu panjang untuk di ceritakan, dan terlalu menyakitkan jika aku mengingat kembali apa yang telah terjadi di masa lalu. Tapi satu hal yang pasti, dia adikku," tutur Chris.


"Baiklah,, aku mengerti. Tapi katakan satu hal padaku. Apakah dia juga yang menjadi alasanmu menyelesaikan study lebih cepat dari seharusnya dan kamu meminta pindah dari rumah sakit di Amerika?" tanya Victor hati-hati.


"Ya," tegas Chris.


Victor mengangguk mengerti. Mereka berada di luar rumah sakit ketika seorang wanita datang menghampiri Chris dengan nafas sedikit tersengal.


"Maaf dok, apakah saya terlambat?" tanyanya cemas.


"Kau datang tepat waktu, Irene. Terima kasih," sambut Chris


"Terima kasih sudah membantu, Victor. Aku pergi dulu," ucap Chris saat berbalik menghadap Victor.


Victor mengangguk dan melepas kepergian Chris yang memasuki mobil Ambulance.

__ADS_1


Rory dan Irene mengikuti dari belakang. Sesaat Irene sempat terkejut saat melihat Rory. Namun ia tetap besikap profesional dengan pekerjaannya.


'Apakah ini sungguhan? Bukankah dia Ace? Salah satu personil dari grup FM yang sedang ramai di perbincangkan karena terlibat skandal?' batin Irene.


Keterkejutan Irene tidak lagi bisa di tutupi saat melihat Nayla terbaring dengan wajah pucat dan penuh luka.


"Ya tuhan,,,,!" pekik Irene menutup mulutnya.


Irene duduk di samping Chris, sementara Rory duduk di seberang mereka.


"Kau tidak menghubunginya kan?" tanya Chris dengan suara pelan.


"Tidak. Semua sesuai dengan arahan anda, Dokter. Dia memang sempat menghubungi saya dan menyanyakan Nyala,tapi saya tidak mengatakan apapun," papar Irene.


Chris mengengam tangan Nayla yang terasa lebih dingin dari biasanya. Tangannya yang lain mengusap lembut kepala Nayla.


"Kakak,,,,"


Suara lirih dari bibir Nayla terdengar di telinga mereka. Chris membelai lembut wajah Nayla dan berkta pelan.


"Aku disini, semua akan baik-baik saja. Bertahanlah sebentar lagi," ucap Chris pelan namun cukup untuk di dengar Rory dan Irene.


"Aku,,, ingin,,, ikut,,, kakak,,," lirih Nayla.


Air mata bergulir perlahan, membasahi wajah pucat Nayla. Pernyataan itu membuat Chris tercekat. Tangannya mulai gemetar.


"Jangan mengatakan hal menakutkan seperti itu padaku,!" ucap Chris dengan suara bergetar.


"Kau tidak boleh pergi meninggalkanku, seperti dia meninggalkan kita,!" pinta Chris parau.


Tubuh Nayla menjadi lebih dingin dari sebelumnya. Kondisinya memburuk tiba-tiba.


"Louise,,,hei,,, Louise,,," Chris menepuk pelan pipi Nayla.


Chris bangun dari duduknya dan mulai melakukan pertolongan saat ia memeriksa matanya tidak lagi merespon apapun.


"Kumohon,,, Bertahanlah. Kembalilah padaku,," Rory bergumam dengan suara parau. Air matanya kembali mengalir.


"Irene, suntikan obatnya,!" pinta Chris.


Chris meletakkan kedua tanganya di dada Nayla untuk memberikan tekanan.


"Ikuti intruksiku," pinta Chris lagi.


Irene sigap melakukan semua yang di arahkan Chris padanya. Tangannya mulai bersiap untuk menyuntikkan obat pada Nayla.


"Sekarang,,,!!!" seru Chris.


Bersamaan dengan Irene menyuntikan cairan obat, Chris memberikan tekanan pada dada Nayla.


Mencoba cara teraman agar detak jantungnya kembali stabil. Ketegangan memenuhi mobil Ambulance ketika Chris masih terus berusaha menstabilkan kondisi Nayla yang menurun.


Bib,,,,


Bib,,,,


Bib,,,,


Suara monitor menunjukan kondisi Nayla telah stabil, membuat Chris bernafas lega.


Chris kembali duduk dan mendapati dirinya telah tiba di rumah sakit tempatnya bekerja. Mereka segera membawa Nayla ke ruangan yang telah disiapkan Irene.


