
HAAHH...
HAHH...
Rory terengah engah dengan keringat yang mengucur deras dari wajah hingga seluruh tubuhnya.Merasa lelah,Rory duduk mengistirahatkan kakinya dan minum air mineral yang telah disiapkan.Setelah beberapa teguk,Rory meraih handuk kecil untuk menyeka keringat yang mengalir.Raut wajah kesal terpancar jelas dari wajahnya.
Untuk sesaat,dia mengedarkan pandangannya dan menyadari hanya dirinya sendiri yang masih berada diruang gym.Dengan sisa tenaganya,dia memaksa kakinya untuk berdiri,meraih ponselnya yang tergletak dikursi panjang dimana dia meletakan handuk dan berjalan menuju kamarnya.
Begitu tiba dikamarnya,tanpa lupa mengunci pintu,Rory barjalan kearah kamar mandi setelah berhasil melempar ponselnya dengan asal keatas tempat tidurnya.
Setelah beberapa menit kemudian,Rory menjatuhkan tubuhnya diatas tempat tidur hanya mengenakan celana pendek dengan rambut setengah basah yang ditutupi handuk dan duduk bersandar dengan satu tangan terlipat kebelakang.Tatapan matanya menerawang.
'sebenarnya aku kenapa sih,sedikitpun aku tak bisa melupakannya.dia bahkan tak peduli.'erang Rory mencengkram rambutnya lalu menoleh kearah ponsel yang dia lempar,mendesah pelan merasa ragu untuk melihatnya.
'persetan dengan semuanya,'gerutu Rory lalu meraih ponsel untuk mengecek lagi apakah dia mendapatkan balasan atau tidak.
Bagai tersengat listrik,Rory menegakkan badannya dan melihat layar ponsel dengan tatapan tak percaya.mengosok matanya seolah tak percaya dengan apa yang dia lihat.Senyum lebar terbentuk dari bibirnya,dalam sekejap raut wajahnya berubah berseri seri.Terlihat diponselnya terdapat panggilan tak terjawab yang bertuliskan Naya 3x panggilan.
Menarik nafas dalam dalam,dan mengatur suaranya,semangat muncul begitu saja hingga tanpa pikir panjang,Rory pun menghubungi Nayla.
TUUTT..
TUUTT..
TUUTT...
"Hallo"sebuah suara lembut terdengar dari ponsel Rory menandakan panggilannya telah dijawab.
"Malam Nay."sapa Rory.
"Malam Roy."balas Nayla.
"Aku benar benar minta maaf tidak menjawab panggilan darimu.dengan cerobohnya aku tak menghidupkan lagi mode suaranya."Rory berkata cepat sebelum Nayla sempat membuka suara.
"Tenanglah...tidakkah kau merasa ini terbalik?"tanya Nayla.
"Apa yang kamu maksud?"tanya Rory tak mengerti.
"Akulah yang seharusnya minta maaf padamu disini.Aku merasa seperti mengabaikan pesanmu,tapi sungguh aku tak berkmaksud begitu."Nayla berkata dengan nada penyesalan.
"Ahhh...itu...aku...."lidahnya berubah kaku,perkataan Nayla justru membekukan lidahnya.Suara lembutnya yang penuh penyesalan benar benar diluar dugaannya.semula dia berfikir Nayla hanya akan memberi alasan,bukan penjelasan.
"Maafkan aku.Jika dengan menebus kesalahanku akan membuatmu memaafkan aku,dengan senang hati aku akan melakukannya."Nayla berkata lagi menyadari Rory mengantung kalimatnya.
"Tidak..Tidak..Bukan begitu..Aghh.."tangannya mengacak acak rambutnya sebelum melanjutkan ucapannya."maafkan aku.sejujurnya kamu tak perlu meminta maaf hanya karena itu.Aku bisa mengerti,terlebih kamu menjelaskannya padaku."Rory berkata dengan sedikit kegugupan dalam suaranya.
"Jadi kamu memaafkanku?"tanya Nayla.
"Bagaimana aku tak bisa memaafkanmu disaat kamu tak melakukan kesalahan Nay?"kata Rory lembut mulai bisa mengontrol lagi suaranya.
"Syukurlah...kau tak tau betapa aku lega mendengarnya."suara ceria Nayla menarik sebuah senyuman kecil di dibir Rory.
"Jadi...apakah kamu keberatan untuk memberitauku apa alasannya?"Rory bertanya dengan hati hati..
"Sama sekali tidak.Terkadang pekerjaan bisa menjadi menyebalkan,kau tau?dan memutuskan untuk mengabaikan ponsel untuk sementara mungkin akan lebih baik jika dibandingkan dengan melampiaskan kepada seseorang."Nayla menjelaskan setengah kebenaran yang terjadi.
Suara tawa meledak saat Nayla menyelesaikan kalimatnya.
