LOVE OF MY LIFE

LOVE OF MY LIFE
78. Tempat tinggal sementara


__ADS_3

"Aku ingin pulang," tegas Nayla.


Nayla bersikeras meminta untuk segera keluar dari rumah sakit setelah sehari sebelumnya mengunjungi Alisha di penjara.


Alisha dihukum atas tindakan kejahatan yang telah di rencanakan sendiri olehnya. Orang-orang yang membantunya pun tak luput dari hukuman.


Hal yang mengejutkan adalah, Alisha terlihat menyesali perbuatannya setelah Kevin mengatakan hal yang sebenarnya terjadi. Jika mengingat dia begitu berambisi untuk balas dendam.


###Sehari sebelumnya.


Rory menatap mata Nayla, menunggu apa yang ingin Nayla ucapkan padanya.


"Apakah kamu tidak malu menjalin hubungan denganku, Roy?" tanya Nayla.


Rory mengerutkan keningnya, lalu berdiri seraya melipat kedua tangannya.


"Apakah itu sarkasme?" tanya Rory menyipitkan matanya.


Nayla menundukkan kepalanya. Apa yang dikatakan Alisha, mau tak mau menganggu pikirannya.


'Jika aku mengungkapkan siapa aku sebenarnya, akankah pandangan orang berubah? Akankah mereka berhenti merendahkan Roy? Apakah dengan begitu mereka juga berhenti mengatakan Roy salah memilih_,,,"


"CETAKK,,,!!!"


"Auhh,,," Nayla mengaduh saat Rory menyentil dahinya dan segera mengelusnya.


"Apa sih?" sungut Nayla cemberut.


"Berhenti memikirkan hal aneh!" tukas Rory.


Rory kembali berlutut dengan tangan menangakup wajah Nayla. Menatap lekat kedalam matanya.


"Jangan mengkhawatirkan hal yang belum terjadi. Seseorang pernah mengatakan padaku bahwa dia akan menendangku jika aku memiliki pikiran seperti yang sedang kamu pikirkan saat ini," tutur Rory.


"Royy,,," keluh Nayla memajukan bibirnya.


"Tampaknya seseorang itu telah mengingat apa yang pernah dikatakan olehnya padaku," sindir Rory.


"Itu berbeda, Roy," sanggah Nayla.


"Apa yang membuatnya berbeda? Dalam hal itu, bukan hanya berlaku untukku, tapi juga berlaku untukmu," jawab Rory.


"Dan satu hal lagi," ucap Rory cepat sebelum Nayla sempat menjawab.


"Apa,?" tanya Nayla.


"Ulurkan tanganmu," pinta Rory.


"Kenapa?" tanya Nayla mengerutkan keningnya.


"Ulurkan saja," desak Rory.


Nayla mengulurkan tangannya dengan raut wajah bertanya. Tak lama, Rory mengeluarkan sesuatu dari saku jaketnya, dan segera melingkarkan sesuatu di pergelangan tangan Nayla.


Segera setelah Rory selesai, Nayla melebarkan matanya melihat apa yang kini terpasang dipergelangan tangannya. Matanya mulai berkaca-kaca.


Gelang yang semula Nayla pikir telah hilang, kini kembali terpasang dipergelangan tangannya.


"Roy,, ini,,,kupikir,," Nayla mendekap gelang itu dan mulai terisak.


"Kamu menghilangkannya?" sambung Rory dengan alis terangkat.


Nayla mengangguk pelan. Air mata mulai bergulir membasahi pipinya.


"Aku memperbaiki gelang itu sebisa mungkin. Namun, aku tidak bisa menemukan bahan yang sama dengan yang sebelumnya," ungkap Rory.


"Beberapa hari ini aku mencarinya, tapi tetap saja aku tidak menemukan yang sama persis dengan gelang yang rusak. Jadi, aku hanya bisa memperbaiki menggunakan bahan yang aku dapatkan," imbuhnya.


Tanpa peringatan, Nayla menjatuhkan tubuhnya memeluk Rory.


" Hei,, heii,, Nay,,! Kamu masih terluka," sambut Rory terkejut.


Rory berhasil menahan Nayla yang hampir jatuh dari kursi roda dengan kedua lutut yang menyentuh tanah.


"Terima kasih,,, Terima kasih,,," ucap Nayla terisak.


Rory merasakan bahunya basah oleh air mata Nayla. Dengan lembut, tangannya mengusap belakang kepala Nayla, membalas pelukannya, lalu tersenyum.


"Aku tau gelang itu sangat berarti bagimu. Apapun kisah dibalik gelang itu, itu akan tetap ada meskipun gelang ini sedikit berbeda," tutur Rory.