Rory terus mengikuti kemana mereka membawa Nayla dengan hati gelisah. Ketika mereka tiba di ruangan yang di perbincangkan Chris dn Irene, mereka meminta Rory untuk menunggu di luar.


Waktu terus berlalu. Rory menunggu dengan terus berdoa. Disisi lain, Kevin dan teman-temannya yang lain muncul dan segera menghampiri Rory saat melihatnya.


Tanpa mengatakan apapun, mereka hanya duduk menunggu. Seolah wajah Rory telah mengatakan semuanya tanpa diminta.

__ADS_1


Tak lama kemudian. . . .


Pintu ruangan terbuka. Chris keluar diiringi Irene di belakangnya. Setelah mengatakan sesuatu, Irene mengangguk dan pergi meninggalkan mereka bersama Chris setelah mengangguk sopan.


Chris menatap mereka bergantian lalu menghembuskan nafas pelan.


"Maafkan sikap saya beberapa menit yang lalu. Itu benar-benar sikap yang tidak pantas saya tunjukan," ucap Chris sembari membungkukkan badannya.


"Tolong jangan minta maaf kepada kami seperti ini, Dokter," cegah Thomas menegakkan kembali punggung Chris.


"Kami justru merasa buruk jika anda seperti ini," sambung Ethan.


"Kamilah yang seharusnya meminta maaf kepada anda," lanjut Rory.


Chris menoleh kearah Rory, menyunggingkan senyum.


"Dan tolong jangan bersikap formal kepada kami," timpal Martin.


"Benar, setelah anda memarahi kami seperti tadi, terdengar lucu jika anda bersikap kembali formal seperti ini" celetuk Ethan.


Mereka tertawa pendek mendengar usaha Ethan mencairkan suasana.


" Lagi pula sikap anda sangatlah wajar mengingat Nayla adalah adik anda," lanjut Ethan.


"Kami bahkan melihat hal lebih buruk dari sikap yang anda tunjukkan kepada kami," sela Nathan.


Chris menaikkan alisnya menanyakan maksud perkataan Nathan.


"Rory dan Kevin adalah kakak beradik," jelas Martin.


Chris tersenyum menganggukkan kepalanya mengerti maksud Martin.


"Ah,,, Aku tak menyangka, kalian yang seorang bintang bisa berhubungan dengan Nayla. Bagaimana itu terjadi?" ucap Chris mengeluarkan rasa ingin taunya.


"Itu--,,," Rory mengantung kalimatnya, berpikir sejenak apakah akan memberitaunya atau tidak.


"Aku hanya bertanya kenapa, kalian bisa menceritakan detailnya nanti. Aku tau kalian mencemaskannya," ucap Chris mengerti kegelisahan Rory.


"Mereka saling mencintai," sela Kevin.


Chris melebarkan matanya. Menatap mata Kevin untuk mencari tau apakah itu kebehongan atau bukan.


Chris berpaling dari Kevin dan beralih menatap Rory yang mangangguk pelan membenarkan ucapan Kevin.


"Apa? Sejak kapan? Kalian?" Chris tidak bisa menyembunyikan keterkejutannya.


"Apakah Nayla tidak menceritakan apapun kepada anda?" tanya Martin heran.


"Mungkin dia lupa. Aku sangat sibuk belakangan ini dan baru saja pulang setelah keluar kota," kilah Chris.


'Apakah karena ini juga kondisinya saat itu menjadi lebih baik dari biasanya?' batin Chris.


"Kalian bisa masuk kedalam. Jika ada apa-apa kalian bisa memanggilku atau perawat tadi yang membantuku. Dia orang yang kupercaya untuk merawat Nayla," papar Chris.


Chris mulai melangkah meninggalkan mereka ketika tiba-tiba berbalik dan menatap mereka lagi secara bergantian.


"Oh,, satu lagi, kalian bisa memanggilku Chris. Dan tidak perlu menggunakan gelar di depan namaku," ucapnya.


Chris berbalik lagi dan pergi meninggalkan mereka menuju ruangannya.


Setibanya diruangan miliknya, Chris duduk dikursi dan membenamkan wajah di kedua telapak tangannya.


"Hahhh,,, Louise hanya akan marah padaku jika aku terlalu keras pada mereka. Terlebih lagi Louise melakukan hal nekad hanya untuk mereka. Setidaknya itu prediksiku," ucap Cris pada diri sendiri.


Chris duduk bersandar dan melipat tangannya. Menahan diri agar tidak pergi ke ruangan Nayla seperti yang biasa ia lakukan mengingat mereka semua juga menjaga Nayla disana


...****************...

__ADS_1


__ADS_2