"Kurasa,,aku harus setuju dengan hal itu.walaupun berteriak didepan wajah seseorang akan menjadi pilihan menarik."sambut Rory.
"Kedengarannya seperti ada seseorang yang telah mencobanya belum lama ini."Nayla berkata disertai tertawa renyah.
JLEEBB...
Perkataan Nayla tepat mengenai sasaran menyebabkan rona merah menjalar diwajah Rory.Demi menutupi rasa malunya,Rory tertawa sebelum berkata
"Ohoo..apakah kau sedang membuat sebuah pengakuan?"kata Rory sedikit mengoda.
"Kurasa...mungkin,tapi bukan untukku,hanya seseorang yang kukenal."jawab Nayla santai.
"Dan siapa itu?"tanya Rory.
"Mungkin yang sedang bertanya saat ini."Nayla menjawab sambil terkekeh.
"Heii..."seru Rory.
"Aku bercanda."kata Nayla.
Mereka pun tertawa bersama.
__ADS_1
"Aku masih memiliki pertanyaan untukmu Nay,"Rory berkata pelan.
"Kalau begitu,apa yang kau tunggu?"tantang Nayla.
Rory diam sesaat,menarik nafas dalam dalam sebelum berkata
"Maukah kamu keluar bersamaku akhir pekan ini?"tanya Rory.
Nayla diam,memikirkan ajakan Rory padanya.
'Akhir pekan ini kan aku ingin membeli buku,'pikirnya.'tapi aku juga telah mengatakan akan melakukan apa yang dia mau agar dia memaafkanku atas kesalahan yang kubuat.'tambahnya.
"Aku perlu mengingatkanmu satu hal Nay,ini bukan tentang menebus kesalahan atau apapun itu.Kau bisa menolaknya jika kau tak ingin.aku murni mengajakmu keluar sekedar menikmati sebuah festival yang akan dibuka akhir pekan nanti."Rory berkata lagi seolah bisa membaca pikiran Nayla.
"Tunggu.."seru Nayla"Kau bilang apa?festival?"Nayla bertanya untuk memastikan.
"Benar.kudengar akan ada festival diakhir pekan.Jadi aku ingin mengajakmu kesana."Rory menjelaskan.
"Aku mau."jawab Nayla cepat.
"Ehh...kau yakin?"Rory bertanya memastikan.
"Sangat yakin."jawab Nayla meyakinkan.
'kebetulan yang sangat menyenangkan'pikir Nayla.
"Terima kasih sudah menerima ajakanku."kata Rory.
"Kau bisa berterimakasih ketika aku sudah melakukannya Roy."kata Nayla.
"Aku sangat berterima kasih padamu hanya karena kamu menerima ajakanku Nay,dan aku lebih berterima kasih jika kamu benar benar datang."terang Rory
"Itu sanjungan bukan?"Nayla bertanya dengan tawa kecil.
"Kurasa begitu."Jawab Rory terkekeh.
"Oh tidak.."Rory berseru.
"Ada apa?"tanya Nayla.
"Aku tak menyadari sekarang sudah sangat larut,sepertinya aku menarikmu untuk beristirahat terlalu malam."ungkap Rory
"Kurasa aku berada dihalaman yang sama denganmu"kata Rory"Entah kenapa terasa nyaman saat mengobrol denganmu."ungkap Rory.
"Begitukah?"tanya Nayla.
"Tentu saja."jawab Rory,"Tapi untuk sekarang aku ingin membiarkanmu istirahat.ini sudah larut Nay."kata Rory lagi.
"Baiklah."jawab Nayla.
"Jika aku tak sibuk besok,aku akan mengirimimu pesan.Apakah itu akan menjadi masalah?"tanyanya.
"Sama sekali tidak."jawab Nayla.
"Baiklah.kalu begitu..selamat malam nay,dan selamat tidur"kata Rory lembut.
"Malam Roy,dan selamat tidur juga untukmu."balas Nayla.
Rory pun mematikan panggilannya.Senyum lebar mengembang dibibirnya.Kebehagiaan terpancar jelas dari wajahnya.
"Aku bukan hanya bisa mengobrol dengan nya,tapi aku bahkan berhasil mengajaknya keluar."Rory berkata pelan pada dirinya sendiri."benar benar konyol,aku berasumsi sendiri dan gelisah dengan asumsi yang kubuat sendiri."Rory menepuk dahinya mentertawakan dirinya sendiri.
Tak berselang lama setelah itu,Rory terlelap dalam tidurnya dengan senyum dibibirnya.
...****************...
~Keesokan harinya~
Diruang latihan dipagi hari,
Sebuah lagu mengalun dengan indah diiringi dengan suara petikan gitar yang menambah kesempurnaan lagu itu.Lirik yang menenangkan yang dinyanyikan dengan lembut dan penuh penghayatan,seolah lagu yang tengah dia nyanyikan mewakili perasaan yang tengah dia rasakan,
Bahagia...