Nayla mengangguk pelan. Dengan hati-hati, Rory kembali mendudukkan Nayla dikursi Roda. Menghapus air mata Nayla dengan ibu jarinya, kedian tersenyum.


"Lihatlah dirimu, kamu menangis seperti seorang bocah yang gagal mendapatkan es krim," seloroh Rory.


Nayla hanya tersenyum menanggapi ucapan Rory.


###Masa kini.

__ADS_1


"Aku ingin pulang," tegas Nayla.


"Tidak boleh," sambut Rory tidak kalah tegas.


"Aku bosan disini, aku hanya duduk dan berbaring tanpa melakukan apappun." ucap Nayla beralasan.


"Lukamu belum kering, bagaimana jika lukamu terbuka lagi?" balas Rory.


"Aku hanya perlu berhati-hati, dan itu tidak harus selalu berada disini," jawab Nayla.


"Jangan keras kepala, terakhir kali kau berkata seperti itu, selalu berakhir buruk," sambut Rory.


"Oh,, Ayolah,, itu bukan sengaja kulakukan," sanggah Nayla.


"Tidak, kau harus tetap dirawat disini,!" tegas Rory.


'Ugh,,, Tidak bisa. Aku sudah janji akan membantu Antony. Dan tanggalnya sudah semakin dekat. Jika aku tetap disini, aku akan kesulitan untuk keluar,' keluh Nayla dalah hati.


Jauh hari sebelum insiden yang menimpa Nayla, sahabatnya yang bernama Antony meminta bantuannya. Dan Nayla telah berjanji untuk membantunya.


'Aku tidak bisa membatalkan janjiku begitu saja. Janji ini sudah lama aku buat, dan merencanakan tanggal sempurna. Tapi jika aku disini, aku tidak bisa menghubunginya. Mereka terus berada disini dan tidak membiarkanku sendiri,' bisik hatinya.


"Kalau begitu, aku akan meminta Chris untuk mencari satu perawat untukku, dengan begitu, ada yang merawatku," sambut Nayla.


"Maaf, untuk kali ini aku tidak bisa menurutimu," jawab Chris.


"Walaupun dengan pengawasan perawat sekalipun, mereka tidak akan bisa menghentikan sifat keras kepala yang kamu miliki," sambung Chris.


"Hei,,, aku tidak seburuk itu," sungut Nayla.


"Apa alasanmu hingga kamu bersikeras untuk pulang, Nay? apakah ada yang menunggumu?" sela Kevin.


"Uhm,,, itu,,, aku,,, tidak ada. Aku hanya ingin pulang," jawab Nayla.


"Apakah ada yang tinggal bersamamu?" tanya Kevin lagi.


"Tidak ada," jawab Nayla.


"Kalau begitu, kamu tetap disini. Setidaknya disini ada yang menjagamu," sambut Kevin.


Nayla sudah siap mengeluarkan argumennya lagi, namun Kevin lebih dulu menghentikannya.


"Kecuali, dengan satu syarat," ucap Kevin.


Serentak mereka yang berada diruang rawat Nayla mengarahkan pandangan mereka pada Kevin, termasuk Nayla dengan raut wajah bertanya-tanya.


"A-A-Apa,,,???" seru Nayla terkejut.


"Jangan bercanda,!" tukas Nayla. "Bagaimana mungkin aku tinggal bersama kali_,,,"


"Itu ide bagus," potong Chris.


"Aku setuju," sambung Martin.


"Pilihan terbaik," timpal Rory.


"Heii,,, aku bahkan belum mengatakan setuju. Aku tidak mau," sembur Nayla.


"Kalau begitu, kamu tetap disini," sambut Kevin tersenyum penuh kemenangan.


"Chris,, ayolah,, aku tidak mungkin tinggal bersama mereka, bukan?" ucap Nayla meminta dukungan.


Chris mengangkat bahu, diikuti kedua tangannya. Tanda menyerah.


"Aku merasa keputusan mereka yang terbaik untuk saat ini jika mengingat kondisimu," jawab Chris.


"Kamu berkata begitu disaat kamu tidak tau dimana mereka tinggal?" sambut Nayla tak percaya.


"Aku tau, karena aku sudah kesana untuk memeriksanya," jawab Chris santai.


'Maaf Louise, aku tidak tau apakah cara ini baik untukmu atau tidak. Aku tau tempat itu memiliki kenangan antara kamu dan Nick. Tapi aku ingin kamu tidak selalu terikat dengan masa lalumu,' batin Chris.


"Aku janji akan memberikanmu privasi penuh jika kamu mau tinggal bersama kami," ucap Kevin lagi.


"Tapi_,,,"


"Kamu juga bisa mendapatkan kamar paling luas jika kamu menginginkannya," sambung Rory.


"Dan kamu bebas melakukan apapun selama itu tidak membahayakanmu," timpal Martin.


