LOVE OF MY LIFE

LOVE OF MY LIFE
86. Moment


__ADS_3

Mobil yang dikemudikan Rory memasuki kawasan parkir sebuah restoran asia eropa yang terlihat elegan dan hangat.


Rory membuka pintu mobil untuk Nayla sembari mengulurkan tangannya. Meletakkan tangan Nayla di lengannya dan melangkah masuk.


"Kau tau? Kamu benar-benar membuatku seperti seorang bangsawan dengan sikap manis yang kamu tunjukkan," bisik Nayla.


"Kamu jauh lebih dari kata layak mendapatkan hal ini, bahkan yang lebih baik dari itu," sambut Rory.


Rory menuntun Nayla menuju meja yang berada didekat jendela dengan hiasan bunga mawar dan nyala lilin diatasnya. Menarik kursi untuk Nayla duduk, kemudian menarik kursi lain untuk dirinya sendiri.


Seorang pelayan menghampiri mereka untuk menanyakan pesanan dengan menyerahkan buku menu kepada masing-masing.


"Apa yang ingin kamu makan?" tanya Rory.


"Hemm,,," Nayla bergumam sembari membaca daftar menu.


"Bagaimana kalau kita memesankan menu bukan untuk diri sendiri, dan yang dipesankan menu itu harus memakannya?" tantang Nayla.


"Maksudmu, aku memesan untukmu dan begitu sebaliknya?" tanya Rory memastikan.


"Tepat," sambut Nayla.


"Dengan syarat, itu adalah makanan yang kamu sukai," imbuhnya.


"Menarik," sambut Rory. "Lalu, bagaimana jika makanan itu tidak dimakan dengan alasan tidak suka?" tanya Rory.


"Tentu saja ada hukumannya," sambut Nayla.


"Baik, kalau begitu, pesanlah lebih dulu," pinta Rory.


Nayla menunjuk menu dan memperlihatkan kepada pelayan yang segera mencatatnya. Rory pun melakukan hal yang sama. Pelayan itu tersenyum lalu mengangguk dan berlalu pergi.


"Roy," panggil Nayla.


"Apa?" Rory menatap Nayla.


"Adakah sesuatu yang membebani pikiranmu?" tanya Nayla.


"Ada," jawab Rory tenang. " Tapi, aku ingin kamu tidak memikirkannya. Aku akan mengatakannya nanti," lanjutnya.


"Apakah itu hal serius?" tanya Nayla lagi.


"Yang bisa aku janjikan sekarang adalah, semua baik-baik saja," jawab Rory.


"Baiklah," sambut Nayla.


Pelayan kembali muncul dan menghidangkan dua makanan yang sama. Mereka berdua saling pandang untuk beberapa saat, lalu tertawa.


"Bukankah yang pernah kukatakan itu benar? Kita memiliki selera yang sama," ucap Rory.


"Kamu benar," sambut Nayla.


Suara ponsel Rory menyela ditengah acara makan mereka. Rory segera mengeluarkan ponselnya dan mendapati pesan masuk dari Martin. Ia melebaran matanya, ketika membaca pesan itu, lalu tersenyum senang.


Rory melirik Nayla yang tengah menatapnya, namun tetap membiarkannya.

__ADS_1


[[ @Martin : Dua bulan lagi akan ada acara disebuah saluran televisi, dan mereka meminta kalian untuk hadir sebagai bintang tamu. Kita akan rundingkan ini setelah kau kembali,'


'Ini dia, aku bisa gunakan acara ini,' batin Rory.


'Tapi, aku tetap harus membicarakan ini dengan mereka. Biar bagaimanapun juga, mereka harus tau jika aku ingin melamar Nayla,' sambungnya.


"Maaf, aku menyela memainkan ponselku," ucap Rory.


"Tidak apa-apa. Biar ku tebak," Nayla meletakkan tangan didagunya.


"Martin?" ucap Nayla dengan alis terangkat.


"Sekarang aku tidak begitu terkejut dengan tebakanmu yang selalu benar," sambut Rory tertawa ringan.


Rory memotong Meatloaf miliknya menjadi potongan kecil, dan memberikannya pada Nayla untuk memudahkan Nayla ketika makan.


"Makan yang ini saja," ucap Rory. "Lalu, berikan ini padaku," lanjut Rory mengambil alih piring Nayla.


Nayla tersenyum singkat, dan memakan makananya dalam diam.


Setelah menyelesaikan makan malam mereka, Rory mengantar Nayla pulang. Keheningan masih menyelimuti mereka berdua yang sibuk dengan pikiran masing-masing.


Bahkan, ketika mereka tiba diapartemen, Nayla tidak segera turun. Gelisah dengan pikirannya sendiri.


'Apakah karena aku belum terbuka sepenuhnya padanya yang membuatnya juga membuat batasan denganku? Aku tau dia juga memerlukan privasinya, dan aku juga percaya dengannya. Tapi kenapa aku segelisah ini?' batin Nayla.


'Beberapa hari kedepan, aku juga akan sibuk dengan pekerjaanku, dan akan sulit untuk bertemu dengannya,' pikirnya.


"Ma Chéri,,," panggil Rory.