Ketenangan..
Rasa Damai...
Dan Rasa Nyaman dan Aman yang dirasakan ketika bersama seseorang yang dia cintai.
__ADS_1
Sebuah lagu yang tak pernah dia nyanyikan sebelumnya.
Sebuah lagu yang dia ciptakan hanya karena memikirkan seseorang yang dia dambakan.
Sebuah lagu yang mengalun begitu saja hanya dengan mengingat wajahnya.
Sebuah lagu yang dia nyanyikan dengan menutup mata.
Tangannya yang memetik gitar menari dengan lincahnya tanpa kesalahan.
Sebuah senyuman tak lepas dari bibirnya ketika dia bernyanyi,dalam penglihatannya wajah seorang wanita cantik menari didepan matanya.
Senyuman menawan yang menghiasi bibir wanita itu menghipnotis dirinya dan engan untuk melepaskannya.
Dia pun membuka matanya ketika lagu yang dia nyanyikan telah berakhir.
Wajahnya menatap penuh tanda tanya pada orang yang kini duduk didepannya tanpa dia sadari tengah menatapnya takjub.
"Apa?"dia menaikan alisnya heran pada orang yang duduk didepannya.
"Lagu yang sangat bagus Rory..kapan kamu membuatnya?"tanyanya heran dan kagum.
"Baru saja mungkin..entahlah."Rory mengangkat bahu menjawab pertanyaan itu asal.
"Astaga Rory...Kau tau,,lagu itu akan digilai para wanita,terlebih mereka yang sedang jatuh cinta."dia berseru penuh semangat.
"Bisakah kau diam Thomas?ini masih pagi."pinta Rory.
"Ayolah...apa lagi sekarang?"Thomas menaikan alisnya heran meliha ekspresi Rory yang tiba tiba barubah.
"Apakah kau akan mengatakan padanya jika aku menjawab?"tanya Rory.
"Padanya?Maksudmu Kevin?"Thomas bertanya yang di tanggapi dengan anggukan kepala Rory.
"Tidak akan.aku bersumpah."jawab Thomas.
"Jadi..?"tanya Thomas lagi.
"Aku mengajaknya keluar akhir pekan nanti."kata Rory pelan.
"Dan dia menolak?"tanya Thomas.
Rory menggeleng sebelum menjawab."Dia menerima ajakanku."Rory menjawab pelan.
"Tapi..?"Thomas manaikkan alisnya.
"Sebelum dia menerima ajakanku,dia berfikir lama."kata Rory lirih.
"sekarang aku tanya padamu,apakah saat dia menjawab,suaranya terdengar dia terpaksa menerima ajakanmu atau dia menerima dengan senang hati?"tanya Thomas.
"Aku yakin dia tak terpaksa."jawab Rory.
"Lalu,apa yang kau khawatirkan?jangan hanya memikirkan asumsimu sendiri.dan jangan mengkhawatirkan hal yang belum terjadi."kata Thomas.
"Aku tau...aku tau ini terdengar konyol.Aku senang dia menerima ajakanku,tapi aku sendiri tak tau apa yang membuatku gelisah."terang Rory.
"Sejujurnya...itu hal yang wajar.Kapan terahir kali kau merasakan hal yang serupa?"thomas bertanya dengan hati hati.
Rory termenung,
"Ingatlah satu hal yang pasti.Dia berbeda DENGANNYA.Mereka bukanlah orang yang sama."Thomas berkata dengan hati hati.
"Haahhh...kau benar.mereka dua orang yang berbeda,"kata Rory lalu tersenyum.
"Jadi...lagu tadi ditujukan untuknya?siapa?Nayla?"Thomas berkata dengan nada jahil.
"Jujur...Ya..aku sendiri tak tau bagaimana bisa itu terjadi.aku hanya menutup mataku dan terbayang wajahnya,lalu lagu itu mengalir begitu saja,"kata Rory tertawa kecil.
"Kau tau..itu lagu yang sangat menyentuh,jka yang lain tau,aku yakin mereka akan mengatakan hal yang sama."kata Thomas bersemangat.
"Semoga."Rory menjawab dengan menaikan bahunya.
"Oke...sekarang kita keatas,aku datang kesini untuk mengajakmu sarapan.Yang lain sudah meunggu.jangan sampai Kevin yang turun tangan sendiri karena terlalu lama menunggumu."Thomas berkata seraya berdiiri dan mengulurkan tangannya pada Rory.
Rory tersenyum.
'dia bisa menyikapi semua hal dengan begitu tenang,'pikirnya.lalu menyambut uluran tangan Thomas.
Merekapun pergi untuk makan pagi bersama seperti biasanya,dan memulai aktivitas pagi sesuai dengan jadwal yang mereka terima sebelumnya.
__ADS_1
...****************...