"Sekarang kalian benar-benar kompak dalam membujuk Nayla," celetuk Ethan yang sedari tadi diam sembari menahan tawa.


'Ish,,, apakah tidak ada cara lain selain ini? Jika aku disana, apakah aku bisa menyelinap keluar? Atau mungkin saja aku bisa mencari alasan agar aku bisa keluar?' batin Nayla.


"Keputusan ada ditanganmu," ucap Thomas tersenyum hangat.


"Janji aku akan memiliki privasiku sendiri?" tanya Nayla memastikan.

__ADS_1


'Akan kupikirkan caranya nanti,' batin Nayla


"Janji," tegas Kevin.


"Baiklah," jawab Nayla.


Jawaban Nayla sontak membuat mereka berseru senang. Dengan segera, Martin menghubungi seseorang untuk menyiapkan kamar yang akan ditempati Nayla.


Mereka meninggalkan rumah sakit pada keesokan harinya. Irene menganti perban yang ada diperut Nayla sebelum berangkat.


"Kamu beruntung sekali, Nay," celetuk Irene.


"Beruntung tentang apa?" tanya Nayla.


"Kamu akan tinggal bersama mereka, seorang penyanyi papan atas," ucap Irene bersemangat.


"Kalau kamu mau bertukar tempat, aku dengan senang hati akan memberikannya padamu," sambut Nayla cemberut.


"Mereka begitu karena khawatir, kau tau?" balas Irene.


"Aku tau," jawab Nayla.


"Angkat tanganmu sebentar," pinta Irene.


Nayla menurut mengangkat tangannya, memudahkan Irene menganti perban baru untuk lukanya.


"Sepertinya ini memerlukan waktu lebih lama untuk kering, Nay. Usahakan agar bagian yang terluka tidak membentur apapun," papar Irene.


"Aku mengerti," jawab Nayla.


Tanpa sepengetahuan Nayla, seseorang menepuk bahu Irene dan memintanya untuk mundur.


Irene tersenyum kecil lalu memberikan perban pada Rory yang diam-diam masuk saat proses Nayla menganti perban.


Rory mengambil alih menganti perban Nayla dalam diam. Hingga ketika proses menganti perban selesai, Rory melingkarkan tangannya dikedua bahu Nayla, hingga membuat NAyla terkejut.


"Akh,,, Roy,,,!!!" pekik Nayla berniat berbalik dan mendorong Rory.


"Sshh,,, diamlah, jangan banyak bergerak," bisik Rory menahan gerakan Nayla.


"Apa yang kamu lakukan disini?" tanya Nayla panik menyadari dirinya hanya mengenakan atasan yang sedikit terbuka.


"Belajar menganti perban agar aku bisa menganti perban baru untukmu," bisik Rory ditelinga Nayla.


"A-apa maksudmu?" tanya Nayla mulai memerah.


"Bagaimana dengan karyaku? Bukankah aku memasang perban dengan rapi?" goda Rory.


"J-Jangan bilang kalau yang baru saja_,,," Nayla menelan ludahnya, wajahnya kian memerah.


"Yap,, aku yang melakukannya," jawab Rory santai tanpa melepas pelukannya.


"Ahh,, menjauhlah sebentar. Biarkan aku mengenakan pakaianku," ucap Nayla gugup.


"Kenapa? Begini juga baik, aku masih ingin seperti ini, memelukmu seperti ini," sambut Rory.


"Ish,,, Roy,," keluh Nayla.


Nayla tidak bisa terlalu banyak bergerak karena pergerakannya terbatas dan terhalang oleh rasa sakit diperut belakangnya.


Rory terkekeh pelan dan melonggarkan pelukannya. Perlahan membalikkan badan Nayla dan membantu Nayla mengenakan kemeja longgar.


"Kamu terlihat manis dengan pakaian kebesaran seperti ini," goda Rory.


"Dasar mesum," decak Nayla menarik hidung Rory.


"Jangan salahkan aku jika aku tidak tahan melihatmu yang terlihat begitu cantik," balas Rory tersenyum nakal.


Nayla tersenyum sembari meletakkan telapak tangan diwajahnya.


"Selama beberapa hari kedepan, kamu akan lebih sering mengenakan pakaian seperti ini karena lukamu belum kering," terang Rory ragu-ragu.


"Tidak apa-apa, aku mengerti," sambut Nayla.


"Dan satu hal lagi yang belum aku katakan padamu," ucap Rory.


"Apa?" tanya Nayla.


"Kamu akan ikut ke Paris besok bersama kami selama tiga hari,"


"Oh,, baiklah,," jawab Nayla.


"..."


"Ehhhh,,,, tunggu,, apa?????" seru Nayla seolah baru saja tersadar


...****************...

__ADS_1


__ADS_2