Nayla bergeming. Tidak mendengar Rory memanggilnya. Tangan Rory terulur meraih dagu Nayla dan meghadapkan wajah Nayla untuk menatapnya.


Nayla terdiam sejenak, menatap Rory yang kini menatapnya.


'Ugh,,, jika aku mengatakan apa yang aku pikirkan, apa itu akan baik-baik saja?' batin Nayla.


"Ragu untuk mengatakannya?" tanya Rory lagi.


"Jika kamu kembali sibuk, dan pada waktu yang sama aku juga sibuk, itu tidak akan merubah apapun kan?" tanya Nayla berharap.


"Apakah itu yang membuatmu gelisah hingga kamu tidak menyelesaikan makan malammu?" tanya Rory.


Rory mendesah pelan ketika melihat Nayla mengangguk pelan sebagai jawabannya.


"Kamu bisa menemuiku kapanpun kamu mau, ingat? Dan aku akan menenemuimu jika kamu ingin aku datang. Selain itu, kita bisa berbicara melalui ponsel," tutur Rory.


"Dalam beberapa hari, jadwalku memang akan penuh. Tapi, aku janji waktumu untuk menunggu akan sepadan dengan ketika kita bertemu lagi," hibur Rory.


"Sepertinya aku mengacaukan malam ini," sambut Nayla tersenyum kecut.


"Bahkan tidak sedikitpun," sambut Rory tersenyum.


"Aku justru merasa sangat senang ketika kamu meributkan aku seperti ini. Jadi, jangan mencemaskan apapun, untuk kali ini dan seterusnya, aku akan selau disisimu," tutur Rory.


Nayla mengangguk pelan, merasa lebih tenang dari sebelumnya.

__ADS_1


"Aku akan masuk, aku minta kamu menjaga dirimu dan kesehatanmu baik-baik, Roy," harap Nayla.


"Itu juga yang kuharapkan darimu," sambut Rory.


Ketika tangan Nayla membuka pintu mobil, tangan Rory menahan tangan Nayla, membuat ia kembali berbalik menatap Rory. Namun, sebelum Nayla sempat menayakan apapun, Rory telah menempelkan bibirnya dibibir Nayla.


"Bonne nuit, Ma Chérie," bisik Rory ditelinga Nayla.


...****************...


####


Waktu terus berlalu, hingga tanpa terasa, hampir dua bulan lamanya. Nayla kembali menyelesaikan naskah barunya. Dan karyanya mendapatkan sambutan yang melebihi dari karya sebelumnya.


Mereka yang membeli buku dengan foto Nayla didalamnya menjaga privasi Nayla dengan baik. Tak satupun dari mereka melanggar apa yang telah mereka sepakati ketika membeli buku.


Disisi lain, Rory juga kembali merilis lagu baru beserta video klipnya. Lagu baru yang ia buat untuk Nayla kembali meledak di industri musik.


Dari pihak agensi bahkan menyarankan untuk mendatangkan tokoh wanita dari lagu yang Rory buat dan bergabung menyanyikan lagu itu.


Dimalam hari, Rory menyempatkan waktu menghubungi Nayla untuk melepas lelah setelah satu hari penuh dengan kegiatan.


"Suaramu terdengar aneh, apa kau baik-baik saja, Roy?" tanya Nayla dari ponsel Rory.


"Aku baik-baik saja, mungkin hanya lelah karena kegiatan hari ini," terang Rory.


"Tapi, aku ingin membagikan kabar baik ini padamu," lanjutnya.


"Kabar baik? Apa itu?" sambut Nayla.


"Kami diundang untuk menjadi bintang tamu diacara siaran langsung. Maukah kamu datang bersamaku? Aku ingin kamu berada disana," harap Rory.


"Tentu, Roy," sambut Nayla.


"Aku akan pastikan aku berada dibarisan paling depan untuk melihatmu," imbuhnya.


"Apa maksudmu dibarisan depan? Tentu saja kamu akan berada dibelakang panggung bersama Martin," tutur Rory.


"Ehh,,, bukankah itu justru akan menganggu berlangsungnya acaramu?" tanya Nayla.


"Sama sekali tidak. Lagi pula tidak ada yang keberatan dengan hal itu," jelas Rory.


"Kapan tepatnya acara itu akan diadakan?" tanya Nayla.


"Tidak lama lagi. Mungkin satu atau dua minggu lagi. Aku akan mengabarimu lagi nanti," jawab Rory.


"Baiklah, kabari aku kapan saja," sambut Nayla.


"Tentu, aku akan menghubungimu lagi nanti. Ah,, sepertinya Martin memangggilku, aku pergi dulu," ucap Rory buru-buru.


Nayla menatap ponselnya ketika suara Rory menghilang sebelum ia sempat membalas, lalu mendesah pelan.


"Ini sudah keberapa kalinya ya aku tidak bisa berbicara banyak dengannya?" gumam Nayla pelan.


Nayla menyadarkan punggungnya, lalu menengadah. Matanya menatap komputer yang tengah menyala, memperlihatkan naskah yang belum selesai. Detik berikutnya melirik kearah bingkai foto yang ada disamping komputer, dimana foto dirinya bersama sang kakak tersenyum lebar.

__ADS_1


"Aku bahkan belum mengunjungi kakak lagi, aku benar-benar payah,"


...****************...


__ADS_2